Ini sudah hari entah keberapa semenjak pertandingan Lacrosse kemarin yang menghebohkan sejagat raya Milford Hall. Lebih tepatnya, bukan pertandingannya yang terus dikunyah sebagai gosip panas, melainkan aksi gila bin nekat yang dilakukan sang diktator sekolah, Damian Harding.
Sudah berapa hari ini pula, Fraya Alexandrea praktis menjelma menjadi pusat dari segala poros gosip yang berputar liar di koridor sekolah.
Setiap kali ia baru turun dari mobil setelah Papa mengantarnya, Fraya pasti akan dilempari tatapan menghakimi yang menilai dirinya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Seolah-olah semua pasang mata di sana tengah mencoba mencari tahu mantra apa yang digunakan gadis Indonesia itu sampai bisa membuat seorang Harding kehilangan akal sehat di tengah lapangan. Kalau saja dirinya lagi di Indonesia, pasti Fraya dicurigai sudah main dukun. Dengan kata lain, mengguna-guna Damian Harding.
Namun, di antara riuh tatapan sinis itu, terselip pula binar kekaguman dari beberapa siswi yang kelihatannya biasa saja, tanpa aksesori mewah yang melekat pada tubuh mereka. Mereka menatap Fraya dengan seruan semangat dukungan yang diberikan secara terang-terangan.
"Kalau orang seperti Fraya saja bisa menggaet dewa nomor satu kita di Milford Hall, pasti kita juga punya kesempatan untuk bisa menggaet anggota lainnya juga!" celetuk salah satu murid yang Fraya sendiri tidak tahu namanya siapa ketika dirinya melintasi koridor utama.
"Aku mau Louis, ya! Dia incaranku dari kelas sepuluh!" sahut siswi lain dengan nada girang, seolah mereka sedang sibuk berunding menentukan siapa anggota favorit mereka pada Boyband Korea yang saat ini tengah naik daun.
"Kalau aku sih, tetap dengan Robby si paling menawan dan badboy itu," timpal suara lain yang terdengar begitu yakin. Suara itu datang dari seorang gadis yang pernah Fraya temui di perpustakaan saat ia tengah bertugas menjadi staf tambahan perpustakaan.
Sebelum Fraya sempat menjauh, seruan lain kembali terdengar. Kali ini lebih heboh nan berisik, "Berarti jangan ada yang incar Russo dan Axel, ya! Aku bingung pilih yang mana dari kedua cowok seksi itu. Tapi yang jelas, kalau dua-duanya mau sama aku, aku tidak akan keberatan!"
Mereka lalu sibuk cekikikan, begitu girang dengan angan-angan mereka yang membuat Fraya seketika ingin memijat pelipis guna mengurangi kepalanya yang berdenyut pening.
Siang itu, pada jam periodik kedua, Fraya merasakan ponsel di saku jas sekolahnya bergetar, menghentikan langkahnya yang bergegas akan ke kelas Fisika. Ia menghela napas panjang sejenak sebelum memberanikan diri melirik layar, memastikan pada dirinya sendiri barangkali yang sedang menghubunginya saat ini bukan si brengsek rambut pirang itu.
Tapi harapannya hanyalah harapan. Nama Damian masih jadi yang paling gigih menghubunginya sejak beberapa hari yang lalu.
Dengan meluapkan kekesalan yang sejak kemarin coba diredamnya, Fraya tekan tombol merah dilayarnya dengan begitu keras. Masih dengan kekesalan yang sama, ia putuskan untuk mematikan ponselnya agar sisa harinya hari ini berjalan dengan semestinya.
"Alexa!"
Fraya mendongak dan menemukan Florence diujung koridor tengah berjalan untuk masuk ke kelas periodik ketiga yang kebetulan jadwalnya berbarengan dengan Fraya.
Fraya segera memasukkan kembali ponselnya kedalam saku lalu berjalan memasuki kelas bersama Florence yang kini merangkulnya.
"Belum mau kamu angkat juga?" Florence mengangkat kedua alisnya, waktu menyadari gurat kekesalan masih tampak begitu jelas di wajah Fraya.
Fraya hanya mengedikkan bahu dengan malas seraya meletakkan tasnya di deretan meja kayu paling depan. "Buat apa juga? Toh aku sudah tidak punya urusan apa-apa sama dia. Aku sudah bilang kalau dia tidak perlu repot-repot lagi untuk jadi tutorku. Besok aku akan minta Mrs. Crabtee untuk mencari pengganti nya yang lain saja." timpal Fraya dengan ketus seraya mengeluarkan buku Fisika untuk mempersiapkan tugas tabel periodik yang sudah ia kerjakan dari semalam.
Florence duduk di samping Fraya dengan raut wajah cemas. "Alexa, yang sedang kamu hindari mati-matian itu adalah malaikat mautnya Milford Hall. Kami yakin sanggup melawan Damian?"
Florence memutar tubuh menghadap sahabatnya yang tetap bersikap cuek seolah tidak ada badai yang sedang dihadapinya dengan susah payah ini.
"Damian itu manusia yang paling tidak bisa ditantang. Kalau hidupmu mau aman di sini, setidaknya jangan bikin dia merasa harus meladeni tantanganmu."
Fraya berdecak, melempar tatapan kecewa sekaligus jengah kepada teman sebangkunya ini. "Terus maksud kamu, aku harus nurutin semua keinginan konyol dia itu selama aku jadi murid di Milford? Lagian ya, siapa juga sih yang menantang dia? Dia-nya saja yang merasa semua hal yang tidak bisa dia miliki akan otomatis menjadi tantangan buat dia."
Florence hanya terdiam. Ia menyadari sepenuhnya bahwa Fraya Alexandrea memang bukan bagian dari deretan cewek pemuja Damian Harding yang biasanya dengan sukarela melakukan apa pun demi menyenangkan hati Damian. Fraya adalah gadis berbeda yang sedang menantang maut tanpa ia sadari sepenuhnya.
"Oh my fucking God," gumam Florence tiba-tiba seraya menutup mulut dengan telapak tangan. Matanya membelalak kaku menatap ke arah depan kelas.
"What?" Fraya mengernyit heran melihat Florence yang membeku, sebelum ia menyadari suasana sekitarnya juga ikut berubah sunyi seiring dengan tatapan para murid perempuan yang seolah tersihir.
Fraya akhirnya menjatuhkan pandangannya ke depan kelas. Kedua alisnya naik bebarengan ketika menatap seseorang didepan kelas sana yang Fraya yakini belum pernah dilihatnya mengajar dikelas Fraya manapun.
Seingatnya, guru fisika mereka juga bukan seorang pria, tampan sekali pula. Terakhir Fraya masuk ke kelas Fisika, yang mengajar adalah Mrs. Lockwood yang sedang mengandung hampir 9 bulan.
Ia melihat sosok pria dengan tinggi menjulang, berambut hitam legam yang kontras dengan tatapan mata cokelat terangnya. Pria itu berdiri tegap dengan senyum lebar yang sukses menciptakan lenguh kekaguman instan. Sosok pria dewasa dengan usia yang diperkirakan memasuki akhir dua puluhan itu tersenyum sumringah. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, menonjolkan tubuh bagian atasnya yang terlihat atletis.
"Good morning, everyone. Perkenalkan, nama saya Henry Harrington, guru baru Fisika kalian hari ini. Saya yang akan menggantikan Mrs. Lockwood untuk sementara waktu."
°°°°