Its Always Been You, Fraya

Farah MAULIDA
Chapter #18

Pink Tape And A Walkman


Siang itu angin berembus begitu sejuk. Pada musim gugur yang seolah tengah bersiap menyambut dekapan musim dingin di penghujung November ini, hembusannya mulai terasa menyengat, meninggalkan sensasi gigil di permukaan kulit.

​Arnelia duduk—atau lebih tepatnya, setengah terbaring—di atas sofa empuk di halaman belakang rumahnya yang begitu luas. Mantel tebal yang dikenakannya membungkus tubuh dengan rapat, sebuah upaya untuk menghalau dingin yang sejak tadi mencoba menusuk hingga ke tulang.

Ia merapatkan syalnya, hingga kain itu nyaris menutupi sebagian wajahnya yang tampak pucat.

​Harley, pelayan setia yang berdiri mematung di sampingnya, melirik sekilas. Mungkin dalam hatinya ia sedang bertanya-tanya.

Kalau memang sudah tahu kedinginan, kenapa Nyonya tetap memaksakan diri duduk di luar begini?

Namun, ia tetap setia menunggu sang nyonya besar yang terkenal memiliki hati selembut malaikat itu.

​Arnelia mengalihkan pandangannya sejenak dari kerumunan anak-anak yang asyik bermain, lalu menoleh pada Harley yang masih memegangi selimut tambahan.

"Harley, kau bisa masuk saja ke dalam rumah. Udara sedang sangat dingin saat ini. Pergilah dan hangatkan badanmu," perintah Arnelia Harding dengan suara yang terdengar agak serak.

​"Tidak apa-apa, Nyonya. Saya akan tetap di sini kalau-kalau Nyonya butuh saya," jawab Harley dengan nada hormat yang kental.

​Arnelia hanya tersenyum samar, senyum yang terlihat sedikit letih.

"Aku baik-baik saja. Lagipula, aku tidak memerlukan lebih banyak bantuan karena untuk saat ini sudah cukup."

​Harley menatap wanita yang sudah ia layani jauh sebelum Arnelia menikah dengan keluarga Harding. Ada gurat kesedihan yang coba ia sembunyikan di balik wajah datarnya. Sang pelayan tetap enggan beranjak, ia menggeleng sopan pada majikannya yang terlihat semakin pucat di bawah sinar matahari musim gugur.

​Arnelia akhirnya pasrah. Ia tak lagi memaksa pelayan setianya. Disesapnya segelas teh hangat yang uapnya masih mengepul tipis, sembari menjaga fokus pandangnya ke arah lapangan yang terhampar di depannya.

​Tak lama, salah seorang dari bocah-bocah itu berlari menghampirinya. Dengan gerakan tergesa, ia nyaris melompat ke arah sofa dengan keras. Harley yang sudah waswas sejak tadi langsung bersiap menangkap tubuh mungil itu, namun Arnelia lebih dulu merentangkan tangan.

​"It’s okay, Harley." Arnelia memberi isyarat agar pelayannya kembali ke posisi semula. Ia menunduk, menatap mata putranya dengan binar kasih sayang yang tak terbatas.

​"Kamu ini suka sekali bikin orang jantungan, ya!" goda Arnelia pura-pura marah. Namun, tawanya justru mengudara, diiringi jemari yang mencubit ujung hidung putranya dengan gemas.

​"Ibu, tape yang aku suruh Ibu keluarkan itu ke mana?" Nicholas—atau Nick—menuntut dengan wajah serius. Arnelia mengangkat alis sejenak sebelum tawanya kembali pecah.

"Astaga, kenapa kamu ingat saja, sih? Ibu pikir kamu tidak mau dengar."

​Nicholas, bocah berusia sembilan tahun itu, menggelengkan kepala dengan cepat. Tangannya terulur tinggi-tinggi, seolah sedang menagih janji pada langit.

Arnelia tersenyum, kembali mencubit hidung mancungnya sebelum mengeluarkan sebuah tape kecil berwarna merah muda dari balik bantal sandarannya. Usia benda itu jelas lebih tua dari Nicholas, terlihat dari beberapa baretan halus di sisinya yang menceritakan perjalanan waktu.

​Mata Nicholas berbinar seketika. Dengan gerakan tak sabar, ia menyambungkan kabel headphone hitam dan memasangnya ke telinga. Jemarinya menekan tombol "Play", dan seketika itu juga, tape tua itu mengalunkan melodi dalam bahasa Jerman—bahasa ibunya—yang membuat Nick mulai mengangguk-anggukkan kepala mengikuti ritme lambatnya.

​Arnelia tak bisa menyembunyikan kekagumannya. Ia mengecup puncak kepala Nicholas yang berambut keemasan, lalu menghela napas panjang—sebuah napas yang seolah ingin menyerap semua sisa kehidupan untuk ia simpan rapat-rapat dalam relung hatinya.

​"NICHOLAS, KAMU LAGI NGAPAIN?"

​Seorang gadis kecil dengan rambut pirang pucat yang menjuntai bak tirai sutra berlari menghampiri. Namanya Alana. Alana Highmore.

Merasa ada yang datang, Nicholas menurunkan headphone-nya.

​"Wahhh, tape-nya lucu sekali. Warnanya pink, lagi!" pekik Alana ceria.

​"Ini tape milik Ibuku. Lagunya bagus-bagus, kesukaan Ibu. Aku sedang mendengarkannya sekarang," sahut Nicholas penuh semangat.

​"Alana, ayo main lagi!" teriak Axel, bocah berambut keriting kecokelatan yang berdiri tak jauh dari sana sambil memegang tongkat golf kecil.

​Alana mengabaikan panggilan Axel.

"Aku boleh ikut mendengarkan lagunya tidak? Atau aku boleh pinjam sebentar tidak tape-nya?"

​"Tidak boleh!" tolak Nicholas tegas, membuat Alana maupun Arnelia terlonjak kaget.

​"Loh kenapa? Aku kan cuma mau pinjam sebentar. Aku janji tidak akan mengambilnya, kok," ujar Alana dengan bibir mengerucut gemas. Namun wajah memohon itu tak berhasil meluluhkan Nicholas.

​"Tetap tidak boleh. Tape ini dari Ibuku. Isinya lagu-lagu Ibuku yang kamu pasti tidak akan paham apa artinya," tandas Nicholas dengan gaya bicara yang sangat dewasa.

​Alana bersedekap, menatap Nicholas dengan jengkel. "Kok kamu pelit sekali, sih! Memangnya ada apa di dalam sana?"

​"Ini isinya lagu-lagu dari Ayahku. Lagu-lagu cinta pakai bahasa Jerman. Ibuku memberikan ini kepadaku supaya jika suatu saat nanti aku bertemu dengan orang yang aku sayang, aku akan memberikan ini sebagai bentuk rasa cintaku. Seperti dulu waktu Ayah memberikan ini kepada Ibu."

​Arnelia tertegun. Ia tak menyangka apa yang pernah ia ceritakan tersimpan begitu rapi dalam ingatan Nicholas. Bocah itu memahami arti cinta di balik benda tua itu jauh lebih dalam dari yang ia duga.

​"Memangnya kamu tidak menyayangiku? Kata Ayah kamu, kalau kita sudah besar nanti kan kita akan menikah," bantah Alana lagi dengan polos namun menuntut.

​Nicholas menggeleng tegas. "Kata Ibu, suatu hari nanti aku sendiri yang akan memilih jodohku. Bukan Ayah, bukan juga Ibu. Jadi suatu hari nanti kalau kita sudah besar dan aku memang sayang sama kamu, baru aku berikan tape ini, ya. Tapi untuk sekarang, biar kusimpan dulu. Karena aku belum tahu apakah jodohku memang kamu atau bukan."

​Arnelia tak kuasa menahan rasa terkejutnya, begitu pula Harley. Alana yang marah mengentakkan kakinya ke rumput. "Kamu pelit! Sudahlah, aku mau main saja dengan Axel. Main sama Axel lebih seru daripada main sama kamu!"

​Dalam sekejap, Alana sudah berlari kembali menuju Axel. Nicholas, yang seolah tak peduli, kembali memasang headphone-nya dan menikmati lagu itu sambil mengangguk kecil.

Lihat selengkapnya