"Fraya, sudahlah. Jangan dilihatin terus. Papa takut kamu jadi beneran stres."
Suara Papa yang masih terbata-bata saat mengucapkan deret kalimat berbahasa Indonesia tadi langsung memecah mendung yang sejak tadi menggantung di mata Fraya.
Angka 60 di lembar kertas ujiannya masih jadi perhatian khusus yang sudah menyita seluruh emosi Fraya sejak pulang sekolah tadi.
Ingin sekali Fraya hapus angka itu, namun dia tahu sikap konyolnya ini karena dia sudah mulai frustasi dengan ujian kuis Hörverstehen tadi.
"Gimana mau dapet early admission interview dari Oxford kalau buat lolos mata pelajaran Jerman aja ternyata bakal sesulit ini, Pa." keluh Fraya.
Ia menyerah sambil menjatuhkan kepalanya ke atas meja dapur dengan bunyi duk pelan. Bibirnya mengerucut, kepalanya kini mulai pusing. Sejak tadi, dunianya cuma berputar di sekitar kegagalan Bahasa Jerman nya saja.
Papa Fraya, Eric Moore, berjalan mendekat. Tangannya yang besar meremas kedua bahu Fraya, berusaha menyalurkan kekuatan supaya putri semata wayangnya itu berhenti merutuki diri sendiri. Kali ini dicoba tenangkannya Fraya dalam bahasa Inggris,
"Kan ujiannya nggak cuma sampai di sini saja. Ini kan kata kamu juga cuma kuis dadakan, jadi jangan dijadikan momok dari kegagalan kamu, sweetheart."
Tidak jauh dari mereka berdua, Mama tengah sibuk dalam dunianya sendiri. Tangannya sedang mengaduk adonan daging di dalam mangkok besar. Saking semangatnya, Mama yang biasanya paling sigap jadi tempat curhat kalau Fraya lagi galau begini, sampai belum merespons apa-apa.
Mama hari ini benar-benar semangat sekali masak bakso. Sejak seminggu yang lalu dia sudah sibuk berburu food processor untuk ia gunakan menggiling daging agar adonan baksonya bisa seenak bakso langganan Mama di Jakarta.
Semenjak pindah ke London, keluarga ini memang merana soal urusan lidah. Makanan Inggris yang terkenal minim rasa itu sukses bikin Mama maupun Fraya jadi rindu masakan Indonesia. Mereka rindu rendang, sambal goreng hati, dan pastinya, bakso. Semua makanan yang kaya akan bumbu dan rempah-rempah.
Waktu Papa cerita kalau Mama habis beli alat masak baru, Mama senangnya bukan main. Papa sih, tipikal suami yang bakal melahap apa saja yang tersaji di meja, jadi ikut semangat juga. Walaupun kalau sudah diminta ikut bantu didapur, Papa paling cuma jago cuci piring.
Papa berdesit, mencoba mencuri perhatian istrinya. "Ssst... Ma, ini bagaimana anak Mama? Masa galaunya ngalahin seperti baru diputusin pacar."
Mama akhirnya menoleh. Wanita bertubuh gempal dengan rambut ikal sebahu yang diikat asal itu terkekeh sambil berkacak pinggang sebelah. Ditatapnya sang anak semata wayang yang masih nempel di meja dapur seperti perangko.
"Sayang, sudahlah. Lagian, hari ini kan kita udah mau makan makanan kesukaan kamu. Mending kalau kamu nggak mau bantuin Mama, kamu nonton sepak bola saja gih temenin Papa. Papa juga, ngapain tumben di dapur! Biasanya Papa paling anti ke sini kalau makanannya belum siap!"
Papa Fraya adalah sosok yang dari luar tampak begitu keras. Tidak jarang ia disebut mirip sekali dengan aktor Gerard Butler karena postur tubuh serta struktur wajahnya yang banyak orang bilang seperti hasil copy-paste saja.
Teman-teman sekolah Fraya di Jakarta bahkan dulu juga sering gemetaran waktu bertemu Papa pertama kali setiap mereka sedang main kerumah Fraya.
Tapi begitu sudah kenal, Papanya ini bisa lebih lucu dari pelawak mana pun yang sering mondar-mandir di televisi.
Sedangkan Mamanya adalah sosok paling menyenangkan sekaligus mengerikan kalau sudah marah.
Andreanna Yuliastuti adalah tipikal ibu yang nyaris tidak pernah menuntut Fraya atau mendikte apapun keinginan dan mimpi Fraya dimasa depan. Tapi kalau sudah marah, Mama bisa lebih galak dari preman di pasar. Papa sendiri kalau sudah bikin Mama geram, Papa akan lebih bijak untuk menyingkir dulu sebelum taring Mama mampu mencabik-cabik Papa.
"Jadi, kamu mau tetap di sini merenungi nasib nilai bahasa Jerman 60 kamu ini sampai tahun depan, atau kamu mau ikut Papa nonton bola saja?" Papa yang tadi hendak melangkah ke ruang TV, kembali berhenti dan berputar menghadap putrinya yang belum bergerak juga dari kursi makan.
Sambil mengangkat wajah dengan ogah-ogahan, Fraya menatap Papanya dengan malas.
"Aku mau bantuin Mama saja bikin bakso, deh. Kalau nonton bola sama Papa, berisik. Papa sukanya teriak-teriak nggak jelas soalnya padahal bola nya belum masuk gawang!"