Its Always Been You, Fraya

Farah MAULIDA
Chapter #20

The Art of Breaking Barriers (And A Little Bit of Chili)

​"Kalau kamu tanya sama aku, apa hal yang Fraya sukai—sesuatu yang kira-kira bisa bikin dia tidak langsung mengusirmu di menit pertama kamu muncul di depan pintu rumahnya—kamu salah besar kalau sampai membawakan dia bunga."

​Florence mengucapkannya dengan nada final, seolah itu adalah hukum alam yang sudah tidak bisa diganggu gugat lagi.

​"Karena walaupun aku belum begitu lama mengenal Fraya Alexandrea, tapi sependek yang pernah kuingat, Fraya bukan tipe yang suka diberi bunga. Karena menurutnya itu klise, dan norak. Apalagi mawar merah. Asa pernah memberinya setangkai bunga, meskipun dengan dalih ia menemukannya di pinggir jalan saat berangkat sekolah. Tapi bukannya diterima, Fraya malah bilang: 'Lebih baik kamu berikan saja ke Florence. Aku tidak begitu suka bunga, apalagi mawar merah.' Dan sepertinya aku sudah tidak perlu mengingatkanmu lagi, Damian, kalau orang yang hatinya sedang kamu berusaha luluhkan itu adalah orang yang pernah mematahkan hidung sahabatmu sendiri."

​Sederet titah panjang itu menaungi kepala Damian bak awan mendung yang keras kepala, enggan beranjak sepanjang ia mengemudikan mobilnya membelah aspal menuju Richmond, London Barat.

​Florence benar. Yang sedang ingin ia luluhkan ini bukan sekadar gadis biasa.

Fraya adalah gadis yang sudah membangun tembok raksasa dengan presisi sangat tinggi agar siapapun tidak akan mampu meruntuhkannya, terutama Damian.

Jangankan meruntuhkannya, untuk sekadar menemukan pijakan agar Damian bisa sekadar memanjatnya saja rasanya begitu sulit.

​Dalam beberapa menit, Damian sudah memasuki area perumahan Fraya. Ia memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah ber bata merah yang tidak terlalu luas namun memancarkan aura homey dan asri, lengkap dengan tanaman yang ditata rapi dan terlihat estetik.

​Damian menarik napas sejenak sebelum memutuskan untuk turun. Dikepalanya tertulis skenario, dan terselip juga sebuah doa pada semesta agar memberinya sedikit belas kasihan. Ia hanya ingin Fraya tidak serta-merta langsung mengusirnya keluar di menit Damian muncul didepan pintu.

Damian tahu ini langkah yang kelewat nekat, bahkan untuk seorang Damian Harding yang seumur hidupnya belum pernah punya pengalaman menyambangi rumah seorang gadis hanya untuk mengejar sebuah maaf.

Sebuah maaf yang kali ini terasa begitu krusial untuk membukakan jalan agar cewek cantik sialan itu mau kembali bicara dengan Damian tanpa perlu pakai emosi.

​Ia terdiam, memantapkan hati sebelum turun. Namun, ekor matanya menangkap sesuatu yang duduk diam di jok penumpang sejak tadi. Sejenak, ia menutup kembali pintu mobilnya, dengan kikuk menyambar sebuah kotak di jok sampingnya.

​Damian menatap kotak berwarna hitam berukuran sedang yang ia masukkan ke dalam paper bag dengan warna senada.

Ia tahu langkah ini sudah jauh menyentuh relung hatinya yang terdalam. Ia sedang membiarkan sisi dirinya yang paling privat keluar untuk mencoba menembus pertahanan Fraya.

Sebuah langkah tak disangka yang dilakukan Damian pada usianya ke 18, memberikan sesuatu yang sebenarnya sudah ia simpan lama, yang rencananya hanya akan ia berikan jika suatu hari nanti ia menemukan orang yang tepat.

​Apakah ini terlalu cepat? Entahlah, Damian juga tidak tahu. Yang ia tahu, ia sudah masuk pada fase depresi karena konsistensi bungkamnya Fraya ini sukses membuatnya rungsing tanpa henti. Ia tidak punya pilihan. Ia ingin Fraya tahu bahwa hal terakhir yang ia inginkan di dunia ini adalah tetap memiliki gadis itu di sisinya untuk terus berbicara pada Damian.

​Dengan keraguan yang masih membekas, Damian menaruh kembali kantongan hitam itu ke atas kursi penumpang. Ia ingin sekali bisa memberikannya malam ini, tapi Damian juga ingin memastikan rencana nya malam ini berjalan seperti yang Damian harapkan.

​Sebagai gantinya, Damian menyambar kotak lain yang berukuran lebih besar dari jok belakang. Kemudian ia turun dengan langkah lebar-lebar menuju pintu rumah Fraya.

Sambil mencoba menjaga wajahnya agar tetap terlihat composed di bawah tekanan rasa was-was, Damian menekan bel pintu rumah Fraya beberapa kali.

​Dalam benaknya, Damian membayangkan akan bertemu sosok pria paruh baya dengan fitur Asia yang kental, mengingat wajah Fraya yang sedikit pun tidak ada ras campuran.

Namun, yang hadir membukakan pintu untuk Damian justru diluar dari dugaan sok tahunya Damian.

Daun pintu putih yang terbuka itu menampakkan sosok pria bertubuh besar yang tingginya nyaris menyamai tinggi Damian. Wajah garang pria di depannya ini sama sekali tidak terlihat seperti pria Asia Tenggara. Wajahnya mirip sekali dengan aktor laga terkenal yanh filmnya sering Damian tonton yaitu Gerard Butler. Dengan hidung mancung yang tegas dan jambang di sekitar dagu yang tampak kasar.

​Alis tebal pria itu terangkat saat menatap Damian.

​"Can I help you?" tanya pria paruh baya itu tanpa basa-basi, suaranya setengah parau.

​"Um... maaf, Sir. Sepertinya saya salah alamat. Saya sedang mencari rumah seorang teman sekolah yang katanya tinggal di daerah sini. Apakah Anda tahu kediaman Fra—"

​Kalimatnya terputus saat suara seorang gadis menyahut dari dalam, menggunakan bahasa yang tidak Damian pahami sedikit pun. Ketika tubuh pria itu bergeser, sosok yang Damian cari ditengah ruangan, menatap Damian dengan mata terbelalak sempurna.

​Dan seperti baru saja melihat hantu di ambang pintu, Fraya reflek melangkah lebar menghampiri mereka. Ia menatap Damian dengan binar nyaris tidak percaya.

​Penampilan Fraya saat itu... sungguh di luar ekspektasi Damian, dan sialnya, itu membuatnya gemas sendiri. Gadis itu mengenakan kaos kebesaran berwarna merah tua bertuliskan "Connecticut" yang panjangnya hanya mampu menutupi bagian atas paha, membuat celana pendeknya nyaris tenggelam dibalik kasusnya yang kebesaran.

Kakinya terlihat begitu jenjang tanpa alas kaki, membuat mata Damian jadi sulit berkedip. Rambutnya digelung ke atas dengan asal-asalan, mengekspos leher jenjangnya yang sering kali membuat Damian gagal fokus.

​Damian mengutuk dirinya sendiri yang terpana hanya dengan penampilan sesederhana itu.

Sialan. Bahkan saat gadis Indonesia ini sedang dalam modenya paling santai, ia tetap terlihat begitu menarik di mata Damian Harding.

Lihat selengkapnya