"Damian, nama keluarga kamu itu... sebenarnya membuat saya merasa sedikit segan."
Papa Fraya baru saja menyesap kopi hitamnya setelah sesi makan malam penuh kehangatsn sekaligus candaan dengan menu bakso buatan Mama—sebuah kekontrasan yang hampir terasa aneh bagi seseorang dengan nama belakang seperti Damian—ketika ia melempar tanya yang membuat Damian langsung mengernyitkan dahi. Ada suasana yang mendadak berubah di ruangan itu.
"Memangnya ada apa dengan nama belakang saya, Sir?" tanya Damian. Suaranya terdengar tenang, namun dalam hatinya ia praktis merapalkan doa, berharap asumsi pria di hadapannya tidak menuju ke arah yang paling ia hindari.
"Kalau kamu pernah dengar nama Richard Harding, kamu pasti tahu kalau dia adalah salah satu orang tersukses di Inggris yang lini bisnisnya sudah merajai pasar ekonomi dunia," jawab Papa Fraya dengan gamblang. Sama sekali tidak sadar pada perubahan air muka Damian.
Damian terpaku. Reaksi yang paling ia takuti akhirnya terjadi juga. Ia tidak berani bereaksi terlalu mencolok karena sejak awal niatnya bukan ingin menyombongkan diri. Namun seperti yang sudah ia duga juga, kemanapun Damian pergi, pasti ada saja yang akan mengenali nama belakang keluarganya yang lebih seperti kutukan ini.
Sialnya, Fraya yang duduk tak jauh darinya bisa melihat perubahan raut wajah Damian. Cowok yang beberapa detik lalu tampak santai dengan sweter hitam yang lengannya digulung asal hingga siku itu, mendadak jadi kikuk.
"That’s... my father, Sir," ujar Damian lirih. Sangat lirih, tapi cukup untuk membuat Papa Fraya sampai berhenti menyeruput kopi.
Wajah pria itu berubah drastis. Ia tertegun sejenak sebelum akhirnya meloloskan rasa keterkejutannya, "Kamu tidak bercanda, kan?"
Sejujurnya, Damian ingin sekali berteriak, 'Tentu saja aku sedang bercanda', tapi nama Richard Harding dalam hidupnya memang tidak pernah bisa disingkirkannya begitu saja. Ke mana pun Damian pergi, sekalipun Damian bersembunyi, nama itu seolah sudah memaku pada identitas nya, mendikte siapa dia bahkan sebelum Damian sempat memperkenalkan diri.
Sebuah nama keluarga yang sarat akan identitasnya sebagai pewaris kerajaan bisnis ayahnya sekaligus menjadi penjara juga untuk Damian.
Papa Fraya memekik kaget sambil menaruh cangkir kopinya ke meja dengan denting yang cukup keras.
"Astaga! Kalau dilihat-lihat, kamu memang mirip Richard Harding si kaya dari Eropa itu. Mama! Seharusnya tadi kita tidak cuma menyuguhkan bakso!"
Suara menggelegar Papa Fraya memenuhi ruangan, namun Damian hanya bisa terenyak. Ia merasa sesak. Dari sudut matanya, ia melihat Fraya yang sejak tadi diam, kini menatapnya dengan intens. Fraya menyadari satu hal yang luput dari perhatian ayahnya: Damian sedang merasa sangat tidak nyaman.
"What did i miss?" Mama muncul membawa beberapa piring camilan yang Mama letakkan diatas meja.
"Kamu tahu Richard Harding, kan? Pemilik Harding Global yang baru saja memberi investasi miliaran dolar untuk perusahaan Papa?" Papa menunjuk Damian tanpa memedulikan ekspresi diam seribu bahasa cowok itu.
"Damian ini anaknya. Pewaris takha Harding Global."
Sekarang bukan hanya Papa yang terkejut, Mama juga tampak sangat kaget. Sambil duduk di sebelah Damian, mata Mama memancarkan binar bangga yang luar biasa. "Ya Tuhan, kalau tahu tadi kita kedatangan anak dari atasan Papa, Mama siapkan menu yang lebih layak!"
Pandangan Mama beralih ke Fraya. "Fay, kok kamu nggak cerita?"
Fraya sendiri sebenarnya tidak tahu—atau lebih tepatnya, tidak peduli—dengan siapa ayah Damian atau bagaimana latar belakang tutor Bahasa Jermannya yang lebih sering jadi bahan puja-pujaan seluruh murid di Milford.
Tapi melihat Damian yang tampak ingin menelan dirinya sendiri, Fraya memutuskan untuk melakukan sesuatu.
"Ma, Pa, Fraya mau diskusi soal ujian Bahasa Jerman Fraya buat minggu depan. Boleh ya Fraya bawa Damian ke dapur dulu sebentar?"
Damian mengangkat wajahnya. Binar lega tak terbendung saat ia menatap Fraya yang kini berdiri dan memberi kode untuk mengikutinya. Sambil pamit dengan sopan, Damian segera mengekor di belakang Fraya, meninggalkan kehebohan di ruang tengah tentang 'tamu kehormatan' mereka.
"You want a glass of water?" Fraya menawarkan begitu mereka sampai di dapur.
"Thank you, i guess," jawab Damian lirih. Ia menerima gelas itu dan meneguk isinya sampai habis dalam satu tarikan napas. Ia tidak sadar bahwa Fraya sedang mengamatinya sambil menahan senyum.
Damian menyadari dirinya nyaris ditertawakan. Ia menurunkan gelas sambil mengusap sisa air di bibirnya.
"What?"
Fraya mengangkat kedua bahu, mencoba terlihat cuek meski bibirnya merekah karena tawa samarnya. "Kamu kelihatan tegang sekali tadi. My parents get too excited sometimes over someone new. Maafin mereka, ya."
Seumur hidup, Damian selalu dilingkupi oleh orang-orang yang memuja sosoknya. Entah karena fisiknya yang memang nyaris sempurna, atau mungkin karena latar belakang keluarganya yang luar biasa kaya raya.
Damian selalu mendapat sorotan utama yang membuatnya jadi pusat perhatian begitu mereka tahu bahwa nama Harding di belakang namanya adalah Harding yang membawa arus perputaran perdagangan dunia melambung tinggi dalam dunia perekonomian.
Dan Damian sungguh membenci dirinya yang harus selalu bersembunyi di balik topengnya yang dikenal pongah sekaligus angkuh.
Tapi dengan Fraya... gadis itu sangat gamblang menunjukkan kepada Damian kalau dia tidak peduli sama sekali dengan harta Damian.
Justru yang mengejutkan, kenyataan bahwa rasa tidak nyaman Damian yang muncul tanpa kentara pun tetap disadari oleh Fraya.
Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang mampu menarik Damian dari jeratan ekspektasi tinggi orang-orang disekeliling Damian. Seorang gadis di hadapannya ini telah menyelamatkannya dengan cara yang tak dapat dilakukan oleh siapapun.