Damian menutup pintu mobil di belakang punggungnya. Namun untuk sesaat, ia tetap berdiam diri seperti itu, membiarkan punggungnya bersandar pada sisi mobil yang masih hangat oleh sisa perjalanan.
Ia merasakan senyumnya yang tidak bisa berhenti mengembang sepanjang kepulangannya dari rumah Fraya tadi. Kelamnya dunia Damian kemarin-kemarin seolah luruh dalam dua jam terakhir, digantikan oleh pelangi yang hadir tepat di hadapan mata Damian.
Damian masih tersenyum, senang dan bahagianya bukan main. Seluruh kebahagiaannya begitu jelas menelanjangi perasaan Damian kepada siapa pun orang yang dapat melihat Damian yang begitu mabuk kepayang seperti saat ini.
Damian membuka pintu rumahnya yang besar. Megah, hampa, sekaligus dingin.
Damian tidak pernah disambut oleh sedikit pun kehangatan setiap kali ia pulang ke tempat yang hanya diisi oleh puluhan pelayan di rumahnya itu.
Kehadiran Ayah Damian yang saat ini entah sedang berada di belahan dunia mana juga tidak lagi Damian pedulikan selama beberapa tahun terakhir ini.
Ia berdiri tepat di aula besar rumahnya yang menjulang tinggi, bak menenggelamkan Damian yang selalu saja sendirian setiap kali ia membuka pintu rumah.
Tapi malam ini, kesunyian itu tampak tidak menyentuh Damian. Damian sedang bahagia. Kelewat bahagia. Bertemu Fraya seperti membuatnya baru saja dapat suntikan morfin. Membuatnya jadi candu, butuh, terobsesi.
Damian berjalan mengarah ke kamarnya, masih sibuk merekonstruksi ulang setiap kejadian di rumah Fraya tadi, dan bagaimana gadis itu akhirnya kembali tertawa untuk Damian.
Tapi kedamaian Damian hanya sesaat, karena ketika ia nyaris melintasi ruang rekreasi, langkah Damian langsung terhenti. Samar-samar ia mendengar suara berat Ayahnya, seperti sedang mengobrol dengan seseorang. Mungkin dengan salah satu kolega atau pemegang saham. Damian sudah akan berbalik untuk mengambil rute lain menuju kamarnya ketika langkah Damian yang sudah dibuat se senyap mungkin ternyata masih dapat terdeteksi oleh Ayahnya.
"Nicholas? Is that you?"
Suara rendah Ayah Damian dengan praktis kembali menghentikan langkah kakinya. Ia memejamkan mata sambil menghela napas panjang, kemudian mengutuk pada langit dan bumi karena membuat Ayahnya harus muncul di rumah di waktu yang sangat tidak tepat. Damian berbalik tanpa semangat.
Ayahnya muncul dari balik dinding ruang tengah.
Richard Harding, dengan rambut keemasan yang helainya sudah mulai memutih, masih begitu rapi dengan setelan kerjanya yang necis tanpa jas. Tangannya memegang gelas, yang Damian yakin isinya pasti brendi, memandang Damian tanpa sedikit pun senyum yang mengembang di bibir pria berumur nyaris 50 itu.
"Where have you been? I've been waiting on you these past few hours," ujar Ayahnya sambil menghampiri putra kebanggaannya itu.
Damian diam-diam mengembuskan napas tanpa semangat, "Didn't expect to see you here so soon."
Ayahnya berdiri tepat di depan Damian dan langsung memeluk tubuh putranya yang lebih tinggi darinya itu.
"Good to see you too, my dear son."
Tubuh Damian yang sejak tadi kaku akhirnya menerima pelukan tangan kokoh yang memeluknya itu.
"Apa ayah sedang kedatangan tamu?" tanya Damian seraya mengurai tangannya yang tadi memeluk pria paruh baya di depannya ini.
"Yes, actually, he's wanting to see you. It's always good to talk with that smart boy."
Damian mengernyitkan dahi waktu ayahnya bilang tamu yang diajaknya bicara tadi ingin menemui Damian. Biasanya Damian akan menjadi pengganti figur ayahnya dalam mengurus bisnis serta menangani para investor jika ayahnya sedang tidak berada di London.
Sesaat mulutnya yang hendak terbuka sudah akan melayangkan pertanyaan, ketika sosok Axel dari arah yang sama sudah berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke saku.
Untuk ke sejuta kalinya, Damian mendengar hatinya mengutuk langit dan bumi.
Sialan, aku hanya ingin menghabiskan malam ini dengan angan-angan indah tentang Fraya.
Tangan Ayah Damian menepuk pundak Damian perlahan sambil tersenyum separo. "Ayah selalu bangga pada persahabatan kalian yang terjalin selama lebih dari satu dekade ini, Nicholas. Make him satisfied with your loyalty. He's the key to our hope and success."
Ayahnya sama sekali tidak sadar wajah Damian sudah terpahat seperti patung, mungkin lebih tepatnya tidak peduli dengan efek apa yang timbul berkat ucapannya tadi. Sambil kembali mengusap bahu Damian dan melempar anggukan kecil ke Axel yang berdiri di belakang punggung Richard Harding, ayahnya berlalu meninggalkan Damian sambil meneguk segelas brendi yang sejak tadi digenggamnya.
"So, where have you been? Baru pulang dari rumah gadis kecil kita?" Axel tanpa basa-basi menembakkan pertanyaan yang dengan sukses menyentil api emosi yang sejak tadi Damian tahan dalam diam.