Fraya yakin sekarang wajahnya pasti sudah berubah semerah tomat. Kalimat Florence barusan seperti sebuah tinju yang menghantam langsung ke wajah Fraya dengan keras.
Kali ini bukan hanya alisnya saja yang naik, tapi matanya membelalak lebar kearah Florence. "Kamu ini bicara apa, sih! Ngelantur, deh."
"Kamu tidak tahu, atau menyangkal untuk tahu?"
Fraya tertegun sejenak. Ia juga bingung sebenarnya, dengan perasaan asing yang menyelinap masuk kedalam hati Fraya sejak kemarin itu.
Karena Florence belum juga dapat jawaban dari teman disampingnya ini, Florence melempar tatapan pada Asa dan mengulurkan tangan.
"Let me see those tape," ujar Florence singkat sambil meminta kotak kaset ditangan Asa.
Asa yang sejak tadi ingin sekali ikut nimbrung pembicara Florence dan Fraya itu menyerahkan kotak kaset ditangannya dengan enggan.
Florence menatap deretan judul lagu berbahasa Jerman dibelakang halaman sampul. Matanya kembali terangkat untuk memandang Fraya.
"Bahasa Jerman ku mungkin payah juga, Alexa, tapi setidaknya aku bisa tahu kalau lagu-lagu yang ada didalam kaset ini adalah lagu-lagu cinta."
Fraya mengedipkan mata, tidak lagi kaget maupun terbelalak seperti tadi. Tapi hatinya jadi mulai berdegup dengan aneh, membuatnya jadi hilang kata-kata.
Florence kembali melayangkan tatapan kepada Asa yang masih saja terdiam dengan wajah kesal.
"You're an expert with this language. And since you read those title first before me, do you agree when i say that these setlist is all about love song?"
Manik mata Fraya terangkat untuk memandang Asa yang daritadi hanya bungkam, seperti enggan menjawab.
Namun dengan terpaksa pada helaan napas panjang, Asa menjawab, "Iya, semua lagu-lagu disana itu lagu-lagu cinta."
"See? I told you," erang Florence sambil menghempaskan punggung ke kursi yang didudukinya.
"So what?" seru Fraya dengan napas tertahan, "mungkin memang kebeteluan saja dia hanya punya lagu-lagu itu untuk dia berikan padaku sebagai bahan belajar. Dia tahu aku sangat payah di metode mendengar ini. Percayalah, lagu-lagu ini tidak berarti apa-apa baginya."
"I agree with that!" kembali Asa melemparkan pernyataan setujunya yang dengan praktis bikin kaki Florence menendang Asa dari bawah meja.
Asa mengusap kakinya yang berdenyut akibat ujung sepatu Florence yang tadi diantukkan cukup keras ke tulang kering kakinya. "I better go outside, to get some fresh air."
Fraya dan Florence menatap punggung Asa yang menjauh dan menghilang dari balik pilar besar perpustakaan. Begitu sosok Asa menghilang, Florence menghadap Fraya lagi.
"Alexa, apa yang Damian berikan ke kamu itu bukan hanya kebetulan atau iseng saja."
Fraya berdecak sebal, "Tidak, Flo. Kaset ini hanya untuk bahan belajarku supaya aku bisa melatih metode sialan ini saja. Aku tidak mau berkhayal sampai sejauh itu hanya karena lagu-lagu didalamnya adalah lagu-lagu cinta."
Florence menaikkan kedua alisnya, mendengar ucapan Fraya yang rasanya seperti penyangkalan.
"Alexa, percayalah jika kukatakan Damian itu satu-satunya makhluk paling mematikan Milford Hall yang tidak pernah sekalipun terlihat mengejar perempuan. Baik didalam Milford maupun diluar Milford. Kalau para gadis mengemis perhatian di kakinya, itu sudah jadi makanan pokok semua orang disini. Reputasinya tidur dengan banyak perempuan juga sudah melalang buana di seluruh Inggris, tidak perlu diragukan lagi. Tapi melihat sosok dingin itu sampai menyeret seorang gadis ke tribun hanya untuk membuatnya menonton pertandingan supaya dia menang, rela menjadi tutor padahal dia sendiri hampir tidak pernah ikut kelas Mr. Müller, sampai bersedia mendatangi rumah seorang gadis, itu bukan seperti Damian Harding yang orang-orang kenal. Kami disini, tidak kenal dengan Damian versi itu."
Fraya kembali termenung mendengar ucapan Florence. Dan belum sampai disitu, Florence kembali melanjutkan, "Sebelum kamu datang, Damian itu tidak tersentuh sedikitpun. Para gadis menyuguhi banyak perhatian, yang diterima dengan tangan terbuka walaupun tindakan mereka atau apapun yang mereka berikan kepada Damian pada akhirnya tidak benar-benar pria itu terima. Tapi dengan kamu, kamu membuatnya seperti manusia pada umumnya, seperti siswa-siswa lain. Sebelum kamu datang, sosok Damian hanya akan hadir di kelas saja. Atau di lapangan Lacrosse kalau sedang latihan. Dia tidak akan muncul tiba-tiba di perpustakaan, atau ikut makan di kafetaria seperti akhir-akhir ini yang sering dilakukannya dengan kamu. Dan semua itu hanya terjadi pada saat kamu hadir di Milford."
Fraya ingin sekali menyangkal, tapi sebagian hatinya yang kerap bertanya sejak beberapa hari ini seperti mengamini penjelasan Florence. Seolah tanpa sadar, kalimat teman dekatnya itu telah menjawab pertanyaan tak terucap dalam hati Fraya selama ini.
"Tapi... Aku? Untuk apa orang seperti Damian suka sama gadis sepertiku? Apalagi perkenalan awal kita rasanya tidak pernah terjadi dengan tepat."
"Alexa, cinta datang dengan cara paling tidak terduga. Menurut kamu, kenapa si culun Asa itu jadi sering mau ikut denganku kalau bukan karena dia juga naksir sama kamu. Kamu sadar tidak sih, kamu itu sebenarnya cantik sekali?"
Untuk kalimat ini, Fraya cuma bisa memutar mata sambil berdecak, "Jangan meledekku!"