Its Always Been You, Fraya

Farah MAULIDA
Chapter #24

The Ace, My Ace

​Kemenangan mutlak dengan skor telak akhirnya berhasil diraih oleh Milford, mengungguli angka jauh di atas skor Eastwood High. Euforia disetiap tribun lapangan meledak dahsyat, memecah hening yang biasanya menyelimuti Milford Hall menjadi gemuruh yang memekakkan telinga pada saat peluit panjang ditiupkan dan kemenangan Milford di teriakan melalui pengeras suara.

​Nama Damian, sang kapten yang mencetak skor terbanyak dengan permainan luwes yang membuat semua mata terpaku, berkumandang menggema disetiap penjuru lapangan.

Tubuhnya diangkat tinggi-tinggi oleh para anggota timnya, sebuah selebrasi yang ditunjukkan kepada langit—seolah-olah mereka sedang mempersembahkan sang pahlawan yang telah membawa nama Lacrosse Milford Hall meraih puncak kemenangan.

​Dahsyatnya kemeriahan itu berlangsung selama lebih dari dua jam. Begitu pertandingan usai, para penonton yang masih sibuk bereuforia mulai meninggalkan tribun perlahan-lahan.

Langkah-langkah kaki para penonton yang mulai berhamburan turun menyisakan tribun yang kini sangat lowong, hanya ada sisa-sisa kehebohan pertandingan yang sungguh apik tadi dibeberapa titik tribun.

​Fraya masih di sana, terpaku di salah satu deretan bangku penonton yang sekarang hanya diisi oleh dirinya seorang diri.

Asa dan Florence sudah berpamitan untuk pulang lebih dulu beberapa menit yang lalu. Sebelum benar-benar beranjak, Florence sempat melempar senyum jahil, mengedipkan matanya dengan genit—sebuah ledekan yang tidak butuh kata-kata namun sukses membuat Fraya salah tingkah.

Namun di detik yang sama, Asa langsung menarik lengan Florence untuk segera pergi, seolah tahu Fraya butuh waktu sendiri. Asa melambaikan tangan singkat, sementara tangannya yang lain sibuk menyeret Florence yang masih iseng melempar cengiran nakal ke arahnya.

​Ingatannya memutar ulang momen beberapa menit lalu. Saat Damian turun dari panggung setelah piala diserahkan dan medali dikalungkan di lehernya, cowok itu tidak menuju ruang ganti. Ia justru berlari melintasi luasnya lapangan hijau hanya untuk menghampiri Fraya. Menciptakan gagap gempita dari seluruh mata yang menyaksikan sang pentolan sekolah berlari membelah lapangan demi seorang gadis di antara lautan manusia.

​Fraya, yang sebisa mungkin mencoba tidak tenggelam dalam rasa malu karena lagi-lagi mereka menjadi pusat perhatian, hanya bisa tertegun saat menerima medali itu. Damian meletakkannya begitu saja di telapak tangan Fraya, membiarkan logam dingin itu bersentuhan dengan kulitnya yang hangat.

​"I told you, I’m gonna winning this game for you," ujar Damian dengan napas memburu dan peluh yang membanjiri wajahnya. Sedetik kemudian, ia berbalik badan untuk turun kembali ke lapangan, meninggalkan Fraya di tengah keriuhan penonton yang takjub sekaligus terpana melihat interaksi mereka.

​Kini, mata Fraya tidak lepas memandangi medali ditangannya. Fraya, antara sadar atau tidak, membiarkan senyumnya mengembang perlahan. Di bawah lampu sorot yang masih menyinari lapangan, ia mengangkat medali itu di depan wajahnya, memperhatikan pantulan cahaya di permukaannya. Seolah ia sedang meyakinkan diri sendiri bahwa tindakan Damian yang sungguh di luar dugaan itu bukan sekadar mimpi.

​"It's shining, huh?"

​Fraya tersentak kaget, nyaris menjatuhkan medali ditangannya.

Damian tengah berdiri sambil menopang kedua sikunya di atas pagar tribun bawah. Ia melempar kerlingan senyum yang membuat pertahanan Fraya goyah.

​"Im sorry, why you giving me this, anyway? It's not me who played the game," ujar Fraya sambil berdiri dan mulai menuruni beberapa anak tangga untuk menghampiri Damian di pinggir pagar.

​Damian ikut berjalan mendekat. Dan ketika Fraya hendak melompati undakan pagar di antara mereka, tangan Damian lebih dulu bergerak. Ia meraih pinggang Fraya dan membopong gadis itu dengan mudah melintasi pagar. Fraya memekik seketika karena kejutan fisik yang tiba-tiba.

​Begitu kakinya memijak tanah lapangan, Fraya refleks memukul bahu Damian.

Namun tangan Damian lebih cepat bereaksi. Dengan sigap ia menahan pergelangan tangan Fraya, menguncinya di antara mereka untuk beberapa detik sambil mengerling jahil.

​"Kamu tuh kenapa sih, hobi sekali bertindak intrusif seperti itu. Good thing there's no one here around," gerutu Fraya kesal. Namun kekesalan itu hanya bertahan sesaat, karena tawanya pecah saat Damian mencoba menggerakkan alisnya naik turun dengan cepat.

Damian Harding ini, selain berbakat bikin orang jantungan ternyata dia juga berbakat jadi pelawak.

​"Wajah kamu lucu sekali kalau sedang cemberut begitu. Jangan sering-sering cemberut, ya. Karena dengan wajah se menggemaskan itu, aku harus siap-siap meninju setiap cowok yang jatuh hati sama wajah kamu."

​Mata Fraya membelalak, benar-benar kaget dengan kejujuran Damian yang brutal. Jantungnya serasa mau copot seketika.

"Ih, Damian! Apaan, sih. Kamu kenapa jadi norak begini, sih. Ada yang salah ya dengan otak kamu!?"

​Damian menggeleng samar, tatapannya mendadak intens.

"Nope. I just want to make myself clear that I don’t share anything that's mine."

​Fraya sudah akan menginjak kaki Damian jika saja cowok itu tidak langsung menghindar dengan lari saat Fraya mulai mengejarnya di atas rumput lapangan.

Damian jadi terbahak-bahak melihat rona merah di kedua pipi Fraya. Dalam hatinya, Damian ingin sekali mendaratkan kedua tangannya tepat di pipi yang bersemu itu, merasakan kehangatan gadis di depannya dan menarik wajah itu untuk diciuminya habis-habisan.

​Tapi tidak sekarang. Damian tahu, segala imajinasi intrusif di kepalanya tentang Fraya harus ia tahan mati-matian. Jika ia meloloskan satu saja keinginan itu sekarang, Fraya pasti tidak akan segan-segan untuk meninju hidungnya sampai patah.

Ia tidak mau mengambil risiko, karena saat ini hubungannya dengan Fraya sedang menuju titik terang yang membuatnya jadi memikirkan sebuah harapan.

​Mereka berjalan pelan menjauhi sisi lapangan. Fraya menyodorkan piagam dan medali di tangannya ke arah Damian.

Lihat selengkapnya