Its Always Been You, Fraya

Farah MAULIDA
Chapter #25

Bittersweet Symphony

Roda mobil bahkan belum benar-benar berhenti ketika Nicholas menyentak pintu dan melompat keluar. Ia tidak memedulikan apapun, apalagi suara berat Adam Whitmore—supir yang sudah mengabdi pada keluarga Harding selama belasan tahun—yang meneriakinya agar tetap di dalam.

Nicholas tidak mendengar apa pun selain gemuruh di kepalanya sendiri yang terasa mau pecah seiring kakinya berderap secepat kilat menembus koridor rumah sakit yang begitu dingin.

​Ia berlari secepat macan yang sedang mengejar nyawa. Paru-parunya terasa seperti terbakar, namun kakinya seolah punya kendali sendiri untuk mengejar kemungkinan paling menakutkan yang ingin dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri.

​Langkahnya baru terhenti tepat di depan meja resepsionis. Tangannya mendobrak permukaan meja, memaksa perhatian seorang perawat yang tengah sibuk dengan telepon. Perempuan itu luar biasa tersentak karena gebrakan dari anak laki-laki berambut emas perunggu di depannya ini begitu tiba-tiba, menuntut atensi dengan kegelisahan yang nyaris hancur.

​"Harding. Arnelia Harding. Where is she?" tanya Nicholas dengan suara bergetar, sebuah perpaduan antara isak tangis yang tertahan dan ketakutan yang menyesakkan.

​Kekesalan perawat itu langsung menguap, digantikan oleh kecanggungan yang seolah menyetrum seluruh tubuhnya begitu mendengar nama Harding diucapkan.

Nama itu memang punya kuasa dimanapun Nicholas berada, seolah dengan menyebut nama belakangnya saja, efeknya dapat menyebabkan siapapun langsung mematuhi perintah yang Nicholas inginkan.

Tak kunjung dapat jawaban dari staf yang kini dengan canggung mencari keberadaan orang yang dimaksud Nicholas di layar komputer, dengan brutal Nicholas menggebrak meja lagi seraya melempar teriakan yang menggemparkan semua orang di ruang gawat darurat.

​"CEPAT! DI MANA IBUKU SEKARANG?!"

​"NICHOLAS HARDING!"

​Nicholas berputar cepat ke arah suara berat yang memanggil namanya. Di ambang pintu ruang gawat darurat, ayahnya berdiri di samping seorang dokter dengan wajah semuram langit London sore itu—abu-abu, dingin, dan tanpa harapan.

​"Dad, where is she? Where's Mom?" tanya Nicholas dengan napas yang terasa kian berat di dadanya.

​Richard Harding tidak langsung menjawab. Ekspresinya sangat muram. Matanya berpindah sejenak ke arah dokter di sebelahnya sebelum kembali menjatuhkan pandangan pada Nicholas yang berdiri dengan air mata mulai menggantung di pelupuk.

​Richard kemudian merendahkan tubuhnya, menyejajarkan pandangan dengan mata putra kebanggaannya itu. Satu tangannya yang kokoh meremas bahu Nicholas, menarik bahu kecil putranya itu ke dalam sebuah pelukan.

Pelukan yang diikuti oleh sederet kalimat yang memiliki efek seperti ledakan bom, sanggup meruntuhkan setiap lapisan jiwa Nicholas hingga tak berbekas.

​"Ibumu sudah tiada, Nicholas."

°°°°

​Sudah tiga hari...

​Sudah tiga hari si brengsek itu tidak menampakkan batang hidungnya di Milford Hall.

​Ms. Whiterspoon baru saja menutup sesi kelas hari ini dengan segudang tugas yang harus diselesaikan Fraya sebelum libur Natal tiba. Begitu Ms. Whiterspoon menghilang di balik pintu, koridor mulai riuh oleh derap langkah para siswa yang membereskan meja dan berbondong-bondong keluar kelas.

​"What a day, huh?"

Louis yang duduk persis di depan Fraya, membalikkan badan sambil melempar senyum separuh.

​"Yup. Sepertinya Ms. Whiterspoon paling anti lihat kita malas-malasan menjelang Natal, deh." ujar Fraya seraya menyampirkan tali tas ke bahunya.

​Louis berdiri dan mulai berjalan keluar bersisian dengan Fraya. "Kamu biasanya tampak paling bersemangat kalau sudah masuk kelas Mrs. Whiterspoon. But you seem a bit down today."

​Fraya mengangkat kedua alisnya, mencoba berkilah secepat mungkin.

"Masa? Sepertinya aku biasa-biasa saja, masih sama seperti kemarin."

​Kini ganti Louis yang mengangkat alisnya tinggi-tinggi, menatap Fraya skeptis.

"Really? So it has nothing to do with Damian's absence today, is it not?"

​Fraya berdecak sebal dan langsung melengos meninggalkan Louis. Namun, dengan pula cepat cowok itu menyejajarkan langkah mereka kembali sambil terkekeh meledek.

​"Kamu mau aku pinjami kaca tidak? Supaya kamu tahu wajahmu sekarang terlihat se mendung apa. Siapa tahu kamu tidak percaya dengan ucapanku."

​"Partridge, I'm fine!" tandas Fraya kesal tanpa mau menoleh sedikitpun.

​Louis membuat manuver dengan berdiri tepat di depan Fraya untuk memblokir jalan agar cewek didepannya berhenti melangkah.

"Oke, kalau kamu memang tidak kesal seperti yang kamu bilang, bagaimana kalau kamu menemaniku makan siang hari ini? Yah, hitung-hitung bonding pertemanan karena dua minggu terakhir aku banyak absen dari kelas Mrs. Whiterspoon."

​Fraya bersedekap, memicingkan mata dengan curiga. "What's your truly agenda, Partridge?"

​Louis terkekeh. "Nothing. Aku hanya ingin makan siang denganmu. Diskusi sekaligus update tentang apa saja yang terjadi di Milford selama aku 'menghilang'. Selain dari kegemparan kamu dan Damian yang heboh sekali kemarin itu."

​Fraya membuang napas sebal. "Bicaramu seolah-olah kamu baru pulang liburan dari Mars deh sampai butuh life update segala. Lagipula, memangnya cowok dengan reputasi se terkenal kamu tidak punya informan yang bisa memberi kabar seputar sekolah?"

​Louis mengangkat kedua bahunya cuek.

"Tidak punya. Fraya, percayalah jika kukatakan aku tidak punya kuasa sebesar itu di sekolah ini sampai punya informan pribadi segala. Ingat ya, aku bukan Damian."

​Mendengar nama itu disebut lagi, hati Fraya seperti kembali berdenyut, memikirkan kemungkinan yang terjadi pada Damian yang mendadak hilang bak ditelan bumi. Rasa penasarannya untuk menanyakan keberadaan Damian sudah di ujung lidah, namun mengingat Louis sejak tadi tidak berhenti menggodanya, mau tidak mau Fraya harus mengubur rasa ingin tahunya kuat-kuat.

​"Jadi, bagaimana? Aku tunggu di pinggir lapangan baseball jam 12 nanti? You don't have to bring anything for lunch. I'll bring something," kata Louis dengan nada memohon.

​Fraya mengembuskan napas panjang, namun akhirnya mengangguk.

Lihat selengkapnya