Terkadang Fraya suka lupa kalau dia tidak lagi berpijak di aspal Jakarta yang gerah. Maka, melangkah keluar rumah hanya dengan balutan celana piyama panjang dan cardigan selutut berbahan tipis adalah salah satu keputusan paling konyol yang pernah ia buat.
London punya caranya sendiri untuk menghukum siapa pun yang meremehkan cuaca temperaturnya yang tidak bisa diprediksi.
Dan malam ini, udara dingin itu terasa seperti ribuan jarum yang menusuk kulitnya.
Fraya melintasi halaman sambil menahan tubuhnya yang bergidik hebat.
Ia bisa saja berbalik, masuk ke dalam rumah untuk mengambil mantel. Namun, logika praktisnya maju selangkah, lebih cepat ia bertemu Damian, lebih cepat ia bisa mengusir laki-laki itu, dan lebih cepat juga ia bisa kembali ke balik selimut.
Atau setidaknya, itulah narasi yang coba ia jejal kan ke kepalanya saat ia berdiri di depan Damian sambil memeluk tubuhnya sendiri erat-erat.
Ia hanya ingin tidur, bisik batinnya, bukan karena ia tidak sabar melihat wajah cowok itu di depan halamannya.
Bukan juga karena sejak tadi jantungnya berdetak sedikit lebih cepat setelah menerima telepon itu.
Ketika akhirnya ia melihat Damian berdiri di dekat pagar, sesuatu di dalam dadanya ikut menegang.
Damian terlihat… berbeda.
Setelan formalnya terlalu rapi untuk malam seperti ini. Rambutnya tertata. Bahunya tegak. Terlalu dewasa.
Terlalu bukan anak delapan belas tahun.
Senyum yang tadi terdengar di telepon langsung hilang begitu ia melihat Fraya.
Damian, yang sejak panggilan telepon tadi tidak repot-repot menyembunyikan binar di matanya, langsung terkesiap saat melihat sosok Fraya yang berjalan agak payah menembus kabut tipis sambil menggigil kedinginan.
"Kenapa kamu tidak pakai mantel? Demi Tuhan, sekarang dingin sekali, Ace."
Suara Damian terdengar antara cemas dan tidak percaya. Tanpa menunggu jawaban, ia melepas mantel cokelat yang ia kenakan dan menyampirkan nya ke bahu Fraya sebelum gadis itu sempat menyusun kalimat protes.
"Aku terbiasa dengan cuaca dingin," kilah Fraya asal-asalan. Sebuah kebohongan asal karena di detik saat pintu rumahnya terbuka tadi, Fraya sudah merutuki kebodohannya sendiri habis-habisan.
"Kamu ngapain ke sini? Kupikir kamu sudah mati bersama ponselmu yang ternyata masih punya cukup nyawa untuk menghubungiku barusan," ujar Fraya, mengedarkan pandangan ke sekitar. Ia melakukan apa saja asal tidak harus membalas tatapan Damian yang kini mengunci wajahnya dengan curiga.
Satu cengiran jahil kemudian mencuat di sudut bibir Damian. "Okay, so this is the answer why you looked so pissed."
Fraya memutar bola mata, berusaha mempertahankan fasad cueknya. "Aku tidak kesal, Damian. Percayalah."
Damian hanya mengangguk-angguk kecil, seolah sedang meladeni anak kecil yang tertangkap basah berbohong. Ia tahu persis bahwa di balik wajah itu, Fraya sedang ingin memaki-makinya keras-keras.
"Where have you been these past few days?" Akhirnya, pertanyaan itu lolos juga dari bibir Fraya. Rasa penasaran yang sejak kemarin menggelitik relung hatinya kini tak lagi bisa dibendung.
Damian tidak langsung menjawab. Ia berdiri dengan tangan bersedekap di depan dada. Di bawah temaram lampu jalan, sosoknya terasa berbeda.
Bukan lagi Damian remaja yang biasa Fraya lihat. Malam ini, ia tampak jauh lebih dewasa dalam balutan setelan formal khas pekerja kantoran yang rapi, meski dua kancing teratas kemejanya dibiarkan terbuka—memberikan kesan maskulinitas yang sedikit berantakan.
Laki-laki itu menunduk. Gurat jenaka yang tadi menghuni matanya perlahan luruh, digantikan oleh sesuatu yang lebih gelap dan berat.
Damian menoleh, menangkap basah Fraya yang tengah menatap ujung sepatu boots kainnya sendiri.
Senyum Damian mengembang lagi, tapi kali ini hambar. Senyum itu tidak pernah sampai ke matanya.
"I was at Rotterdam. Menemani Ayahku bertemu investor dan pemegang saham. Diskusi besar tentang strategi baru Harding Global tahun depan."
Fraya hanya mengangguk-angguk pelan, masih enggan mengangkat wajah.
Namun, ia tidak bisa menulikan pendengarannya dari nada getir yang menyusup dalam suara Damian.
Saat ia akhirnya memberanikan diri mendongak, ia menemukan Damian sedang menatapnya dari jarak yang begitu dekat. Sangat dekat hingga Fraya merasa oksigen di sekitarnya mendadak menipis.
"And you didn’t like what you were doing in Rotterdam, i guess?"
Damian terkekeh pahit. "What makes you think that? Kebanyakan orang akan membunuh demi posisiku ini, Ace."
Fraya mengedikkan bahu. "Karena suaramu barusan... kedengarannya bukan seperti orang yang baru memenangkan dunia, tapi seperti orang yang baru saja kehilangan dirinya sendiri. Siapa pun bisa melihat keberhasilan mu, Damian. Tapi tidak semua orang bisa mendengar betapa sesaknya kamu saat membicarakannya."
Damian tertegun. Kalimat itu meluncur begitu ringan dari bibir seorang gadis yang bahkan belum lama ia kenal. Gadis yang biasanya menghabiskan waktu dengannya untuk berdebat, adu mulut, atau melempari Damian dengan dengan umpatan dalam bahasa Indonesia.
Analisis singkat Fraya barusan terasa seperti tamparan telak yang tepat mengenai harga diri Damian.
"Baru kamu, Ace... baru kamu,"
Damian menghela napas panjang sembari menatap langit malam London yang kelabu. "Baru kamu yang menganggap segala sesuatu yang kulakukan untuk Harding Global tidak pernah bisa ku nikmati. Orang lain melihat Damian Harding sebagai sosok magis karena sudah memikul tanggung jawab sebagai ahli waris di usia delapan belas. Mereka pikir ini mudah. Mereka tidak tahu bahwa ini semua bukan apa yang aku mau."
Fraya terdiam. Kegetiran dalam suara Damian seolah merambat masuk ke dalam dadanya, membuat hatinya ikut terenyuh.