"Terjemahan satu lagu Jerman sudah harus kamu selesaikan besok."
Fraya menatap layar ponselnya dengan pandangan yang masih buram. Sederet kalimat titah itu masuk tepat pukul tiga pagi, membelah sunyi nya kamar dan sisa-sisa mimpinya.
Ia mengusap matanya berulang kali, memastikan bahwa Damian tidak sedang salah kirim pesan di jam saat manusia normal seharusnya masih sibuk berkelana di alam bawah sadar.
Harusnya Fraya mengabaikan saja pesan itu. Toh, ia memang sudah menyelesaikan terjemahan lagu Jerman yang Damian berikan kemarin. Lagu berjudul Du... yang artinya 'Kamu'.
Namun, seolah jemarinya memiliki kehendaknya sendiri, Fraya justru membalas perintah Damian—jenis titah yang biasanya sanggup membuat tensinya melonjak seketika.
"Kalau banyak yang salah, tolong maklumi ya..."
Mengingat deretan arti lirik lagu itu, Fraya mendadak salah tingkah sendiri. Sejak Florence menyuntikkan teori tentang perasaan Damian ke kepalanya, Fraya jadi hobi memvalidasi setiap tindakan cowok itu—yang jika dipikirkan ulang, memang terasa manis belakangan ini.
Fraya belum pernah berpacaran. Sewaktu sekolah di Jakarta dulu, radar ketertarikannya pada laki-laki seolah mati. Sebelum ada yang berani melangkah terlalu jauh untuk mendekatinya, Fraya sudah membentengi diri dengan menegaskan bahwa fokusnya hanya belajar.
Biasanya kalau sudah begini, para cowok-cowok yang sudah berniat mengejarnya bakal langsung mengambil langkah mundur seribu.
Tapi dengan Damian... semuanya tidak dimulai dengan mudah. Sama sekali tidak ada kesan indah di awal. Namun, cara Damian bertindak posesif dan semena-mena—yang jika direnungkan lagi—jelas bukan perilaku tipikal seorang teman biasa.
"Sepertinya teman biasapun tidak ada yang sampai berani main cium keningku seperti Damian tadi." Fraya membatin sendiri dalam hati sambil menatap langit-langit kamarnya.
Di tengah kantuk yang masih terasa pekat, bibir Fraya menyunggingkan senyum seperti orang gila. Ia segera menepuk pipinya sendiri, memerintah akal sehatnya untuk kembali ke bumi sebelum imajinasinya melantur lebih jauh.
Balasan Damian masuk, membuat jemarinya langsung mengangkat ponsel secepat kilat. Namun bukannya tambah merona bahagia, balasan Damian seketika menghanguskan semu merah di pipi Fraya dalam sekejap.
"Aku sudah memberimu waktu satu minggu. Kalau kamu masih salah juga, artinya kerja otakmu juga bermasalah!"
Fraya tertegun, mencoba mencerna deret kalimat yang jauh dari kata manis itu. Ia berdecak. Perasaan hangat yang tadi menyelimuti hatinya hilang tak berbekas.
Ia sudah bersiap mengetikkan balasan pedas untuk mempertanyakan maksud kalimat sadis Damian, namun sedetik kemudian, ia menghapus semuanya.
Dengan perasaan dongkol, Fraya melempar ponselnya ke sembarang tempat di sisi kasur, lalu menghempaskan diri dan menenggelamkan wajahnya di bawah selimut.
"Dasar aneh! Tadi saja manis banget, pakai nyium jidat segala. Sekarang tiba-tiba judes. Dasar diktator! Nggak jelas!" gerutunya dalam bahasa ibunya dengan nada yang sangat jengkel.
°°°°
Di sudut lain London yang mulai disapa cahaya pagi, Damian menyesap kopi hitamnya dalam diam. Dalam keheningan yang sama sekali tidak berani diganggu satu makhluk pun karena sosok menyeramkan itu sedang tidak bisa disentuh oleh satu hal pun di dunia ini. Seperti guci yang retak, satu sentuhan saja, Damian bisa hancur berserakan.
Dan sejak semalam itu pula, kini hobi barunya adalah menggeser layar ponsel, meneliti dua foto kiriman entah dari siapa yang sukses menghancurkan kedamaiannya.
Ia pikir kekesalannya akan luruh saat fajar tiba, namun ternyata nyanyian burung yang terdengar merdu pun cukup untuk membuat Damian jadi ingin marah-marah.
Akibatnya, pelayan rumah dan supir pribadinya harus menjadi sasaran mood Damian yang kacau balau karena alasan yang sangat sepele.
Pelayannya dimarahi habis-habisan hanya karena menyuguhkan teh kamomil—minuman yang sangat ia benci. Bagi ukuran orang Inggris, Damian memang bukan pemuja teh.
Sementara Adam Whitmore, supirnya yang selalu tabah, juga tidak luput dari amukan. Damian mengomeli pria itu untuk memacu mobil secepat mungkin karena ia ingin sampai di sekolah lebih awal.
Dalam hati, Adam merasa bingung. Kemarin, saat mengantar tuan mudanya ke rumah gadis bernama Fraya, Damian tampak seperti baru saja terkena panah Cupid. Wajahnya berseri-seri setiap kali menceritakan gadis Indonesia itu.
Bahkan semalam, melalui kaca spion, Adam melihat Damian Harding tersenyum sendiri sepanjang perjalanan pulang. Tapi sekarang, Damian kembali ke versi lamanya—dingin dan meledak-ledak—seperti sebelum mengenal Fraya Alexandrea.
Damian sudah berada di ruang rekreasi, tempat favorit yang disediakan Milford Hall khusus untuk Damian gunakan jadi titik kumpul para anggota geng nya untuk sekedar bersantai.
Pagi ini, baru dia yang datang. Ia meminta pelayan sekolah membawakannya secangkir kopi hitam lagi, berharap kepekatannya mampu membantunya menghadapi apa pun yang akan terjadi hari ini.
Namun, dasarnya Damian, kadang ia suka lupa kalau dewi fortuna lebih sering tidak berpihak padanya, karena anggota kedua yang muncul melalui pintu ruang rekreasi justru orang yang membuat tensi Damian jadi melonjak tinggi pagi ini.