Sore itu sunyi menyergap, hanya diisi oleh suara gemersik dedaunan kering yang menari-nari tertiup angin di sekitar kaki seorang gadis kecil berambut pirang panjang.
Alana berdiri diam, menatap pintu besi dengan ukiran ornamen bunga seperti tanaman merambat yang begitu indah di depan matanya. Ia sedang menunggu seseorang, sebuah penantian yang membuatnya nyaris menahan napas.
Tangannya mendekap sekotak cokelat yang baru saja ia beli langsung dari Swiss, dari salah satu gerai cokelat favorit orang yang sejak tadi ditunggunya sambil harap-harap cemas.
Alana Highmore merapikan lagi tatanan rambutnya yang seterang warna matahari di ufuk timur London—warna yang dikenal sangat indah—helainya tergerai dan tertiup syahdu bak tirai putih yang terhembus angin.
Kedua matanya berwarna biru terang, kontras dengan hidung mancung yang terpahat sangat pas di wajah kecilnya. Siapa pun yang menatap sosok Alana yang baru berumur 12 tahun ini pasti akan langsung terpaku, tak sanggup memalingkan wajah ke siapa pun.
Orang yang ditunggunya akhirnya muncul. Keluar melalui pintu berornamen bunga indah itu dengan tatapan dingin yang—sangat Nicholas sekali. Tatapan dingin yang menusuk kelabu, sorot yang sudah begitu lekat di kedua matanya sejak dua tahun kepergian ibunya, Arnelia Harding.
Alana terlonjak kaget dari tempat persembunyiannya. Dengan jantung yang mendadak berdebar sangat cepat, ia mengambil langkah seribu, berlari secepat mungkin dengan kedua kaki mungilnya demi bisa berdiri tegak tepat di hadapan Nicholas.
Nicholas tampak sangat kaget. Matanya yang berwarna sebiru samudera itu membelalak ketika menyadari Alana telah menghalangi jalannya persis di depan mata sambil merentangkan kedua tangan.
"Alana, apa yang kamu lakukan?" tanya Nicholas. Suaranya sarat akan kekesalan yang berbalut dingin, namun herannya, nada itu tidak membuat Alana goyah sedikit pun.
Alana tidak menjawab. Alih-alih bersuara, ia mengulurkan benda yang sejak sejam lalu dipegangnya dengan hati yang berdebar tidak keruan.
Nicholas hanya memandang kotak di tangan Alana yang disodorkan padanya, lalu menatap Alana dengan kening berkerut dalam, "What’s this?"
Alana seharusnya sudah gentar dengan pertanyaan Nicholas yang terdengar sangat ketus. Tapi, dengan kepindahan yang setara, Alana menjawab, "Cokelat kesukaan kamu. Aku beli di Kenny’s, gerai langganan kamu di Swiss. Katanya cokelat edisi ini sangat terbatas. Makanya harganya bikin orang yang bukan kalangan kita pasti tidak akan mampu untuk membelinya. Aku sengaja beli ini jauh-jauh untuk kamu, Nick."
Mungkin di dalam kepalanya, Alana yakin Nicholas akan langsung tersanjung dengan pengorbanannya melintasi negara yang berbeda demi mendapatkan sesuatu yang ia yakini Nicholas pasti akan suka.
Namun, Alana terkadang suka lupa, bahwa dalam topik tentang seberapa konglomerat nya asal-usul mereka dan bagaimana latar belakang kekayaan keluarga yang mereka miliki, Nicholas tidak pernah tertarik. Karena tanpa gadis itu harus susah payah menyeberangi lintasan negara pun, Nicholas bisa mendapatkan apa pun yang ia inginkan.
Jangankan sebatang cokelat Kenny’s, satu gerainya pun sanggup Nicholas beli.
Nicholas menghembuskan napas dan menatap Alana lurus dengan pandangan malas, "Aku sedang tidak mood makan cokelat. Kamu berikan saja ke sepupuku itu."
Nicholas tidak menunggu respon Alana yang hendak melayangkan protes. Cowok itu melintas begitu saja, tanpa peduli, meninggalkan Alana sendirian.
"Tunggu!" Alana berseru dengan cepat dan nyaring, membuat langkah Nicholas yang baru saja menjauh kini terhenti lagi.
"Aku sukanya sama kamu, Nicholas, bukan Axel!" tandas Alana dengan sikap berani, walaupun kedua tangannya kini mulai meremas satu sama lain, menyalurkan kecanggungan serta ketakutan yang kentara.
Nicholas berbalik. Masih dengan ekspresi yang sama; tanpa minat, tanpa ekspresi.
"Kamu salah orang, Alana," timpal Nicholas, benar-benar cuek sekali.
Alana menghembuskan napas dengan kasar, suaranya nyaris terdengar menyentak, "Aku tidak pernah suka sama Axel, Nick. Hanya kamu, hanya kamu yang aku sayang dari dulu. Aku rela jadi apa pun, asal kamu tetap bersama aku."
Sekarang Nicholas jadi tertawa. Tapi bukan jenis tawa yang membuat Alana senang melihatnya. Itu tawa menyedihkan yang membuat Nicholas hanya mampu menggelengkan kepala.
"Kamu sadar tidak, kita ini baru 12 tahun. Kok kamu sudah berani sekali bicara cinta-cintaan seperti itu," ujar Nicholas sambil menarik tali tas ransel di bahunya yang mulai mengendur.
Alana menggeleng cepat, kelewat cepat malah, "Tidak, Nick. Aku memang sayang sama kamu. Aku mau suatu saat nanti aku nikahnya sama kamu, persis seperti yang Ayah kamu pernah janjikan."
Tawa pahit yang sempat menyentuh kedua mata Nicholas seketika menguap begitu saja di udara ketika Alana menyebut kata 'Ayah'.
Wajahnya mendadak menegang. Rasa sesak yang sudah dua tahunan ini selalu menguasai seluruh raganya kembali mencuat semudah ia menghembuskan napas. Kelima jarinya meregang kuat, Nicholas berusaha menahan diri agar tidak mengepalkan tangan, menahan emosi yang selalu mengambil alih dirinya agar tidak mencari korban untuk dilayangkan tinju.
"Nicholas, are you okay? Did I do something wrong?" tanya Alana dengan suara khawatir.
Gadis itu tidak tahu perang batin Nicholas yang bergemuruh sangat berisik di kepalanya. Tidak ada seorang pun yang tahu, dan tidak ada seorang pun yang akan paham.
Kematian ibunya, kepongahan ayahnya yang tak dapat ditandingi siapa pun, serta beban yang harus dipikulnya sebagai pewaris tunggal satu-satunya kerajaan bisnis ayahnya yang mendunia, membuat Nicholas harus memikul semua itu sendirian. Di usia yang seharusnya masih ia fokuskan untuk berkemah atau sekadar bermain sepeda bersama teman sebayanya.
Untuk kesekian kalinya, topeng palsu Nicholas kembali dikenakan di wajahnya. Setiap sudut rahang anak usia 12 tahun yang sudah terpahat sangat tegang itu mengeras. Ia kembali mengabaikan Alana yang masih menatapnya khawatir, dan melongo saat Nicholas malah pergi tanpa memuaskan keingintahuannya akan kondisi Nicholas.
"Nicholas aku cinta sama kamu!" Alana berteriak sangat nyaring, hingga membuat langkah Nicholas terhenti lagi.
Kali ini tubuhnya berbalik, dengan manik mata tajam yang langsung membuat bibir mungil Alana merapat seketika.
Nicholas tidak bergerak, hanya menatap Alana tanpa ekspresi dari jarak lima langkah di depan gadis itu.
Di tengah kesunyian yang terlalu bising itu, Nicholas memberi jawaban yang membuat gadis berusia 12 tahun di depannya itu seolah langsung ambruk di atas tanah.
"Kamu adalah pilihan Ayahku. Siapa pun yang dipilihkan Ayahku, tidak akan sudi kuterima. Sekalipun kamu dan aku sudah bersama sejak dulu. Aku akan mengikuti kata Ibuku, untuk mencari apa yang akan jadi pilihanku sendiri di masa depan."
°°°°
Ohne dich kann ich tidak sein,
Ohne dich…
(Tanpamu aku tak bisa ada, tanpamu…)
Ich werde in die Tannen geh'n,
Dahin, wo ich sie zuletzt geseh'n.
(Aku akan berjalan ke hutan cemara, ke tempat terakhir kali aku melihatnya.)
Doch die Abende sind kalt und leer…
(Namun malam-malam terasa dingin dan hampa…)
Und die Vögel singen tidak mehr.
(Dan burung-burung tak lagi bernyanyi.)
(“Ohne Dich” – Rammstein)
°°°°°
Tok tok...
Suara ketukan pintu kamar Fraya membuat mata gadis itu terbuka cepat.
Hatinya seolah ikut diketuk, menyadarkannya pada realita hari ini bahwa dunia luar telah menyapa sang mentari yang bersinar menerangi langit bumi.
Tapi tidak seperti biasanya, Fraya tidak beranjak dari tempat tidurnya. Baru kali ini, ia rasanya tidak ingin menginjakkan kakinya di Milford Hall.
Bagaimana kejadian hari Jumat kemarin membuat seluruh raga Fraya seperti habis dimakan oleh rasa malu yang tidak berkesudahan.
Fraya benci Damian? Entahlah, Fraya bahkan sudah tidak punya sisa tenaga lagi untuk murka dan melampiaskan kemarahannya pada si keparat itu.