Begitu bus sekolah yang mengantarnya berhenti tepat di persimpangan jalan kecil menuju rumah, Fraya langsung melompat turun. Ia melewati dua undakan tangga sekaligus dengan gerakan yang nyaris sembrono, memicu teriakan cemas dari Helen, supir bus perempuan yang sudah menganggap Fraya seperti anak sendiri.
"Fraya, hati-hati! Bisa lecet itu kaki!"
Fraya tidak menoleh. Baginya, peringatan Helen hanya angin lalu yang kalah cepat dengan adrenalin yang sedang memompa jantungnya.
Dengan langkah-langkah panjang yang efisien, ia berlari menembus udara Jakarta yang gerah dan berdebu siang itu. Kakinya yang kurus bergerak lincah, seolah ia sedang berlomba dengan waktu yang tidak terlihat.
Helen, meski jadwal antar jemputnya masih menyisakan beberapa anak lagi, memilih diam sejenak di balik kemudi.
Ia tersenyum tipis melihat siluet Fraya yang perlahan tertelan rimbun pepohonan di ujung jalan. Ada rasa bangga yang menyelinap; ia tahu siswi kesayangan sekolah itu sedang membawa pulang sesuatu yang layak dipamerkan.
Fraya nyaris menghantam pagar rumah saat ia mencoba berhenti mendadak. Bunyi dentuman besi yang beradu dengan grendel menciptakan suara nyaring yang memecah kesunyian lingkungan itu.
Tanpa memedulikan napasnya yang tersengal, Fraya menyerbu masuk ke dalam halaman, mendekap erat sesuatu di dadanya seolah itu adalah harta paling berharga di dunia.
"Ma... Mama... Fraya pulang, Ma!" teriaknya saat melintasi pintu depan.
Biasanya, kehadiran Mama selalu lebih cepat dari suaranya. Mama adalah sosok yang selalu tahu kapan Fraya sampai di depan pagar, menyambutnya dengan senyum atau sekadar pertanyaan tentang menu makan siang.
Namun kali ini, ruang tamu itu terasa asing. Hampa.
Suara televisi yang menyala sayup-sayup terdengar dari arah ruang tengah. Fraya mengerutkan kening.
Aneh. Tidak biasanya Mama begitu asyik dengan layar kaca sampai mengabaikan kepulangannya.
Dengan semangat yang masih tersisa, Fraya bersiap melompat ke ruang tengah, sudah membayangkan wajah kaget sekaligus bangganya Mama saat melihat piala besar di pelukannya.
Namun, ruang TV itu kosong. Hanya ada gambar bergerak yang tidak ditonton siapa pun.
Fraya terpaku. Ia mengedarkan pandangan, rasa bingung mulai mengikis antusiasmenya. Perlahan, ia meletakkan piala hasil kejuaraan Fisika itu di atas meja TV. Logam piala itu terasa dingin dan berat, kontras dengan hatinya yang mulai dilingkupi firasat tidak enak.
"Ma... Mama di mana sih? Fraya bawa sesu—"
Kalimatnya terputus secara brutal. Seluruh saraf di tubuh Fraya mendadak kaku saat matanya menangkap sepasang kaki menyembul dari balik meja dapur. Sepasang kaki dengan kuku yang dicat merah—warna yang sangat ia kenal. Kaki itu terbujur diam, tak berdaya di atas lantai dapur yang dingin.
Dunia Fraya runtuh dalam satu detik. Ia berlari seperti orang kesetanan dan menemukan Mamanya terbaring di sana, ada aliran darah yang keluar dari hidung, sementara satu tangannya masih menggenggam spatula
Fraya menjatuhkan diri ke lantai, menarik tubuh itu ke dalam pelukannya dengan gerakan panik.
Dengan sisa kewarasan yang menipis, Fraya mencoba menekan pembuluh darah di bawah leher kiri Mamanya. Jemarinya bergetar hebat saat meraba-raba kulit dingin itu, mencari tanda kehidupan.
Lama ia terdiam dalam ketakutan yang mencekik, sampai akhirnya, ia menangkap satu denyutan samar. Sangat samar, tapi cukup untuk membuatnya bernapas kembali.
"Ma, Mama... bangun, Ma. Mama nggak apa-apa. Tolong, bertahan ya, Ma."
Ia meletakkan kembali tubuh Mamanya ke lantai dengan sangat hati-hati. Dengan langkah limbung, ia menyambar telepon rumah dan menekan nomor darurat rumah sakit pusat di Jakarta dengan jari yang gemetar tak terkendali.
Begitu nada sambung pertama terjawab, Fraya langsung memekik. Suaranya pecah, meluncurkan alamat rumahnya dengan nada yang nyaris histeris.
"Tolong ibuku, cepat. Tolong segera kirimkan ambulan kerumahku. Ibuku pingsan, butuh bantuan. Tolong segera bantu ibuku."
°°°°°
Port Meadow adalah hamparan padang rumput kuno di utara Oxford yang seolah tidak tersentuh waktu.
Selama lebih dari empat milenium, tanah ini menolak untuk tunduk pada pembangunan, tetap menjadi lahan penggembalaan paling autentik di Inggris.
Ke sanalah Damian membawa Fraya hari ini. Di dalam mobil, Fraya memegang teguh prinsipnya untuk bungkam. Ia menutup rapat akses komunikasi, membiarkan keheningan yang tegang mengisi ruang di antara mereka sepanjang perjalanan.
Damian memarkir mobil di sudut pelataran yang sunyi, di bawah naungan rimbun pohon yang tidak jauh dari hamparan rumput. Belum sempat Damian melepas sabuk pengaman, Fraya sudah lebih dulu turun dan membanting pintu mobil dengan keras.
Namun, kekesalan Fraya seolah menguap begitu saja saat matanya menangkap pemandangan di depan. Padang rumput itu berwarna hijau keemasan, dengan ilalang yang menari rendah ditiup angin sejuk Oxford.
Di kejauhan, beberapa ekor sapi tersebar secara acak, menciptakan komposisi pemandangan yang begitu menenangkan.