"Dia sangat cantik, ya?"
Damian terperanjat. Ia mendapati Freddie entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya, memecah fokus Damian yang sejak tadi terkunci pada satu objek.
Senyum di bibir tuanya yang mulai keriput itu tersungging jahil, sebuah ekspresi yang praktis membuat Damian mendadak salah tingkah, seperti seorang remaja yang tertangkap basah menyimpan rahasia besar.
"Kapan ya terakhir kali kamu terlihat sebahagia ini?" Freddie menggantung kalimatnya sejenak, menatap profil samping Damian dengan saksama. "Mungkin saat Mrs. Harding masih hidup."
Damian terhenyak. Ia tidak menjawab, lidahnya mendadak kelu karena nama itu disebut. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, ia mengamini pernyataan itu dalam diam.
Tanpa mengalihkan tatapannya sedikit pun dari sosok Fraya yang berada beberapa meter di depannya, gadis itu sedang asyik memberikan pakan kepada seekor sapi besar—Damian bergumam menyetujui, lebih kepada dirinya sendiri.
"Dia sungguh cantik, Freddie. Dia juga sering membuatku gila dengan sifatnya yang suka memberontak."
Pria tua di sebelahnya, yang tengah mengusap moncong Monica—sapi yang berdiri begitu tenang di sana—mengangguk-angguk samar. Tatapan Freddie yang teduh menyadari adanya perubahan paling signifikan yang pernah ia lihat selama ia menemani perjalanan hidup anak tuan tanahnya ini.
"Aku masih ingat, dulu waktu usiamu dua belas tahun, kamu sering bilang suatu saat nanti kamu akan membawa orang yang akan jadi jodohmu kelak ke sini," Freddie mengenang masa lalu dengan suara serak yang hangat, lalu melanjutkan, "Jadi aku akan berhenti menyuruhmu untuk dekat dengan anak keluarga Highmore. Tapi tidak kusangka kau akan membawanya lebih cepat dari yang ku perkirakan."
Damian terkekeh samar, sebuah tawa pendek yang terdengar getir sekaligus takjub. "Aku juga tidak menyangka, Freddie. Akan menemukannya secepat ini."
Freddie menatap binar kasmaran pada tuan muda di sampingnya ini. Ia memperhatikan setiap pergerakan bola mata Damian yang tajam pada setiap gerak gadis bernama Fraya didepan matanya.
Ini adalah Damian yang berbeda dari yang dulu dikenalnya. Damian yang sejak kecil menghabiskan waktu dengan menunggangi Monica menyusuri setiap jengkal padang rumput yang membentang luas ini.
"You look so much in love with that woman. Does she know your feelings?" tanya Freddie saat menyadari mata Damian tidak berhenti memancarkan cahaya setiap kali melihat Fraya tertawa gembira.
"She knows. I made my feelings for her perfectly clear, that i was hopelessly in love with her."
Namun, saat Damian menghela napas panjang, ada perubahan drastis yang terjadi pada sorot matanya. Binar yang tadi ada di sana mendadak redup, digantikan oleh sorot yang terlihat kosong dan muram.
"Tapi dia tidak mau aku jatuh cinta padanya."
"Kenapa?" Freddie mengerutkan kening.
Jemarinya masih setia mengelus moncong Monica yang sesekali mendengkur halus, seolah sedang meminta perhatian lebih dari pria tua itu.
"Karena..." Damian kembali menghela napas, lalu menghembuskannya dengan berat, seolah ada beban besar di dadanya yang ikut keluar bersama udara itu. "Karena aku memaksanya untuk mencintaiku, seperti aku yang tergila-gila mencintainya, Freddie."
Damian terdiam, termenung dengan ucapannya sendiri. Kalimat itu terasa sangat pahit di lidahnya. Kenyataan bahwa perasaannya bisa tumbuh sehebat ini justru bermula dari sesuatu yang salah, dari rencana Axel yang ingin membalaskan dendam kepada gadis itu.
Gadis yang ironisnya, sekarang justru menjadi satu-satunya alasan yang membuat Damian merasa bisa bernapas normal lagi.
"Dia tidak membalas perasaanmu?" Freddie kembali melempar pertanyaan sederhana, namun pertanyaan itu justru membuat Damian kembali terenyak di tempatnya berdiri.
"Aku tidak tahu, Freddie. Terkadang ada momen di mana kami sama-sama menikmati waktu sunyi yang terjadi di sekitar kami ketika kami sedang berduaan saja. Tapi, semakin lama aku menatapnya, semakin aku sadar bahwa perasaanku tumbuh seperti sebuah karma yang sudah menunggu untuk menghancurkan ku di ujung waktu nanti."
Freddie sebenarnya semakin tidak mengerti ke mana arah pembicaraan ini. Namun, untuk seseorang yang sudah ia temani sejak kecil, Freddie tahu akan lebih bijak jika ia tidak berkomentar lebih jauh. Ia memilih untuk diam, membiarkan keheningan mengambil alih, seperti yang selalu dilakukannya setiap kali Damian mulai tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Freddie, aku seharusnya tidak mencintai Fraya."
Suara Damian terdengar begitu jauh saat mengucapkan sederet kalimat itu. Dingin dan hampa. Seolah dia sudah tahu bahwa perasaannya ini adalah jalan buntu, dan dia tidak punya siapa pun untuk menyelamatkannya dari sana, bahkan dirinya sendiri.
"Damian! Lihat ini!"
Suara nyaring nan riang itu membelah udara Port Meadow, seketika memutus benang-benang pikiran gelap yang baru saja membelit kepala Damian. Freddie dan Damian serentak menoleh.
Fraya berdiri dengan wajah yang memerah karena sinar matahari sore, tangannya melambai antusias sambil menunjuk ke arah seekor anak sapi yang baru saja mendekatinya.
"Dia mau makan dari tanganku, Damian! Cepat ke sini!" Fraya berseru lagi, matanya berbinar begitu tulus, seolah beban di Milford Hall kemarin benar-benar telah menguap dari ingatannya—setidaknya untuk saat ini.
Damian tertegun. Melihat senyum lepas itu, dadanya mendadak terasa sesak oleh jenis rasa sakit yang berbeda. Rasa sakit karena ia tahu, dialah alasan di balik tawa itu, tapi dia juga yang berpotensi menjadi alasan tawa itu hilang suatu saat nanti.
"Sana, hampiri dia," gumam Freddie lembut, jemarinya memberikan tepukan ringan di bahu Damian. "Jangan biarkan dia menunggu terlalu lama. Gadis seperti itu tidak diciptakan untuk menunggu dalam ketidakpastian.".
Damian menarik napas panjang, mencoba mengusir sisa-sisa kegelapan di matanya sebelum ia melangkah mendekat. Ia memaksakan sebuah senyum tipis, jenis senyum yang hanya ia berikan untuk Fraya.
"Iya, Ace, aku ke sana," sahut Damian pelan, suaranya kini kembali hangat.
"Lama sekali sih," gerutu Fraya saat Damian sudah berdiri di sampingnya. Ia tidak menyadari sisa-sisa pembicaraan berat yang baru saja terjadi. "Lihat, dia lucu sekali, kan? Namanya siapa?"
Damian menunduk, menatap anak sapi itu, lalu beralih menatap wajah Fraya yang hanya berjarak beberapa inci darinya.
"Belum ada namanya. Kamu mau beri nama apa?"
Fraya tampak berpikir keras, keningnya berkerut lucu yang membuat Damian ingin sekali menyentuhnya. "Hmm... Caramel? Karena warnanya cokelat manis seperti karamel."
"Caramel it is," jawab Damian pendek. Matanya terkunci pada manik mata Fraya.
Untuk sejenak, dunia di sekitar mereka seolah memudar menjadi latar belakang buram. Hanya ada Fraya dan aromanya yang menenangkan.