"Party in my house?"
Selembar flyer mendarat persis di depan wajah Fraya, menghalangi pandangannya sesaat setelah ia menutup pintu loker dengan dentum logam yang terdengar keras.
Aroma kertas baru dan tinta maahal langsung tercium, jenis kemewahan yang bahkan merambah hingga ke urusan alat tulis di Milford Hall.
Fraya baru saja hendak meraih lembaran itu ketika Florence, yang luar biasa gesit, sudah lebih dulu menyambar flyer tersebut dari tangan Robby.
Cowok itu berdiri di sana dengan gaya yang terlalu santai untuk ukuran anak sekolah, menyunggingkan senyum maut yang sudah jadi senjatanya paling mutakhir untuk memicu histeria para siswi di Milford Hall yang memuja pesonanya.
Robby adalah definisi playboy kelas kakap yang juga masuk dalam lingkaran elit Damian, jenis pria yang tahu persis seberapa besar daya tariknya.
"Sejak kapan orang-orang borjuis seperti kalian mengundang kalangan biasa seperti kami?" tanya Florence tanpa basa-basi. Ketajaman lidahnya mendapat anggukan setuju dari Asa, yang berdiri bersandar di loker sebelah Fraya sambil memperbaiki letak kacamatanya.
Robby tertawa kecil, suara baritonnya terdengar begitu percaya diri. "Sejak gadis ini resmi menjadi pacar sahabatku yang paling terkenal seantero Milford," ujarnya asal.
Ia memberikan senyum yang, seperti sudah dikatakan diatas, merupakan senjatanya paling mutakhir untuk menaklukan barisan perempuan manapun, yang kini juga sukses membuat pipi Florence bersemu merah seketika. Rona pipi Florence makin berpendar kemerahan bahkan saat Robby sudah melipir pergi meninggalkan mereka didepan loker masing-masing.
"I am not Damian's girl...friend," desis Fraya, kata terakhirnya tertahan di tenggorokan. Ia ingin sekali mengumpat, namun Robby sudah terlalu jauh untuk mendengar pembelaannya.
Sia-sia. Fraya menyadari bahwa usahanya menyangkal status di sekolah ini terasa seperti mencoba membendung air laut dengan tangan kosong. Semua orang lebih memilih percaya pada narasi yang dibangun Damian dan antek-anteknya daripada kebenaran yang keluar dari mulutnya sendiri.
Florence masih menatap punggung Robby yang menjauh dengan satu alis terangkat, seolah jiwanya baru saja tersedot paksa dengan efek senyum Robby yang begitu memabukkan itu.
Asa, yang sejak tadi mengamati reaksi Florence dengan tatapan menyureng, menarik flyer tersebut guna mengembalikan kesadaran sahabatnya ke bumi.
"You guys really consider coming to their party this Saturday?" tanya Asa, nadanya sarat akan skeptisisme sambil menunjuk lembaran di tangannya.
"I think I’ll pass," sahut Fraya sambil menyandarkan punggung dan bersedekap. Jawaban itu krusial, dan entah mengapa, membuat Asa diam-diam menyunggingkan senyum puas di balik wajah kaku itu.
"Why not? Alexa, we have to come! Jarang-jarang orang seperti kita diundang ke pesta besar yang diadakan lingkaran se-elit geng mereka," pekik Florence, antusiasmenya kembali meluap-luap.
Asa mendesah berat, "Memangnya apa manfaatnya datang ke pesta yang isinya paling cuma untuk minum-minum dan melakukan hal tidak jelas lainnya?"
Florence melemparkan tatapan sinis.
"Tentu saja ada manfaatnya. Memangnya kamu tidak mau jadi sorotan di Milford untuk sebentar saja? Status kita bisa langsung naik pamor. Kita harus berterima kasih pada Alexa. Walaupun dia akan menyangkal seribu kali sampai bumi kiamat pun bahwa dia bukan pacar Damian, kedekatan mereka tetap memberi kita akses. Lihat? Belum apa-apa kita sudah diundang ke pesta elit mereka."
Florence menjatuhkan pandangan penuh harap pada Fraya yang masih bergeming. "Ayolah, Alexa. Sebentar saja, tidak perlu lama-lama."
Fraya menghela napas panjang, menatap koridor yang mulai lengang. "Well, aku tidak bisa janji. Hari Sabtu nanti rumahku kosong, jadi aku harus berjaga di rumah sampai Minggu."
Fraya mulai melangkah menuju kelas Mrs. Witherspoon, diikuti Florence dan Asa yang mengekor seperti bayangan.
"Memangnya orang tuamu ke mana hari Sabtu nanti?" tanya Florence lagi, belum menyerah.
Fraya tidak langsung menjawab. Ada ruang di dalam hatinya yang ia kunci rapat-rapat. Tidak ada alasan baginya untuk memberitahu bahwa Sabtu nanti adalah jadwal kemoterapi lanjutan Mamanya yang mengharuskan Mama menjalani rawat inap semalam.
Rahasia itu adalah beban yang ia pikul sendiri, sebuah kenyataan pahit yang tidak perlu ia bagi, bahkan kepada Florence yang sudah dianggapnya sangat akrab.
Asa berdeham, memecah fokus pembicaraan.
"I’m on Fraya’s side. I’m gonna pass this party. Dan juga, saat ini aku harus pergi duluan karena aku ada sesi di klub fotografi. So, I think I’ll see you guys Monday."
Fraya dan Florence melambaikan tangan saat Asa pamit undur diri dengan langkah lebar.
Setelah sosok tinggi itu menghilang di balik pilar koridor, Florence menarik lengan Fraya, suaranya merendah namun penuh rencana.
"Bukannya lebih bagus kalau orang tuamu pergi? Kita bisa pergi dengan leluasa tanpa perlu diwanti-wanti pulang jam berapa, kan?"
Fraya mendengus, langkahnya terhenti.
"Florence, apa menurutmu bijak jika aku muncul di pesta orang-orang yang lingkaran pertemanannya sama dengan pria yang hidungnya pernah kubuat patah? Pria yang pernah membuatmu menangis bombay sampai aku harus berurusan dengan Damian yang menyebalkan itu? Muncul di pesta mereka sama saja dengan mengantarkan nyawaku sendiri."
Rentetan kalimat itu akhirnya membungkam Florence. Cewek itu meringis, seolah baru tersadar bahwa Fraya memang belum—dan mungkin tidak akan pernah—sudi berada dalam satu ruangan dengan Axel Rosewood.
Florence merangkul bahu sahabatnya, mendesah pasrah namun dengan nada yang kembali ceria
"Baiklah. We're gonna pass this big ass party for the sake of your sanity. Tapi sebagai gantinya, bagaimana kalau aku menemanimu saja di rumah selagi orang tuamu tidak ada? Kita buat pesta sendiri. A girls' soiree. Hanya kita berdua. Asa tidak usah diajak!"
Fraya menyembur tawa mendengar kalimat terakhir. Beban di pundaknya terasa sedikit terangkat. Sambil mengangguk, ia menyahut, "Sounds perfect."
"Iya kan? I mean, come on!" Florence melanjutkan cerocosannya dengan semangat yang meluap-luap.
"Kita bisa memesan piza dengan keju yang melimpah sampai kita lupa caranya diet, memakai masker wajah hijau sampai kita terlihat seperti kerabat dekat Shrek, dan maraton film tanpa perlu mendengarkan ceramah Papa kamu soal 'masa depan cerah'. No boys, no drama, just us."
Fraya terkekeh, bebannya seolah terangkat satu per satu.
"Dan yang paling penting: tanpa interupsi Asa yang akan sibuk membahas teknik pencahayaan atau angle kamera film yang sedang kita tonton."
"Tepat!" Florence menjentikkan jarinya di udara. "Membayangkannya saja sudah membuatku merasa lebih pintar daripada harus terjebak di ramainya pesta Robert Hastings nanti."
"Pilihan yang sangat logis, Flo," timpal Fraya sambil mulai melangkah menuju pintu kelas Mrs. Witherspoon yang sudah terbuka lebar.