Dentuman musik techno yang menggema dari pengeras suara kelas atas di kediaman Hastings terasa seperti detak jantung pesta malam itu.
Di bawah pendar lampu disko yang berputar liar, suasana aula terasa pekat oleh aroma parfum mahal, uap alkohol, dan sisa-sisa asap ganja yang tipis berterbangan di udara.
Atmosfir di sana seolah bergetar, penuh dengan kegilaan anak-anak muda yang merasa dunia adalah milik mereka sendiri.
Di berbagai sudut, pemandangan khas kaum elit Milford Hall tersaji tanpa sensor. Ada sekelompok atlet rugby dan Lacrosse yang sedang bersorak gila-gilaan di meja beer pong, beberapa gadis dengan gaun sutra yang tertawa terlalu keras, hingga pasangan-pasangan yang tidak malu menempati sudut gelap untuk bercumbu.
Ini adalah ritual Sabtu malam yang sudah biasa, di mana aturan dan moralitas sering kali ditinggalkan di depan pintu gerbang.
Namun, di tengah semua keriuhan itu, Damian Harding justru terlihat sangat asing.
Ia duduk di sofa kulit yang terletak di sudut paling gelap, posisi strategis yang membuatnya bisa mengawasi seluruh ruangan tanpa harus berbaur. Wajahnya yang biasanya menjadi pusat perhatian, malam ini tampak muram dan dingin.
Ia memutar-mutar gelas kristal berisi whiskey tua, memperhatikan bongkahan es yang perlahan mencair, persis seperti rasa bosannya yang semakin menjadi-jadi.
Damian menyandarkan punggungnya pada sofa kulit yang dingin, namun suhu tubuhnya justru merangkak naik seiring malam yang semakin larut.
Ia melirik arloji Patek Philippe di pergelangan tangannya. Pukul sepuluh malam. Jemarinya gatal ingin merogoh saku, mengambil ponselnya, dan menekan nomor cewek sialan yang kemarin meng-klaim sudah akan tidur di balik selimut pada jam 8 malam.
Liar. Damian tahu persis Fraya tidak mungkin tidur secepat itu di hari Sabtu. Gadis itu pasti sedang terjaga di dalam kamarnya yang tenang. Entah sedang menenggelamkan diri dalam tumpukan buku atau menonton film lama yang membosankan.
Pikiran Damian mulai liar, melintasi jarak antara kediaman Hastings dan kamar Fraya yang sunyi.
Ia memproyeksikan bayangan Fraya yang sedang bersantai dengan dunianya sendiri.
Dalam benak Damian, Fraya hanya mengenakan kaus kebesaran yang menutupi tubuhnya dengan longgar, tanpa sehelai benang pun di baliknya.
Bayangan itu mengunci saraf Damian. Ia teringat dengan jelas bagaimana rupa kaki jenjang Fraya yang sering tertutup rok seragam. Di dalam kepalanya, kulit itu tampak begitu halus, mulus tanpa sedikit pun noda atau pori-pori yang terlihat, memantulkan cahaya lampu kamar yang temaram.
Damian mendamba untuk menyentuhnya, merasakan tekstur paha Fraya yang panjang dan kencang. Ia membayangkan jika saja kaus itu tersingkap sedikit saja ke atas, ia akan bisa melihat perut Fraya yang rata dan pinggangnya yang ramping—lekukan tubuh yang sanggup menghancurkan sisa-sisa kewarasan pria mana pun.
Damian menelan ludah dengan susah payah. Hasratnya bergejolak, menuntut dilepaskan. Membayangkan proyeksi Fraya yang mungkin saat ini sedang berguling di atas ranjang, membiarkan kulitnya bersentuhan langsung dengan seprai tanpa penghalang apa pun, membuat sesuatu dalam diri Damian menegang hebat. Ada gairah yang begitu gelap dan mendalam yang bangkit di bawah permukaan, sebuah rasa haus akan sosok Fraya Alexandrea yang tidak bisa lagi ia tekan.
Matanya terpejam kuat, namun justru itu membuat visualisasi di kepalanya semakin tajam.
Ia bisa merasakan imajinasinya bekerja terlalu baik—membayangkan aroma tubuh Fraya yang khas, kehangatan kulitnya yang lembut, dan bagaimana rasanya jika ia benar-benar ada di sana malam ini, bukan di tengah pesta sialan ini.
Damian memaki diri sendiri dengan suara rendah, "Sialan... sialan."
Sejak kapan gadis itu berhasil menyesap seluruh raga Damian sampai ke sumsum tulang? Rasanya setiap sel dalam tubuhnya kini sedang berteriak, lapar akan kehadiran Fraya. Ia merasa seperti pecandu yang sedang mengalami sakau, dan satu-satunya obat yang ia inginkan adalah melihat gadis itu benar-benar berada di bawah kendalinya.
"You're here."
Damian membuka mata seraya seluruh otot tubuhnya menegang kaku. Suasana damai dalam bayangannya tentang Fraya yang sedang meringkuk di atas ranjang seketika hancur, digantikan oleh realitas yang menyesakkan.
Ia merasakan sepasang tangan lembut dengan kuku-kuku yang dipoles sempurna melingkar dari belakang, memeluk dadanya dengan gestur posesif yang terlalu akrab.
Sisi wajah seorang gadis bersandar di pipi Damian, menyebarkan aroma parfum bunga peony yang mahal dan memuakkan bagi indra penciumannya malam ini.
Beberapa helai rambut pirang panjangnya jatuh terjuntai di bahu Damian, menyentuh kemeja putihnya dengan tiga kancing teratasnya dibiarkan terbuka.
Tanpa menoleh pun, Damian sudah tahu siapa yang tengah ber gelendot manja di tubuhnya.
Alana Highmore.
Satu-satunya orang yang merasa memiliki hak istimewa untuk menyentuhnya di depan publik seperti ini.
"Alana, please..." Suara Damian serak, menahan jemari Alana yang mulai meraba dada bidangnya, bergerak liar hendak membuka kancing ke empat kemejanya.
"What? Kamu biasanya selalu menikmatinya, Nick," bisik Alana tepat di telinga Damian. Napasnya yang hangat berembus di sana, sementara jemarinya masih dengan lembut membelai kain kemeja Damian, mencoba membangkitkan gairah yang ia kira masih tersisa untuknya.
"Tidak, Alana. Hentikan." Damian menggeram rendah di tengah hentakan musik pesta yang membahana, memberikan peringatan yang tidak bisa dibantah.
Alana akhirnya menyerah, meski dengan sisa-sisa ketidakpuasan yang nyata. Ia tegakkan kembali tubuhnya sambil berdecak kesal, namun ambisinya untuk menarik atensi Damian tidak berhenti di situ.
Dengan gerakan yang diatur sedemikian rupa agar terlihat anggun sekaligus menggoda, ia berjalan memutari sofa.
Ia memilih duduk di atas meja kayu yang berada tepat di hadapan Damian, yang saat ini sedang duduk setengah merosot di kursinya sambil menekan pelipis—mencoba mengusir pening yang bukan berasal dari alkohol.
Alana menyibakkan rambut pirangnya yang tergerai indah ke belakang bahu, memamerkan leher jenjangnya. Ia menyilangkan kakinya dengan sengaja, memperlihatkan keindahan paha dan betisnya yang terpampang nyata karena gaun pendeknya yang tersingkap naik, nyaris tak menutupi bagian paling privasi dari tubuhnya.
Alana berpose begitu berani, berharap Damian akan tergoda, atau setidaknya meliriknya dengan gairah yang sama seperti pria-pria lain di ruangan ini.
Tapi memang malang tak bisa dibendung, reaksi Damian hanya melirik sebentar dengan mata dingin yang datar.
Detik selanjutnya, Damian justru mengembuskan napas panjang dengan ekspresi malas yang sangat kentara.
Alana jelas menyadari sikap acuh tak acuh itu.
Harga dirinya yang setinggi langit mulai retak. Emosinya memantik hebat ketika menyadari bahwa segala daya tarik fisiknya sama sekali tidak mampu mengalihkan Damian dari lamunannya sendiri.
"Kamu benar-benar mau mengabaikan ku semalaman ini, Nick? Begitu?" tanya Alana dengan suara yang mulai bergetar karena amarah.
Damian mengangkat manik matanya, menghujam bola mata Alana dengan tatapan sadis yang seolah ingin menguliti gadis itu.
"Perlu berapa kali lagi harus kukatakan kalau aku sudah punya kekasih, Alana? Atau harus pakai bahasa apa lagi selain bahasa kita sendiri untuk membuatmu paham kalau aku sudah pensiun dengan segala hal yang kamu tawarkan padaku?"
Kalimat itu menghantam Alana lebih keras daripada tamparan fisik. Mulutnya praktis menganga, kehilangan kata-kata. Wajahnya yang biasanya sombong kini terlihat begitu terluka dan hancur. Ia segera menarik kakinya dan duduk dengan tegak, tak lagi menampilkan pose seksi yang sia-sia itu.
"Kalau memang kamu benar-benar pacaran dengan cewek Asia itu, lalu di mana dia sekarang? Kenapa kamu tidak bersamanya? Kenapa tidak kamu bawa ke sini?" Alana tertawa getir, suaranya melengking tajam di antara dentuman bass pesta. "Oh iya, aku lupa... dia kan memang tidak ditakdirkan berada di sini, di lingkaran sosial kita. Tempatnya jelas masih jauh di bawah tempat kita, Nick. Kamu masih belum sadar juga kalau yang kamu pacari itu bahkan belum menyentuh radar terdekat level kita?"