Its Always Been You, Fraya

Farah Maulida
Chapter #33

White Dress, Dark Knight, and Intoxicated Kiss

Damian membalikkan badan saat pintu kaca balkon berderit pelan, menampakkan sosok Axel Rosewood yang berdiri santai dengan sebelah tangan di saku, memancarkan aura aristokrat yang selalu berhasil memicu kekesalan Damian.

​"Want one?" Axel menyodorkan sebatang rokok dari saku celana linen nya ke arah Damian dengan gerakan yang sangat tenang.

​Damian menggeleng tipis, matanya menatap Axel dengan penuh selidik dan ketidaksukaan yang nyata. "Aku sudah lama berhenti," ujarnya tegas, suaranya sedingin es.

​Axel hanya mendengus meremehkan, lalu menyelipkan rokok itu di sela bibirnya sendiri sebelum menyulutnya dengan pemantik emas yang berkilau. Ia mengisapnya dalam-dalam dengan gerakan dramatis, seolah sedang menikmati setiap detik sari-sari kehidupan yang ia hirup.

Saat ia mengembuskan asap putih itu tepat ke arah wajah Damian, sepupunya itu langsung mendengus sembari memalingkan wajahnya dengan gusar.

​"Sejak kapan? Sejak kamu mulai sibuk jatuh cinta sama si Alexandrea itu?" tanya Axel, nadanya terdengar seperti sebuah ejekan yang dibungkus pertanyaan santai.

​Damian melirik Axel dari ekor matanya, berusaha keras menjaga raut wajahnya agar tetap datar. Disampingnya, Axel masih tampak sangat tenang—jenis ketenangan yang Damian yakini sedang menyimpan badai destruktif yang bisa merusak jiwa siapa saja kapan saja.

​"Aktingku meyakinkan sekali, ya? Sampai kamu benar-benar berpikir kalau aku sudah jatuh cinta dengan gadis itu?" Satu kebohongan meluncur begitu mulus dari bibir Damian, meski ia harus mengerahkan seluruh kekuatannya agar suaranya tidak bergetar.

​Sambil meloloskan kepulan asap dari bibirnya, Axel memandang sepupunya itu dengan tatapan yang sangat damai, namun mematikan.

"Yakin yang kamu lakukan sekarang cuma akting, Nick? Atau sebenarnya dari awal, kamu memang tidak pernah ber akting seperti rencana kita di awal?"

​Damian bersedekap, dadanya mulai naik turun karena napasnya diam-diam mulai memburu. "Bagaimana aku bisa menjalankan perintah yang kamu berikan kalau tidak kubuat meyakinkan? Kalau gadis yang mau kita taklukkan itu modelnya seperti Fraya Alexandrea, kamu harus membuatnya tampak nyata. Harus seolah-olah perasaanku ini murni agar dia tidak curiga."

​Ulu hati Damian terasa seperti dihantam palu godam saat mendengar dirinya sendiri bicara begitu rendah tentang Fraya. Sisi hatinya yang terdalam ingin sekali berteriak, memaki dirinya sendiri karena telah menyangkal gadis yang kehadirannya saja sudah sanggup melumpuhkan seluruh saraf di sekujur tubuhnya.

Ia hanya bisa berharap dalam hati agar kebohongan ini tidak berbalik menyerangnya menjadi karma yang akan menghancurkannya suatu saat nanti.

​Axel mengangguk-angguk samar, seolah menerima penjelasan itu. Pandangannya kemudian terlempar jauh ke arah air mancur yang terletak persis di tengah serambi bawah rumah Robert Hastings.

​"Kamu tahu kan, file itu bisa bocor kapan saja ke publik?" Axel berucap lirih namun penuh ancaman. "Kamu tahu persis apa akibatnya kalau seluruh dunia tahu tentang bagaimana citra Harding yang sebenarnya selama beberapa tahun belakangan ini kalian simpan dengan sangat rapi? Nama besar mu, kehormatan ayahmu... semuanya bisa hancur dalam semalam."

​Tangan Damian mengepal sangat keras di balik lipatan lengannya. Pergolakan emosinya mulai bergejolak hebat, seolah kemarahannya tengah membalikkan dunianya ke titik paling bawah dalam sekejap.

Ia menghunus tatapannya dengan sangat tajam ke arah Axel yang masih santai menyesap sisa rokoknya yang tinggal setengah.

​"You know what, Rosewood, you can't keep doing this to my family. Ayahku sudah melakukan hampir segalanya untuk keluarga kalian. Hutang budi macam apa yang kalian anggap tidak akan pernah lunas? Bahkan sebenarnya keluargamu hanya punya urusan dengan Ayahku. Pakai dia saja untuk membalas semua hutang budinya, jangan bawa aku ke dalamnya!"

​Tawa rendah yang terdengar dingin lolos dari bibir Axel di tengah kepulan asap rokok.

"Perjanjiannya tidak begitu, Nicholas. Harusnya kamu bersyukur, yang ku minta darimu cuma hal se sepele ini. Cuma sekadar membuat seorang gadis bodoh jatuh bertekuk lutut, lalu kamu tinggalkan dia begitu saja setelah dia memberikan segalanya, seperti kebiasaanmu pada gadis-gadis di luar sana. Tidak ada susahnya, kan?"

​Meskipun Damian berusaha mati-matian menjaga raut wajahnya tetap tenang meski raganya ingin sekali mematahkan leher sepupunya itu, Axel tetap bisa merasakan luapan emosi dari sepasang mata biru Damian. Axel tahu usahanya untuk meyakinkan itu sia-sia, karena ia sudah terlalu sering melihat reaksi spontanitas Damian setiap kali kehadiran Fraya muncul didepan wajahnya.

​Axel membuang puntung rokoknya yang sudah tinggal sedikit dengan gerakan sembarang, membiarkannya memantul jatuh ke tanah halaman di bawah.

Ia memasukkan tangannya kembali ke dalam saku linen nya.

​"Imbalannya setimpal, Nick. Ayahmu pasti akan sangat berterima kasih pada keluargaku kalau kamu berhasil menyelesaikan ini tepat waktu."

Axel menepuk pundak Damian yang menegang kaku, lalu beranjak pergi meninggalkan balkon untuk kembali menyatu dalam pesta liar di dalam rumah Robby.


°°°°°


​"Wanna dance with me, pretty ladies?"


​Fraya menoleh di tengah dentuman musik yang hentakannya terasa semakin menggila di telinga.

Seorang cowok yang sama sekali tidak dikenalinya tengah berdiri di depan Florence sambil memegang sebotol bir. Gelagatnya tidak se genit cowok pertama yang menggodanya tadi, dan ajakan itu terdengar cukup sopan di tengah kebisingan pesta.

​Florence menoleh ke arah Fraya dan berseru keras agar terdengar, "Kamu mau berdansa sama cowok ini, tidak?"

​Fraya langsung menggeleng mantap.

"Tidak! Kamu saja. Sepertinya dia memang lebih tertarik mengajakmu."

​Florence mengulum senyum tersipu, lalu menerima uluran tangan cowok berambut cokelat yang punya senyum manis itu. Florence mengangguk, lalu membiarkan dirinya digandeng menuju tengah lantai dansa di antara kerumunan orang-orang yang mulai lepas kendali.

​Fraya memilih untuk berdiri di pinggir ruangan, mengamati sahabatnya yang tampak sangat bahagia menari. Florence sesekali menoleh ke arahnya sambil menggoyangkan bahu, seolah sedang meledek Fraya yang hanya diam menonton, membuat Fraya terkekeh ditempatnya berdiri menyaksikan mereka.

​Sementara itu, tidak jauh dari sana, Alana Highmore tidak melepaskan tatapannya yang sedingin es pada sosok Fraya. Setiap detik yang ia habiskan untuk mengamati gadis itu, semakin besar rasa benci yang menganga di hatinya.

Alana bangkit dari sofa, berjalan menuju bartender, dan menyelipkan beberapa lembar uang poundsterling ke saku bartender tersebut sembari membisikkan perintah rahasia.

​Sesuai prediksi Alana, tidak lama kemudian Fraya berjalan ke arah meja bar. Dengan gerakan kikuk, ia duduk di kursi tinggi di depan meja panjang itu, merasa sedikit bodoh berdiri sendirian di sana.

"Can i get you anything, My Lassie?" tanya seorang bartender berumur pertengahan 20 dengan tato bergambar ular ditangan kanannya.

​"Bisa minta air mineral?" tanya Fraya canggung saat bartender bertato ular itu menghampirinya.

Namun sebelum permintaannya dikabulkan, sosok Alana Highmore muncul bak supermodel yang baru turun dari panggung. Ia sengaja berdiri tepat di samping Fraya sambil menyandarkan sisi tubuhnya di pinggiran meja bar.

"Fancy meeting you here, Newbie. I assume you knew my name, didn't you?"

Fraya masih berusaha mengatur napasnya yang menderu saat bayangan Alana Highmore jatuh tepat di atas meja bar, menghalangi cahaya lampu pesta yang berkedip.

Lihat selengkapnya