Its Always Been You, Fraya

Farah Maulida
Chapter #34

The Hell of the Mirror



Pria itu berdiri dari ranjang pemeriksaan yang dingin, sebuah kontras yang menyengat bagi tubuh yang terbiasa dengan kemewahan tanpa kompromi. Gurat wajahnya adalah peta dari keputusan-keputusan sulit yang termakan usia, namun matanya masih setajam silet.

​Dikenakannya kembali kemeja birunya yang masih tampak licin—sebuah masterpiece kain yang seolah menolak untuk terlihat lusuh.

Seorang perawat, dengan jemari yang kaku karena sadar siapa pria di hadapannya, membantu membetulkan kerah kemeja mahal itu dengan hati-hati.

​"Hasilnya akan keluar dalam sebulan lagi, Sir," ujar sang dokter. Suaranya datar, sebuah profesionalisme yang dipaksakan untuk menutupi rasa segan pada pria yang usianya tak jauh darinya itu.

​Ia mengenakan kembali jas abu-abunya, menyampirkan nya ke bahu dengan gerakan efisien yang berwibawa.

Sambil menghela napas yang terdengar seperti gesekan logam, pria paruh baya dengan tubuh menjulang itu berkata dengan nada yang sanggup membekukan ruangan.

​"Make it quick. I don't have time to wait another month."

​Dokter yang sudah mengabdi padanya selama belasan tahun itu hanya mengangguk sopan. Tanpa interupsi, tanpa bantahan.

Tanpa menunggu sedetik pun, pria itu menerjang pintu ruang pemeriksaan.

Derap langkahnya di koridor rumah sakit yang steril terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur, dingin dan menyiksa, menembus bayangannya sendiri yang tampak semakin memanjang dan sepi.


°°°°°


Matahari London pagi ini sepertinya tengah bersemangat menyongsong hari baru. Cahaya matahari menyusup masuk melalui celah curtain abu-abu gelap dengan intensitas yang menyakitkan, memaksa kelopak mata Fraya terbuka saat ia sebenarnya masih ingin tenggelam dalam ketidaksadaran.

Fraya mengerjap. Dahinya mengernyit perih. Saat ia mencoba menggerakkan kepala, sebuah sensasi menusuk—seperti ada ribuan jarum mikro yang menari di pelipisnya—membuatnya mengerang tertahan. Hangover ini adalah jenis hukuman yang paling ia benci.

​Ia menengadah, menatap langit-langit kamar yang terlalu megah untuk disebut kamar tidur. Interiornya lebih mirip aula kastil di Eropa atau sayap museum di Prancis yang pernah ia baca di majalah arsitektur. Sejauh yang Fraya ingat, langit-langit kamarnya tidak punya ukiran serumit itu.

​Detik berikutnya, sebuah sengatan listrik tak kasat mata menghantam kesadarannya.

Fraya tersentak bangun, mengabaikan denyut di kepalanya yang semakin menggila.

​"Oh God, where am I—"

​Napasnya tertahan di kerongkongan. Ia menyadari tubuhnya terbungkus kaos kebesaran berwarna putih yang bukan miliknya.

Panik yang lebih besar menyerang saat ia menyentak selimut dan memeriksa kondisi tubuhnya.

Ia tidak mengenakan apa pun selain kaos itu.

Jantungnya berpacu seperti sedang lari maraton 100 kilometer. Ia memijat pelipisnya, mencoba memeras memori dari semalam yang terasa seperti potongan film yang rusak.

Fraya berdecak, meninju permukaan bantal, kesal sendiri karena potongan memori yang ia ingat semalam hanyalah pertemuan tidak menyenangkannya dengan Alana Highmore.

​Pintu besar itu terbuka dengan decitan elegan yang berat.

Sedetik kemudian, kepala Fraya menoleh ke suara pintu kamar yang dibuka perlahan.

​"You up, Ace?" Damian Nicholas Harding muncul dengan baki makanan, tampak terlalu segar untuk seseorang yang semalam berada di pesta yang sama dengannya.

​"Damian, aku di mana?" Suara Fraya parau, terdengar asing di telinganya sendiri.

​Damian meletakkan baki itu di sisi ranjang, "You're in my room. In my house." ujar Damian santai seolah wajah tegang Fraya tidak menganggunya untuk menjelaskan lebih lanjut.

Namun ketika Damian menoleh kearah Fraya dan mendapati wajah Fraya sudah nyureng sekali menuntut penjelasan.

Sebelah alis Damian terangkat—sebuah gestur mengejek yang sangat khas cowok menyebalkan itu sekali.

"You don't remember anything you did last night, huh?"

​Fraya berdecak kesal. "Damian, I swear to God, I’m going to kill you with my own hand if something bad happened last night. Now tell me, how did i end up here?"

​Damian tidak menjawab. Alih-alih ia malah berdiri tegak, bersedekap, menatap Fraya dengan intensitas yang membuat gadis itu merasa telanjang meski tertutup selimut.

"Ternyata pengaruh empat gelas Cîroc itu benar-benar menyapu bersih semua memorimu semalam, ya. Sayang sekali. Padahal aku lebih suka versimu yang semalam itu. Liar. Seksi. Tanpa filter."

​Fraya terpekik tertahan, menarik selimut hingga ke dagu. "Damian, tell me!"

Damian mengangkat kedua tangan di udara pertanda menyerah, "Semalam kamu mabuk sekali, Ace, sampai sulit sekali diajak bicara. Jadi aku bawa kamu saja kesini."

Fraya mendesah frustasi, masih melempar tanya dengan kesal, "Did we do something stupid last night?"

Pelipis Damian mengkerut seketika, bersikap seolah tingkahnya sepolos anak kecil,"Do... what exactly?"

Fraya ingin sekali meninju hidung Damian sampai patah saat cowok itu memasang raut wajah sok polos seperti itu, "Damian, we did not do it, didn't we?"

​Menikmati kepanikan di mata Fraya, Damian menahan tawanya kuat-kuat dengan tetap memasang wajah polos seolah tidak tahu apa yang dibicarakan Fraya. Ia ingin melihat sejauh mana pertahanan gadis ini runtuh oleh dugaan-dugaan liar dikepalanya yang sekarang bermunculan.

Fraya, yang sudah di puncak rasa sebal, akhirnya menyambar bantal dan melemparnya tinggi-tinggi tepat ke arah wajah tampan Damian.

​"Jesus, Ace! We did not do that!" Damian akhirnya meledak dalam tawa sambil menangkap bantal yang tidak sampai mendarat diwajahnya.

Napas Fraya naik turun dengan berat. Tangannya terkulai lagi ke atas kasur sambil berujar se sinis mungkin, "You could've said earlier before i throw that pillow on your face, you bastard! Lalu kenapa aku pakai baju seperti ini tanpa pakaian dalam apa pun di baliknya?"

​Damian duduk di pinggir kasur tepat disamping Fraya, menatapnya lekat.

"Untuk orang se jenius kamu, harusnya kamu ingat sedikit saja bagaimana kamu menumpahkan seluruh isi perutmu ke gaun putihmu semalam. Aku harus menyuruh pelayanku mengganti pakaianmu. Kamu ingat kan, semalam kamu minum ber gelas-gelas alkohol?"

​Fraya melenguh panjang, menutup wajahnya dengan telapak tangan. Ingatan semalam itu mulai merangkak naik dengan samar.

Lihat selengkapnya