Fraya menatap pantulan dirinya di depan cermin besar itu, sedikit mengernyit. Ada perasaan ganjil yang merayap saat ia melihat sosok di sana.
Seorang gadis yang tampak... kelewat berdandan.
Baginya, definisi cantik biasanya cukup dengan kuncir kuda praktis dan sapuan bedak tipis, namun sosok di cermin ini seolah baru saja keluar dari sampul majalah mode yang tidak sengaja terdampar di kamar Damian.
Ia menggigit bibir bawahnya, memutar badan perlahan untuk memastikan setiap sudut penampilannya yang kini terasa asing. Rambut yang biasanya ia ikat rapi kini dibiarkan terurai bebas, jatuh membingkai wajahnya dalam gelombang yang lembut.
Matanya berpendar lagi ke arah jajaran kosmetik mahal dan ber merk terkenal di atas meja kamar mandi, alat-alat make up yang disiapkan pelayan Damian setelah ia selesai mandi tadi.
Fraya tidak tahu sudah berapa jam ia menghabiskan waktu di dalam kamar mandi. Sebenarnya bukan untuk merias diri, melainkan karena ia belum siap menampakkan wajah di depan pria yang menunggunya di balik pintu kamar mandi sialan ini.
Ciuman itu. Sentuhan itu. Ya Tuhan.
Fraya menatap wajahnya sendiri yang kini merona hebat. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan, seolah ingin bersembunyi dari kenyataan di depan cermin.
"Malu-maluin banget sih lo! Ih!"
Umpatan itu lolos begitu saja dalam bahasa Indonesia, refleks yang selalu muncul setiap kali ia merasa terdesak atau kesal setengah mati. Sebuah mekanisme pertahanan diri yang biasanya cukup ampuh, namun kali ini terasa hambar.
Sebab, hati Fraya tidak bisa memungkiri sensasi yang tertinggal. Jemari Damian yang seolah membakar habis raganya, memberikan letupan hebat yang belum pernah ia rasakan seumur hidup. Sebuah reaksi tubuh yang tidak pernah ia duga bisa sedahsyat itu, seolah setiap jengkal kulitnya baru saja dibangunkan oleh sentuhan yang tepat.
Berkali-kali ia memastikan gaun musim panas bermotif bunga biru putih itu jatuh dengan pas. Panjangnya hanya setengah paha, cukup berani untuk mengekspos sepasang kakinya yang jenjang. Elegan, namun mematikan. Setelah menghela napas panjang untuk memompa sisa-sisa keberaniannya, ia akhirnya melangkah keluar.
Kamar itu sudah sunyi. Damian sudah tidak ada di sana.
Fraya mengembuskan napas lega, namun kelegaan itu hanya bertahan sekejap. Di atas kasur, ponselnya mendenting kan pesan dari pria itu: ia menunggu di meja makan untuk sarapan.
Sarapan?
Fraya mendengus. Memangnya Damian pikir ia masih sanggup menelan apa pun setelah pria itu dengan lancang menggerayangi seluruh sistem sarafnya tadi?
Ia memasukkan ponsel ke saku gaun, namun langkahnya terhenti saat matanya menangkap sesuatu di rak meja sudut kamar.
Dahinya mengernyit. Ia berbelok menuju sebuah bingkai foto yang diletakkan di nakas meja panjang tersebut.
Bingkai itu tidak berisi foto, melainkan secarik kertas yang sudah dilipat-lipat, menunjukkan bekas garis usang yang menjadi saksi bisu berapa kali kertas itu telah dibuka.
Senyum Fraya praktis mengembang tanpa bisa dicegah saat membaca tulisan di sana. Itu adalah kertas penyemangat yang pernah ia tulis untuk Damian saat pertandingan Lacrosse beberapa waktu yang lalu.
JERMAN FRAYA: 60
LACROSSE HARDING: 1
WINNING IT FOR ME!
Fraya terkekeh sendiri. Ia ingat momen ini. Momen yang membuat Fraya menatap Damian dengan cara yang berbeda untuk pertama kalinya. Dan melihat cowok menyebalkan itu masih menyimpan secarik kertas ini, adalah bentuk gestur paling manis dari seorang cowok seperti Damian ketimbang ia harus memberi lusinan bunga dan cokelat.
Kekesalan yang membara di kepalanya seolah menguap begitu saja, sampai sebuah pesan kembali masuk dari orang yang sama.
"You're not dead, aren't you?"
Secepat kekesalannya sempat menguap, secepat kilat itu juga kekesalannya untuk cowok brengsek itu muncul lagi ke permukaan.
°°°°°
Damian tidak pernah merasa se-gelisah ini karena seorang perempuan. Apalagi sampai harus menunggunya turun.
Namun, pertemuannya dengan Fraya membuatnya menyadari bahwa sepanjang hidupny, Damian ternyata belum pernah benar-benar punya pengalaman naksir dengan satu orang gadis pun. Baru dengan Fraya, gadis itu berhasil membuat ritme jantungnya jadi berantakan.
Ia jatuh cinta, mengejarnya tanpa malu, hingga sampai pada tahap yang mungkin sudah melampaui batas kewajaran, yaitu obsesi.
Damian berjalan mondar-mandir di aula ruang tengah sambil memainkan ponsel.
Ayahnya baru saja menghubungi, memintanya menghadiri sebuah jamuan besar salah satu kolega utama keluarganya di Leicester.
Ayahnya tidak tahu bahwa saat ini, Damian rela menukar seluruh koleksi kolega penting Harding Global hanya untuk satu jam tambahan bersama Fraya Alexandrea.
"Ini Madame Moitessier, kan?"
Seperti disetrum listrik, Damian menoleh cepat ke suara dibelakang punggungnya.
Dan seketika, jantungnya seakan berhenti berdetak.
Fraya berdiri di tengah undakan tangga, memandang salah satu dari barisan lukisan di dinding liukan tangga itu.
"Maksudku, Jean-Auguste-Dominique Ingres? Aku mengenali presisi garisnya yang luar biasa... lihat bagaimana dia menangkap pantulan cahaya pada sutra itu. Begitu elegan, hampir terasa seperti sebuah foto namun dengan jiwa yang jauh lebih dalam."
Damian masih terpaku di tempatnya berdiri, menatap sosok Fraya ditengah tangga yang tidak sadar ada seseorang yang sejak tadi menunggunya, kink begitu terpana sampai tidak mampu berkata apa-apa.
Fraya tampak luar biasa memukau.
Rambut hitamnya terurai panjang dengan sedikit ikal di bagian bawah, terlihat begitu lembut, tampak seperti tirai berwarna hitam yang menyebar di bahunya.
Riasan tipis di wajahnya terlihat begitu segar, dengan polesan lipstik berwarna nude yang tidak berlebihan.
Dan gaun itu—terkutuklah Damian dan gairahnya yang bajingan—gaun pendek itu memperlihatkan kaki panjang Fraya yang indah. Membuat sosoknya seperti cahaya dalam kegelapan.