Fraya menutup pintu mobil di belakang tubuhnya, atau lebih tepatnya, membantingnya dengan cukup keras hingga dentumannya sanggup membuat Papa yang sedang duduk di balik kemudi tersentak kaget.
"You okay, Honey?" Papa berseru dari balik kaca mobil yang setengah terbuka.
Fraya menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang masih tidak keruan. Ia membalikkan badan, merendahkan tubuhnya agar bisa menatap Papa langsung ke dalam mobil.
"Pa, Papa mau tidak, kalau hari ini Fraya ajak bolos?"
Fraya tahu pertanyaannya barusan terdengar sangat tidak masuk akal. Apalagi keluar dari bibir seorang Fraya Alexandrea yang biasanya sangat patuh pada jadwal sekolah.
Papa menaikkan kedua alisnya bersamaan, seolah sedang mencerna apakah anaknya baru saja kesurupan, lalu seketika meledak dalam tawa yang memenuhi kabin mobil.
"Kok Papa malah ketawa sih!" Fraya merengek kesal, tangannya mencengkeram pinggiran pintu mobil.
"Damian kali ini berulah apa lagi sampai bikin kamu jadi malas masuk sekolah?" Tawa Papa mereda, digantikan oleh sorot mata yang lebih intens. Papa menurunkan pandangannya, kali ini dengan gurat wajah lebih serius. "Dia tidak macam-macam kan sama kamu?"
Fraya memutar bola matanya dengan gerakan malas yang dibuat-buat.
Kalau minggu lalu Papa bertanya seperti ini, Fraya pasti akan langsung menyangkal dengan tegas.
Tapi hari ini? Memberitahu Papa bahwa tangan Damian telah menjamahnya ke tempat-tempat yang seharusnya tetap menjadi teritori pribadi, jelas bukan opsi yang bijaksana.
Papa memang seperti Mama; tipe orang tua santai yang tidak hobi mengekang. Tapi santai bukan berarti permisif jika tahu anak perempuannya baru saja digerayangi tanpa sensor oleh seorang laki-laki. Sialnya, gerayangan senonoh yang Fraya enggan akui itu justru menjadi momen paling dahsyat yang pernah ia rasakan dalam hidupnya.
Fraya berdecak, menegakkan tubuhnya dengan perasaan campur aduk.
"Percuma saja bicara sama Papa. Papa sepertinya sudah kena voodoo cowok menyebalkan itu."
Fraya berbalik badan, membiarkan suara tawa Papa kembali menggema dari dalam mobil saat mobil itu mulai melaju. Ia melangkah memasuki pelataran Milford yang pagi ini—pukul 07.00 tepat—masih tampak tenang.
Tidak seperti biasanya yang selalu berjalan dengan dagu tegak, kali ini Fraya sebisa mungkin melakukan infiltrasi diam-diam. Ia ingin menjadi transparan, tidak terlihat, terutama oleh radar Damian Harding. Bertemu cowok itu dua hari berturut-turut sudah cukup untuk mengobrak-abrik seluruh kestabilan emosinya. Fraya hanya ingin satu hari yang waras tanpa drama.
Namun, strategi "menghilang"-nya nyaris berantakan saat ia baru saja mencapai koridor utama. Ronny—yang Fraya yakini seratus persen adalah antek setia Damian—baru saja turun dari mobil mewahnya.
Fraya berputar cepat seolah baru saja melihat hantu. Ia mengganti arah langkahnya secara acak, yang penting jauh dari jangkauan mata-mata Damian. Ia akhirnya mengambil rute memutar melalui gedung utara. Jauh, melelahkan, tapi efisien.
Fraya mencapai lantai dua saat ponsel di saku kardigan abu-abunya bergetar. Ia merogoh sakunya, dan langkahnya seketika terhenti saat melihat nama pengirimnya.
Damian Harding.
I heard that next week is your Hörverstehen. Aku punya bahan untuk kamu pelajari, selain dari Walkman yang kuberikan. Aku akan menemui mu begitu sampai di sekolah.
Fraya mendesis tajam. "Dasar otoriter!" umpatnya pada layar ponselnya sebelum ia jejalkan kembali ke saku dengan gerakan kasar.
°°°°°
Mandi air dingin pagi ini adalah sebuah bentuk hukuman sekaligus "jalan ninja" bagi Damian untuk meredam sisa-sisa mimpi panas yang masih membekas di ingatannya.
Dibawah kucuran air yang nyaris membeku itu, ia memejamkan mata erat, mencoba meluruhkan bayangan jemarinya yang menari di atas kulit Fraya Alexandrea.
Ia benci menyadari betapa ia begitu haus akan sentuhan gadis itu, sebuah dahaga yang tidak bisa dipuaskan hanya dengan satu malam, melainkan sebuah candu yang mulai mengikis habis kewarasannya sebagai seorang pria yang terbiasa memegang kendali.
Setiap tetes air dingin yang menghantam punggungnya seolah menjadi pengingat kasar bahwa semua gairah membara itu hanyalah angan-angan yang terjebak dalam tidurnya.
Damian Harding tidak pernah merasa se putus asa ini sebelumnya. Ia bisa mendapatkan apa pun yang diinginkannya di dunia ini, namun Fraya adalah satu-satunya pengecualian yang membuatnya harus berlutut pada egonya sendiri.
°°°°°
Adam Whitmore membukakan pintu mobil dengan gerakan presisi saat mereka tiba di depan gedung utama Milford Hall.
Damian turun dengan langkah yang sengaja dibuat tenang, namun aura di baliknya begitu mengancam.
Kacamata hitamnya tetap bertengger di pangkal hidung, seolah menjadi benteng terakhir untuk menyembunyikan sisi rapuh dan "mendung" di balik pijar matanya pagi ini. Ia tidak ingin kerumunan siswa Milford yang mendambanya—atau lebih tepatnya, yang memujanya dengan rasa takut—melihat betapa berantakannya pikiran sang raja sekolah saat ini hanya karena seorang gadis.
Damian melangkah melewati aula Milford Hall dengan dagu tegak, mengabaikan bisik-bisik yang mulai bermunculan di sepanjang koridor. Damian langsung menuju ruang rekreasi, teritori pribadinya yang jarang berani dimasuki orang luar tanpa undangan.
Pelayan sekolah, yang sudah sangat paham dengan kebiasaan sang tuan muda, segera menyajikan secangkir kopi hitam pekat tanpa perlu diperintah lagi. Aroma pahit kafein itu memenuhi ruangan, namun tak sedikit pun mampu menenangkan badai di dalam dada Damian.
Ia menghempaskan tubuhnya ke sofa kulit yang dingin, melepas kacamatanya dengan gerakan kasar, lalu segera meraih ponsel dari saku jasnya.
Layar itu menyala, memperlihatkan lock screen yang masih bersih dari notifikasi.
Nihil. Tidak ada satu pun balasan pesan atau panggilan balik dari Fraya. Padahal, ia tahu persis bahwa gadis itu seharusnya sudah terjaga sejak tadi.
Ketidakpastian itu mulai memakan kewarasannya.
Damian menekan speed dial angka 1—nomor yang ia simpan secara khusus hanya untuk Fraya. Ia mendekatkan ponsel itu ke telinga, mendengarkan nada sambung yang hanya berdering tiga kali sebelum dialihkan secara otomatis ke layanan voicemail.
"Sial," umpatnya rendah.
Ia mencoba sekali lagi, namun hasilnya tetap sama. Suara operator yang datar itu seolah sedang mengejek kegagalannya mendapatkan perhatian Fraya pagi ini.
"Dia pasti menghindari ku," gumam Damian dengan rahang yang mengeras hingga guratannya terlihat sangat jelas.
Matanya menatap nanar ke arah jendela, membayangkan posisi Fraya yang mungkin saat ini sedang bersembunyi di suatu tempat di sekolah besar ini.
Tanpa sedikit pun menyentuh kopi panas yang masih mengepul di hadapannya, Damian beranjak dari sofa dengan gerakan yang cepat siap memangsa.
Ia memakai kembali kacamata hitamnya, memperbaiki kerah kemejanya, dan melangkah keluar dari ruang rekreasi dengan aura yang jauh lebih berbahaya dari sebelumnya.
°°°°°
Fraya baru saja keluar dari kelas Fisika dengan jemarinya memegang lembar jawaban kuis dadakan tadi.
Senyumnya sempat tersungging puas saat menatap huruf A+ yang tertulis dengan tinta merah di ujung kertas.
Namun, kepuasan itu hanya bertahan sekian detik sebelum peringatan tentang ujian Hörverstehen minggu depan menghantam kepalanya.
Seketika, euforia nilai Fisika itu menguap tak bersisa.
"Have you seen Fraya?"
Langkah Fraya membeku seketika.