"Mr. Harding, apakah benar wafatnya Nyonya Arnelia Harding akan menjadi hantaman fatal yang melumpuhkan seluruh roda perputaran bisnis Harding Global?"
"Mr. Harding, apa sebenarnya pemicu di balik kematian mendadak Nyonya Arnelia? Apakah ada spekulasi medis yang sengaja ditutup-tutupi dari publik?"
"Mr. Harding, bagaimana skenario masa depan jika nantinya putra Anda, Damian Nicholas Harding, harus mengambil alih jaringan raksasa Harding Global di seluruh dunia dalam usia sedini ini? Apakah dia sudah cukup layak untuk memegang kendali?"
"Mr. Harding..."
"Mr. Harding..."
"Mr. Harding..."
Pertanyaan-pertanyaan itu menghujam udara seperti peluru panas yang tak kenal ampun, berebut ruang dengan jutaan kilat lampu kamera wartawan yang mengerumuni pelataran gerbang pemakaman sore itu.
Di tengah hiruk-pikuk yang nihil empati tersebut, Nicholas hanya mampu menundukkan kepala sedalam mungkin.
Ia berusaha sekuat tenaga menghindari kerumunan wartawan yang seakan tanpa henti menggencat tubuhnya, memburu sebuah pernyataan dari duka yang bahkan belum sempat ia cerna.
Dunia di sekelilingnya saat itu terasa seperti distorsi suara yang memekakkan telinga.
Kedua tangan Ayahnya mencengkeram bahu Nicholas dengan sangat erat—sebuah upaya navigasi yang keras sekaligus proteksi untuk menembus lautan manusia dengan kilatan kamera yang tidak henti-hentinya menyorot ke arah mereka berdua.
Nicholas merasa seperti berada di tengah badai klaustrofobia yang menyesakkan. Oksigen seolah mendadak langka di antara kerumunan itu, membuatnya sulit bahkan untuk sekadar menarik napas pendek.
Gelombang sesak mendadak saja menggulung dalam diri Nicholas. Di tengah tubuhnya yang terhimpit kain mantel tebal milik Ayahnya yang beraroma parfum woody maskulin, serta jeritan-jeritan para wartawan yang terus meneriaki nama mereka tanpa henti, Nicholas tiba-tiba dihadapkan pada sebuah serangan gelap yang menyapu penglihatannya secara brutal.
Kegelapan itu seolah membanjiri sekujur tubuhnya tanpa ampun. Bermula dari kedua matanya yang memburam, lalu merambat turun seperti cairan es yang membekukan saraf hingga ke ujung jemari kaki. Dunia mendadak senyap, menyisakan kekosongan yang mengerikan. Dan di tengah kerumunan manusia yang tak peduli itu, pertahanan Nicholas runtuh sepenuhnya.
Tubuhnya terkulai lemas dalam pelukan Richard Harding, menyerah pada kegelapan total tepat di hadapan kilatan lampu kamera yang masih saja terus berkedip—haus akan drama dari sebuah kehancuran seorang pewaris.
°°°°°
Pintu ruang rekreasi membelalak terbuka dengan bunyi gebrakan yang cukup dramatis, membelah keheningan ruangan dan membuat orang-orang yang berada di sana sejak kelas periode kedua selesai menoleh secara serentak ke arah sumber suara keras tersebut.
Wajah Damian tampak sangat kusut, mencerminkan isi kepalanya yang sedang kacau balau.
Sudah beberapa hari ini ia membiarkan kacamata hitam Oakley yang ia kenakan bertengger di pangkal hidungnya, sengaja ia gunakan sebagai benteng terakhir untuk menutupi kabut kelam dan kantung mata yang menyelimuti kedua matanya yang biasanya biru jernih. Atmosfir dalam ruangan itu sekarang terasa begitu dingin dan berbahaya.
Alana, yang entah sejak kapan sudah berada di dalam sana, berdiri seketika untuk menghampiri Damian dengan langkah terburu-buru.
"Nick, are you alright?" tanya Alana khawatir dengan nada mendayu yang ia harap dapat menyentil sisi hati Damian yang paling dalam.
Tapi seperti sikap acuh Damian yang sudah-sudah, cowok itu sama sekali tidak memedulikan limpahan kasih sayang dari Alana. Ia melangkah melewatinya begitu saja seolah gadis itu hanyalah udara kosong yang tak berarti.
Sementara itu, Axel Rosewood yang sedang duduk di sana menyaksikan adegan memuakkan itu dengan desisan tajam di balik uap pod yang sedang ia isap. Sama sekali tidak berniat jadi pihak tambahan yang ingin berebut melemparkan perhatian lebih untuk sang raja Milford Hall.
"Apa yang baru saja merasuki mu, Nick, sampai wajahmu se-amburadul ini?" Kali ini Ronny yang bertanya dari seberang meja, mencoba mencari tahu penyebab ledakan emosi sahabatnya di pagi hari nan cerah ini.
Damian melepaskan kacamatanya dengan kasar, lalu menekan pangkal hidungnya yang terasa sangat pegal akibat kurang tidur dan stres yang sudah di ambang batas.
"You wouldn't wanna know," jawab Damian pendek sekenanya, dengan nada suara yang berat, serak, dan sarat akan peringatan.
Ia baru saja menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa ketika pintu ruang rekreasi kembali terbuka lebar lagi.
Kali ini, sosok Louis Partridge melenggang masuk dengan gaya santai yang entah kenapa terlihat berkali-kali lipat lebih memuakkan di mata Damian saat itu. Kehadiran Louis seperti menyiram bensin ke api yang sudah menyala di dada Damian.
Mata Damian seketika menghunus tajam, mengunci sosok sahabat karib yang sudah dikenalnya sejak masa taman kanak-kanak—saat mereka masih sama-sama duduk di bangku taman kanak-kanak.
Dan entah setan apa yang merasuki Damian, tubuhnya berdiri secepat kilat.
Ia menghampiri Louis, menarik kerah seragam cowok itu dengan kasar hingga kancing atasnya nyaris terlepas, lalu mendorongnya sekuat tenaga ke dinding ruangan hingga menimbulkan dentuman keras yang menggema di seluruh sudut ruangan.
Semua orang di ruangan itu beringsut panik, berusaha melerai sebelum keadaan semakin tidak terkendali. Namun, Damian mendesis lebih tajam ke orang-orang di sekitarnya yang sedang panik tersebut, mengisyaratkan dengan sorot mata membunuh agar jangan sekali pun ada yang berani mendekat atau ikut campur.
"What the fuck are you doing to my girlfriend?!" Damian memaki kasar tepat di depan wajah Louis, sambil membenturkan kepalan tangannya di kerah kemeja Louis yang ia cengkeram erat. "Kamu bebas mengajak kencan seluruh perempuan di dunia ini, Louis, tapi tidak dengan Fraya Alexandrea-ku!"
Louis, yang awalnya berlagak tidak mengerti dengan serangan fisik itu, sekarang malah tertawa pahit—sebuah tawa provokatif yang terdengar sangat meremehkan.
Ia menatap Damian tanpa ada rasa gentar sedikit pun, lalu dengan satu gerakan yang bertenaga, ia mendorong kasar cengkeraman Damian di kerah bajunya.
"Kekasih? Damian, sebuah hubungan itu baru bisa terjalin jika diakui oleh kedua belah pihak. Kamu tahu apa yang dikatakan Fraya saat aku menanyakan kebenaran status kalian berdua? Dia bilang... dia bukan kekasihmu!"
Nyala api di kedua mata biru Damian kembali membara mendengar kenyataan yang terlontar dari bibir Louis.
Ia menyentak tubuh Louis kembali membentur dinding dengan sangat keras. Tangan Louis sudah menahan cengkeraman Damian, yang dalam satu detik saja sudah bersiap melayangkan tinju ke wajah sahabatnya sendiri.
Namun tangan Robby dan Alana menarik Damian menjauh sekuat tenaga. Mereka harus berjuang keras menahan cowok itu, seolah yang sedang berusaha dilerai adalah tembok bata yang begitu kokoh dan nyaris mustahil untuk digerakkan.
Napas Louis terengah-engah, wajahnya merah menahan geram. Ia mengambil tali tasnya di atas lantai dengan kasar, lalu menatap Damian yang masih menatapnya dengan penuh dendam yang mendarah daging.
"Kalau kamu tidak tahu bagaimana caranya membuat seorang gadis bersedia menyerahkan seluruh hatinya, pastikan caranya dengan tidak memaksa. Seharusnya kamu sadar, Damian. Sudah berapa ribu kali gadismu menolak secara terang-terangan untuk sesuatu yang sering kali kamu paksakan? Seolah kamu memegang penuh kendali atas setiap tarikan napas Fraya." Louis mengatur napasnya yang memburu. "Yang kita bicarakan ini bukan salah satu domba-dombamu yang sukarela memberikan apa pun untukmu. Dan aku... aku akan mendekati Fraya dengan cara yang kamu sendiri tidak akan pernah sanggup berikan padanya."