Its Always Been You, Fraya

Farah Maulida
Chapter #38

London, Lights and Lies

Keheningan di lantai teratas gedung Harding Global biasanya terasa seperti prestise yang menenangkan.

Namun sore itu, suasana didalam sebuah ruangan terasa cukup dingin dan mencekam.

Richard Harding masih terpaku di balik meja kerja mahoni nya yang luas. Matanya yang tajam, yang biasanya mampu mendeteksi pergerakan pasar saham sekecil apa pun, kini sedang menyisir grafik kurva perkembangan laba perusahaan di layar monitor. Angka-angka itu merangkak naik, hijau dan gemilang, menunjukkan dominasi dinasti Harding yang tak tergoyahkan.

​Tiba-tiba, suara ketukan pintu ruang kerjanya memecah konsentrasinya.

​"Permisi Tuan. Dokter Ashford ada di line dua."

​Pandangan Richard terangkat perlahan. Di ambang pintu, Karen berdiri dengan sikap sempurna-asisten yang sudah bertahun-tahun mengabdi dan tahu persis kapan harus bicara dan kapan harus menghilang.

Richard tidak langsung menjawab. Ia membiarkan jeda beberapa detik berlalu, membiarkan nama "Ashford" bergema di kepalanya sebagai pengingat akan sesuatu yang selama sepekan ini ia coba abaikan.

​Dengan satu anggukan singkat, yang lebih merupakan perintah mekanis daripada sapaan, Richard memberikan izin. Karen kembali menarik pintu hingga tertutup rapat, memastikan tidak ada satu desis suara pun dari luar yang bisa mengganggu percakapan krusial ini.

​Richard menekan tombol konsol pada telepon kristal di atas mejanya. Ia sengaja menyalakan pengeras suara, membiarkan suara dari ujung sana memenuhi ruangan, sementara tangannya kembali bergerak seolah-olah ia masih peduli pada kurva bisnis di depannya.

​"Ashford, tell me some good news," ujar Richard. Suaranya rendah, dingin, dan sarat akan otoritas yang menuntut hasil instan.

​Namun, jawaban yang ia harapkan tidak segera datang. Di ujung sambungan, ada jeda yang terasa terlalu lama.

Terdengar suara berdeham yang dipaksakan-sebuah tanda kecanggungan dari seorang dokter profesional yang biasanya bicara tanpa ragu. Intonasi Ashford saat mulai bersuara terdengar sangat hati-hati, seolah-olah setiap kata yang ia ucapkan adalah ranjau yang bisa meledak kapan saja.

​"Sir, tim kami sudah mengirimkan hasil biopsi pemeriksaan Anda melalui email. Jika Anda sudah menerimanya, tim kami akan segera menindaklanjuti proses selanjutnya secepat mungkin."

​Dan tepat saat itu, dunia Richard Harding seolah berhenti berputar.

Kalimat pendek itu sukses membuat fokusnya pada deretan kurva bisnis yang tadinya dianggap sebagai segalanya, buyar tanpa sisa. Pikiran tentang laba, ekspansi, dan dominasi global mendadak menguap, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar di tengkuknya.

​Ia menutup laptopnya dengan gerakan yang sangat pelan, dengan pikirannya yang sudah melayang kemana-mana.

Tangannya bergerak menuju mouse, membuka folder email pribadi yang sangat rahasia-email yang bahkan Karen pun tidak diberi akses untuk menyentuhnya. Jemari Richard yang biasanya stabil saat menandatangani kontrak bernilai miliaran poundsterling, kini terasa sedikit kaku saat mengklik pesan dari laboratorium Ashford.

​Satu menit berlalu. Richard membaca hasil itu baris demi baris, kata demi kata, mencoba mencari celah kesalahan medis di sana.

Namun, hasil itu mutlak.

Keheningan di ruangan itu mendadak terasa memekakkan telinga, meruntuhkan seluruh rasa aman yang ia bangun selama puluhan tahun.

​Dengan sepihak, Richard memutuskan sambungan telepon. Ia menekan tombol di sebelah konsol yang langsung terhubung ke meja kerja asistennya.

Dalam hitungan detik, Karen kembali muncul, seolah ia memang sudah bersiaga di balik pintu.

​"Yes, Sir?"

​Richard Harding menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya yang mendadak terasa sesak. Ia bicara tanpa menatap Karen, pandangannya lurus ke arah jendela besar yang menampilkan langit London yang kian menggelap.

​"Hubungi Nicholas. Suruh dia segera kemari. Sekarang juga."

​Karen mengangguk patuh. Ia tidak bertanya mengapa, meskipun asistennya itu sudah hapal mati bahwa memanggil Nicholas di jam rawan seperti ini berarti pertanda akan adanya badai besar yang sedang menuju ke arah mereka.


°°°°°


​Damian Nicholas Harding sudah duduk di kursi belakang mobilnya selama satu setengah jam yang menyiksa.

Adam Whitmore, pengawal setia sekaligus supir pribadinya, sengaja memarkirkan mobil Bentley yang dikendarainya di sudut yang cukup gelap, jauh dari lampu-lampu pelataran Clos Maggiore yang berkilau dibilangan Mayfair.

​Damian menatap restoran itu dengan tatapan membunuh, yang sanggup membuatnya menghabisi siapapun yang menghalangi kekonyolannya malam ini.

Tindakannya malam ini benar-benar sudah di luar nalar. Ia seperti pecundang paling patetis di seluruh Inggris.

Bagaimana mungkin seorang Damian Harding, pria yang bisa mendapatkan apa pun hanya dengan jentikan jari, berakhir memata-matai seorang gadis yang sedang berkencan dengan sahabatnya sendiri? Ini adalah rekor baru paling bodoh sekaligus paling menyedihkan untuk harga diri seorang Damian Harding. Tapi lagi-lagi, emosinya selalu menang telak atas logika apapun yang menghalangi jalan pikir dan perasaannya.

​Di saku celana Damian, ponselnya tidak berhenti bergetar. Layarnya menyala berkali-kali, menampilkan nama "Karen" yang memanggil tanpa henti.

Namun, setiap kali getaran itu mengusik kulitnya, Damian hanya merogoh saku dan menekan tombol merah dengan gerakan kasar. Ia tidak peduli jika saat ini ayahnya sedang kelimpungan mencarinya untuk urusan mendesak.

Dunia luar tidak ada artinya bagi Damian saat ini. Fokusnya terpatri sepenuhnya pada pintu restoran sialan itu sejak hampir dua jam.

​Akhirnya, karena merasa terganggu dengan rentetan panggilan tersebut, Damian memutuskan mematikan ponselnya saja sepenuhnya.

Blackout. Ia ingin kesunyian total agar ia bisa berkonsentrasi pada kebenciannya sendiri. Dalam hati, ia merapal kan doa paling sakral yang pernah Damian ucapkan.

Ia berharap Tuhan saat ini mengirimkan badai dahsyat yang melanda Inggris secara tiba-tiba, atau tsunami yang menerjang Thames, atau bahkan sekadar kebakaran kecil di dapur restoran-apa pun, asal kencan Fraya dan Louis malam ini hancur total.

​Namun, Damian seharusnya tahu bahwa dewi fortuna jarang sekali berpihak padanya. Kalau sudah menyangkut urusan hati nya pada Fraya, Damian selalu menjadi pihak paling tidak beruntung.

Ia terpaksa menelan kekecewaan pahit saat pintu restoran terbuka, memperlihatkan sosok Fraya Alexandrea berjalanan bersisian menuju restauran bersama Louis.

​Fraya... malam ini benar-benar cantik hingga membuat napas Damian tercekat.

​Gadis itu memang selalu cantik di mata Damian.

Namun malam ini, ada sesuatu yang berbeda dari penampilan Fraya.

Gadis pujaan hatinya itu mengenakan dress hitam bermotif bunga halus, yang panjangnya sedikit di atas lutut, dipadukan dengan mantel berwarna merah muda sentuhan pastel yang memberikan kesan lembut sekaligus elegan.

Sepatu heels hitam di kakinya yang jenjang dan putih membuat Damian langsung bersumpah serapah dalam hati. Hasratnya bergejolak, membuatnya sangat ingin sekali keluar dari mobil, menarik Fraya, dan membawanya pergi jauh-jauh dari sana. Memastikan Louis Partridge tidak pernah bisa melihat kecantikan Fraya yang seharusnya ditujukan hanya untuk Damian seorang.

Lama mereka berada dalam restauran itu. Yang sialnya, meja mereka terletak sangat persis di dekat jendela kaca besar yang mengarah ke tempat Bentley Damian terparkir.

Lalu setelah satu jam lebih menghabiskan waktu makan malam disana, ​mereka berdua berjalan menuju mobil Louis.

Dari tempatnya mengintai, Damian bisa melihat siluet mereka dengan jelas.

Ini adalah siksaan yang ia pilih sendiri.

Restauran ini adalah salah satu unit bisnis di bawah akuisisi Harding Global, dan Damian berjanji pada dirinya sendiri bahwa besok ia akan meninjau ulang kontrak kerja sama mereka karena begitu berani melayani Louis dan Fraya di meja mereka ping terbaik.

​"Sir, asisten Ayah Anda baru saja menghubungi saya, menanyakan apakah saya sedang bersama Anda. Apakah saya beritahu bahwa saya sedang bersama Anda di 33 King St. London?" Adam Whitmore memecah keheningan dalam mobil yang begitu menyesakkan.

​Damian mendesah berat, suaranya terdengar sangat getir.

"Abaikan saja, Adam."

​Beberapa menit berlalu, yang bagi Damian terasa seperti berabad-abad, hingga akhirnya mobil yang Fraya dan Louis tumpangi mulai bergerak pergi meninggalkan pelataran Clos Maggiore.

Damian langsung memerintahkan Adam untuk segera menghidupkan mesin.

​"Jalan, Adam."


°°°°°


​"Are you having a good time?"

​Fraya menoleh ke arah Louis yang sedang mengemudikan BMW hitamnya dengan gerakan mulus nan tenang, sangat kontras dengan keramaian jalanan London dihadapan mereka saat ini di malam Minggu.

Senyum Fraya tersungging samar saat ia mengangguk pelan.

​"I really had a good time. Thank you for the meal, Partridge. Aku tidak tahu kalau kakakmu seorang Chef di sana. Makananku jadi banyak sekali karena hidangan yang tidak berhenti dikirim ke meja kita."

​Louis terkekeh pelan. Ia sesekali menoleh ke arah Fraya dengan tatapan yang menghangatkan.

"Dia senang sekali waktu kuberi tahu aku ke sana dengan seorang gadis. Katanya jarang sekali aku berani membawa seorang perempuan ke tempat di mana dia bisa muncul kapan saja dan mempermalukan ku dengan cerita masa kecil kami."

​Fraya ikut tertawa mendengar itu.

"Memangnya se-memalukan apa? Aku justru iri. Sejak dulu ku ingin sekali punya saudara. Kalian beruntung punya satu sama lain untuk berbagi, meskipun memiliki seorang saudara biasanya juga cukup menyebalkan."

​Louis menatap Fraya lagi, tersenyum dengan amat tulus, tipe senyuman pria British yang tenang dan melindungi, yang mampu membuat gadis mana pun di Milford Hall merasa aman dan jatuh hati secata instan.

Berbeda dengan Damian yang selalu saja dominan dan meledak-ledak seolah ia dapat menelan setiap hal di sudut matanya, Louis justru memberikan Fraya ruang untuk bernapas.

Selama dua jam ini, Louis tidak pernah menuntut apa pun. Malam itu, Fraya layaknya bertemu dengan teman lamanya. Louis begitu memahami dengan saling bertukar cerita, dan jadi pihak pendengar yang baik.

Lihat selengkapnya