Its Always Been You, Fraya

Farah Maulida
Chapter #39

Steam and Sin

Di dalam ruang tunggu yang didominasi warna putih pucat itu, keheningan terasa begitu pekat hingga seolah memekakkan telinga.

Fraya duduk dengan punggung tegak, namun kedua kakinya tak bisa berhenti bergerak gelisah—sebuah ritme mekanis yang ia lakukan untuk menahan rasa sesak yang kian membuncah di dadanya.

Perasaan dalam hatinya bercampur aduk antara cemas, takut, dan rasa tidak enak yang terus bergumul menjadi satu.

​Di sebelahnya, Papa mengulurkan tangan, menyentuh ujung lutut Fraya dengan lembut. Sebuah isyarat bisu yang sangat Fraya pahami untuk menghentikan kegugupannya. Papa tahu benar, anak gadisnya ini punya kebiasaan tidak bisa diam jika sudah merasa gelisah setengah mati.

​Mata Fraya akhirnya beralih. Dari yang tadinya menatap kosong lantai linoleum di depannya, kini beralih pada manik kelam Papa. Pria itu mencoba menyunggingkan senyum tipis—tipe senyum yang berusaha menenangkan, meski Fraya tahu, situasi ini pun sama sekali tidak mudah bagi Papanya.

​"Mr. Moore, silakan masuk."

​Seorang perawat muncul dari balik pintu, tersenyum simpul ke arah mereka. Suaranya yang ramah mendadak terasa seperti lonceng pengadilan di telinga Fraya.

​Papa segera berdiri, sementara Fraya masih duduk mematung di kursinya. Ia mendongak, menatap punggung Papa dengan kecemasan yang rasanya sudah siap meledak kapan saja.

Menyadari anaknya belum bergerak, Papa mengangguk samar ke arah perawat, seolah meminta waktu sejenak untuk membujuk Fraya.

​Begitu perawat itu kembali masuk ke ruangan, Papa berjongkok di depan Fraya. Ia meraih kedua tangan Fraya yang sudah terasa begitu dingin, lalu menggenggamnya erat.

​"We're gonna go through this together, Kiddo. We three, against the world," ujar Papa.

​Suaranya tenang, tipe ketenangan yang selalu mampu menjadi jangkar bagi kegelisahan di dalam diri Fraya.

Untuk sesaat, Fraya hanya terdiam. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengisi paru-parunya yang terasa menyempit, lalu mengangguk samar—lebih kepada dirinya sendiri untuk menguatkan mental.

​Fraya akhirnya berdiri. Ia melangkah perlahan, bergandengan tangan dengan Papa.

Dan saat telapak tangan mereka bersentuhan, Fraya baru menyadari satu hal: tangan Papa ternyata sudah sedingin tangannya juga.


°°°°°


​"JADIIIIII, bagaimana kencan panas kalian Sabtu kemarin?"

​Fraya spontan mengernyit. Seruan melengking Florence barusan benar-benar merusak suasana pagi di koridor Milford.

Sambil menutup pintu loker dengan dentang pelan, Fraya mengusap telinganya yang malang.

​"Kenapa kamu selalu lebih heboh sendiri kalau sudah menyangkut tentang kehidupan asmaraku?" Fraya merutuk, tangannya sibuk memasukkan buku Kimia tebal ke dalam tas.

​Florence tidak peduli sinisme dalam kalimat Fraya. Ia bersandar di pintu loker di sebelah loker Fraya dengan gaya seperti detektif yang siap menginterogasi. "Kalau kamu sudah masuk Milford dari tahun ajaran pertama dan mengikuti setiap perkembangan cowok-cowok populer dari klan Damian Harding dan bangsa-bangsanya itu, kamu pasti akan heboh juga seperti aku, Alexa."

​Fraya mendengus geli. "Aku sih bakal lebih excited kalau diajak kencan sama Jude Law yang sudah jelas-jelas terkenal dan seksi sekali itu."

​Florence mencibir, wajahnya berkerut heran. "Cih, Alexa! Kalau Jude Law yang kamu ingin kencani itu yang versi mudanya, aku sih setuju-setuju saja. Tapi kalau yang versi tuanya sekarang? Jelas sekali levelnya kalah jomplang dengan eksistensi Damian Harding dan teman-temannya yang setara aristokrat itu."

​Tawa Fraya menyembur seketika. Florence memang selalu punya cara unik untuk membandingkan kasta ketampanan seorang cowok dimata gadis itu.

​"Lagipula," Florence melanjutkan tanpa jeda, "apalah arti pamor aktor Hollywood yang melambung tinggi kalau kamu bisa menggaet salah satu anak paling sukses yang bahkan sanggup membeli satu dunia ini? Aku yakin, kekayaan para artis di Hollywood maupun Inggris pun tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekayaan Damian Harding, Louis Partridge, dan teman-temannya itu."

​Florence tiba-tiba merentangkan tangannya di depan tubuh Fraya, menahan langkah sahabatnya itu dengan paksa. Matanya menyipit penuh tuntutan agar rasa penasarannya akan kencan Fraya kemarin bisa dibeberkan. "Ayolah. Katakan, Alexa. Sabtu kemarin kencannya bagaimana? Kamu diajak ke mana bersama Louis?"

​Fraya mengembuskan napas sebal, merasa menyerah pada keadaan. Kalau saja gadis berambut cokelat terang di depannya ini bukan sahabat satu-satunya di Milford, Fraya pasti sudah tidak segan-segan untuk mencekiknya.

​"Dia hanya mengajakku ke Clos Maggiore," jawab Fraya singkat.

​Mata Florence membelalak lebar, nyaris keluar dari kelopaknya. "Clos Maggiore, katamu? Fraya, jangan gila deh! Bisa-bisanya kamu bilang 'hanya mengajak'? Itu restoran paling glamor dan eksklusif di London! Ya Tuhan, bahkan harga satu botol air mineralnya saja belum tentu sanggup ku beli dengan uang sakuku sebulan."

​Fraya kembali mencibir, tidak menyangka reaksinya akan seheboh itu.

"Cih. Masa sampai sebegitu nya? Kemarin itu aku sama sekali tidak lihat daftar menunya karena pelayannya sudah merekomendasikan menu paling populer. Ditambah, kakak Louis itu ternyata seorang Chef utama di sana. Jadi kurasa kemarin aku hampir melahap semua jenis makanan yang mereka sajikan di meja ku."

​Binar mata Florence semakin menyala-nyala, seolah-olah ia baru saja mendengar dongeng Cinderella versi modern. "Alexa, kebaikan apa yang kamu lakukan di masa lalu sampai kamu bisa seberuntung ini?"

​Fraya akhirnya tidak tahan untuk tidak menjitak ujung kepala Florence, membuat gadis itu meringis mengusap puncak kepalanya sambil terkekeh pelan.

Sambil kembali melangkah menuju kelas Kimia, Fraya bergumam, "Kalau begitu, kenapa tidak kamu saja yang—"

BYURRRR!


​Dunia seolah berhenti berputar selama satu detik ketika langkah Fraya baru saja menapak diambang pintu kelas Kimia.

Sebuah ember berisi tepung terigu yang entah datang dari mana, mendarat tepat di atas kepala Fraya. Serbuk putih itu tumpah dengan sempurna, menyelimuti rambut, wajah, hingga seragamnya.

​Florence, yang juga terkena siraman tepung meskipun hanya di sisi seragamnya, terperanjat hebat. Ia menatap Fraya yang kini bersimpuh bubuk putih dengan wajah pucat.

Dengan panik, Florence mencoba membersihkan tumpukan tepung di rambut Fraya, mengabaikan ledakan tawa yang tiba-tiba pecah dari murid-murid di dalam kelas Kimia.

Mereka menonton drama itu dengan tawa puas, tanpa ada satu pun yang berniat membantu.

​Fraya menengadah, masih luar biasa terkejut walaupun ia hanya bisa membeku ditempatnya berdiri.

Anehnya, ia tidak merasa malu, melainkan lebih kepada syok atas serangan yang begitu tiba-tiba ini.

Ia mengusap wajahnya yang tertutup tepung dengan susah payah, menepuk-nepuk bahunya agar debu putih disekitar tubuhnya luruh ke lantai kelas.

​Mata Florence melotot tajam ke arah kerumunan kelas, suaranya menggelegar penuh amarah. "SIAPA YANG BERANI BERBUAT SEPERTI INI KEPADA KAMI!?"

​Tidak ada jawaban. Sebaliknya, teriakan Florence justru memicu ledakan tawa yang makin keras. Seolah-olah kemarahan Florence adalah lelucon tambahan bagi mereka.

​Namun, di tengah kekacauan itu, Fraya seakan tahu siapa dalangnya tanpa harus meneriakkan kemarahannya.

Sudut matanya menangkap sosok yang duduk di pojok ruangan. Satu-satunya orang yang tidak tertawa.

Gadis itu duduk bersedekap dengan dagu terangkat, menyunggingkan senyum licik penuh kemenangan. Di sekitarnya, beberapa gadis yang Fraya yakini sebagai antek-anteknya, masih tertawa mengejek dengan nada merendahkan kearah Fraya dan Florence.

​Florence mengikuti arah pandang Fraya. Dalam sekejap, nyali Florence seakan membuncah, ia nyaris melangkah untuk menerjang gadis berambut pirang panjang yang duduk di "singgasananya" itu.

Namun, Fraya menahan lengan Florence. Ia menggeleng samar, meminta sahabatnya untuk tidak membuang energi.

​"Tapi, Alexa—"

​"No, let her be. It's just wasting our time," bisik Fraya datar.

​Mr. Humblot, guru Kimia mereka, tiba-tiba sudah berdiri di belakang mereka dengan wajah yang syok melihat kekacauan di ambang pintu kelasnya.

Lihat selengkapnya