Louis Partridge berlari secepat kedua kaki panjangnya bergerak, menembus koridor Milford Hall dengan paru-paru yang terasa terbakar.
Dunianya seolah menyempit hanya pada satu misi, yaitu menemukan Fraya Alexandrea.
Tujuan utamanya saat ini langsung ke kelas Kimia, tempat di mana mata-mata suruhan Damian tadi menginformasikan keberadaan Fraya atas insiden memuakkan yang terjadi di bawah pengawasan Mr. Humblot.
Pikirannya bising oleh skenario buruk yang mungkin menimpa gadis itu.
Namun, saat Louis mencapai pintu berkusen kayu ek yang kokoh itu dan menerjang kenop pintunya dengan kasar hingga pintu membelalak terbuka lebar, yang didapatnya justru hantaman sunyi yang menyesakkan.
Seluruh atensi kelas yang tadinya sedang serius memerhatikan penjelasan Mr. Humblot menoleh bersamaan ke ambang pintu, menatap Louis yang berdiri mematung sambil terengah-engah dengan peluh yang membasahi pelipisnya.
"Bloody Hell, Mr. Partridge. What on earth got into you, storming into my class like a madman?" suara Mr. Humblot menggelegar, penuh kejengkelan yang tidak tertutup-tutupi.
Louis masih berusaha meraup oksigen, dadanya naik-turun dengan hebat sementara matanya terus mengedar liar ke setiap sudut ruangan, menyisir barisan kursi, berharap menemukan helai rambut hitam Fraya. "Mohon maaf sebelumnya, Sir. Tapi sepertinya saya salah kelas. Saya mencari—"
"Fraya Alexandrea?"
Suara itu datang dari barisan depan. Louis mendaratkan pandangannya dengan cepat ke arah Alana.
Gadis itu duduk dengan posisi yang sangat pongah, wajah cantiknya tampak luar biasa angkuh saat ia bersedekap, menatap Louis dengan tatapan meremehkan yang seolah merayakan kehancuran orang lain.
"Dia langsung kabur menangis tadi waktu insiden itu terjadi," ujar Alana dengan nada yang sengaja dibuat dramatis.
BRAK!
Suara hantaman keras di sudut meja lain mengagetkan seisi kelas hingga suasana menjadi senyap seketika.
Florence Hunt berdiri dengan mata mendelik tajam, menghunus langsung ke arah Alana dengan berani. "Matamu mungkin buta sekali ya, sampai bisa berasumsi kalau orang yang sudah kalian kotori pakai tepung tadi itu pergi karena menangis, bukannya untuk membersihkan diri!" suara Florence bergetar karena amarahnya sudah mencapai ubun-ubun.
Alana tidak kalah mendelik dengan bengis, wajahnya memerah karena tersinggung. "Kamu bilang apa barusan? Buta? Kamu ini mau didepak dari Milford Hall ya karena sudah berani sekali—"
"QUIET!" Mr. Humblot berseru lantang, memutus perdebatan antara kedua siswinya yang kembali memanas layaknya medan perang. "Kalau kalian mau membuat kekacauan berikutnya, akan saya seret kalian berdua ke tengah lapangan sekarang juga! Tapi kalau kalian mau tetap belajar di sini, saya harap tidak ada lagi perdebatan kekanak-kanakan seperti ini lagi!"
Ketegasan Mr. Humblot berhasil meredam pertikaian sengit kedua gadis itu dalam sekejap. Lalu sedetik kemudian, perhatian sang guru terlempar kembali ke arah Louis yang masih terpatri di ambang pintu kelas dengan raut wajah penuh kebingungan.
"Jika yang kamu maksud adalah siswa dari Indonesia yang namanya Alexandrea itu, mungkin sekarang dia sedang ke toilet. Saya harap informasi itu cukup untuk kamu saat ini."
Louis tidak menunggu sedetik pun untuk segera berderap pergi. Ia menghilang dari kelas Mr. Humblot dan langsung menyisir setiap pintu toilet perempuan di setiap lantai koridor angkatan Sophomore.
Namun, seolah takdir sedang mempermainkannya, segigih apa pun usaha pencarian Louis, nyaris semua toilet yang ia datangi berakhir nihil.
Alih-alih bertemu Fraya, ia malah merasa seperti penguntit kurang ajar yang asal main masuk saja ke teritori pribadi perempuan. Namun, untungnya yang melakukan ini adalah Louis Partridge—salah satu kawanan Damian yang popularitasnya sudah menjadi legenda di kalangan siswi. Alih-alih berteriak ketakutan saat Louis menerjang masuk, para gadis di dalam sana justru histeris kegirangan, menganggap kehadiran Louis sebagai sebuah anugerah tak terduga.
Tiba-tiba, Louis merasakan ponsel di sakunya bergetar hebat.
Ia berhenti berlari, dengan cepat merogoh ponselnya, berharap ada pesan dari Fraya yang mengabarkan keadaannya.
Namun, ternyata sebuah nomor asing yang baru saja mengiriminya pesan singkat. Isinya membuat dahi Louis berkerut dalam, antara bingung apakah ia harus berterima kasih atau mencari tahu siapa orang yang sembarangan menyebar nomor pribadinya.
'Fraya sedang di ruang loker siswi untuk membersihkan diri.'
Louis mungkin akan melacak nomor misterius ini nanti. Tapi tidak sekarang. Fokusnya saat ini kembali meledak, membuatnya berlari seperti orang kesetanan menuju ruang loker siswi yang letaknya berada di ujung koridor lantai empat yang terpencil.
°°°°°
Di balik tirai kamar mandi yang pengap oleh uap air hangat, suasana justru berada di titik didih yang berbeda.
Damian Nicholas Harding berdiri terengah-engah dengan perlahan, membiarkan dadanya yang polos naik-turun selaras dengan hembusan berat napas Fraya di depannya. Matanya sayu, gelap oleh kabut gairah yang tak terbendung.
Tangannya yang besar meraih pinggang telanjang Fraya, mendekatkan tubuh polos itu hingga menempel sempurna, menekan sesuatu di balik celana seragamnya yang sudah mengeras gila-gilaan, siap untuk meledak kapan saja.
Bibir Damian kembali meraup setiap sudut bibir Fraya yang tak kalah terengah-engah. Sudut bibir Damian sedikit terangkat, menyunggingkan seringai puas yang tak terlukiskan saat menyaksikan wanita yang sungguh ia cintai ini mencapai klimaks dengan menyerukan nama Damian begitu keras akibat perbuatan Damian sendiri.
Damian tahu Fraya sudah tidak bertenaga lagi, tubuh gadis itu terasa lemas dan pasrah dalam rengkuhannya. Namun, jemari Damian tetap bermain dengan sangat nakal di setiap jengkal lekukan tubuh Fraya yang begitu menggoda di bawah cahaya lampu remang-remang. Tangannya meraba perut Fraya, dan sebuah fakta kecil membuatnya nyaris kehilangan akal—perut Fraya memiliki lekukan abs halus yang tampak begitu eksotis di mata Damian. Kegilaannya meletup, membuat kejantanannya semakin menekan kuat.
Tangan Damian kemudian merosot, meraba bokong Fraya yang kencang, meremasnya dengan puncak nafsu yang sudah tidak tertahankan lagi. Sekali lagi, ia menekan tubuh Fraya yang luar biasa seksi itu ke tubuhnya yang mengeras seperti batu, seolah ingin menyatukan kulit mereka tanpa celah.
Bibir Damian turun menuju ceruk leher Fraya yang sudah basah oleh kucuran air shower, memberikan sebuah gigitan kecil yang posesif—sebuah tindakan yang kembali menciptakan desahan menggoda di bibir Fraya. Suara itu terdengar sangat memabukkan di telinga Damian.
"You're mine, Ace. You're mine. And I'm yours, truly," ujar Damian dengan suara rendah, nyaris menyerupai bisikan setan yang sangat intim di telinga Fraya.