Seharusnya ketika sepasang kaki terus bergerak dengan kecepatan di atas batas manusiawi, seseorang akan merasakan keletihan luar biasa yang membuat mereka berhenti sejenak untuk sekadar menarik napas dalam yang menyakitkan.
Namun, sudah sejak tadi, yang dilakukan Fraya hanyalah berlari menembus kegelapan di depan matanya yang terasa seakan tak berkesudahan.
Fraya memacu kedua kakinya, mengabaikan rasa sakit yang muncul akibat telapak kakinya yang polos menusuk ranting-ranting kecil sepanjang ia berlari membelah sunyi.
Kepekatan deretan pepohonan yang seakan menghalangi jalannya berubah menjadi labirin hitam yang menyesakkan.
Jika ditanya apa yang Fraya lakukan sekarang ini, jawabannya sederhana: Fraya sendiri tidak tahu.
Yang jelas, seluruh raganya seakan sedang dikepung ketakutan. Seolah sesuatu yang purba tengah mengejarnya dari belakang, berusaha meraih Fraya ke dalam hampa. Namun jika dilihat secara kasat mata, tidak ada siapapun di belakang gadis itu. Pun di depan matanya.
Fraya mengedarkan pandangan ratusan kali ke sekelilingnya, berusaha mencari arah dan tujuannya berlari sejak tadi tanpa lelah.
Ia kembali menembus dedaunan yang menutupi langkahnya, memacu diri dalam kecepatan yang Fraya sendiri tidak habis pikir bisa dilakukannya. Kemudian, kedua langkah kakinya menembus sebuah ruang tanpa dedaunan yang sejak tadi berkerumun di sekitar Fraya.
Fraya akhirnya berhenti, namun ia tertegun mendapati dirinya kini berdiri di atas tebing curam yang begitu tinggi hingga membuat kepalanya pening.
Kakinya melangkah mundur. Ketakutan paling menakutkan yang membuatnya terjebak di rerimbunan pepohonan tadi seakan mengecil, karena tempatnya berpijak sekarang menciptakan horor yang jauh lebih besar.
Namun saat dirinya ingin kembali masuk ke hutan, tubuh Fraya terpelanting ke tanah. Ia langsung berdiri cepat, mendongak dengan kebingungan yang kian membesar, menatap sesuatu tak kasat mata seolah menjadi penghalang Fraya untuk masuk kembali ke dalam hutan.
Fraya memukul penghalang transparan di depan matanya, berteriak sekencang mungkin mencari bala bantuan. Tangannya terkepal kuat meninju dinding tak kasat mata di depannya, menyerukan berbagai macam kalimat pertolongan agar siapapun dapat mendengarnya. Namun semua usahanya sia-sia. Ia jatuh terkulai dengan tabrakan perasaan yang tidak mampu lagi ia bendung.
Lalu tiba-tiba saja... satu suara memanggil Fraya. Memanggilnya dengan suara sayup-sayup dari kejauhan...
"Fraya..."
"Fraya..."
"Fraya..."
Fraya, yang sejak tadi mulai menitikkan air mata frustrasi, menoleh perlahan ke belakang punggung.
Matanya kontan melebar, nyaris keluar dari tempatnya.
Di ujung pandangannya, berdiri sosok Mamanya dalam balutan gaun putih panjang, dengan rambut bergelombang yang tergerai di belakang punggung, menari tertiup angin.
Mamanya berdiri di ujung tebing, yang se inci lagi saja bergerak, Mamanya akan terjun bebas ke bawah sana.
Fraya membeku total, tidak berani bernapas.
Seakan satu gerakan lirih saja ia ciptakan, maka getarannya akan sampai ke tempat Mamanya berdiri di ujung tebing.
"Ma... Mama ngapain di sana?" Fraya mendelik kan kata, luar biasa ketakutan. Tubuhnya mulai bergetar, tangannya terangkat ke udara seolah hendak meraih Mama dengan gerakan melambat, berharap Mama tidak bergerak sedikit saja.
Mama tersenyum. Namun senyumnya penuh sarat akan kegetiran, kelelahan, dan kepucatan yang membuat Fraya bergidik ngeri.
"Ma, Mama jalan ke depan Fraya, ya. Jalan pelan-pelan. Mama nggak usah nengok ke belakang Mama. Mama jalan ke arah Fay ya, Ma."
Fraya mulai berdiri perlahan, hendak melangkah dengan sangat hati-hati ke arah Mama sambil menjulurkan tangan. Air matanya turun tanpa isakan, tertutup oleh ketakutan bercampur kenekatan agar tindakan Fraya ini mampu menyelamatkan Mamanya.
Namun Mamanya tetap bergeming. Masih tetap tersenyum, walaupun senyum itu tidak menyentuh kedua mata Mama seperti biasanya.
Lalu, dalam nada lirih, Mama Fraya berbisik,
"Selamat ulang tahun, Nak..."
Mama mengambil satu langkah mundur, membiarkan tubuhnya limbung ke belakang dengan pasrah yang mengerikan, menenggelamkan sosoknya dalam sekejap mata.
"MAMA!" Fraya seperti kesetanan, berlari seketika ke puncak tebing, tempat Mamanya baru saja menjatuhkan diri.
"MAMA! MAMA! MAMAAAA!"
°°°°°
"MAMA!!!"
Fraya terduduk di tempat tidurnya dengan deru jantung yang menabuh gila-gilaan serta peluh deras membasahi pelipisnya.
Kedua tangannya mencengkeram selimut sangat erat, kewalahan mengatasi gelombang ketakutan serta jantungnya yang nyaris saja copot akibat menderu tidak keruan seperti ini.
Mata Fraya menengadah, menatap seluruh sudut kamarnya yang gelap dengan ketakutan yang masih tersisa.
Lalu, perlahan kesadarannya terkumpul, menyentaknya dalam satu realita yang dingin dan memekakan telinga.
Fraya baru saja mengalami mimpi paling buruk selama 16 tahun hidupnya.
Akhirnya setelah Fraya dapat menguasai diri, tangannya tidak lagi terkepal erat di selimut seperti tadi. Kini ia mengusap sisi wajahnya dengan kedua telapak tangan yang sudah basah karena keringat, menenggelamkan dirinya yang kelelahan akibat mimpinya yang sangat buruk rupa tadi.
Lalu dirinya mendengar kenop pintunya diputar perlahan-lahan, membuat kepala Fraya terangkat dengan sentakan pelan.
Ketika daun pintu kamarnya terbuka secara perlahan, sosok Mama dan Papa nya muncul hendak mengendap-endap masuk ke kamar Fraya sambil membawa kue dengan satu lilin yang menyala di atasnya.
Wajah semangat kedua orang tua Fraya langsung sirna begitu tahu anak perempuannya ternyata sudah duduk dalam keadaan sadar total di dalam kegelapan.
"Yahhh, kamu ternyata belum tidur, Nak."
Mama yang memegang kue ulang tahun langsung tampak kecewa.
Sedangkan Papa, tangannya meraba dinding menyalakan saklar lampu kamar Fraya, tidak kalah kecewa juga raut wajahnya.
"Padahal kita sudah siap buat kamu kaget, Sweetheart," ujar Papa sambil berkacak pinggang.
Namun sedetik kemudian, tawa kedua orang tua Fraya mengurai berbarengan, sama sekali tidak menyadari banjir peluh di wajah Fraya serta rona ketakutan di sekujur tubuh anak perempuan mereka yang menatap kedua orang tuanya masih dengan ketakutan begitu kentara secara bergantian.
Melihat kedua orang tuanya tertawa bahagia, terutama sang Mama yang berdiri di depan Fraya dalam keadaan baik-baik saja—wajahnya yang sama sekali jauh dari kesan pucat, tidak seperti di mimpi buruk tadi—adalah satu perwujudan mukjizat nyata yang membuat dada Fraya terasa sesak oleh rasa syukur.
Air matanya melesak di pelupuk mata tanpa bisa dicegah. Sebelum tawa Mama dan Papa mereda, Fraya sudah menyingkap selimut yang membalut setengah tubuhnya dan merangsek cepat untuk memeluk Mama nya begitu erat.
Mama yang otomatis kaget nyaris menjatuhkan kue ulang tahun ditangan nya, begitu kewalahan membalas pelukan Fraya yang memeluk Mama seolah tidak ingin melepaskan.
"Mama belum juga nyanyi selamat ulang tahun, kamu udah terharu saja sampai nangis begini, Nak," ujar Mama dengan nada gurau.
Tidak seperti biasa, Fraya sama sekali tidak membalas gurauan Mama. Tangannya justru semakin erat memeluk tubuh ramping Mama.
Kepingan mimpi buruk tadi kembali menyelinap di kepala Fraya, membuat tangannya yang bergidik semakin mengeratkan pelukan sambil terus meneteskan air mata.
Papa yang sejak tadi menyaksikan momen itu jadi makin cemberut.
"Ini Papa tidak kebagian dipeluk juga? Padahal yang merencanakan surprise ini Papa, lho."
Fraya tersenyum seraya membuka satu lengannya untuk menyambut Papa agar dapat diraihnya dalam pelukan.
Dalam keheningan tengah malam di Richmond, London, Fraya meniupkan lilin di atas kue pemberian Mama seraya merapal kan doa ter khusyu dalam hati.
Yaitu, agar cita-citanya masuk Oxford segera tercapai sebelum Tuhan bertindak lebih jauh untuk mengambil Mama dari sisi Fraya dan Papanya selamanya. Dan juga, walaupun vonis dokter soal kondisi Mama beberapa pekan lalu terasa begitu menggema hingga sekarang, Fraya masih berharap pada Tuhan Yang Maha Esa untuk mengabulkan kesembuhan Mama nya.
Bagaimanapun caranya
°°°°°°
Pada pagi hari yang begitu cerah—yang tumben sekali kilauan matahari menyongsong sangat terik di ufuk timur langit London pada pukul 8 pagi—Fraya tengah grasak-grusuk menuruni tangga sambil merogoh buku-buku pelajaran sekaligus tugas Essay nya di dalam tas.
Mama yang sedang menuang kopi hitam dalam cangkir mengernyit heran menatap anak gadisnya yang sudah rapi sekali dalam balutan seragam Milford Hall.
"Kamu mau ngapain, Nak?" Mama menyuarakan keheranannya.
Fraya yang ditanya begitu malah makin terheran. "Ya sekolah, Ma. Kok Mama masih nanya juga. Fraya udah serapi ini pakai seragam, kan nggak mungkin mau ngelenong." gerutu Fraya dalam bahasa Indonesia.
Mama berdecak kesal, ingin sekali menjitak kepala anak tunggalnya itu. "Maksud Mama, ini kan hari ulang tahun kamu, masa kamu lupa sama tradisi setiap tahun? Dari kamu SD, kamu kan nggak pernah-pernah nya masuk sekolah xi hari ulang tahun kamu sendiri."
Fraya terkekeh pelan. Lebih tepatnya, melempar cengiran seperti anak kecil sambil meraih scone hangat buatan Mama di atas meja makan.
"Kayanya tahun ini, skip dulu deh, Ma. Ujian Hörverstehen Fraya bentar lagi, nih. Dan tiga minggu lagi juga Fraya harus submit nilai-nilai ujian supaya bisa dapat surat rekomendasi dari Kepala Sekolah untuk Early Admission ke Oxford. Kalau Fraya nggak memanfaatkan saat-saat emas kaya gini, bisa hilang kesempatan bagus ini, Ma."
Mama berdecak lagi dengan sebal. "Fraya, ulang tahun kamu itu cuma satu hari. Dan nunda rencana untuk satu hari saja nggak lantas akan menghancurkan semua rencana yang sudah kamu susun itu. Ujiannya masih minggu depan kan? Sedangkan ulang tahun kamu itu hari ini. Hanya satu hari. Harus dirayakan hari ini juga. Untuk bisa bersenang-senang sebelum kamu tenggelam lagi dalam kesibukan kamu yang super padat itu."
Fraya menggigit scone-nya dengan gerakan lambat. Ia mengunyah pelan karena masih dirundung pada ingatan mimpi buruk yang menyerangnya semalam.
Pikiran tentang bagaimana Mamanya jatuh dari tebing jurang, mengucapkan selamat ulang tahun, lalu gambaran tubuh Mama yang berdarah-darah menghantam dasar tanah, adalah momen yang membuat pikiran Fraya menciptakan praduga yang tidak-tidak sejak semalam.
Apa maksud dari mimpinya ini?
Kenapa mimpi buruk itu harus hadir tepat di pergantian hari saat Fraya memasuki usia 17 tahun?