Its Always Been You, Fraya

Farah Maulida
Chapter #42

Sealed With a Promise

​"Apa-apaan sih ini!"

​Suara lengkingan Alana memecah kesunyian balkon. Ia nyaris membanting ponsel mahal dalam genggamannya saat panggilan satu arah yang sudah dilakukannya selama belasan kali dalam lima menit terakhir ini tidak kunjung mendapat respon.

Kekesalannya sudah mendidih, meluap hingga ke ubun-ubun. Kukunya yang dipulas cat merah menyala tampak berkilat tajam, seolah ingin sekali mencakar layar ponsel itu, menganggap benda tak berdosa tersebut harus bertanggung jawab penuh atas hancurnya mood Alana sore hari ini.

Bagi Alana, diabaikan adalah penghinaan terbesar yang pernah ia terima.

​Matanya yang tajam dan sarat akan kilatan emosi terangkat saat sosok Axel muncul di balkon teras Mansion Alana yang megah, berdiri kokoh dan angkuh bak sebuah istana di tengah pusat London.

Suasana hatinya bukannya membaik sedikit pun, kehadiran Axel malah membuat Alana berdesis kesal, sebuah suara yang keluar dari celah giginya yang terkatup rapat.

Ia memukul dada Axel dengan ponselnya—sebuah gestur kasar yang sarat akan protes—sambil menyerahkan ponsel itu secara paksa kepada Axel dan terus menggerutu marah tanpa henti.

​"Belum ada jawaban juga!" Alana menyentak tubuhnya dengan kesal, sebuah gerakan dramatis yang menunjukkan rasa frustrasinya, sambil menjatuhkan tubuh rampingnya ke sofa balkon yang empuk namun tak mampu meredam emosinya.

​Axel menatap ponsel Alana yang kini berada dalam genggamannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Layar ponsel itu masih menyala, menampilkan sebuah gambar tiga anak kecil sebagai wallpaper utama.

Tiga anak itu merupakan foto masa kecil mereka; Alana, Damian, dan Axel, yang sedang tertawa lepas, bahagia tanpa beban di usia mereka yang masih menginjak delapan tahun. Sebuah potret masa lalu yang kini terasa seperti ironi pahit di tengah rencana gelap yang sedang mereka jalin.

​Alana menekan pelipisnya dengan satu telunjuk, raut wajahnya menunjukkan ia sedang berada di bawah tekanan yang luar biasa berat, seolah kepalanya siap meledak kapan saja.

"Rencanamu ini sudah seharusnya dihentikan sejak lama, Axel. Dia sudah tidak lagi terlihat berpura-pura dengan gadis bodoh itu. Aku bisa lihat sendiri dengan mata kepalaku, dan semua orang di Milford juga menyaksikannya dengan jelas. Nicholas benar-benar jatuh cinta dengan gadis sialan itu!"

​Axel tidak langsung menjawab gerutuan panjang Alana. Pandangan Axel justru jatuh dengan kosong, menatap hamparan taman mansion di depannya tanpa benar-benar mengamati apa pun. Pikirannya jauh lebih rumit, berputar-putar dalam rencana yang hanya ia sendiri yang tahu ujungnya.

​"Axel! Kalau kamu tidak segera mengambil tindakan tegas, aku yang akan membeberkan semuanya ke gadis sialan itu. Lagipula, sekarang atau nanti juga hasilnya akan sama saja, bukan!? Apalagi tujuanmu untuk menyuruh Nicholas melakukan pembalasan dendammu kalau bukan untuk menjatuhkan harga diri gadis sialan itu!?" Suara Alana naik satu oktaf, penuh tuntutan.

​Axel meletakkan ponsel Alana ke atas meja marmer dengan gerakan yang sangat tenang, kontras dengan ledakan emosi Alana.

Ia lalu duduk di seberang gadis itu sambil bersedekap di depan dada, menunjukkan dominasinya. Sorot matanya sekelam jiwanya, namun satu senyum licik yang mematikan perlahan terbentuk di sudut bibirnya.

​"Sebentar lagi, Alana. Sabar. Sebentar lagi. Selagi kita menunggu saat-saat kehancuran gadis itu, kamu bisa menambahkan peran kamu untuk membuat setiap detik hari-harinya di Milford jadi semakin merana dan seperti neraka. Aku akan dengan senang hati duduk diam dan menikmatinya sebagai sebuah hiburan."

​Alana mendengus sebal lagi untuk kesekian kalinya, sebuah dengusan yang penuh dengan ketidaksabaran. Ia lantas berdiri dengan gerakan anggun namun kasar, menunduk menatap Axel dengan mata yang dipincingkan tajam tanpa berkata apa-apa lagi.

Tangannya terulur untuk menyambar tas tangan mewahnya, kemudian berderap pergi meninggalkan Axel begitu saja sambil berkata dengan nada acuh yang sangat dingin,

"Tidak perlu kau suruh dua kali."

​Axel menatap punggung terbuka Alana yang semakin menjauh dan menghilang di balik pintu kaca.

Sabar, Alana, sabar...

Sejak tadi benak Axel hanya merapal kan kalimat itu berulang kali. Mata kelam cowok itu kini berangsur memandangi langit sore kota London yang mulai menggelap, se mendung udara yang sepertinya akan segera menciptakan gerimis kecil dalam hitungan menit.

Axel kembali tersenyum pahit, lalu terkekeh getir untuk segala rencana gila yang bermunculan di kepalanya saat ini.

​"Maafkan aku, Alana. Tapi sepertinya rencana ini juga akan menjadi kehancuran bagi dirimu sendiri."

Dan Axel memejamkan kedua matanya, tertawa puas sekali, sebuah tawa kemenangan atas rencananya yang ternyata berjalan sangat sempurna sesuai dengan prediksinya.

°°°°°



​Damian merasakan tubuh yang sejak tadi ia rengkuh erat dalam pelukannya mendadak menegang kaku. Satu bulir air mata Fraya jatuh tanpa diminta, meluncur bebas membawa sesak yang membuncah hingga ke relung dada.

Tangan Fraya beringsut cepat, mencoba menepis air bening itu sebelum sempat membasahi pipinya lebih lama. Namun segalanya sudah terlambat, tangisannya yang rapuh itu sudah terlanjur disaksikan oleh sepasang mata biru Damian.

​Fraya menunduk dalam, mencoba menyembunyikan wajahnya sambil menatap ujung jemarinya yang mulai bergetar hebat karena gelombang emosi yang meluap.

"Damian, aku yakin kamu masih ingat betul, kalau tujuanku pindah ke Inggris dan masuk ke Milford bukan untuk menjalin hubungan romansa seperti ini. Aku masih... Aku masih sangat muda, Damian. Tapi di usia remajaku ini, aku harus dipaksa berhadapan dengan situasi gila antara fokus mengejar masa depanku, atau memupus segala impianku agar bisa menemani masa-masa pengobatan Mama."

​Fraya beringsut berdiri, berusaha melepaskan diri dan menjauh dari Damian agar sesak yang menghimpit dadanya bisa sedikit berkurang. Ia menekan dadanya kuat-kuat, mencoba menghalau rasa sakit yang seolah nyata di sana.

Fraya sama sekali tidak menyadari bahwa di belakangnya, Damian sudah ikut berdiri dengan sigap, dan dengan kecepatan yang sangat protektif, pria itu meraih tubuh Fraya kembali, mengunci gadis itu dalam pelukan hangatnya.

​"Ace, dengarkan aku. Aku punya kenalan dokter keluarga khusus yang sangat kompeten untuk menangani jenis penyakit yang diderita Mama kamu,"

ujar Damian, suaranya terdengar sangat dalam dan sarat akan keyakinan yang tak tergoyahkan.

​Fraya menggeleng keras, ia meronta berusaha melepaskan diri dari dekapan Damian yang semakin erat. "Damian kamu tidak mengerti! Kamu tidak akan pernah bisa mengerti! Aku memberitahu kamu soal ini bukan supaya kamu bisa menolongku dengan segala bala bantuan medis atau apa pun itu. Percayalah padaku, Damian, aku maupun Papaku tidak butuh bantuan dari siapapun di dunia ini, termasuk kamu. Kalau kamu benar-benar mau membantu meringankan bebanku, cukup dengan menjauh saja dariku. Lupakan soal apa pun tentang hubungan kita ini. Kamu tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya berada di posisiku--"

​"Ace, demi Tuhan aku paham! Aku sangat paham kesulitan dan penderitaan yang sedang kamu rasakan sekarang!" Damian menekankan setiap kata dalam ucapannya, suaranya meninggi penuh dengan emosi yang selama ini ia pendam, berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan gadis yang teramat ia cintai di depannya.

​Fraya mengepalkan kedua tangannya dengan kuat di depan dada, ia merasa kewalahan menghadapi gelombang frustrasinya yang meluap-luap.

"Damian, I appreciate your concern, but you have no idea what you are talking about. You clearly, will not understand--"

​"YES, FRAYA, I UNDERSTAND THAT! I UNDERSTAND YOUR SORROW, I COMPLETELY UNDERSTAND, BECAUSE I FUCKING LOST MY MOTHER WITH THE SAME ILL LIKE WHAT YOUR MOTHER HAVE NOW!"

​Seketika itu juga, dunia Fraya seakan berhenti berputar tepat di depan Damian. Napas Damian berembus naik turun dengan sangat berat, dadanya bergerak naik turun dengan cepat menandakan gejolak batin yang luar biasa. Rahangnya mengeras saat menatap mata sembab Fraya yang kini melebar sempurna karena rasa terkejut yang luar biasa.

Damian tidak mengerjapkan mata sedikit pun, namun sorot tajam di kedua mata birunya yang biasanya dingin kini tampak mulai mencair, digantikan oleh gumpalan kesedihan yang sudah ia simpan rapat-rapat selama delapan tahun.

​"Aku kehilangan ibuku saat usiaku baru sepuluh tahun, Fraya. Delapan tahun yang lalu. Ibuku sudah harus menderita kanker mematikan yang bahkan sampai detik ini tidak pernah ku ketahui apa jenis pastinya, sejak usiaku baru menginjak lima tahun." Damian berhenti sejenak, merasakan bagaimana pandangan mata Fraya seolah meluluhlantakkan seluruh pertahanan batinnya.

​"Aku tumbuh besar dengan melihat ibuku yang sangat kucintai tidak berdaya di atas tempat tidur, Ace. Di saat semua orang di hidupku menuntut ku untuk menjadi kandidat sempurna sebagai pewaris tunggal kerajaan bisnis Ayahku, satu-satunya hal yang kuinginkan hanyalah bisa menemani sisa-sisa usia Ibuku. Jadi tolong, percaya padaku satu kali saja. Percaya jika kukatakan, aku sangat mengerti kegundahan dan ketakutan yang sedang kamu rasakan sekarang."

​Damian mengambil satu langkah maju yang pasti, memangkas jarak di antara mereka berdua hingga ia bisa merasakan embusan napas Fraya.

Tangannya terulur perlahan, meraih jemari Fraya yang kini tidak lagi mencoba menepis tangannya. Lalu dengan gerakan yang sangat lembut, Damian menarik gadis itu mendekat ke pelukannya, membawa Fraya mendekap erat ke dadanya.

Ia membiarkan Fraya mendengar degup jantungnya yang berdetak liar, seolah mendedikasikan setiap ritmenya hanya untuk gadis itu.

​"Aku harus melewati semua masa kelam itu sendirian, Ace. Aku tidak mau kamu mengalami hal yang sama sendirian. Aku tahu kamu punya Papamu, tapi sekarang, penguat kamu bukan hanya berasal dari orang tuamu saja." Damian memundurkan wajahnya sedikit agar ia bisa menatap lekat kedua mata Fraya yang sekarang sudah benar-benar basah oleh air mata.

Tangannya terulur mengusap pipi Fraya dengan sangat lembut, lalu berbisik, "You also have me, now. Your boyfriend. Your one and truly boyfriend."

​Damian menekan dahinya ke dahi Fraya, menciptakan keintiman yang menyesakkan.

Tangannya kemudian merogoh sesuatu dari dalam jaket mantel mahal yang ia kenakan. Damian mengeluarkan sebuah kotak biru berbahan beludru, lalu meletakkannya tepat di antara mereka berdua.

Kepala Fraya menunduk, menatap benda itu dengan napas tertahan. Damian bisa melihat kebingungan dan keterpanaan yang muncul di kedua mata Fraya saat gadis itu mendongak menatapnya.

​"Fraya Alexandrea, the love of my life. Will you be my girlfriend?"

​Fraya sesaat hanya bisa termenung, menatap dalam ke mata tajam Damian yang kini menyiratkan ketulusan murni dalam setiap suku katanya. Damian menambahkan dengan nada yang terdengar mutlak, "Dan aku tidak menerima apa pun bentuk penolakan darimu. Kamu hanya punya satu pilihan jawaban. Ya. Terserah kamu mau menjawabnya dengan bahasa apa pun, yang jelas, maknanya hanya satu. Ya. Hanya itu."

​Damian menunggu dengan hati yang berdebar kencang karena Fraya tak kunjung memberikan respon. Hingga akhirnya, sebentuk senyum perlahan tersungging di bibir Fraya. Sebuah senyum yang sama tulusnya dengan senyum Damian, hingga kedua binar mata Fraya tampak bersinar hangat, mampu melelehkan es di hati Damian.

Fraya mengangguk lemah, seakan suaranya pun kini ikut tenggelam dalam pusaran keterpanaan.

​Senyum Damian membuncah, melebar luar biasa.

Lihat selengkapnya