Its Always Been You, Fraya

Farah Maulida
Chapter #43

The Sweet of Secrecy

Fraya sempat meyakini satu hal, bahwa menjalin hubungan asmara dengan sosok paling berpengaruh di Milford Hall akan berjalan semudah membalikkan telapak tangan. 

Ia begitu percaya diri bahwa dirinya dan Damian akan sanggup mengontrol setiap gerak-gerik mereka di sekolah, menjaga setiap jarak, dan memoles semua interaksi agar tetap terlihat sangat biasa saja di hadapan publik. Dalam benak Fraya, selama mereka dapat mengontrol diri, sebesar apapun hasrat mereka muncul dalam setiap pertemuan di muka umum, tidak akan ada satu pun orang yang bisa mencium rahasia yang Fraya dan Damian simpan rapat-rapat.

Namun, ternyata keyakinan naif Fraya ini salah total.

Ia lupa satu hal yang paling tidak bisa diatur di dunia ini, yaitu perasaan dan tingkah laku Damian Harding.

Walaupun Damian sudah menyanggupi akan menjaga hubungan mereka tersimpan dengan rapat hanya untuk mereka berdua saja, namun sifat posesifnya memang sudah mendarah daging. Dan tampaknya Damian sendiri jadi kesulitan untuk menahan kedua tangannya agar tidak menyentuh Fraya di khalayak umum barang sebentar saja. 

Terlebih lagi sekarang, saat Damian sudah merasa bahwa dia telah mengantongi hak kepemilikan mutlak atas diri Fraya. Di setiap kesempatan, entah itu dalam pertemuan yang memang sudah mereka rencanakan di tempat tersembunyi, atau sekadar pertemuan tidak sengaja di tikungan koridor sekolah yang sepi, Damian selalu saja punya cara untuk terus mencari celah demi bisa menyentuh Fraya.

Damian seolah tidak rela jika ada satu detik pun berlalu tanpa ia merasakan kehadiran fisik gadis itu di dekatnya.

Tindakan mereka yang dilakukan secara kucing-kucingan di balik bayangan bangunan sekolah justru menciptakan getaran yang terlalu kuat.

Kedekatan mereka yang tidak biasa itu perlahan mulai memancing rasa ingin tahu orang-orang di sekitar mereka. Ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan namun bisa dirasakan.

Contohnya saja, saat Fraya sedang berdiri mematung di depan deretan loker kayu yang tinggi untuk mengambil buku pelajarannya, Damian bisa tiba-tiba muncul di belakang tubuh Fraya.

Dia akan berdiri sangat dekat, hingga tidak ada lagi ruang yang tersisa di antara punggung Fraya dan dada bidang Damian.

Fraya bahkan bisa merasakan hembusan napas Damian di puncak kepalanya dan detak jantung cowok itu yang berdegup kencang di punggungnya. Bagi murid lain yang lewat, mungkin mereka hanya terlihat seperti dua orang yang sedang berbincang santai didepan pintu loker.

Tetapi, ketika suasana koridor sedang sunyi dan tidak ada orang yang memperhatikan, Damian akan menunjukkan kebiasaan barunya semenjak mereka resmi pacaran.

Damian akan menunduk pelan, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Fraya, lalu menciumi tengkuk gadis itu dengan keintiman yang membuat seluruh tubuh Fraya bergetar hebat. Tidak berhenti di situ, tangan Damian akan bergerak berani, merayap naik dan membelai paha mulus Fraya di balik rok seragam sekolahnya yang berwarna gelap. Bahkan sesekali dengan berani Damian akan menyelipkan jemarinya dibalik celana dalam Fraya, memberikan 'pijatan' intim dibalik lipatan basah Fraya hingga membuat gadis itu harus menggigit bibir menahan erangan.

Atau di saat yang lain, ketika Fraya sedang melangkah sendirian di sebuah koridor kelas yang sedang tidak ada penghuninya, tangan Damian bisa tiba-tiba muncul dari balik pintu, menarik tubuh Fraya masuk ke dalam sudut gelap hanya untuk merasakan memberinya ciuman.

Dan Fraya juga jadi tahu, tentang bagaimana Pria Eropa seperti Damian menjalin sebuah hubungan. Karena versi ciuman Damian ini tafsirannya sungguh jauh dari perkiraan Fraya.

Damian akan mencium Fraya dengan sangat liar, sangat menuntut, dan penuh dengan gairah yang membakar, jauh melampaui ciuman-ciuman biasa yang pernah Fraya bayangkan sebelumnya.

Fraya lama-lama jadi geram juga. Walaupun di sisi lain, Fraya juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa Fraya sangat menikmati setiap sentuhan selalu muncul tiba-tiba itu.

Segala tindakan nekat bin spontan Damian yang selalu tidak bisa ditebak itu sebenarnya terasa sangat manis jika saja mereka tidak sedang bermain sandiwara.

Dari situ, Fraya mulai bisa memahami sedikit demi sedikit, mengapa cowok posesif seperti Damian begitu menggebu-gebu ingin menunjukkan kepada seluruh dunia tentang hubungan spesial yang mereka miliki saat ini.

Semua kekacauan perasaan ini sebenarnya berakar dari sebuah malam ulang tahun Fraya kemarin itu.

Malam ulang tahunnya, saat Louis Partridge tiba-tiba muncul di depan pintu rumahnya. Di saat yang bersamaan, Damian juga ada di sana, dan malam itu menjadi saksi bisu saat mereka berdua akhirnya secara resmi mengikat hubungan.

Ketegangan yang terjadi di antara Damian dan Louis malam itu benar-benar terasa pekat. Sangat kontras dengan kehangatan Mama dan Papa Fraya yang menyambut dua aristokrat Inggris di rumah mereka.

Meskipun begitu, Damian dan Louis berusaha sekuat tenaga untuk tetap bersikap sopan dan menjaga suasana agar Mama dan Papa Fraya tidak menyadari ada api permusuhan yang sedang berkobar di antara kedua cowok itu.

"Tahu darimana kamu kalau Fraya hari ini ulang tahun?" tanya Damian waktu itu. Suaranya terdengar dingin dan tajam, seolah sedang melakukan interogasi. Matanya menatap Louis dengan sorot menusuk, seakan ingin merobek pertahanan sahabat sekaligus rival nya itu.

Louis tidak gentar sedikit pun. Ia melempar jawaban dengan santai meskipun kalimatnya tetap terdengar pahit. "Tidak penting aku tahu dari mana hari ulang tahun temanku sendiri, Damian. Sama seperti Asa dan Florence, apakah mereka juga harus meminta izin dan memberikan laporan kepadamu hanya karena mereka tahu hari ulang tahun Fraya? Karena perlu kamu ingat, Damian, kami semua tidak punya kewajiban apa pun untuk memberikan laporan atau validasi itu kepadamu."

Jawaban Louis yang sangat berani itu langsung bisa dirasakan oleh Asa.m yang sejak tadi hanya terdiam ditengah mereka.

Sebagai murid yang jarang--nyaris tidak pernah malah-- mendapat sorotan, Asa merasa begitu aneh.

Ia merasa takut karena berada di antara dua cowok berbahaya yang sedang memperebutkan Fraya, namun di saat yang sama juga Asa merasa bangga karena bisa masuk dalam lingkaran orang-orang paling berpengaruh di Milford Hall malam ini.

Namun dibalik ketegangan kedua pentolan sekolah itu, Fraya bisa bernapas lega karena Louis sepertinya sama sekali tidak menyadari 'atmosfir' berbeda diantara Damian dan Fraya.

Bagi Louis, melihat Damian yang selalu mencuri pandang kearah Fraya meski mereka sedang berjauhan adalah pemandangan yang sudah biasa Louis lihat.

Sejak awal Fraya menginjakkan kaki di sekolah mereka, Damian memang sudah memiliki kebiasaan aneh yaitu selalu mengamati setiap gerak-gerik Fraya dalam waktu yang sangat lama.

Berbeda dengan Louis yang tidak peka, Florence justru sangat paham dengan apa yang sedang terjadi. Sejak ia diberitahu tentang rahasia ini—dan Florence sangat yakin bahwa ia adalah orang pertama sekaligus satu-satunya yang dipercaya memegang rahasia ini—ia hanya bisa menggeleng sambil tersenyum setiap kali kedua insan itu bersitatap dari kejauhan.

Florence memperhatikan bagaimana Damian dan Fraya benar-benar gagal total dalam menyembunyikan perasaan mereka.

Bagi Florence, meskipun mereka berdua mencoba bersikap acuh, tatapan mata mereka yang selalu saling mencari satu sama lain sudah cukup membuktikan bahwa mereka berdua sedang jatuh cinta. Florence bahkan berani menjamin bahwa orang buta sekalipun dapat melihat sekalipun akan bisa merasakan betapa kuatnya cinta di antara mereka berdua.


°°°°°


Pagi itu, London diselimuti oleh ketenangan syahdu dari sejak Damian membuka mata. Langit diluaran sana sedikit mendung, menciptakan kesan deru angin sejuk yang begitu menenangkan.

Damian sebenarnya berharap ia bisa menikmati pagi ini dengan perasaan bahagia karena bayangan wajah Fraya terus memenuhi setiap jengkal pikirannya.

Namun, harapan indah serta ketenangan Damian tidak bertahan lama ketika ponsel di saku celana Damian bergetar, menampilkan sebuah nama yang selalu berhasil membuat Damian mengendus kesal.

Jika saja Karen bukan orang yang sangat dipercaya oleh Richard Harding untuk mengurus segala tetek bengek Ayahnya selama lebih dari satu dekade, Damian pasti sudah memecat wanita itu sejak lama.

Karen selalu memiliki bakat untuk muncul di saat yang salah dan merusak suasana hati Damian dengan membawa perintah-perintah kaku dari sang Ayah.

Damian memejamkan matanya rapat-rapat, merutuki Karen agar lenyap saja di neraka. Cowok itu menghela napas panjang sebelum ibu jarinya menekan tombol hijau pada layar ponsel.

"Ya?" sahut Damian dengan suara malas malas dan penuh tekanan.

"Tuan Damian? Tuan Harding baru saja menjadwalkan makan malam penting lusa malam bersama keluarga Rosewood dan juga keluarga Highmore."

Mendengar nama Rosewood disebut, kepala Damian seperti dihantam palu godam dengan cukup keras hingga rasa sakitnya yang terasa nyata seperti menjalar hingga ke seluruh tulang.

Rosewood...

Axel...

Damian benar-benar bimbang. Ia tidak tahu keputusan mana yang akan mendatangkan kehancuran yang lebih parah bagi hidup Damian nantinya.

Haruskah ia berterus terang kepada sepupunya bahwa ia kini telah benar-benar jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan gadis yang sejak awal menjadi 'target' rencana mereka? Atau haruskah Damian tetap memakai topeng kemunafikannya dan berpura-pura seolah ia masih menjalankan misi yang diberikan oleh Axel Rosewood?

Kedua pilihan itu seperti racun mematikan.

Sama-sama menghancurkan.

Dan bagi Damian, melihat Fraya hancur berarti membunuh jiwa Damian sendiri.

Untuk kesekian kalinya, Damian benar-benar mengutuk keluarga Rosewood karena memegang rahasia keluarga Damian yang dapat menghancurkannya kapan saja.

"Kalau memang Ayahku yang menjadwalkan acara itu, kenapa aku harus dipaksa ikut juga? Aku akan datang kalau memang Ayahku sedang berhalangan. Kau tahu sendiri Karen, selama Ayahku masih ada, tugasku di Harding Global hanya untuk mewakili dia jika dia tidak bisa hadir," protes Damian dengan suara lebih tajam.

"Ini bukan sekadar acara makan malam bisnis biasa, Tuan Damian. Sejak kemarin Tuan Harding sudah berulang kali menekankan bahwa kehadiran Anda lusa malam wajib Anda hadiri. Ini adalah perintah langsung dari beliau, Tuan," jawab Karen dengan suara statis mirip seperti robot.

Kesabaran Damian nyaris habis.

Ia memutus sambungan telepon sepihak sebelum kemarahan Damian meledak dan ia jadi akan mengucapkan kata-kata kasar seperti kebiasaannya selama ini.

Damian mengusap wajahnya dengan kasar, napasnya memburu, dan ia mengeluarkan suara geraman rendah yang dipenuhi dengan rasa putus asa.

"Adam, jalankan mobilnya lebih cepat!" perintah Damian dengan nada geram, yang langsung dipatuhi pria paruh baya itu tanpa suara.

Saat ini, ditengah kacaunya pikiran Damian pagi ini, Damian hanya ingin ia segera sampai di Milford Hall dan bertemu dengan Fraya, satu-satunya orang yang bisa menenangkan badai di hati dan pikirannya.

°°°°°


Ruang loker Gym sudah tidak lagi terasa sama bagi Fraya.

Sejak kejadian 'mandi bersama Damian' beberapa hari yang lalu, setiap sudut ruangan itu seolah-olah memori serta desiran aneh yang membuat kedua kakinya bergidik meremang.

Memori tentang bagaimana semburan air hangat mengalir di tubuh mereka, dan bagaimana Damian menatap dan memuja setiap inci tubuhnya dengan penuh pemujaan, selalu berhasil membuat bulu kuduk Fraya bergetar hebat hanya dengan mengingatnya saja.

Lihat selengkapnya