Kami tidak diciptakan untuk mencinta.
Kami tidak diciptakan untuk merasa.
Kami hanya diminta untuk melihat... dan mencatat.
...
๐๐๐๐น๐๐ ๐โฅ๐ ๐ฃ
Asap mur mengepul dari tungku-tungku tanah liat, bercampur dengan bau garam dari Laut Tengah, keringat manusia, dan anyir yang tak kunjung hilang dari batu-batu pelabuhan walau sudah dibersihkan.
Alexandria masih berdagang seperti biasa setelah peristiwa berdarah beberapa hari sebelumnya.
Perahu-perahu gandum tetap merapat di dermaga. Derap kaki beralas kulit dan anyaman daun palem berbaur dengan riuh para pedagang Fenisia penjaja kain ungu yang lebih mahal dari batu mulia. Anak-anak berlarian di sela keranjang buah ara dan kendi-kendi anggur, sementara dari kejauhan lantunan doa mengalun lirih dari kuilโpr-nแนฏr, mengikuti langkah para pendeta pembawa dupa.
Namun, semua keriuhan itu diikat oleh satu jalinan percakapan yang berputar pada satu nama.
Pompey.
Tak seorang pun berani menyebut nama itu lagi secara terang-terangan.
"Benarkah... mereka membunuhnya saat jamuan makan?" bisik seorang perempuan tua sambil merapatkan keranjang rotinya ke dada.
Lelaki pembuat roti di depannya menghentikan kedua tangannya. Adonan yang baru diuleninya mengempis perlahan di atas meja batu.
"Begitu kata para pelaut dari Pelusium." Ia menoleh sekilas ke kiri dan kanan, memastikan tak ada telinga yang menguping. "Pompey datang mencari suaka secara langsung kepada Firaun Ptolemy. Mereka menyambutnya dengan roti, anggur, dan kursi kehormatan... lalu menikamnya sebelum sempat mengangkat piala untuk menghormati Para Dewa."
Perempuan itu menutup mulutnya dengan mata penuh kekhawatiran.
"Di meja makan... yang seharusnya menjadi tempat perlindungan?"
Angin gurun membawa harum mur dan dupa dari arah kuil. Aroma itu bercampur dengan wangi roti hangat yang dipanggang.
"Rupanya itu tak cukup." Suara lelaki itu turun menjadi nyaris bisikan. "Mereka mengiris lehernya hingga terpisah dari tubuhnya... lalu mengirimkan kepalanya kepada Julius Caesar sebagai persembahan."
Perempuan tua itu memejamkan mata.
"Kali ini Para Dewa tidak akan tinggal diam."
"Tentu saja!" sahut lelaki itu lirih. "Menumpahkan darah tamu yang datang membawa tangan terbuka saja sudah cukup mendatangkan kutukan. Apalagi tamu yang meminta perlindungan di tanah tuan rumahnya. Itu sama saja menantang Ma'at sendiri."
Perempuan itu menggenggam keranjang rotinya semakin erat.
"Para Firaun muda itu..." gumamnya pelan. "Ptolemy dan Cleopatra terlalu sibuk memperebutkan takhta. Mereka tidak pernah memikirkan akibatnya bagi rakyat semacam kita."
Dari jalan utama terdengar derap nyaring sandal kulit dan denting tombak yang saling beradu.
Beberapa prajurit Mesir berbalut tunik linen putih dan helm perunggu melintas di tengah keramaian. Dalam sekejap, percakapan di pasar terputus. Para pedagang menundukkan kepala dan kembali berpura-pura sibuk mengatur dagangan mereka hingga bayangan para prajurit itu lenyap di tikungan.
Barulah lelaki pembuat roti mengembuskan napas panjang.
"Yang kutakutkan justru bukan amarah Julius Caesar."
"Lalu siapa?" bisik perempuan itu ragu-ragu.
Lelaki itu mengangkat wajah ke arah obelisk yang menjulang di kejauhan.
"Pada hari ketika Para Dewa memutuskan Mesir telah durhaka dan pantas menerima hukuman dari mereka."
Tatapannya beralih ke pelabuhan yang dipenuhi kapal perang Firaun Ptolemy XIII. Jauh di ufuk, lambung hitam quinquereme berhiaskan Mata Horus mulai tampak di balik cakrawala.ย