Kami tidak diciptakan untuk mencinta.
Kami tidak diciptakan untuk merasa.
Kami hanya diminta untuk melihat... dan mencatat.
...
Langit membara menaungi lautan pasir yang mendesis. Aroma dupa dan mur berpadu dengan manis kurma dan sisa anggur getir. Di kejauhan terdengar samar-samar suara lantunan doa yang mengalun dari Per-netjer, diiringi gemericik sungai Nil, keriuhan pasar, dan derap kaki beralas kulit, anyaman daun palem, serta papirus.
Hawa panas membakar kulit peziarah yang berbalut linen. Mata lelah mereka mendongak pada bayangan tinggi obelisk, seolah Dewa Ra masih bersemayam di puncaknya—menyaksikan Mesir berjalan semakin dekat menuju jurang kejatuhannya.
Tahun empat puluh delapan sebelum Masehi.
Alexandria dipenuhi aroma anyir pembantaian yang belum sempat hilang dari udara. Angin gurun berembus di antara gang-gang kota, membawa bisikan yang berkelindan di bawah cahaya lampu minyak terakota.
Di setiap sudut, orang-orang membicarakan kematian Pompey, salah satu dari Triumvirat, yang ditikam oleh utusan sang Firaun muda, Ptolemy XIII. Namun kematiannya tidak mengantarkan kehormatan ataupun kedamaian.
Kepala sang jenderal yang terpenggal justru menjadi bara pertama yang menyalakan murka Roma.
Desas-desus menjalar seperti riak di permukaan Nil, merambat dari pasar ke kuil, dari pelabuhan ke lorong-lorong kota. Setiap bisikan membawa kecemasan baru, sebab Mesir pun tak luput dari perpecahan akibat konflik perebutan takhta para bangsawan.
Jika Roma datang menuntut balas, negeri ini mungkin tidak lagi memiliki sisa kekuatan untuk bertahan. Sebuah akibat yang lahir dari keputusan gegabah sang Firaun muda dan para penjilatnya yang terlena di balik kemegahan istana. Dan seperti biasa, rakyat jelatalah yang akan menjadi tumbal pertama.
Namun, riuh rendah kecemasan Alexandria itu seolah menguap begitu mencapai ujung perbatasan kota. Di sana, di bawah ketenangan yang menyepi, dua orang asing mengenakan jubah, duduk malas-malasan dan bersantai, seperti tidak ada yang perlu dicemaskan.
Seorang pria berambut hitam bersandar tenang pada batang pohon cokelat keabuan yang menjulang ke langit. Tak jauh darinya, seorang gadis bertubuh mungil menggerakkan telunjuknya perlahan menyusuri permukaan papirus. Sorot matanya bergerak naik turun, menelusuri setiap guratan lukisan yang terukir di sana.
Papirus itu menampilkan sosok wanita cantik berambut hitam kebiruan dengan kepala yang mengenakan mahkota serupa singgasana.
Kalasiris membalut tubuhnya yang ramping. Sementara di belakang punggungnya, membentang sepasang sayap berwarna laksana kolibri pelangi yang megah. Tak sulit mengenali sosok yang begitu dimuliakan oleh rakyat Mesir itu.
Dia adalah Isis, Sang Dewi Agung yang dipuja sepanjang zaman.

"Aku menyesal tidak jadi mengambil tugas mengawasi si Julius Caesar. Lihat dia sekarang, namanya saja menggetarkan banyak umat manusia, sementara aku berakhir dengan pemalas yang hobinya cuma minum bir dan bermain papan senet. Aaric pasti akan tertawa puas melihat keadaanku," gumam Ramiel.
Tangannya melempar-lemparkan bros emas berbentuk lingkaran dengan garis runcing yang mengelilinginya. Rambut hitamnya yang bergelombang seperti ombak lautan, tergerai di atas jubah wol coklat kemerahan. Matanya yang seperti batu pirus biru-kehijauan tampak lesu di bawah bayang bulu mata yang panjang.Â
Pandangannya jatuh pada si gadis berjubah abu-abu di sebelah.
Gadis itu menoleh sebentar kepada Ramiel, lalu memutar matanya. Tangannya dengan cekatan menggulung kertas papirus itu dan menyelipkannya di balik kantong jubahnya. Helaian rambut serupa warna baja damaskus, dikepang melingkar membentuk bandana yang membuatnya tampak mengenakan mahkota.
Lantas ia mengeruk pasir, membentuk gundukan kecil, dan menyandarkan kepalanya di sana. Ramiel melirik tingkah kawannya itu, sebelum memutuskan ikut berbaring di sebelahnya.
"Neirin, semakin hari kau semakin mirip para manusia merepotkan itu, mana ada sih pengawas yang peduli cara mengepang rambut," komentar Ramiel dengan sikutnya yang ditopang dagu.
"Tidak masalah sih, aku tidak menganggap hal semacam ini merepotkan, seperti pengawas lainnya," sahut Neirin.
Neirin menghela napas panjang. Tangan kanannya dikibaskannya sejenak, sebelum telapak tangan kirinya menengadah. Beberapa buah kurma masak yang tadinya menggantung rapi di pohon, kini jatuh satu per satu mendarat di telapak tangan dengan sendirinya.