┏━━━━•❃°•°❀°•°❃•━━━━┓
Aerlene terbangun dengan jantung yang berdetak terlalu cepat. Ia tahu baru saja memimpikan sesuatu yang penting, tetapi ingatan itu telah menguap tanpa meninggalkan jejak. Cahaya pagi merembes melalui sela jendela, membelah kegelapan kamar menjadi garis-garis keemasan pucat. Dengan perasaan tidak nyaman yang sulit dijelaskan, ia menyeret langkah menuju kamar mandi. Jemarinya terlebih dahulu mengusap embun yang menutupi cermin sebelum air dari keran sempat menyentuh wajahnya.
Seorang gadis menatap balik dari sana. Rambut madu akasianya kusut tak beraturan, mengembang seperti surai singa liar. Lalu mata hijau-kecokelatan menatap balik dengan sorot lelah, dibingkai bayangan tipis keunguan akibat kurang tidur.
Ia terdiam beberapa saat, memandangi pantulannya lebih lama dari biasanya. Ada perasaan samar bahwa dia telah melupakan sesuatu yang penting sebelumnya. Namun pantulan di cermin tidak menawarkan jawaban apa pun.
"Apa cuma perasaanku saja?" gumamnya pelan sebelum meraih sikat gigi.
Dia tidak menyangka akan merasa sebosan ini ketika tinggal di apartemen kecilnya yang berada di tingkat sembilan. Selain rutinitas yang tidak banyak berubah setiap tahunnya, kota Severshire pun tak banyak berevolusi. Aerlene tidak menyangka kota yang dilihatnya sepuluh tahun lalu masih sama persis hingga usianya menginjak tujuh belas tahun sekarang. Keinginannya di masa kecil untuk belajar seni di kota ini adalah satu dari impian yang membuatnya bertahan dari rangkaian nasib buruk selama sepuluh tahun terakhir.
Setelah menggoreskan eyeliner hitam dan menyisir rambut pirang madu berombak miliknya, Aerlene buru-buru mengancing jaket merah parka dan membetulkan ritsleting celana jin hitamnya. Dia berlari dengan sepatu boot kulitnya yang kecokelatan menuju lift di ujung koridor. Dia tidak boleh lagi telat mengejar bus sekolahnya kali ini, karena tabungannya akan terkuras jika ia harus naik taksi. Padahal uang hasil kerja paruh waktunya, sangat diperlukan untuk kelangsungan pendidikannya di kota ini.
Lima menit menanti, bus berwarna biru tua itu tiba, dengan gerombolan remaja dan hormon yang tinggi, heboh bersenda gurau di dalamnya. Aerlene memutuskan untuk menggunakan alat bantu dengarnya ketika ia tiba di sekolah saja, karena dia tidak ingin terjebak di antara kericuhan yang membuatnya merasa terintimidasi dan terasingkan.
Tidak mudah berdamai dengan kebenciannya terhadap keramaian, namun Aerlene tahu kalau dirinya tidak punya pilihan lain selain bertahan untuk sementara waktu. Sekarang ketika harus menuliskan satu baris singkat kalimat tentang dirinya, Aerlene tahu dia harus menulis:
Aerlene Ray, 17 Tahun, Sedikit bermasalah dengan pendengaran, uang dan hubungan sosial.

Kelas sudah dimulai. Aerlene memasang alat bantu dengarnya sebelum duduk di kursi barisan terdepan. Sebagai siswi sekolah yang berfokus pada bidang kesenian, jadwalnya selalu dipadati jam praktik studio. Berada di baris depan memudahkan dirinya untuk menyerap pengetahuan yang diberikan selama pelajaran berlangsung. Walaupun secara diam-diam ia benci menjadi pusat perhatian, gangguan pendengaran yang dideritanya beberapa tahun belakangan memaksa Aerlene menerima kenyataan bahwa dia akan selalu menjadi gadis di baris depan.
Teman sebangkunya tak kalah menarik. Namanya Shansa Frauw, gadis albino paling tenar seantero sekolah. Kelainan genetik yang dideritanya justru membuatnya sebagai gadis yang paling menonjol.
Shansa adalah keturunan campuran Nordik dan Asia Tenggara. Tubuhnya hanya setinggi rata-rata gadis usia dua belas sampai tiga belas tahun di Eropa, namun kondisi genetik albino, membuatnya memiliki aset yang langka yang tidak dimiliki siswi manapun di sekolahnya.
Kulit seputih salju keperak-perakan. Mata berbentuk almond membingkai sempurna pupil matanya yang berwarna abu-abu terang kebiruan seperti kristal es. Raut wajahnya pun lembut seakan menyesuaikan dengan bentuk wajahnya yang kecil. Rambut lurus dan panjang sepinggang, yang diwarnai sehitam laut malam. Kombinasi yang membuat Shansa Frauw mendapat julukan "Putri Salju" oleh murid-murid lain yang menyukainya dan "Penyihir" bagi sebagian lagi yang selalu punya segudang alasan untuk membencinya.
"Kau sudah mencoba Red Velvet di Toko Kue Nyonya Fauntine? Kalau belum kau harus coba, karena rasanya benar-benar lezat, dan kau akan benar-benar kecanduan dengannya," celoteh Shansa pada Aerlene.
"Tidak semua memiliki tubuh yang tidak bisa menggelembung seperti dirimu, aku lagi berdiet, dan tawaranmu membahayakan prosesnya." Aerlene menghela napas panjang. Tangannya harus berkonsentrasi menggambar detail bagian belahan payudara yang mengintip dari model seorang wanita paruh baya yang sejak satu jam lalu duduk diam dan memasang ekspresi wajah datar yang aneh di depan kelas.
"Ayolah... sepotong Red Velvet tidak akan merusak dietmu, kecuali kau memakannya terus sebulan penuh." Shansa tersenyum, menanggapi alasan yang selalu sama dari Aerlene. Padahal setelah dua tahun bersama, ia tahu itu bukan soal diet, melainkan penghematan untuk sewa apartemen dan alat gambar yang menopang hidupnya.
"Lusa, setelah seminar Tuan Freud, aku akan memaksamu menelan sepotong Red Velvet itu ke kerongkonganmu, atau akan kupajang postingan gambar sketsa rahasiamu di mading sekolah."
Aerlene hampir tersedak ludahnya sendiri. "Apaan, kau serius mengungkit itu Shan!"
"Tentu saja, aku tidak pernah, tidak serius," Shansa menyeringai tipis, bersedekap dengan keanggunan yang dingin.
"Bayangkan reaksi seisi sekolah saat melihat karikatur Tuan Miller yang kau gambar berkepala katak, atau sketsa Gwendolyn si queen bee sombong itu. Yang kau gambar menyerupai babi hutan berbibir merah menyala. Dan jangan lupakan kumpulan koleksi sketsa rahasiamu yang bertumpuk di laci!"
"Shan... stop!" teriak Aerlene memperingatkan.
"Si rambut merah, yang sering kau perhatikan diam-diam dari jendela perpustakaan itu. Kakak tingkat dari jurusan musik. Tristan, bukan? Perlukah kupanggil dia keras-keras agar datang kemari?"
"Tris—Hmpph"
Tangan Aerlene langsung membungkam mulut Shansa yang secepat kilat.
"Oke, oke, kau menang!" potong Aerlene cepat, merasakan wajahnya memanas hingga ke ujung telinga. Ia buru-buru menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Tuhan... kau benar-benar iblis kecil yang manis, Shan."