┌──────═━┈┈━═──────┐
"Ibu, bolehkah aku memiliki satu lagi buku itu?" Seorang bocah perempuan menunjuk-nunjuk rak buku di salah satu sudut Toko Buku Know-Well. Aerlene ingat deretan buku apa yang terpajang di sana. Kebanyakan berisi fiksi anak usia tiga sampai sepuluh tahun. Gambar ilustrasi masih mendominasi seluruh isinya dibanding teks.
Deretan buku itulah yang dahulu menginspirasi Aerlene kecil untuk menggambar ulang karakternya dengan krayon di dinding kamar. Aksinya itu selalu berakhir dengan teguran dari orang tua. Mereka menasihatinya agar menuangkan gambar di atas secarik kertas, bukan di tembok rumah. Tapi Aerlene mengabaikan mereka.
Dia tahu dia tidak terlalu suka kertas, terlalu rapuh pikirnya. Tembok itu kuat, dia tidak akan melembek dan gampang dikoyak-koyak menjadi potongan-potongan kecil ketika disiram air, hal yang berbeda berlaku bagi kertas-kertas nalarnya saat itu.
"Permisi nona, aku ingin membeli semua ini." Bocah perempuan tadi, berdiri tepat didepan meja kasir. Menaruh setumpuk buku dengan susah payah menggunakan kedua tangan mungilnya yang gemuk. Aerlene kini bisa melihat dengan jelas wajah pelanggan kecilnya itu.
Sebuah wajah bundar, dengan mata cokelat bulat besar seperti anak rusa, hidungnya bulat kecil, terhimpit di antara pipi berbintik-bitik namun tembam dan seranum apel. Rambut anak perempuan itu berwarna seperti tembaga, pendek ikal sebahu dengan poni tebal di atas alis tipisnya.
"Kau sangat menyukai Rabbie ya sayang?" tanya Aerlene melihat bahwa hampir semua buku yang kini lagi discan-nya berilustrasikan Rabbie, karakter mainan anak perempuan. Berwujud wanita cantik, berambut panjang berwarna pirang dan bermata biru, dengan senyum ramah yang seakan menegaskan kalau dia pantas menjadi sosok idola sempurna anak perempuan.
Rata-rata desain buku yang memuat Rabbie dipenuhi dominasi warna merah muda, ungu, biru, serta gliter berkilauan dalam setiap sampulnya. Warna-warna itu umumnya selalu berhasil menangkap tatapan anak perempuan.
"Sebenarnya karena ibuku pikir Rabbie yang dibuku-kan lebih bermanfaat dibanding bonekanya, bonekanya tidak bisa dibaca serta mungkin sedikit lebih mahal untuk membeli satu buah bonekanya dibanding satu buah bukunya," jawab bocah perempuan itu dengan mantap, seperti jawaban itu sudah seringkali digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan serupa.
Aerlene menjelaskan berapa nominal yang harus dibayarkan untuk semua buku cerita Rabbie itu. Kemudian dengan keyakinan penuh, bocah perempuan itu merogoh kedua saku mantel beludru berwarna hijau lumutnya, dan mengumpulkan lalu menghitung uang tersebut sebelum akhirnya menyerahkannya pada Aerlene dengan wajah puas.
"Uangnya pas, bukan? Maaf, baru seminggu ini aku mengajarinya membayar sendiri." Seorang wanita berusia akhir tiga puluhan merangkulkan tangannya di sekitar pundak bocah perempuan itu.
Dari mata cokelat berbentuk bulat besar dan bentuk wajah bulatnya Aerlene tahu ini pasti ibu sang bocah perempuan. Dia seperti kembaran si bocah perempuan, hanya versi lebih tua serta warna rambut cokelat dan alis sedikit lebih tebal karena pulasan pensil alis. Semuanya hampir sama kecuali warna tembaga pada rambut bocah perempuan itu yang mungkin tidak diturunkan oleh ibunya,
"Tentu, dia sudah menghitung dengan sangat baik, anak yang pintar." Puji Aerlene sembari melempar senyum.