Aerlene tidak ingat kapan dia bisa tidur senyenyak ini, tapi yang jelas ia sadar bahwa dirinya sedang tidur dan bermimpi.
Itu mimpi yang aneh. Isinya hanya kegelapan pekat, namun anehnya, Aerlene sadar bahwa dia sedang bermimpi. Kesadaran itu membuatnya tidak nyaman. Ia jadi ingin segera tersadar dan bangun dari tidurnya.
Dia berusaha bicara supaya setidaknya walau tidak berwarna, mimpi ini memiliki suara untuk didengar. Namun kata itu tertahan di ujung lidahnya, tidak bisa diucapkan seberapa pun kuatnya ia berusaha. Seakan-akan ada tangan tak terlihat membungkam mulutnya dengan erat.
Kini ia sadar bahwa dia tidak mampu berbuat apa-apa selain berpikir. Maka ia pun berusaha berpikir di dalam mimpi itu agar ia dapat melihat kembali warna-warna dan mendengar kembali suara-suara yang dikenalnya.
Tidak terbayang sebenarnya bagaimana cara yang tepat untuk berkhayal di dalam mimpi, namun Aerlene tetap mencobanya.
Perlahan ia mulai mendapatkan gambaran samar-samar itu, lukisan-lukisan era impresionis favoritnya, mulai dari Monet hingga Van Gogh; suara gesekan violin Bach yang selalu suka diputarnya berulang-ulang ketika mengerjakan suatu proyek seni.
Juga masakan rumah terutama masakan ayam buatan ibunya—entah dipanggang, digoreng, atau dibuat sup, disajikan saat hari-hari penting selalu membuatnya rindu pulang. Terutama wangi perkarangannya yang berasal dari bunga tulip, daisy, serta lily yang khas terdapat di rumah neneknya.
Membantu ia mengingat indahnya pengalaman menjadi anak kecil yang berlarian di antara bunga-bunga itu, serta rasa nyaman ketika kepalanya diusap dengan lembut oleh tangan besar yang lembut milik Kakeknya.
Di antara kedalaman memori yang telah berusaha diselami oleh Aerlene, dia melihat sesuatu yang demikian hidup hingga menyamarkan gambar kenangan lain yang berusaha dimunculkan dalam mimpinya.
Sebuah lautan yang tenang, terlalu tenang bahkan hingga tak wajar untuk dapat menggambarkan sebuah lautan. Aerlene bercermin dari air lautan yang tampak statis tersebut.
Dia mengharapkan melihat pantulan yang akan dikenalinya sebagai wajahnya. Namun di sana hanya terdapat pendar merah yang menyala-nyala.
Cahaya merah tersebut terlihat seperti melakukan sebuah tarian dengan gerakan meliuk yang demikian gemulai namun bergairah. Di antara tarian cahaya merah tersebut muncul seseorang yang telah lama tak dijumpai Aerlene.
