Iyrin: Di Balik Sayap Dan Bisikan

Elin H. Marlene
Chapter #5

Bagian 4: Tiga Minggu Yang Hilang

╭┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈╮


Kelopak mata Aerlene terasa berat, seolah dilem. Ia mencoba bergerak, menoleh ke kanan, lalu ke kiri, namun tubuhnya kaku, enggan merespon. Lengan kanannya dibalut gips, pergelangan kiri ditusuk jarum infus yang dingin. Masker oksigen menghimpit wajahnya, dan napasnya bergetar mengikuti irama monitor yang berdetak pelan di samping ranjang. Dia sadar, ini bukan mimpinya yang terakhir. Dia berada di suatu tempat yang sunyi dan asing, sebuah rumah sakit.


Aerlene mencoba mengumpulkan kesadarannya, matanya menelusuri ruangan yang membungkusnya.


Dinding biru muda dan putih terasa sejuk, seperti langit cerah di pagi hari. Di depan matanya, sebuah jam dinding bundar berdetak penuh perhitungan, seolah menghitung mundur sisa waktu yang memisahkan mereka. Sinar siang berbisik lembut menembus tirai hijau tua, menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh menit.


Matanya menangkap sepuluh jari kaki yang masih utuh, kursi kayu dengan jaket parasut biru navy, meja dengan tumpukan majalah, dan vas putih berisi bunga lili segar di sisi ranjang.


Setiap detail terasa asing, sebuah bukti bahwa ia hanyalah pasien lemah yang terperangkap dalam ruang sunyi rumah sakit.


"Astaga... tangan kanan," gumam Aerlene, menatap nyeri pada gips yang kaku. Tangan itu, yang paling penting untuk masa depan seninya, kini terasa berat dan sakit. Gerah dengan baju pasien putihnya, dan kesadarannya telah pulih penuh, Aerlene melepas masker oksigen dengan tangan kiri lalu, berusaha bangkit dari tempat tidur, bertumpu pada tangan kirinya.


Aerlene mencibir, "Aku tidak menyangka jatah cutiku diklaim duluan oleh ranjang rumah sakit, Oke, Fine! Berhenti mengeluh, setidaknya saat ini aku masih hidup, masih ada waktu untuk ngomel-ngomel sepuasnya nanti." Usaha paling buruk untuk menghibur diri, pikir Aerlene.


Pintu tiba-tiba terbuka saat Aerlene baru saja berhasil duduk dipinggir ranjang. Dari balik pintu tersebut muncul seorang wanita paruh baya dengan rambut berwarna coklat almond yang diikat ke belakang. Menatap Aerlene dengan wajah takjub dan tubuh gemetaran sebelum menjatuhkan sekantong besar tas belanja dari tangannya, lalu tergesa-gesa berlari menuju Aerlene.


"Terima kasih Tuhan, terima kasih kau mendengar doa-doaku." Wanita itu memeluk Aerlene penuh haru. Aerlene yang membalas pelukan dari wanita itu sangat erat, hingga tanpa sadar membasahi pipinya dengan air mata.


"Mama... Mama...Mama." Seperti mantra Aerlene mengulangi kata-kata itu dari mulutnya.


...


Dokter dan perawat sibuk memeriksa Aerlene, mata mereka penuh takjub, bahagia, dan sedikit takut. Dari sudut kamar, Aerlene menangkap kata-kata dokter tentang keajaiban dan kekuatan Tuhan yang menyembuhkannya, disertai pujian untuk kegigihan rumah sakit.


Seperti biasa keramaian akan menghilang perlahan seiring waktu, meninggalkan hanya Aerlene dan ibunya dalam hening yang sarat makna, saling menatap tanpa kata.


Setelah setahun terpisah karena kendala ekonomi, reuni Aerlene dengan ibunya jauh dari harapan. Ia terbangun di rumah sakit setelah koma lebih dari tiga minggu, sebuah kenyataan pahit yang tak pernah terbayangkan sebagai momen pertemuan kembali.


Perawat pendek dan agak gemuk mendorong kereta makanan dengan lengan dan kaki yang penuh. Bajunya biru muda longgar, membalut tubuhnya seperti selimut kebesaran.


Dia menata piring-piring di meja bundar samping ranjang Aerlene dengan wajah ramah tapi agak kaku, seperti lagi latihan senyum buat iklan pasta gigi. Sebelumnya, meja itu penuh buku dan majalah, mungkin milik ibunya saat menunggunya bangun.


Setelah basa-basi dengan ibunya sebentar, perawat itu meninggalkan ruangan. Aerlene melihat kepulan asap dari mangkuk yang tutupnya telah disingkirkan oleh tangan kurus ibunya. Aroma kaldu daging yang kuat seketika menyeruak memenuhi seluruh ruangan. Aroma khas pertama yang Aerlene rasakan setelah sekian lama tak sadarkan diri.


"Apa yang kau ingat dari hari itu?" ujar Ibu Aerlene.


Ibu Aerlene menyuapi Aerlene dengan bubur kaldu buatan rumah sakit. Aroma gurihnya seketika memenuhi ruangan, namun begitu menyentuh lidah, Aerlene tahu rasanya jauh dari apa yang ia bayangkan. Tidak selezat aromanya, dan bukan makanan pertama yang ia harapkan setelah koma panjang.


"Sedikit, tapi cukup jelas..." ucap Aerlene, tertegun mencerna jawabannya. Ingatan mengerikan tentang decitan ban, dentuman, kaca pecah, dan terutama tatapan bocah laki-laki di sampingnya detik-detik menjelang kematian kembali menghantuinya. Rasa sakit itu membuat tangan kirinya refleks menyentuh kepalanya.


"Nak... maafkan mama," lirih ibu Aerlene, mata hijau jamrudnya berkaca-kaca, "Mama senang kamu sadar, dokter bahkan bilang ini keajaiban." Aerlene selalu mengagumi mata ibunya yang menyejukkan seperti air danau, namun kini ia melihat jelas lingkaran gelap di bawahnya, bukti ibunya pasti kurang tidur selama menunggu kesadarannya.


"Oke kita bicarakan hal lain, bagaimana dengan pekerjaanmu Mama? Apa semuanya berjalan lancar," tanya Aerlene.


"Yah hampir seperti perjalanan Aerlene, kadang selancar mengebut dengan sepeda motor di atas jalan tol, kadang serumit mengendarai Jeep di medan berlumpur dan berbatu, tapi percayalah mama bisa mengatasi keadaan tersulit..," jawab ibu Aerlene.


Ibu Aerlene terdiam sejenak. Kedua pupil matanya membesar, hingga Aerlene dapat melihat pantulan wajahnya di sana. Ibunya membalikkan tubuhnya sembari meletakkan mangkuk bubur yang isinya telah habis di atas meja. Kemudian berbalik dan kembali menatap Aerlene.


"Karena Mama selalu ingat kamu, sesulit apapun keadaannya, saat Mama mengingatmu Mama selalu punya kekuatan baru untuk menghadapinya." Tangan kurus ibunya mengusap kepala Aerlene penuh kelembutan.


"Sama... kita sama...." Aerlene bangkit dan memeluk ibunya dengan lumayan susah payah karena gips yang membalut tangan kanannya.


"Aerlene, Lili Putihku, apa yang akan kulakukan dengan hidup ini kalau kau juga ikut meninggalkanku sendirian." Ibu Aerlene berujar sendu. Dia mengencangkan pelukannya terhadap Aerlene. Lili Putih—Rasanya sudah lama sekali dia tidak mendengar panggilan masa kecilnya itu.


"Tenang saja Mama, aku tidak akan meninggalkanmu dan kita berdua akan menghadapi dunia bersama-sama." Aerlene membenamkan wajahnya di dada ibunya, yang dia ingat semakin sering dia lakukan sejak kejadian sepuluh tahun lalu, yang merenggut nyawa Ayahnya.

Lihat selengkapnya