Iyrin: Di Balik Sayap Dan Bisikan

Elin H. Marlene
Chapter #8

Bagian 7: Para Pembual

⚠️ Trigger Warning :


Chapter ini mengandung adegan dan visual mengganggu.



┍━━☽【❖】☾━━┑


Kabut pekat menggulung lembah-lembah sepi, menyelimuti atap-atap rumah berlumut yang condong dan rapuh. Menara batu dari biara-biara tua menjulang seperti tulang belakang zaman yang melengkung. Jalanan tanah becek dipenuhi jejak roda pedati dan darah beku dari hasil pembantaian tak dijelaskan. Bau dupa bercampur bangkai menyusup dari jendela-jendela bangunan runtuh, sementara lonceng berdentang bukan untuk misa, melainkan pertanda lenyapnya jiwa terakhir malam itu.


Masa itu, tepat di tahun 1315 Masehi perpanjangan dari sisa-sisa masa yang gelap dari kekudusan yang disalahartikan - wilayah yang tidak jauh dari Avignon.


Para wanita berjalan dengan tudung rendah dan jubah linen lusuh, menghindari mata siapa pun yang terlalu tajam. Kain wol dan kulit binatang menjadi pelindung dari dingin yang menusuk hingga ke sumsum. Api unggun hanya ada di biara, dan hanya untuk mereka yang membayar dengan darah atau pengakuan.

Di reruntuhan kapel kuno, makam tua yang terbalut simbol pudar dari kalimat lampau yang terlupakan. Melalui serpihan jiwa murni dari tubuh mungil yang bahkan belum sempat menghirup udara pertama, mengalirlah cairan sepekat tinta—berbau busuk kematian yang mengenaskan seperti nyawa yang terperangkap dalam pembusukan abadi. 


Ia mewujud, merayap dari pecahan mimpi masa depan yang telah dihapuskan dari buku kehidupan, lengket dan mencekam, mengalir seperti lumpur hitam dari neraka.


Di balik cermin altar yang retak, diludahi oleh darah pendosa, ia mulai membentuk diri. Wajah dan tubuh yang terlahir dari kegelapan-tampan namun bukan manusia, manis mengundang tapi penuh racun. Bayangannya merobek sunyi malam, merasuk hingga ke tulang. Ia bangkit, tanpa suara, hanya dengan kehadiran yang menusuk jiwa dan menggerogoti harapan.


Bayangannya merobek sunyi malam, merasuk hingga ke tulang. Ia bangkit, tanpa suara, hanya dengan kehadiran yang menusuk jiwa dan menggerogoti harapan.


"Akhirnya... kalian memecahkan batas itu dengan kehendak bebas kalian. Mengoyak tirai mimpi dan memberiku kenyataan."


Kabut kemerahan pelan-pelan meluruh dari tubuhnya yang masih basah darah dan cairan hitam yang menjadi rupa aslinya.

"Oh, aku mengenal kalian.

Dari malam-malam kalian yang basah oleh rindu.

Serta ranjang-ranjang tempat kalian menggeliat.

Mengucap namaku tanpa sadar.

Kalian memimpikan tubuh ini...

Bahkan sebelum tubuh ini nyata."


Para wanita yang menyaksikan kelahiran pria itu menggigil. Bukan karena takut, tapi karena pengakuan itu terasa seperti ciuman dingin pada nadi mereka. Mereka adalah penggagas kelahirannya-namun bukan penciptanya. Ia telah tumbuh dalam mereka... begitu lampau melewati beberapa jendela waktu, lebih lama dari pengetahuan mereka.


"Lihatlah aku... para kekasih dari rasa haus yang tak pernah selesai. Siapa yang memanggilku malam ini? Siapa yang ingin kujamah dengan kekuatan yang dahulu sebatas mimpi?"


Suara parau pria itu menggema di sela-sela retakan dinding batu kapur di sekelilingnya.


Makhluk itu mendekat ke salah satu wanita muda, yang matanya basah dan lehernya bergetar.


"Kau..."


"Yang setiap malam berdoa dalam bisikan bernafsu kepada langit yang tak menjawab. Akulah yang menari dalam mimpimu- Menggenggam lehermu dalam bayangan, Menghembuskan namamu ke telingamu saat kau menyebut cinta yang tak bisa kau sentuh."


Salah satu dari mereka, seorang wanita muda dengan rambut pirang berantakan dan mata merah karena kurang tidur, menjawab dengan napas tertahan.


"Tuanku... Aku tidak bisa tidur tanpamu... Kapanpun mataku terpejam, kau datang dan dunia menjadi tak menarik lagi, tergusur oleh keindahanmu."


Pria itu melangkah ke arahnya, jari-jarinya tak menyentuh tanah. Ia membelai udara dekat wajah gadis itu. Tak ada sentuhan, hanya sensasi.


"Kalian pikir kalian memanggilku? Tidak, manisku. Aku yang lebih dulu menanamkan kerinduan itu dalam dada kalian. Kalian hanya menjawab panggilanku... Dengan darah, tubuh, dan dosa." Kata demi kata pria itu lembut, nyaris seperti kekasih.


"Tidakkah dunia ini terlalu dingin? Terlalu kotor? Biarkan aku menggantinya dengan mimpi yang hanya berisi dirimu dan aku... tubuhmu, jiwamu, dan semuanya yang bisa kupecahkan pelan-pelan."


"Ambillah semua milikku Tuanku. Semua yang melekat padaku adalah tawananmu seorang. Sebagai gantinya, aku tidak minta banyak, hanya tolong beri keindahan yang menyeruak dari kehadiranmu yang membawa pengetahuan zaman." Sahut gadis berambut pirang itu dengan senyum terisak.


Wanita lain tertawa kecil, gila dalam caranya sendiri.


"Kami semua memimpikanmu, tuan kami yang dermawan. Kami menyimpan air mata kami dalam botol, mencampurnya dengan darah kami dan membaca mantra-mantra tersulit yang pernah dilafalkan. Tidakkah kau bangga? Tidakkah kau puas kami berhasil membangkitkan napas agungmu dalam tanah kehidupan ini?" sahut wanita lainnya yang rambutnya berwarna seperti bulu rusa.


Pria itu membungkuk, rambut panjangnya yang tebal kecokelatan tergerai berjatuhan di sisi bahunya yang kokoh. Biji matanya yang berkilauan seperti serpentin berpendar-pendar dengan pantulan cahaya lilin yang menari-nari. Bibirnya yang semerah anggur mengeluarkan tawa lirih. Tubuhnya tak tertutup sehelai kainpun memperlihatkan ketampanannya yang sekaligus juga tampak cantik sesekali dari beberapa sisi.


"Puas? Tidak pernah. Rasa puas adalah kelemahan manusia. Tapi lapar... lapar adalah kekal. Kalian, sayangku, adalah pintu-pintu kecil yang kubuka tiap malam. Dan malam... adalah satu-satunya tempat aku bisa menjadi raja paling bijaksana."


Kemudian ia berdiri semakin tinggi, matanya membara, bukan dengan cahaya, tapi dengan kehampaan. Dan semua wanita itu, satu per satu, menundukkan kepala dan mencium lantai retak seperti itu adalah altar suci. Mereka tak lagi hidup untuk hari. Mereka adalah hamba dari pria yang berdiri di antara mereka, -mereka hanya terjaga untuk menyambut mimpi-mimpi yang mereka kasihi melalui intisari di antara napas keberadaan.


"Sebagai imbalan atas berkah yang kalian persembahkan untukku malam ini, akan kusampaikan rahasia lama yang berguna, bagaimana kalian dapat menguasai malam juga impian hingga mengambil kehidupan dari pria-pria religius yang membuat kalian terus menderita ketakutan dan kesakitan hanya dengan tubuh kalian." Tegas pria tersebut.


"Kalian akan menjadi bagian dari ritus agung pemurnian-mengeringkan hingga tetes terakhir jiwa-jiwa yang ternoda, menyelamatkan mereka dari dosa keangkuhan yang rapuh. Persembahkan kehancuran itu sebagai mahkota bagi tuanku yang bersemayam di inti terdalam, pada detik napas terakhir mereka terhenti-saat sumpah suci mereka runtuh, selemah tekad mereka sendiri kepada pemujaan yang tak pernah mereka pahami sepenuhnya. Ajarkan mereka melupakan sumpahnya dan kenalkan pada janji Tuanku yang bermurah hati menghadiahi kalian dengan keindahan"


"Aku akan memberkati kekasih-kekasihku, keindahan yang menawan, barangsiapa yang bersentuhan seujung kukupun dengan kalian."


Pria tersebut menyunggingkan senyumnya merekah, layaknya bunga camelia merah yang bermekaran.


Gadis-gadis itu tersenyum penuh persetujuan.


"Karena daging ini hanya cangkang sementara bagi nyala lamaku, jangan tangisi jika jemariku tak menjamah dunia kalian setiap malam. Sebab dalam selimut pekat mimpi, dalam kamar sunyi antara sadar dan lenyap, aku tetap menunggumu. Di sanalah tubuh astralku membelai luka-luka yang tak terucap, dan angan-anganmu yang ditolak dunia akan kuteguk perlahan, seperti anggur dosa dari altar terlarang."


Satu per satu gadis itu merunduk, memejamkan mata saat bibir dingin pria itu menyentuh pipi mereka yang ternoda jelaga dan debu.


Di tengah pusaran tarian pemujaan yang dipenuhi gairah memuncak, gemerisik kain sobek, dan desahan tak tertahankan, udara berubah menjadi lebih padat, lebih manis-seperti bau bunga busuk yang mekar di liang kubur


Dan saat matanya terbuka kembali, tubuh mereka tak lagi sama.


Kulit mereka, yang semula pucat dan kotor, kini bersinar lembut seolah dibalut cahaya bulan. Rambut mereka yang kusut menjuntai, terurai menjadi lembaran hitam pekat atau emas kelam, bergelombang seperti dosa yang dirahasiakan terlalu lama. Mata mereka, sebelumnya sayu oleh lapar dan takut, kini memancarkan bara kecil-kerinduan yang dibisikkan oleh malam dan dijawab oleh neraka.


Kalian telah mencicipi bagian kecil dari kemuliaan yang dimiliki Tuanku yang terhormat," gumam sang pria, suaranya seperti gesekan senar pada violin yang jernih memecah udara.


"Dan dalam tiap hela napasmu yang baru, mengalirlah api yang tak bisa dipadamkan oleh salju kesucian."


Salah satu dari mereka, gadis yang termuda berambut kemerahan, kini tampak seperti mawar merah beracun, terlalu indah untuk disentuh, terlalu penuh duri untuk dipetik. Ia tertawa pelan, namun tawa itu lebih seperti doa yang dibalikkan, manis, penuh ancaman.

Lihat selengkapnya