Iyrin: Di Balik Sayap Dan Bisikan

Elin H. Marlene
Chapter #9

Bagian 8: Pemintal Kehendak

┍━━☽【❖】☾━━┑


Dinding di ruangan itu mengerut. Cat yang mengelupas menampakkan lapisan masa lalu yang membusuk, dan angin yang menyusup lewat celah jendela menggiring aroma besi tua dan air pipa. Jam di pojok ruangan berdetak seakan menghitung mundur.


Aerlene mundur satu langkah sampai tumitnya membentur kaki meja kecil di belakangnya. Bunyi kayu bergeser memecah sunyi kamar yang sejak tadi terasa sesak oleh sesuatu yang tak kasat mata. Napasnya memburu–menekan paru-parunya sampai ia sulit membedakan mana rasa takut dan mana rasa ingin muntah.


Sosok di hadapannya masih mengenakan wajah Shansa Frauw—rambut putih keperakan yang jatuh berantakan di bahu, tubuh ramping seorang gadis remaja, mata biru pucat yang terlalu indah untuk terasa manusiawi. Namun topeng sandiwara itu kini tampak retak. Tak ada senyum manusiawi. Hanya tubuh kurus pucat berselimut bayangan, dan mata yang menyala tipis, seperti kilauan bilah pisau yang baru diasah.


Aerlene menatap terlalu lama ke dalam mata sahabatnya itu, sesuatu menyambar isi kepalanya.


Ingatan itu bukan miliknya.


Padang pasir dan panas yang menyengat kulit.


Langit jingga dengan piramida yang menutupi matahari.


Dua sosok berjubah berdiri di bawah pohon kurma yang condong diterpa angin gurun. Seorang pria bermata teal tertawa rendah sambil memainkan bros emas yang melayang di hadapannya, sementara seorang wanita berambut putih keperakan duduk di atas batu, menopang dagu dengan malas.


"Manusia terus mengulang dosa yang sama. Membosankan."


Kilasan berikutnya datang lebih kasar—bau dupa, reruntuhan kuil, darah di pasir, lalu mata biru pucat yang sama menoleh tepat ke arahnya.


Aerlene tersentak keras sampai bahunya menabrak dinding.


"Neirin..." bisiknya serak.


Keheningan menggantung selama beberapa detik.


Shansa membeku.


Nama itu seperti pisau yang ditusukkan pelan ke sesuatu yang sudah lama dikubur. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ekspresi santai di wajah Shansa runtuh sepenuhnya. Gadis itu menunduk cepat, jemarinya menegang di sisi tubuhnya, lalu bahunya bergetar kecil seperti seseorang yang baru saja ditelanjangi di tengah keramaian.


"Dari mana..." suara Shansa tercekat "...kau mendengar nama itu?"


"Aku tidak mendengarnya." Napas Aerlene belum stabil. "Aku melihatnya."


Mata Shansa terangkat perlahan.


Tatapan mereka bertabrakan.


Shansa menundukkan kepala, napasnya tersengal halus seakan menarik beban ribuan malam yang tersimpan di dasar jiwa.


Sesuatu yang dingin merambat turun di punggung Aerlene saat ia sadar makhluk di hadapannya benar-benar takut. Bukan takut diserang, tetapi takut dikenali.


"Aku telah mengubur nama itu di balik abu waktu Aerlene. Setelah sekian lama, kamu satu-satunya manusia yang mampu membukanya kembali."


Aerlene masih terpaku.


"Jadi itu benar?" tanyanya lirih. "Kau bukan manusia."


Shansa meliriknya sekilas. "Kau baru sadar?"


Nada datarnya begitu absurd sampai Aerlene hampir tertawa karena stres.


Hampir.


Karena detik berikutnya Shansa membungkuk cepat, membuka tas jinjing hitam di dekat sofa lalu melemparkan beberapa gulungan perkamen tua bertepi perak ke lantai. Gerakannya tergesa, nyaris gelisah. Jemarinya bergerak terlalu cepat untuk ukuran manusia normal.


Insting pertama tubuh Aerlene melangkah menghampiri Shansa. melihat lebih dekat tumpukan perkamen itu, walaupun jantungnya masih terasa diremas.


"Lene..." suara Shansa nyaris berbisik, namun terdengar tajam, seperti ujung belati yang menyentuh kulit. "Tahukah kau... bahkan para malaikat pun cemas pada apa yang terkubur dalam pikiran manusia? Tapi kau menembusnya, memasukinya, jadi mulai sekarang berhenti untuk meragukan dirimu, meragukan akal sehatmu."


Setelah jeda yang mencekam, Shansa mengangkat wajahnya dan untuk pertama kalinya pagi itu—tersenyum. Ia mengangkat kedua alisnya sedikit, lalu mengedikkan bahu dengan gaya sok santai, meski sorot matanya belum sepenuhnya bebas dari kesedihan.


"Jadi..." Shansa akhirnya memecah ketegangan yang menggantung di antara mereka. Ia mengangkat satu alis, lalu mencubit pelan lengan Aerlene dengan ekspresi sok polos yang hampir menyebalkan. "Kau masih mau sarapan, atau mau langsung pingsan di lantai karena baru saja mengintip isi kepala makhluk purba?"


Aerlene memelototinya. Dadanya masih sesak, tapi kini kepanikan itu mulai terasa absurd. Sulit rasanya tetap kesal ketika makhluk ribuan tahun di hadapannya justru bertingkah seperti remaja yang baru selesai membuat lelucon buruk.


"Oke," katanya sambil menyilangkan tangan. "Kalau begitu jawab satu hal dulu." Ia menunjuk Shansa. "Sebenarnya umurmu berapa? Tolong jangan jawab seribu tujuh ratus atau semacamnya. Aku belum siap punya sahabat yang seangkatan dengan mumi Mesir."


Shansa mendesah panjang dramatis.


"Bukankah manusia selalu diajari untuk tidak menanyakan umur wanita?"


"Masalahnya jangankan wanita, kamu saja bukan manusia!" Aerlene mendengus.


Sudut bibir Shansa terangkat tipis. "Kau bakal mengungkit itu terus sampai kiamat ya?"


"Yah, tergantung. Kalau ternyata kau kenal dinosaurus secara pribadi, mungkin iya."


Tawa kecil lolos dari bibir Shansa—ringan, kemudian melipat tangannya.


"Sejujurnya aku sendiri tidak pernah terlalu peduli menghitungnya," gumamnya pelan. "Tapi kalau berdasarkan asal penciptaanku... aku tercipta dari pantulan sinar pertama yang menyentuh bijih perak di Anatolia. Itu sekitar tiga ribu tahun sebelum era umum manusia dimulai."


Senyap jatuh sesaat. Bahkan detik jam di sudut ruangan terdengar lebih keras dari seharusnya.


"Apa Lene? Kurasa itu cukup menjelaskan." Shansa menambahkan.


Aerlene spontan maju setengah langkah, setelah menyadari di hadapannya kini berdiri fosil hidup


"Tidak, sama sekali tidak menjelaskan dengan normal! Ini gila, karena artinya kau sudah hidup lebih dari lima ribu tahun?!"


Ekspresi ngeri bercampur kagum di wajahnya membuat Shansa nyaris tertawa lagi.


"Pantas saja nilai sejarahmu selalu sempurna! Kamu benar-benar tinggal bilang, 'Oh iya, aku inget tuh, aku duduk di barisan kedua waktu piramida dibangun.' curang banget sih!"


"Kau melebih-lebihkan."


"Oh ayolah." Aerlene menatapnya penuh curiga. "Jangan-jangan kau juga kenal Cleopatra."


"Sedikit."


Aerlene membeku.


Shansa baru sadar jawabannya salah ketika Aerlene menatap kosong sebelum akhirnya menjambak rambutnya sendiri.

Lihat selengkapnya