┌─────── ∘°❉°∘ ───────┐
Angin dari stepa meniup masuk melalui celah-celah bangunan dari batu bata lumpur di Bukhara. Membawa debu halus yang bercampur aroma kayu gaharu, tinta basah, dan bara dari dapur-dapur tua.
Langit pagi terbungkus dalam warna madu keruh, seolah matahari enggan menyingkap rahasia malam yang baru saja berlalu. Asap mulai mengepul dari pelataran rumah para tabib.
Gemuruh hiruk pikuk pasar perlahan bangkit, dipenuhi warna dan suara serta debu pasir dari derap langkah sepatu dan sandal kulit yang berlalu-lalang. Kain sutra berkilau keemasan berkibar di bawah kanopi, lalu di bawahnya, keramaian sahut-sahutan layaknya irama dentuman darbuka dan siulan ney yang terjalin dalam bahasa Persia dan Arab.
Pada abad ke-11 Masehi, Bukhara bukan hanya kota, melainkan sebait puisi yang ditulis oleh gurat kuas sejarah dan dikumandangkan oleh angin pasir merah Gurun Kyzlykum. Kota ini berdiri di antara jalur-jalur karavan yang membawa rempah dari Hindustan, kain sutra dari Tiongkok, dan tinta dari Byzantium. Di sinilah dunia menyentuh langit melalui keyakinan dan pemikiran.
Di balik tembok-tembok batu yang mendinginkan suhu gurun, terletak madrasah dan perpustakaan. Dinding-dindingnya berlapis mosaik biru safir dan toska, dengan kaligrafi ayat dan puisi mengalir seperti sungai ilham. Bau kulit buku tua dan tinta segar memenuhi udara di dalamnya, seolah setiap halaman yang disentuh menghembuskan napas para filsuf terdahulu.
Pagi itu suara pena yang menggores kertas perkamen bersahutan dengan lantunan lembut pelajaran filsafat dan ilmu kedokteran. Dan di antara cahaya lentera minyak yang berkerlip seperti bintang dalam ruangan gelap, duduklah para murid yang haus akan pengetahuan, menyimak kata-kata dari seorang lelaki muda dengan mata seperti lentera menyala dan suara yang tenang namun menghujam—Ibnu Sina.
Tangannya menggenggam pena, tapi pikirannya jauh melintasi bintang. Ia membedah bukan hanya tubuh, tapi hakikat jiwa. Ia menulis tentang hati yang berdetak bukan hanya karena darah, tapi karena cinta ilahi. Ia berbicara tentang logika dengan kelembutan puisi, dan meramu obat dengan sentuhan keimanan.
Pada ruang-ruang itu, kehangatan ilmu membuat waktu seolah melambat. Asap teh hitam dengan kayu manis melayang dari bejana tanah liat, membalut udara dengan aroma pahit-manis yang menenangkan. Rasanya menghangatkan tenggorokan dan menuntun pikiran untuk tetap terjaga.
Dan dari tempat pengamatan surgawi itu, Neirin menatap ke bawah. Cahaya keperakan dari sayap-sayapnya berpendar pelan, menyentuh batas langit yang menyala jingga keemasan. Di matanya terpantul dunia yang belum sepenuhnya rusak, dunia yang sedang mencoba memahami dirinya sendiri.
"Lihatlah mereka, Ramiel," bisiknya. "Mereka mulai berusaha menjabarkan dan mengenali tatanan roda kehidupan bukan hanya lewat iman... tapi lewat logika yang bercahaya."
Ramiel, berdiri di sampingnya, mengerutkan alis di atas matanya yang menyala seperti kristal aquamarine. Cahaya tubuhnya sedikit meredup, bukan karena amarah, tapi karena keraguan yang samar. "Dan kau percaya... bahwa manusia sanggup mengolah cahaya itu tanpa membakarnya?"
Neirin tersenyum tipis, matanya masih tertuju pada sosok Ibnu Sina yang sedang mencatat:
"Aku percaya bahwa ada jiwa-jiwa fana... yang mampu menjadikan ilmu sebagai bentuk pengabdian...ibadah, bukan pemberontakan."
"Bukankah ini menakjubkan?" bisiknya pelan. "Manusia itu... begitu rapuh, namun dari akal kecilnya, ia menjangkau surya, membedah tubuhnya sendiri untuk mengerti rahasia kehidupan, dan menulis dengan tinta keberanian atas sesuatu yang bahkan kita pun tak berani tanya."
Ramiel menatap Neirin, keningnya mengerut dalam keraguan. "Itu bukan keberanian, Neirin. Itu kesombongan. Apa yang bisa mereka pahami dari cetakan daging dan aliran darah, dari napas yang begitu singkat di antara dua keabadian?"
"Tapi bukan itu maksudku," Neirin membalas dengan nada lembut. "Bukan soal kesombongannya, tapi soal upaya. Mereka tak diberi kelebihan penerawangan seperti kita, tapi mereka tetap mencari cahaya. Bukankah itu... mengharukan?"
Ramiel terbang perlahan mendekat, bulu-bulu sayapnya yang seperti bilah-bilah mata pisau keemasan dengan kilau kemerahan di ujungnya, terbentang di belakang, menciptakan pusaran debu dan desau pelan. Suaranya seperti lonceng yang tak ingin dibunyikan. "Aku khawatir padamu, beberapa abad belakangan ini kurasa kau memperhatikan mereka terlalu dalam dari seharusnya, apa lagi yang berbeda kali ini?"
Neirin tersenyum samar, namun ada kesedihan di matanya. "Kau tahu siapa Ibnu Sina, bukan? Seorang anak manusia yang sudah mengingat pecahan-pecahan keimanan di usia sepuluh tahun. Yang belajar filsafat, logika, bahkan menulis tentang jiwa dan akal seperti... seperti seseorang yang pernah menyentuh batas-batas langit. Bagaimana mungkin aku tidak menghormati pikirannya?"
"Karena ia fana!" potong Ramiel tajam. "Karena pikiran itu, secerdas apa pun, tetap terikat pada dunia yang penuh godaan. Hari ini ia menyembuhkan raja, esok ia bisa saja menciptakan racun paling mematikan dalam sejarah atas nama eksperimen. Ilmu manusia seperti pedang bermata dua dan mereka belum pernah cukup bijaksana untuk hanya mengayunkan sisi terangnya saja."
"Tapi kita pun punya sejarah yang jatuh, Ramiel," Shansa berkata, menatap langit yang kini mulai memudar. "Samyaza, Azazel... mereka jatuh karena menyalah-gunakan kasih, ya. Tapi bukan berarti semua keinginan untuk memahami manusia adalah awal dari kejatuhan."
Ramiel menegang. "Berani-beraninya kau membandingkan dengan Makhluk-Makhluk Terjatuh itu?!" Jalinan urat nadi menyembul di pelipisnya.
Shansa menggeleng pelan. "Tidak. Tapi aku... ingin mengerti mereka. Dan aku ingin kau mengerti aku, sebelum kita kehilangan satu sama lain seperti kita kehilangan yang dulu."
Hening melingkupi keduanya. Di kejauhan, cahaya-cahaya kota Bukhara bersinar nyala-redup. Di sanalah, Ibnu Sina. Dalam wujud fana, menulis kitab-kitab yang akan mengubah sejarah manusia.
"Ketika aku membaca tulisannya," ujar Neirin lirih, "aku merasa ada gema dari langit yang ikut menulis di tangannya. Ia mungkin tak tahu, tapi dalam pencariannya, aku melihat keindahan kehendak bebas. Ia bisa memilih untuk tidak berpikir. Tapi ia berpikir. Ia bisa memilih untuk menyerah pada penyakit, tapi ia menyembuhkan. Apakah itu bukan cahaya, saudaraku?"
Ramiel menunduk. Ada geletar di hatinya yang tak mampu ia redam. "Dan bila kamu terlalu dekat, apakah kamu pikir kamu bisa tetap menjaga cahayamu sendiri?"
Neirin tak menjawab. Ia hanya menatap bumi, ke arah pemuda Persia yang kini sedang menyalakan lampu minyak untuk menulis lagi. Sorot matanya seperti seorang malaikat yang diam-diam ingin menjadi inspirasi, bukan pengawas.
"Neirin," kata Ramiel akhirnya, dengan nada yang nyaris seperti doa yang patah, "jika suatu hari kau mulai bertanya lagi, apakah langit tak cukup untukmu... maka aku akan mencarimu di setiap sudut kerinduan itu, bukan untuk menghukummu, tapi untuk mengingatkanmu...
...bahwa cahaya kita tak pernah diciptakan untuk bertahan di dunia yang mencintai luka."
Suara Ramiel itu mengalun lama, seperti gaung yang tak sepenuhnya padam meski abad telah berganti. Lalu segalanya memudar...
Warna langit keemasan dan mosaik-mosaik kebiruan, sinar dari sayap, bahkan wajah sang pemuda Persia, dengan mata tajam terbingkai goresan celak itsmid yang menunduk dan terus menulis di bawah cahaya lampu minyak.
Gelap. Sunyi.
Sampai napas Aerlene terdengar kembali di antara denting suara gemerisik dedaunan dan desir angin yang menyusup melalui kisi-kisi jendela berkarat. Ia terbangun mendadak dari tidur siang yang tak damai, keringat besar-besar seperti biji jagung membasahi pelipisnya meski udara di luar terasa dingin. Paru-parunya seakan sempat kosong dan baru saja kembali memompa udara.
Matanya membelalak. Kursi taman itu... pohon yew tua... cahaya sayap.
Ia masih duduk di bangku kayu panjang halaman belakang Eirenhust, tempat ia tak sengaja tertidur beberapa menit lalu. Tapi dunia seakan menyimpan gema dari mimpi itu di benaknya. Pohon yew tua di dekatnya bergoyang pelan, padahal angin nyaris tak berembus. Dedaunannya bersenandung lirih, seperti mengulang kata-kata dari masa yang tak dikenalnya, ia mengucek sebentar matanya dengan buku-buku jarinya, untuk membuatnya lebih sadar.
Lalu. Krak.
Sebuah dahan besar, tua dan berat, patah dari batangnya. Tanpa peringatan, ia terjun bebas ke arah Aerlene.
"Awas!"
Tangan seseorang menarik tubuh Aerlene tepat sebelum cabang itu berdebum menghantam bangku taman dengan suara jatuh yang menggetarkan. Debu dan serpih pecahan kayu beterbangan. Aroma tanah basah dan getah pohon menyeruak tajam, menusuk indra seperti bau luka lama yang dibuka kembali.
Aerlene menggigil. Ketika ia menoleh, ia melihat wajah orang yang menolongnya, salah satu perawat Eirenhust. Seorang wanita jangkung dengan mata russet yang gelap dan sorot tatapan yang tak mudah dilupakan. Namanya... belum Aerlene ingat.
"Hei nak? Kau tidak apa-apa," kata perawat itu, suaranya tenang namun dalam.
Aerlene menelan ludahnya, napasnya belum teratur. Tapi dalam jantungnya, masih terasa gema dari percakapan yang tak pernah ia alami, namun entah bagaimana, ia tahu itu bukan sekadar mimpi.
Perawat itu, wanita bertubuh jangkung dengan rambut abu kecoklatan yang disanggul rapi, menunduk dan merangkul bahu Aerlene dengan hati-hati, dengan lengannya yang kurus. Aroma rosemary dan kamper tipis tercium dari seragam abu-abunya.
"Ahh untunglah aku cepat menarikmu, tadi itu sungguh tiba-tiba, jantungku rasanya mau copot," bisiknya di dekat telinga Aerlene, suaranya dalam dan rendah. Tangannya mengusap naik turun punggung Aerlene yang masih tegang, berusaha menenangkan gadis itu.
Seketika, angin berubah. Ada yang datang.
Di jalan kecil yang membelah taman, suara langkah perlahan terdengar, nyaris tanpa suara. Shansa berhenti beberapa meter dari tempat Aerlene dan perawat itu.
Ia memandang Aerlene dengan sorot yang dalam dan sedikit cemas. Ia tak perlu mendengar teriakan, ia hanya perlu merasakan gelombang pikiran Aerlene yang tersentak. Sekejap setelah dahan jatuh, nama Aerlene terlintas dalam pikirannya seperti kilat di malam gelap.
"Dia melihat sesuatu," bisik Shansa, lebih kepada dirinya sendiri. Sorot matanya menyapu sosok perawat wanita itu sesaat.
Perawat itu menoleh perlahan ke arah Shansa, dan mereka bertukar pandang. Hening. Lalu bibir perawat itu melengkung tipis, bukan senyum, tapi isyarat yang nyaris seperti: "Tidak apa-apa, dia baik-baik saja."
Shansa berlari kecil menghampiri Aerlene.
"Ah Shan, tidak apa-apa, tadi aku ketiduran dan belum sepenuhnya sadar," sahut Aerlene lemah. Dia berusaha berdiri dan berjalan menghampiri Shansa, tapi mendadak tubuhnya terhuyung lagi seperti kehilangan pijakannya, dan langsung ditangkap oleh perawat wanita itu.
"Kita harus membawanya kembali ke kamarnya," ujar perawat itu, dan Shansa mengangguk setuju.
"Biar aku saja," ucap Shansa sembari langsung menarik lengan Aerlene lalu memangkunya di pundaknya.
Menerobos terik siang, Shansa membopong tubuh Aerlene yang lemas, melewati taman rumah sakit yang sunyi dan bangku-bangku kosong. Wangi bunga tak mampu menutupi rasa gentar di dadanya. Mata hijau sahabatnya tampak linglung, bibir bergetar, dan keringat menetes di pelipis seperti kristal pecah.
Langkah-langkah mereka menggema samar di lorong rumah sakit yang lengang. Cahaya lampu kekuningan menggantung dingin di atas kepala, memantulkan bayangan pucat di lantai ubin berpola papan catur.
Napas Aerlene masih terengah, wajahnya pucat pasi kehilangan rona, seolah jiwanya baru saja diseret kembali dari tempat yang terlalu jauh
"Kau yakin tak apa-apa? Mau kubawakan obat atau makanan?" bisik Shansa, suaranya penuh kekhawatiran, nyaris terdengar seperti kesal. "Kau bahkan nyaris pingsan barusan."
Aerlene mengangguk lemah, matanya masih buram menembus bayangan pintu kamarnya yang mulai terlihat di ujung lorong.
"Aku... aku baik," gumamnya pelan. "Ini hanya... mimpi-mimpi itu lagi."
Setelah mendorong pintu dengan bahunya, Shansa membantu Aerlene duduk di ranjang. Selimut berbau antiseptik menyentuh kulitnya saat ia bersandar, dan ia menutup mata sejenak, menenangkan denyut jantungnya yang tak teratur.
Shansa menarik kursi mendekat. "Mimpi apa?" tanyanya hati-hati. "Yang seperti waktu itu?"
Aerlene membuka matanya, perlahan, seolah setiap kelopak mata adalah beban yang harus dilawan.
"Hampir beberapa hari terakhir," katanya nyaris berbisik. "Aku selalu terbangun... tepat pukul tiga. Tanpa alarm. Tanpa suara. Seolah... ada yang membangunkanku dari dalam."
Shansa menahan napas.