╔═.✾. ═════════════╗
Malam yang sunyi merangkul kompleks bangunan Eirenhust, meninggalkan jejak hujan senja yang baru saja mereda. Tanah di jalan setapak terasa gembur, sesekali menyipratkan air dan bau rumput basah saat kaki tak sengaja menginjak genangan. Di antara keheningan, suara jangkrik berkerik timbul tenggelam bersama kuakan katak.
"Dingin sekali, tahu begitu, tadi kubawa saja sekalian selimut beludru di kamar buat kupakai," keluh Aerlene.
Pada jalan setapak yang dilaluinya, daun-daun kering berterbangan bergerombol di sekitar pijakan. Kakinya sedikit mati rasa karena hanya dilapisi kaus kaki pendek dan sandal karet. Mantel luar piyamanya yang terbuat dari bahan handuk dengan motif bergaris abu-abu putih, terlihat kedodoran di tubuhnya, lalu sesekali melayang terbang tertiup angin, seperti ingin menariknya ke arah berlawanan.
"BRUK!"
Dari balik semak gelap di sisi jalan, sesuatu yang bulat berwarna kehitaman melompat keluar dengan suara yang cukup keras. Aerlene terlonjak kaget dan nyaris terpeleset. Sandal karetnya sempat terlepas sebelah, dan jantungnya ikut naik ke tenggorokannya.
"Tadi itu apa?" desisnya, memegangi dada yang naik turun secara cepat.
"Meong~"
Seperti kemoceng hitam besar yang melayang dari kejauhan. Seekor kucing hitam, bermata kuning terang dengan lingkar pupil hitam besar, loncat menghampirinya. Sinar purnama yang menggantung di langit menerangi bandul emasnya, yang bertuliskan Poe. Kucing itu menatapnya dengan ekspresi malas dan seakan menghakimi, sebelum tubuh bulatnya yang gemuk, dan berbulu panjang pelan-pelan mendekati tempat Aerlene berdiri.
Awalnya Aerlene hanya memelototi si kucing dengan waspada, takut kalau dia tiba-tiba meminta jatah cemilan. Kini ekor panjang kucing tersebut melingkar-lingkar di antara kedua pergelangan kakinya, seperti sedang menilai Aerlene dengan cermat. Namun tak lama kucing tersebut mengeong manja, sekaligus berusaha keras memanjat naik ke tubuh Aerlene dengan kakinya yang bulat dan berisi. Aerlene menghela napas lega.
"Dasar makhluk berbulu yang licik, setelah membuat aku jantungan, sekarang kau pakai acara minta digendong," gumamnya geli. Ia mengangkat kucing itu dengan pelan dan merasakan bulunya yang lembut dan sedikit basah, lalu mendadak mengerutkan dahi.
"Ya ampun Poe... ternyata kamu berat juga kayak guling pasir, jadi sebenarnya kamu dikasih makan ikan tuna apa ikan paus sih?" Poe mengeong nyaring, protes tak terima. Aerlene cekikikan, lalu membujuknya dengan elusan hingga Poe mendengkur senang.
Ia melanjutkan perjalanan, sembari sedikit bersyukur menggendong kucing gembul di tangannya. Bulu tebal dan hangat tubuhnya begitu nyaman di tengah udara malam yang kian dingin.
Selang tak berapa lama, ia tiba di depan halaman bangunan tua di sayap timur Eirenhust. Di bawah cahaya bulan yang menggantung penuh, tampak sosok Shansa berdiri tenang di depan pintu masuk. Ia mengenakan sweater turtleneck abu-abu dan celana kargo hitam, dilengkapi gaya rambut yang dikuncir kuda.
"Shansa, maaf ya lama menunggu," sapa Aerlene. Poe yang tadi mendengkur tenang, mendadak meronta pelan seperti minta diturunkan, dan Aerlene menurutinya.
Begitu kaki bulatnya menginjak tanah, kucing hitam itu secepat kilat berlari ke arah Shansa, yang kemudian dibalas Shansa dengan beberapa elusan cepat di kepalanya.
Mata Aerlene menyaksikannya sendiri, bagai bayangan yang melayang, Poe menghilang ke dalam bangunan tersebut. Hingga ia menyusul dengan langkah pelan, matanya menatap pintu kayu usang yang setengah terbuka.
"Dia bahkan tidak pamit, padahal tadi bikin jantungku hampir copot," gumamnya, setengah kesal, setengah geli.
Shansa tersenyum tipis, matanya menatap ke dalam bangunan gelap di balik pintu. "Mungkin kau terlalu gugup sehingga mengeluarkan aura negatif berlebihan, yang membuat kucing hitam itu mengasihanimu."
Aerlene tidak bisa menyangkal Shansa kali ini. Jantungnya berdetak sedikit tak beraturan entah karena gugup atau bersemangat, sangat berbanding terbalik dengan wajah tenang Shansa yang diterangi samar cahaya bulan.
"Aku... menjadi ragu melihat gedung tua ini. Rasanya tempat ini lebih cocok buat syuting film horor rumah hantu era Victoria daripada jadi sasana latihan."
Shansa menanggapi dengan anggukan kecil. "Justru karena itu, kita harus terbiasa dengan ketakutan." Ia menyentuh bahu Aerlene ringan, lalu mendorong pintu lebih lebar.
"Ingat, kenyataan akan selalu menampar kita, bahkan sebelum kita bersiap menerima rasa sakitnya," sahut Shansa.
Aerlene menelan ludahnya, tangannya mengepal dengan erat, seakan mempersiapkan dirinya dengan kemungkinan yang terjadi setelah dia melewati bangunan ini. Suara derit pintu memecah udara di ruang itu dan kegelapan di dalam menyambut mereka dengan penuh antusias.
Begitu langkah mereka berdua memasuki ambang pintu, udara jadi berubah drastis-dingin dan basah seperti perpaduan bau besi karat dan tulang lama. Aerlene memeluk dirinya sendiri, tubuhnya merinding. Tapi Shansa tetap tenang. Ia berdiri di tengah ruangan gelap itu, diterangi sedikit berkas cahaya bulan yang menembus dari celah-celah kaca jendela berdebu. Shansa menutup matanya perlahan—menghirup napas panjang.
Dari sela-sela kulitnya yang putih pucat, cahaya putih keperakan memancar lembut. Pendar itu merambat dari ujung jemari, menyapu bahu, lalu dada, hingga seluruh tubuhnya berkilauan bagai nebula yang baru lahir, serat-serat cahaya bintang melilit tiap lekuknya. Cahayanya terasa hangat, sakral, dan menghidupkan. Aerlene tertegun, menyaksikan aura Shansa kini berdenyut hidup, laksana galaksi bima sakti.
Beberapa detik kemudian, cahaya dari tubuh Shansa memancar ke segala arah seperti aliran sungai yang terbuka bendungannya. Ketika menyentuh dinding dan lantai bangunan itu, ruangan yang sebelumnya gelap gulita mulai bergetar dan suara ceklik terdengar menyeret dari saklar tua yang menyala satu per satu. Lampu-lampu neon berpendar biru pucat di langit-langit menyala berurutan, mengikuti ritme aliran cahaya Shansa. Lorong panjang, rak-rak logam yang terbengkalai, tempat tidur dengan sabuk pengikat, kursi roda tua yang terguling-semuanya perlahan tampak di bawah cahaya.
"Ah Kawanku, kau benar-benar bintang paling terang yang membuat bayangan menjadi minder, tadi dramatis sekali" ucapnya, seperti suara parau dari gesekan besi tua. Mengejutkan Aerlene yang sedari tadi terbengong seperti orang udik. "Sudah kubilang, hati-hati kalau pamer kemampuanmu di tempat umum. Nanti kalau ada yang merekrutmu jadi pengganti lampu jalan tol permanen, aku harus bagaimana?"
Shansa menarik napas, lalu memadamkan cahayanya yang menjalar perlahan seperti jaring-jaring panjang, merasuk kembali seperti terhisap pulang ke pori-pori kulitnya. Ia menoleh, senyum tipis tersungging. "Seharusnya kau berterima kasih, Dokter. Setidaknya sekarang tempat ini tidak terlihat seperti bekas laboratorium Frankenstein, yang lama disegel pemerintah karena telat setor pajak."
Dari kegelapan di balik barisan rak logam yang baru saja terang, Dokter Octavianus Murnau melangkah keluar. Ia mengenakan jubah putih tipis berpola geometris perak yang nyaris menyatu dengan samar cahaya neon. Di samping kakinya, Poe muncul, mengeong manja sembari menggesekkan tubuh gembulnya ke betis dokter tua itu.
"Selamat datang, Nona Ray, apa kabar Anda Nona?" ucapnya tenang. Sebelum Aerlene sempat menjawab, Dokter Murnau langsung menghampirinya dengan cepat dan memperhatikannya dalam-dalam.
"Sebelum kita mulai program pelatihan pertama kita, izinkan saya bertanya terlebih dahulu. Apakah kau pernah bermimpi dimutilasi oleh bayanganmu dan malah bangun dengan menggigit lidah sendiri hingga berdarah?"
Aerlene membelalak. "Uh mengerikan... tidak."
Dokter Murnau mengangguk puas, lalu terkekeh lirih. "Bagus. Itu artinya belum terlambat."
Ia kemudian berjalan memutari mereka, jubahnya berkibar pelan seperti bayangan yang enggan pergi. "Aku sudah menyiapkan semuanya. Oh, dan jangan khawatir kalau mendengar tangisan atau suara lainnya yang sulit dijelaskan... Gedung ini terlampau lama tidak digunakan jadi Aerlene, mungkin tumbuh jamur tertentu yang mungkin membuatmu berhalusinasi kalau kau menghirupnya."
Ia tersenyum lagi, kali ini lebih lebar dan ceria. Tak sejalan dengan latar ruang bekas rumah pasien sakit jiwa yang sudah terbengkalai berhawa murung di sekitar mereka.
"Baiklah aku mengerti Shansa, pastinya sudah memberi tahukan, apa tujuan kita bersama kali ini—tujuanmu. Untuk bisa menyebrang ke dunia di balik tirai, pertama-tama kita akan mulai dengan menguatkan yang fana," Dokter Murnau memulai, menunjuk ke arah jantung Aerlene. "Fisik adalah fondasi. Kita akan melatih ketahanan tubuhmu hingga sesuai batas yang diperlukan. Setelah itu, kita beralih ke mental. Pikiranmu harus sekuat baja Damaskus, tak tergoyahkan oleh bisikan atau ilusi yang akan kau hadapi nanti." Matanya menoleh ke Shansa. "Kau tahu bagaimana rasanya, bukan, Shansa?"