┌──────═━┈┈━═──────┐
Cahaya keemasan yang hangat menyelinap masuk melalui celah gorden, membangunkan Aerlene dengan lembut seperti belaian tangan. Dadanya sedikit merasa sesak, dan dia mengerti alasannya.
Gulungan bulu hitam dan berat, sedang tidur pulas melingkar di atas tubuhnya, mendengkur lembut. Aerlene tersenyum tipis, mengelus bulu halusnya sebelum perlahan menggeser Poe si kucing agar tidak terbangun. Ia mengerjapkan matanya, berusaha menemukan kesadaran sepenuhnya.
Ada rasa lelah yang masih menggantung di seluruh sendinya, namun lelah itu kini bercampur antara kepuasan dan sedikit kecemasan untuk masa yang akan datang. Tubuhnya terasa kaku, sisa-sisa dari ujian kekuatan fisik di danau semalam yang menguras tenaga. Namun, otot-ototnya yang kini terlatih, menjadi lebih kokoh, jauh melebihi keadaan dirinya saat pertama kali tiba di Eirenhust.
Aerlene bergerak cepat. Rutinitas paginya di Eirenhust sudah terbentuk rapi. Membasuh muka, mandi, menyisir rambutnya yang kian memanjang, mengenakan pakaian bersih yang telah tersusun di lemari. Setiap gerakan terasa semuda bernapas, refleks yang terbangun dari disiplin yang diterapkan dirinya atas arahan Murnau dan Shansa. Ia melirik bayangannya di cermin rias, sorot matanya kini jauh lebih tajam, menyimpan tekad yang membara, meskipun tersisa sedikit bayangan kegelisahan di sana.
Pandangannya kemudian jatuh pada mantel wol cokelat Dokter Murnau yang tergantung rapi di samping lemari. Aroma rempah dan musk yang khas masih menguar samar. Semalam, mantel itu melindunginya dari dinginnya malam di danau. Saat tangannya meraihnya untuk melipat, ia merasakan sesuatu yang pipih dan keras di salah satu sakunya. Jantungnya berdesir.
Ia menariknya keluar dan mendapati koin emas kuno Dinar Ummayah hadiah dari Dokter Murnau. Koin itu adalah trofi bisu atas keberhasilannya melewati pelatihan pertama, sebuah simbol yang jauh lebih berharga daripada sekadar uang. Koin itu adalah pengingat akan titik awal keberhasilannya, sebuah jimat keberuntungan yang akan selalu ia bawa.
Dengan senyum tipis, Aerlene menyelipkan koin emas itu ke dalam saku celana kain glen plaid hitam keabuannya sebelum bersiap melangkah ke hari yang baru.
Saat melangkah keluar kamar, koridor-koridor Eirenhust menyambutnya dengan keheningan yang biasa. Aroma antiseptik bercampur dengan bau masakan pagi yang samar. Langkahnya mantap, menuruni tangga, mengarah ke ruang makan khusus.
Dalam perjalanan di antara koridor yang berbelok, matanya tak sengaja menyapu ruang makan utama, tempat para pasien Eirenhust berkumpul. Mereka duduk berderet di meja kayu walnut panjang, sebagian melamun, sebagian lagi mengobrol pelan, diawasi oleh beberapa staf di sana yang hilir mudik.
Pandangan Aerlene mendarat pada seorang pria di awal usia 30-an, dengan rambut merah jagung yang mencolok dan pipi berbintik-bintik. Pasien pria itu mengangkat kepalanya dari nampan makannya, seolah merasakan tatapan Aerlene, dan memberinya senyum lebar yang aneh, sedikit terlalu lebar, membuat Aerlene sedikit terkejut dan bingung bagaimana menanggapinya. Ia memilih berjalan lebih cepat menutupi kebingungannya untuk membalas reaksi pasien pria tadi.
Akhirnya, Aerlene tiba di ruang makan khusus. Dokter Murnau dan Shansa sudah duduk di meja, ditemani beberapa staf lain yang tampaknya baru saja selesai sarapan dan kini bangkit, berpamitan singkat sebelum meninggalkan ruangan untuk memulai shift pagi mereka.
Murnau menoleh, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Luar biasa, Nona Ray! Aku sempat mengira, kita perlu memesan peti mati paling nyaman untukmu," sapanya, nadanya datar namun menggelitik. "Aku khawatir, setelah semalam, sisa-sisa jiwamu terlalu lelah untuk sekadar beranjak dari sarangnya." Aerlene kini mulai terbiasa dengan keanehan kata-kata yang seringkali menetas dari bibir Dokter Murnau.
Aerlene menarik kursi dan duduk, mengabaikan perkataan Murnau seolah itu hanya suara latar yang biasa. Ia meraih roti panggang dan mengolesnya dengan selai blueberry.
"Untungnya, Dokter, saya terlalu capek untuk mati...lagi" ujar Aerlene datar, bibirnya sedikit melengkung.
"Butuh tenaga ekstra hanya untuk bangun tidur sekaligus bersembunyi dari daftar buruan kematian, jadi biarkan perut laparku yang malang beristirahat tenang dengan roti selai dan sosis panggang."
Shansa yang sedari tadi hanya menyesap tehnya, kini meletakkan cangkir dengan bunyi pelan. Ia melirik Murnau dengan senyum tipis yang penuh makna. "Ngomong-ngomong soal peti mati, Aerlene," Shansa menyela, suaranya ringan tapi menusuk. "Kalau Murnau menawarkan peti mati, tolak keras tanpa berpikir dua kali." Ia menyeringai pada Murnau.
"Seleranya itu... desain Gotik Victoria yang sarat ukiran rumit. Kayu ek gelap, lapisan beludru merah marun yang tebal, dengan pegangan perunggu berbentuk gargoyle di setiap sudut. Dijamin peti mati seperti itu akan menarik perhatian, bukan hanya roh penasaran, tapi juga kolektor fanatik barang antik yang terbiasa menghamburkan duit berburu properti 'historis' yang otentik. Kamu bisa berakhir di eBay, Aerlene, berebut ownership peti mati dengan Count Drakula sendiri."
Murnau menghela napas panjang, dramatis.
"Ah, kawanku," katanya, menggelengkan kepala pelan.
"Dulu, saat kau melihat koleksi alat bedah antikku untuk pertama kali, kau bilang itu sangat... menggugah dan punya estetika yang mengerikan tapi jujur. Aku kira, itu pujian. Ternyata kau sedang menyindirku rupanya. Harusnya aku tidak gampang percaya sama seniman bunglon, berubah warna sesuai tren. Dasar seniman angin-anginan!" Ia menggelengkan kepala, seolah kecewa berat.
Aerlene menahan senyumnya, mendapati perdebatan aneh mereka membuat pagi itu terasa hangat. Ia makin terbiasa dengan keunikan perbincangan Murnau dan Shansa yang sukar dipahami orang normal. Saat Murnau mengucapkan kalimat terakhirnya, ia melihat pria itu meraih cangkir teh jahenya yang sudah kosong dan tampak sebersit kekecewaan.
"Sudah waktunya," Murnau berkata pelan, seperti memberi kode tersirat. Menarik kembali pada kenyataan yang menunggu mereka di depan.
"Temui aku segera, setelah kalian selesai sarapan. Di gedung sayap timur, setelah pintu masuk, dari koridor pertama, belok kiri, ruangannya berada tepat di pintu urutan ketiga." Murnau bangkit perlahan dari meja, memberikan pandangan singkat pada Aerlene sebelum berbalik dan melangkah pergi sambil membawa piring dan gelas kotornya keluar.
Shansa tersenyum lembut pada Aerlene. "Jangan khawatir, Aerlene. Kau sudah berhasil sejauh ini. Ini hanya akan jadi langkah kecil berikutnya."
Tak lama Shansa menyusul mendekati pintu dan meninggalkan ruangan. Aerlene tertunduk sebentar, menghabiskan sisa rotinya di meja makan yang baru saja hitungan menit sebelumnya masih ramai.
...
Aerlene tiba di depan pintu ruangan dalam gedung sayap timur, sesuai arahan Murnau di ruang makan sebelumnya. Meski matahari pagi sudah cukup tinggi, kegelapan masih lebih kuat menguasai lorong dalam bangunan ini.
Cat pintu kayu berwarna hijau telur asin di depannya tampak mengelupas di beberapa bagian. Teksturnya kasar dan lapuk, dengan lapisan kehitaman mengintip dari urat-urat kayu yang timbul akibat terpaan suhu dan waktu.
Sebuah plakat kuningan tua, yang juga terlihat kusam dan sedikit berkarat, terpasang di daun pintu, bertuliskan:
"UNIT TERAPI HIPNOSIS,
Rumah Sakit Jiwa Eirenhust
Area Ketenangan & Pemulihan."
Aerlene baru saja hendak mendorong gagang pintu ketika suara Murnau menggema dari dalam, seolah bisa melihat secara tembus pandang. "Digeser, bukan didorong!" teriaknya. Aerlene sedikit terlonjak, lantas menggeser pintu kayu itu hingga terbuka dengan derit pelan.
Ruangan di dalamnya tampak cukup memprihatinkan. Tercium bau apak seperti buku-buku lama berdebu yang tersimpan di loteng. Cat krem dindingnya menguning dan mengelupas, menunjukkan bahwa ruang itu mulai menua digerogoti waktu. Di tengah ruangan, sebuah sofa kulit usang dengan bantal kempes berdiri kokoh, kini terlapisi kain beludru kebiruan yang sepertinya baru dibawa Murnau.
Di depannya, ada meja kayu berukuran sedang, beserta sebuah metronom berayun perlahan, jarumnya bergerak konstan, dan di sampingnya, terdapat meja persegi kecil dan sebuah gramofon tua dengan piringan hitam yang sudah terpasang. Udara di ruangan itu terasa sedikit dingin.
"Duduklah di sofa itu Nona Ray, posisikan dirimu senyaman mungkin," pinta Murnau yang kini terdengar lebih tenang. "Pelatihan kali ini akan berbeda dari pelatihan sebelumnya. Tidak ada eliksir ataupun tubuh yang lelah, kita hanya akan bertamu dalam labirin pikiran bawah sadar itu sendiri."
Shansa, bersandar di depan meja kayu dengan kedua lengan terlipat, menambahkan dengan nada datar, "Ingat, Aerlene, mentalmu harus berlatih sekuat fisikmu. Bahkan lebih. Di sini, yang kau angkat bukan beban, melainkan kekacauan dalam pikiranmu, dan itu butuh fokus mutlak melebih latihan pernapasan kita."
"Dengarkan," Murnau memulai, suaranya tenang namun jelas, "latihan mental ini punya satu tujuan utama, mengendalikan kemampuan telepatimu. Lebih spesifik lagi, bagaimana caranya menjaga pikiran tetap tenang dan terkontrol saat tak sengaja melihat kilasan mimpi tak wajar atau ingatan orang lain."
Ia berhenti sejenak, menatap Aerlene lurus. "Harapanku, jika ini berhasil, Anda akan mampu mengantisipasi disosiasi atau gangguan mental lainnya. Itu efek samping yang mungkin muncul dari kemampuan luar biasa dan lucid dream berlebihan yang membuatmu kelelahan secara mental, tanpa kendali."