┏━━━━•❃°•°❀°•°❃•━━━━┓
Embun menetes di jendela buram Eirenhust, menguak keheningan dari hujan yang baru selesai mengguyur. Bangunan tua itu terasa senyap, seolah ikut terlelap bersama napas teratur staf yang tertidur pulas, serta desah samar sesekali dari pasien yang terbuai dalam efek sedatif di balik pintu-pintu kamar yang berjejer rapi.
Di sayap bangunan paling sepi, sebuah pintu kayu lapuk terbuka, menampakkan ruang hipnosis yang temaram. Lampu kekuningan di sana memancarkan cahaya redup, cukup terang untuk bayangan, namun cukup gelap untuk mengaburkan kenyataan.
Aerlene duduk diam di sofa kulit tua, mengenakan sweater merah yang terlalu besar untuk tubuhnya. Ujung lengan sweater menutupi jemari pucatnya yang meremas perlahan lututnya sendiri, seakan ingin memastikan dirinya masih di sini, masih utuh. Sorot matanya tenang, tapi rahangnya sedikit mengeras. Matanya melirik sebuah cangkir kristal yang kini disuguhkan jari panjang dan keriput di depannya.
"Kau sudah siap, Nona Ray?"
Suara lembut tapi padat itu berasal dari sosok tinggi dengan jas dokter yang sedikit kebesaran dan wajah yang tampak lebih seperti seorang penyihir tua yang tersesat dalam peran modernnya—Dokter Octavianus Murnau.
Di sampingnya, Shansa Frauw berdiri mengamati. Air wajahnya diisi dengan ketenangan seperti es yang membeku, namun matanya menyimpan badai. Ia tidak berkata-kata, hanya berdiam di sana, mengamati Aerlene dengan perhatian yang hampir... terlalu dalam.
"Ujian malam ini," lanjut Murnau, "akan berbeda dari sebelumnya. Lebih dalam, lebih... jujur."
Ia mengangkat cangkir kristal dengan kedua tangannya seperti sedang mempersembahkan sesuatu yang sakral. Ukirannya meliuk indah, transparan, memantulkan cahaya lampu seperti serat cahaya senja yang tertangkap dalam batu es yang tembus pandang.
"Teh ini," katanya sambil menyerahkan cangkir itu pada tangan Aerlene, "diciptakan bukan sekadar untuk menenangkan pikiran, tapi untuk melarutkan batasnya. Memasuki bukan hanya mimpi, melainkan retakan terdalam di dalam dirimu—ketakutan, kebenaran, dan kenangan yang bahkan pikiranmu sendiri enggan mengingatnya."
Aroma teh itu mulai naik, seperti asap dari dupa di kuil. Aroma lavender—tapi bukan sembarang lavender. Ini adalah jenis khusus yang hanya tumbuh di padang pasir Saudi saat hujan musim dingin. Di baliknya, tersembunyi lapisan aroma tanah basah, embun yang menetes dari jaring sutra laba-laba kulit kayu Darwin. Lalu yang tak kalah memancing rasa penasaran—serpihan kecil kelopak mirip beludru sehitam bulu gagak yang mengapung di atas permukaan teh itu.
"Kelopak anggrek hitam langka dari Papua," gumam Murnau, menangkap tatapan Aerlene, "akan membantu melepaskan pikiranmu dari gravitasi dunia. Serpihan cangkang kepik biru baja di dasar cangkir, sebagai pengabur realitas—akan mendorongmu menjauh dari batas kesadaran. Aduk tehnya tujuh kali searah jarum jam. Saat warnanya berubah, tarik napas dalam, lalu minum."
Aerlene mulai mengaduk teh itu dengan sendok perak kecil yang terdapat di dalamnya, dan mengangkat sendoknya keluar cangkir tepat setelah hitungan ketujuh. Teh itu berwarna biru-keunguan sekarang—nyaris hitam. Permukaannya berkilau lembut, bagaikan langit malam berkabut dengan kilauan bintang yang mengintip di sela-selanya.
Ia mengangkat cangkir kristal yang kini memperlihatkan cairan teh berwarna seperti malam berbintang di dalamnya. Suara detak jantungnya berjalan seirama jarum jam yang bergeser. Ketika cangkir itu menyentuh bibirnya, udara seolah menahan napas.
Saat tegukan pertama mengalir melewati tenggorokannya, dunia mulai mencair di tepinya—perlahan. Seperti lilin yang meleleh karena dipanaskan api, ekspresi datar Dokter Murnau, tatapan tajam Shansa, dan dinding-dinding kekuningan dengan cat mengelupas di sekitarnya mulai mencair, mengalir lambat, menyingkap kegelapan bak malam tak bertepi di baliknya.
...
Angkasa biru terbentang sejauh mata memandang, tenang seperti lautan yang lupa bergelombang. Di atasnya, awan-awan tipis melayang perlahan, seputih benang kapas yang dijahit dengan cermat. Aerlene mendongak pupil matanya hijau kecokelatan, seperti lumut yang terendam cahaya matahari musim semi.
Ia menunduk, heran menatap kedua tangannya yang mengecil seperti ukuran anak tujuh tahun. Kakinya berbalut kaus kaki berenda dan sepatu Mary Jane semerah rubi, tumitnya menancap di rumput hijau. Hawa dingin angin pagi menyapu rok putih berendanya, membuatnya tampak seperti kabut yang menari.
Ia menolehkan kepalanya dan melihat sekelilingnya. Mengambil napas panjang, yang dibalas dengan aroma samar tanah basah dan bunga lili putih yang tumbuh liar di sekeliling perkarangan. Wangi yang nyaris dilupakan—halus, bersih, dan sedikit manis.
"Tempat ini... kenapa terasa begitu akrab?" batin Aerlene.
Saat ia menoleh jauh ke belakang, matanya menangkap sebuah pohon maple tua, batangnya bengkok namun kokoh, daun-daunnya lebat berkilau merah keemasan.
Dan tiba-tiba, dadanya menghangat.
Ini... perkarangan rumah masa kecilnya!
Bukan replika. Bukan tiruan. Tapi rumah yang pernah hidup dari ingatan samar. Dalam waktu yang telah hilang.
Perasaan yang muncul tak bisa didefinisikan dengan satu kata. Ada ketenangan yang begitu murni, hampir seperti pelukan. Seketika, dadanya terasa antusias sekaligus sesak. Rasa asing menyelinap, bukan karena ia lama tidak melihat tempat itu, tapi karena ia tahu seharusnya tempat ini sudah tidak ada lagi.
"Aerlene, kemari..."
Suara itu datang. Lembut, dalam, penuh nada yang hanya bisa diingat oleh hati yang pernah sangat mencintai.
Dan kemudian ia melihatnya.
Dari balik batang pohon maple, sosok itu muncul—ayahnya.
Ia mengenakan kemeja santai dan celana panjang berwarna abu-abu tua, duduk bersila di bawah rindangnya daun maple sambil memegang layang-layang berbentuk burung walet putih. Tali benangnya tampak terputus di bagian tengah, dan jemarinya sibuk membetulkannya dengan cermat dan sabar.
Suara itu datang seperti nyanyian dari masa lalu, mengalun hangat dan utuh—suara yang telah sepuluh tahun hilang dari telinganya.
Seketika, tubuh kecil Aerlene melesat jauh. Kaki mungilnya menginjak rumput dan tanah dengan bersemangat, hingga akhirnya ia menjatuhkan dirinya dalam pelukan ayahnya. Tubuhnya bergetar hebat, tangisnya meledak tanpa aba-aba. Air matanya membasahi dada kemeja sang ayah, dan ia menggenggam tubuh itu sekuat mungkin, seakan takut jika satu inci saja dilepaskan, semuanya akan menghilang.
Rambut pirang ayahnya tertiup angin dan menutupi wajahnya, yang kini menatap bingung melalui bola mata hijau-kecokelatan, persis seperti milik Aerlene. Tangan rampingnya terangkat ragu, lalu perlahan memeluk putrinya sambil menepuk-nepuk punggungnya.
"Lili Putihku? Kenapa mendadak kau menangis seperti ini?" tanya ayahnya.
Aerlene menggigit bibir, mencoba menahan isakan, mengusap air matanya dengan ujung lengan sweaternya yang berwarna merah
"Maaf, aku hanya... sangat-sangat merindukanmu, Ayah."
Ayahnya terdiam. Dahinya mengernyit ringan, menatap wajah Aerlene dengan bingung dan cemas.
"Sayangku... kamu tidak demam, kan? Atau jatuh lalu kepalamu terbentur? Aneh sekali tiba-tiba bicara seperti itu, kan Ayah di sini saja." Ayahnya tersenyum geli melihat kelopak mata Aerlene yang cepat membengkak ketika menangis.
Ia menoleh kembali ke layang-layang di pangkuannya. Tangannya mulai membetulkan bagian tali yang kusut.
"Ini benangnya putus. Seperti biasa, kamu terlalu semangat menerbangkannya.
Jangan terburu-buru, Aerlene. Kalau kau tarik terlalu kuat... semuanya bisa rusak."
Aerlene tertawa lirih dalam tangisnya yang mereda. Ia menghapus air matanya lagi, kali ini dengan kedua tangan, seolah ingin benar-benar terlihat baik di hadapan ayahnya.
"Aku ingin bercerita banyak sekali, Ayah... Banyak sekali."
"Hidup... terasa berat. Belakangan ini, semuanya terlalu tidak masuk akal.
Aku bahkan beberapa kali hampir menyerah..." adu Aerlene bersemangat mengambil posisi duduk di samping Ayahnya.
Ayahnya diam lama. Angin bertiup pelan di antara dahan maple, menjatuhkan beberapa daun ke tanah, membentuk lingkaran sunyi di sekeliling mereka. Hatinya terasa dikejutkan oleh sikap putri semata wayangnya yang kini berbicara seolah seperti orang dewasa di tubuh mungil itu.
"Ya... Takdir memang tak selalu sejalan dengan harapan kita. Wajar jika kini putri kecilku merasa lelah dan kecewa," gumamnya, nyaris seperti bicara pada diri sendiri.
Ia menatap wajah Aerlene dalam-dalam. Tak ada senyum. Tapi juga tak ada kemarahan.
"Kalau hidup ini hanya tentang memenuhi harapan... mungkin aku sudah marah pada takdir karena membuatmu harus melalui semua itu—Sendiri."
Aerlene menarik napas. Suaranya tercekat, tapi senyum sendu menyelinap dari wajahnya. Lirih. Hangat. Rapuh. Suara itu. Terlalu nyata. Namun ia tahu. Ini semua bukan kenyataan.
Ayahnya sudah lama meninggalkannya.
Lalu dirinya... tak pernah lagi benar-benar bisa mendengar suara itu, sejak malam ketika kecelakaan itu mengambil bukan hanya ayahnya—tetapi juga separuh dunia yang dapat didengarnya.
Tapi saat ini, di sini... suara itu kembali. Penuh. Tanpa cela.
Ia memejamkan mata, membiarkan satu kalimat lolos dari hatinya.
"Ayah... Andai kamu bisa tinggal bersamaku dan Mama lebih lama..."
Tak ada yang bisa menahan keinginan itu. Tak ada dinding yang cukup kuat untuk menahan luka itu menyelinap ke dalam suara.
"Tentu aku bisa, memangnya apa juga yang membuat diriku harus buru-buru pergi?" Tangan ayahnya menyandarkan layang-layang yang sudah berhasil disatukan kembali ikatannya itu ke tanah. Lalu menyandarkan punggungnya ke batang pohon maple di belakangnya.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita beristirahat sejenak di bawah pohon rindang ini, hari masih pagi tapi putriku sudah tampak sangat lelah," ajak ayahnya sambil menepuk bahu, memberi sinyal pada Aerlene untuk bersandar padanya.
Aerlene tak sanggup untuk menolaknya. Ia segera duduk di samping ayahnya, menyandarkan kepala pada bahu lebar yang begitu dikenalnya. Rangkulan hangat dan kecupan di atas kepalanya membawa ketenangan asing yang menenangkan. Kelopak matanya mulai berat, seolah ada beban tak kasatmata yang menggantung di sana.
"Tidak apa-apa, Aerlene, terkadang yang kita butuhkan hanya tertidur sejenak..." bisik ayahnya.
Lalu perlahan, semuanya menghitam saat angin sepoi-sepoi membelai ringan matanya yang mengantuk.