╔══ ≪ °❈° ≫ ══╗
Udara terasa begitu menghimpit. Lampu-lampu berkedip sesaat seperti sedang menyipitkan mata, menjatuhkan bayangan membuat semua wajah tampak seperti siluet untuk beberapa detik.
Mata hijau-kecokelatan itu kembali melemparkan pandangan yang penuh arti pada Shansa dan Murnau. Pernyataan Aerlene yang memberikan tekanan telah menghasilkan kebekuan yang penuh arti, seakan dinding pada ruangan yang remang ini menciut, menyempit.
"Seorang pria?" Mata Murnau menyipit. Kulitnya berkerut dan mengumpul ke bagian tengah kening. Ia mengarahkan tatapannya pada Shansa.
Shansa terdiam sejenak, menatap Aerlene dengan intensitas yang tertahan sebelum akhirnya mengembuskan napas pendek. Ia menggeleng pelan.
Shansa mengalihkan pandangannya sesaat sebelum kembali menatap Aerlene. "Belum tentu," ujarnya tenang, meski ada keraguan samar yang nyaris tak terlihat di balik sorot matanya.
"Alam bawah sadar tidak selalu meminjam wajah yang pernah kita kenal. Kadang ia merangkai simbol, ketakutan, harapan, bahkan fragmen kenangan menjadi sosok yang terasa nyata. Terlebih dalam kondisi mental dan spiritualmu saat ini, batas antara memori, mimpi, dan pesan dari sesuatu yang lain tidak selalu mudah dibedakan."
Shansa berusaha memegang tangan Aerlene, tapi Aerlene melepasnya, guratan kecewa tampak di air wajahnya.
"Bukankah sudah kubilang, kali ini bukan ilusi, aku tidak mungkin terbangun di sini bersama kalian, kalau aku tidak belajar apa-apa dari pelatihan mental itu," tegas Aerlene.
"Aku mengerti, banyak hal yang tidak kupahami sebelum tiba di Eirenhust—mengenai dunia di balik tirai yang kalian ketahui, tapi kalian juga bisa melihat, aku selalu berusaha memahami pengetahuan baru itu—memahami kalian."
Kata-kata itu meluncur bebas begitu saja, sampai rasa panas tiba-tiba terasa menyengat di sekitar dadanya.
Awalnya Aerlene pikir itu karena ia merasa kesal, sampai pada akhirnya rasa panas itu semakin menjalar—seperti akar merambat. Meninggalkan rasa kelu pada kulitnya. Tidak butuh waktu lama sampai Aerlene buru-buru menarik ke atas sweater merah yang dikenakannya. Melepasnya dan memperlihatkan kaus hitam berpotongan kerah V di baliknya.
Ia hanya melemparkan tatapan cemas, ketika mendaratkan matanya pada Shansa yang melemparkan tatapan penuh tanda tanya pada Dokter Murnau.
Di sekitar dadanya yang melintang dari kanan ke kiri, sebuah guratan terukir seperti pola asap yang memilin, layaknya garis-garis halus dan bergelombang, seperti sulur-sulur berwarna kemerahan samar yang saling berkaitan.
Mata Murnau membelalak, dia segera bangkit dari meja kayu tempatnya duduk dan melangkah dengan terburu-buru menghampiri Aerlene.
"Aerlene..." Mata biru es Shansa bergantian melihat bekas guratan itu, serta Murnau yang berjalan cepat melewatinya menghampiri Aerlene.
"Sekarang, jelaskan padaku perwujudan seperti apa yang ditunjukkan Pria asing ini." Murnau meremas kedua bahu Aerlene, matanya mendesak jawaban secepatnya, membuat ia tertegun dengan perubahan sikap mendadak yang ditunjukkan Murnau.
"Pria itu tampak berusia tiga puluhan, rambutnya antara cokelat dan hitam, dengan mata kehijauan yang menyala terang, keseluruhan ia tampak normal, Namun ada sesuatu yang membuat perasaanku sangat tidak nyaman saat melihatnya. Ada yang tidak wajar."
Aerlene terdiam sejenak, berusaha mencari padanan kata yang tepat, "Yang agak ganjil sebelumnya dia berwujud sama persis dengan bentuk ketakutan yang hampir saja berhasil mengambil alih kesadaranku. Sebuah gumpalan cair hitam pekat dengan asap menguar di sekitarnya," jawab Aerlene.
Murnau terdiam. Sejenak terdengar gemertak tajam dari rahangnya. Dia membalikkan badannya.
"Shansa, kawanku... aku meminta tolong ambilkan secepat mungkin eliksir berwarna hijau di ruang bekas penyimpanan obat." pinta Murnau.
Shansa hanya melihat dengan raut kecemasan sebentar, tapi dia tidak melayangkan pertanyaan apapun. Seperti desisan angin yang melewati celah sempit, ia bergerak. Bukan suara langkah melainkan tertarik dan memanjang seperti coretan cahaya. Tubuhnya menjadi kabur, bukan karena pandangan yang buram, melainkan karena ia bergetar pada frekuensi yang sama dengan udara.
Dalam waktu satu kejapan mata saja. Shansa kembali membawa botol kecil berleher ramping yang menahan cairan hijau zamrud yang berkilauan di dalamnya. Menunjukkannya tepat di depan jarak pandang Aerlene.
"Aerlene, cepat kau minum itu—jangan kau sisakan setetes pun!" pinta Murnau.
Aerlene sempat ingin bertanya, mengapa dia harus melakukannya, tapi tatapan Murnau seakan tidak memberikannya cela keraguan. Tangannya membuka tutup botol kristal yang menghasilkan bunyi berdenting yang menggema di ruangan itu. Dalam waktu singkat, ditengguknya cairan hijau di dalamnya.
Rasa getir bercampur sedikit asam yang menggigit memenuhi lidahnya. Namun setelah cairan itu melewati tenggorokannya. Sensasi menggelitik serta dingin seperti ditempelkan es batu, menyebar di seluruh kulit tubuhnya. Detak jantungnya tiba-tiba melambat dan perlahan bekas guratan merah di dadanya yang tadi menjalar. Seakan di tarik mundur dengan berpusat pada satu titik di tengah dadanya, sebelum titik merah itu lenyap tak berbekas.
"Aerlene, ini akan membantu menyembunyikanmu dari radar makhluk itu untuk sementara, memberikan kita sedikit waktu tambahan untukmu agar sempat menguasai Anima Ascende, sebisa mungkin lebih cepat dari waktu yang sudah kita rencanakan sebelumnya," jelas Murnau.
"Apa sih yang sebenarnya berusaha kau sampaikan Murnau?" desak Shansa yang menatap wajah pelik Murnau.
Aerlene bergantian memandangi wajah Shansa dan Murnau yang saling bertatapan dengan penuh keheningan.
"Shansa, masalahnya bekas guratan itu... Aku pernah melihatnya pada salah satu penjelasan dalam jalinan perkamen demonologi rahasia, yang bahkan lebih tua dari karangan milik Raja James I dari Inggris sendiri." Murnau membuka kalimatnya, ada nada bergetar tak biasa yang tak pernah didengar Aerlene dari Dokter kejiwaan yang tua itu.
Aerlene tidak mengerti apa yang coba dikatakan Murnau dan kaitannya dengan guratan yang baru saja menghilang dari kulitnya. Matanya mencari jawaban pada Shansa berharap mendapatkannya, namun kali ini dia melihat raut kebingungan yang sama pada wajah Iyrin itu.
"Perkamen itu ditulis dari abad kegelapan, cerita rakyat tentang tiga wanita misterius yang berhasil membangkitkan seorang Dewa kuno—Malaikat pemurah ke bumi ini, dengan sihir paling kelam yang sudah terlupakan. Konon dia bisa mengabulkan segala doa yang meminta pertolongannya dalam waktu singkat."
"Tiga wanita tersebut menjadi bukti nyata bagaimana bersekutu dengan makhluk itu, bisa memberikan kejayaan, bahkan di era terkelam sekalipun. Sampai akhirnya, berita mengenai sekte wanita itu terendus otoritas kekhudusan. Menyebabkan kehidupan ketiga wanita itu berakhir dengan cara yang tak kalah gelapnya. Kematian mereka dijadikan sebagai contoh sekaligus peringatan keras untuk beberapa abad setelahnya."
Murnau melemparkan pandangannya pada lantai keramik yang beberapa bagiannya retak. Terkadang celah retakan itu, tampak serupa anak ular berwarna hitam, seolah berjalan meliuk di bawah kaki mereka.