Iyrin: Di Balik Sayap Dan Bisikan

Elin H. Marlene
Chapter #18

Bagian 17: Veledar

┌──────═━┈┈━═──────┐



Malam itu, saat Aerlene baru saja berusaha menenangkan diri dari bisikan mimpi yang mengganggu realitasnya, di sisi lain gedung di sayap timur Eirenhust, Dokter Octavianus Murnau melangkah perlahan menuju sebuah pintu yang tersembunyi di antara koridor terbuka yang berkelok-kelok. Kerudung purnama yang sama menyelimuti sosoknya yang tegak, membiaskan bayangan panjang di tanah yang dingin.


Sisi terujung bangunan itu adalah tempat yang jarang ia sambangi sejak ia menanggalkan jubah masa lalunya, semenjak ia berhenti dari praktik-praktik terlarang yang telah turun-temurun dilakukan garis keluarganya, melanggar siklus alami hidup dan mati para pasien—bermain-main dengan apa yang seharusnya beristirahat damai.


Dulu, di masa mudanya, ia ditarik oleh kehausan akan pengetahuan absolut, kekuatan yang bisa membengkokkan realitas, dan rahasia di balik tabir kematian. Ambisi yang sama gelapnya seperti bayangan 'Yang Terjatuh' itu, telah mendorongnya melampaui batas kemanusiaan, dengan janji kendali atas jiwa dan takdir.


Setiap langkah Murnau ditemani jalur setapak yang dahulu rapi, namun kini tertutup lumut hijau kelabu dan debu usia. Saat akhirnya kakinya melangkah masuk ke dalam tangga terakhir bangunan tersebut, kegelapan mendadak memenuhi penglihatannya. Lampu neon yang redup serta cahaya sinar bulan, yang menembus dari deretan ventilasi kaca yang berdebu, adalah sumber utama penerangan di bangunan yang ditinggalkan itu.


Langkahnya menggema di koridor yang hening. Udara yang dihirupnya berbau karat dan kelembapan yang terkunci selama puluhan tahun, aroma yang tak asing baginya. Sampai akhirnya Murnau berhenti di depan sebuah pintu kayu tinggi besar tanpa gagang.


Pintu kayu besar tersebut dilapisi teralis besi yang berkarat. Di sampingnya, menempel pada dinding batu yang kusam, sebuah jam dinding antik berukuran sedang, dari kayu eboni gelap- bertengger kokoh.


Permukaannya diukir rumit dengan simbol-simbol kuno mirip bahasa Aramaik yang kini hanya dikenali oleh para sarjana kegelapan seperti dirinya. Jarum jamnya, beku di angka tertentu, dipenuhi debu tebal.


Dengan gerakan yang presisi, Murnau mengangkat tangannya. Jari-jarinya yang panjang dan keriput, meraih jarum jam misterius itu. Dengan cekatan Ia memutar jarum itu secara manual, dengan pola kombinasi yang cukup rumit, seakan memasukkan kode brankas, hingga berhenti pada satu nomor terakhir. Saat jarumnya berhenti, perlahan sebuah mekanisme internal berdecit pelan.


Tiba-tiba, dari balik pintu kecil yang tersembunyi pada bagian atas jam-seekor miniatur burung gagak berukir kayu meluncur keluar. Matanya yang gelap memancarkan kilau aneh saat ia bergerak maju, lalu dengan paruh kecilnya, burung itu berkek nyaring, memecah keheningan yang tebal.


Seketika, diiringi suara gerungan rendah dan berat dari dalam tembok, pintu kayu yang dilapisi teralis besi di depannya bergeser terbuka, menampakkan kegelapan yang lebih pekat di baliknya. Jam itu bukan sekadar penunjuk waktu, ia adalah penjaga rahasia, mekanisme tersembunyi bagaimana pintu ruangan Bayt al-Ruh bisa ditemukan.


Di sinilah, dahulu, ia menyembunyikan manuskrip-manuskrip rahasia yang ia curi dari bayang-bayang dunia. Atas suruhan Kakek kemudian Ayahnya—fragmen kebenaran yang tak pernah ditulis untuk mata manusia dan lebih baik menjadi rahasia abadi atau musnah sekalian.


Ia mencabik lembar-lembar alkimia dari berbagai biara sunyi dan perpustakaan universitas-universitas tertua di Eropa Tengah, yang diyakini memiliki resep ramuan kehidupan abadi yang dapat menyembuhkan semua penyakit dan memperpanjang hidup.


Namun yang tak kalah gelap, ia pungut dari tanah-tanah Timur.


Dari lembah Nil yang misterius, Mesir, ia membawa gulungan papirus hitam yang menyimpan mantra pemanggil arwah dan pola sangkar gaib untuk menawan jiwa. Dari abu reruntuhan Perpustakaan Ashurbanipal di Nineveh, yang kini terkubur di tanah perang Mosul, ia mencuri prasasti tanah liat, terukir rahasia tentang penciptaan dan kehancuran esensi jiwa manusia. Belum lagi menyelundupkan kodeks-kodeks berdarah dari rak tersembunyi Perpustakaan Süleymaniye di Turki, kitab-kitab rahasia yang menuliskan fatwa terlarang tentang persekutuan antara yang fana dan yang gaib.


Mengambil catatan-catatan tentang komunikasi dan kendali atas jiwa: dari ajaran-ajaran tersembunyi di kuil kuno di Jepang, ia mempelajari doktrin rahasia tentang Yūrei, jiwa-jiwa gelisah yang hanya tunduk pada penderitaan terdalam.


Dari India, ia mencuri tafsir-tafsir upanishad hitam, yang memutarbalikkan energi astral menjadi rantai bagi makhluk yang tersesat. Hingga risalah-risalah kuno dari Indonesia, yang terinspirasi dari ritual-ritual tak biasa seperti Ma'nene suku Toraja, di mana bukan sekadar menghormati. Dia belajar memanipulasi garis batas tipis antara hidup dan mati, bahkan menggerakkan yang telah tiada.


Saat Murnau melangkah masuk, riak keberadaannya membangunkan lentera-lentera kaca yang tergantung di langit-langit Bayt al-Ruh. Satu per satu menyala, menyebarkan cahaya kebiruan yang dingin dan lembut, bukan dari api, melainkan dari ramuan alkimia yang pernah sedikit dipelajarinya, lumut bercahaya, serbuk permata, dan air yang dimodifikasi dengan senyawa tertentu.


Tak ada saklar, hanya kepekaan pada gerakan dan kehadiran manusia yang memicu reaksi senyap di dalam cairan. Cahaya itu mengungkapkan rak besi berdebu dengan toples berisi sisa jaringan makhluk aneh, dan kursi eksperimen yang diikat rantai perak. Seakan tempat ini bukan hanya ruangan... tapi makhluk tua yang baru saja membuka matanya.


Murnau mengamati sekeliling lebih jauh. 


Lihat selengkapnya