Iyrin: Di Balik Sayap Dan Bisikan

Elin H. Marlene
Chapter #19

Bagian 18: Anima Ascende

┏━━━✦❘༻༺❘✦━━━┓


Derai hujan membasahi bangunan Eirenhust sejak fajar menyingsing. Dalam koridor panjang rumah sakit jiwa yang berbau campuran obat penenang dan disinfektan, beberapa perawat bergerak cepat namun teratur menjalankan tugas pagi mereka. Seorang perawat pria memeriksa tensi dan kondisi fisik pasien, sementara seorang perawat lain merapikan tempat tidur yang dipenuhi selimut kusut akibat pasien gelisah semalaman.


Pada ujung lorong berceruk, dua perawat lain mengawasi sesi terapi seni di ruang aktivitas, mereka mengatur kertas dan pensil warna sambil mengawasi gerak-gerik pasien yang kadang tiba-tiba tertawa atau menangis. Ritme kerja mereka tampak rutin, namun setiap langkah diwarnai kewaspadaan menghadapi kemungkinan ledakan emosi yang tak terduga.


Aerlene terdiam sebentar mengamati dari daun pintu. Suara gesekan antara pensil dan kertas. Suara serutan dari serat kayu yang dikupas pisau rautan langsung mengantarkannya pada kenangan lampau di sekolah. Rasanya tetap aneh dan sulit dijelaskan. Ingatan itu menari di tepi kesadaran, melayang jauh, seperti asap yang sudah lama lenyap namun baunya masih melekat. Mengantarnya kembali pada era ketika semuanya terasa jauh lebih sederhana.


Tiga hari berlalu sejak dia menyelesaikan latihan mentalnya. Dia mulai merasakan ada yang berubah dari dirinya, sejak malam itu-di ruang hipnosis yang bercahaya remang. Hari ini waktunya ia berpuasa untuk syarat mempertahankan kekuatan fisiknya yang didapatkan dengan keringat dan air mata.


Pagi ini, tidak seperti biasanya. Dia sedikit merasa penasaran, lalu iseng mencoba menggores telapak tangannya dengan ujung gunting yang tajam, seolah ingin memastikan kalau dia tidak sedang bermimpi. Ajaibnya hanya bekas guratan putih di sana, tidak ada luka. Seakan tubuhnya seperti cangkang yang tidak bisa ditembus benda tajam.


Beberapa malam ini dia berusaha setengah mati untuk tidur, agar tubuh dan mentalnya siap untuk pelatihan terakhir, puncak dari segala jerih payahnya. Sayangnya usaha itu tidak terlalu berguna, mengingat di luar sana ibunya bisa jadi dalam bahaya karena jalan yang ditempuhnya.


Dia sempat mencoba peruntungannya dengan menanyakan apa dia bisa keluar dari Eirenhust sejenak untuk mengecek keberadaan ibunya, yang langsung ditolak mentah-mentah Dokter Murnau, juga peringatan keras dari Shansa. 


Keduanya kompak mengatakan jika Aerlene nekat keluar dari radius perbukitan Eirenhust yang dipagari dengan doa dan ritual khusus, itu sama saja dengan ia langsung terjun bebas dan masuk ke dalam perangkap yang sudah dipersiapkan Yang Terjatuh, melalui para pembual. Seperti pria di malam ujian pelatihan mentalnya itu.


Para pengumpul juga pasti menunggu saat jiwanya kembali terdeteksi. Agar mereka bisa menyelesaikan tugas dari dekrit kematiannya sebagai jiwa terkutuk penghuni neraka.


Aerlene sempat bertanya mengenai rahasia para pasien di Eirenhust tidak ada satu pun yang dilacak dan diburu oleh Pengumpul. Sampai akhirnya dia menyadari lebih dalam, bahwa Eirenhust begitu luar biasa.


Selain memiliki sistem pagar gaib yang disinggung Murnau di awal perkenalan mereka yang rumit. Gerbang rumah sakit jiwa ini hanya terbuka untuk jiwa-jiwa murni yang tersakiti oleh gesekan kosmik. Jadi kalau tiba waktu buku perjalanan mereka menemui babak akhirnya. Hanya para pengawas merekalah yang mengantarkan mereka menyeberang ke dunia arwah dengan damai.


Para pengawas tidak terprogram untuk mencampuri urusan manusia selain tugasnya. Untuk sementara, Aerlene merasa bisa bernapas lega.


Ia penasaran seperti apa wujud pengawasnya, tapi Shansa selalu menghindari topik itu dan Aerlene sebenarnya juga tidak begitu peduli. Toh para pengawas juga tidak bisa apa-apa selain menjadi jurnal pencatat kehidupannya-sebuah CCTV semesta pasif yang menghakimi diam-diam. Walau terkadang dia agak merasa kasihan pada pengawasnya di atas sana yang pasti kerepotan karena jalur hidupnya penuh liku.


Aerlene merogoh ke dalam saku mantel beludrunya yang berwarna hijau tua dan menemukan koin dinarnya. Ia memutar koin itu dan melihat kedua sisinya. Seperti dua sisi dalam satu koin, ia merasa jalan apa pun yang dia akan ambil selalu tidak bisa diprediksi akan mengantarkannya ke sisi mana.


Kau sudah terjun terlalu dalam, tidak ada cara lain selain terus lanjut menyelam.


Kepalanya menoleh ke belakang saat sebuah tangan dingin mendarat di pundaknya.


"Nona Aerlene, kau baik-baik saja? Apa ada yang membebani pikiranmu?"


Pandangannya mendarat pada wanita bertubuh jangkung dan bermata russet itu-Sylvia. Penolongnya ketika insiden ranting pohon jatuh hampir menimpanya di taman rumah sakit waktu itu.


"Sebenarnya Sylvia, aku bingung harus menjawab apa? Aku ingin percaya bahwa semuanya baik-baik saja, tapi di sisi lain, aku tidak yakin bisa leluasa mengatakan kalau aku ragu akan hal itu. Ini melelahkan, kamu paham maksudku, kan?" ungkap Aerlene, sembari melemparkan kembali pandangannya pada para pasien yang sedang menggambar.


Sylvia tersenyum, matanya sedikit menyipit dengan kerutan tipis tiga garis di sudutnya. "Begitulah Eirenhust, Nona. Perasaan bisa datang dan pergi seperti hujan di luar. Yang penting, apa ada sesuatu di luar yang bisa membuatmu merasa sedikit lebih baik? Atau sebenarnya kau sudah tahu kalau jawaban sebenarnya berada tepat di dalam pikiranmu kini?"


Sylvia mengarahkan pandangannya pada hujan yang tampak dari balik kaca jendela yang berada tak jauh dari mereka.


"Setelah puluhan tahun bekerja di tempat seperti ini, sebelum berada di Eirenhust selama satu dekade terakhir, aku sadar satu hal: saran terbaik adalah melepaskan keinginan mengendalikan segalanya. Sebab, satu-satunya kepastian yang ada di dunia adalah ketidakpastian itu sendiri. Tugas kita hanya beradaptasi, bukan memprediksi."


Sylvia sedikit menundukkan tubuh jangkungnya untuk setara dengan jarak pandang mata Aerlene.


"Tapi Sylvia, bagaimana jika aku salah melangkah, atau mengambil pilihan? Aku tetap takut dengan besarnya kemungkinan, kalau aku tidak akan berhenti menyalahkan diriku atas pilihan gegabah itu," pungkas Aerlene, menatap koin dinar di telapak tangannya.


"Ingat, terlepas dari apa alasanmu berada di Eirenhust, jangan pernah lupa, kau masih hidup dan sehat Nona Aerlene. Jangan biarkan ketidakpastian takdir merenggut rasa syukurmu! Ada banyak hal menantimu di luar sana. Terkadang, menerima apa adanya bagaimana kehidupan seringkali memberi kejutan tak terduga, adalah cara terbaik untuk membuka jalan baru. Kau hanya perlu menyisakan ruang untuk memaafkan, jika hasilnya tidak selalu sesuai harapan."


Sylvia meremas bahu Aerlene, sebelum memeluknya lembut, membuat Aerlene terhenyak beberapa saat sebelum memutuskan membalas balik pelukan itu.


"Terima kasih Sylvia," ucapnya dengan lirih sebelum melepas pelukan singkat itu.


"Tidak masalah." Sylvia tersenyum.


"Ku harap, kau tidak memandang Eirenhust seperti teralis pengekangmu, melainkan terminal untuk menunggu kereta yang akan membawamu tepat sampai tujuan." Sylvia meremas telapak tangan Aerlene yang memutih.


"Sylvia, apa kau sudah selesai di sana? Aku butuh bantuanmu di ruang terapi aktivitas"


Terdengar suara berat yang menggema tidak jauh dari ujung lorong.


"Tunggu, aku akan segera menyusul kesana," balas Sylvia dengan nada yang cukup lantang.


"Maaf aku harus kembali mengecek kondisi beberapa pasien sekarang. Apa pun yang terjadi nona, semoga jalanmu selalu dilindungi." Sylvia melepaskan genggaman tangannya dan beranjak pergi membelakangi Aerlene.


Dan ketika gema langkah Sylvia lenyap di ujung lorong yang bercabang, tak ada lagi jalan mundur menuju kedalaman Bayt al-Ruh.


...


Aerlene berjalan menyusuri koridor, langkah kakinya terasa berat, bukan karena lelah fisik, melainkan beban dari segala pengetahuan dan kemungkinan baru yang akan terhampar di hadapannya. Setiap bayangan yang tercipta dari cahaya lampu neon di dinding terasa seperti tangan-tangan panjang yang mencoba meraihnya.


Dokter Murnau sudah menunggu di ambang pintu kayu berteralis besi, sosoknya tegak dan dingin, siluetnya memanjang di bawah cahaya bulan sabit yang samar menembus celah jendela. Di sampingnya, Shansa tampak lebih nyata malam ini, matanya memancarkan kilauan perak kebiruan yang mengalahkan kegelapan.


Udara di sekitar mereka terasa berbeda, lebih basah, tua, layaknya aroma tanah dari makam lama yang dibongkar. Bangunan tua di sayap timur Eirenhust itu, kini menjelma menjadi lebih dingin dan mengintimidasi dibanding malam-malam sebelumnya.


Dengan gerakan setenang bayangan, Murnau mengangkat tangannya. Jemari panjangnya menyentuh jarum jam yang ganjil di sebelah pintu kayu berteralis besi itu. Ia memutarnya dengan cekatan, mengikuti pola putaran yang rumit dan terbolak-balik, bagaikan merangkai mantra tersembunyi atau membuka kunci peti purbakala. Putaran itu berhenti pada angka terakhir.


Jarum pendek di angka tiga dan jarum panjang di angka delapan.


Decitan lirih menguar dari jam antik itu. Melalui pintu mungil yang tersembunyi di puncak jam, meluncur seekor gagak kayu mini, diukir dengan detail menyeramkan. Sepasang matanya yang legam memancarkan kilau kebiruan yang ganjil.


Ia bergerak maju, dan dengan paruh kecilnya, gagak itu berkek keras-suara nyaring yang merobek keheningan, seakan memanggil sesuatu dari balik kegelapan atau malah memberikan peringatan kepada mereka.


Pintu kayu berteralis itu berderu keras setelah kekan gagak berhenti. Dari celah-celah besi berkarat, udara dingin menyusup keluar. Menghembuskan napas ruang bawah tanah yang seperti tak pernah mengenal matahari. Aroma logam tua, abu dupa, dan sesuatu yang lebih samar seperti bunga mati yang direndam air hujan-langsung memenuhi indera Aerlene.


Pintu itu terangkat dan diikuti oleh suara gerungan rendah yang memperlihatkan kegelapan tak berujung.


"Masuklah," ujar Murnau pendek.


Aerlene sempat menelan ludah tapi dia maju tanpa ragu. Anehnya tulangnya mendadak kelu, karena suhu tubuhnya turun cepat beberapa derajat.


Mendengar langkah kaki manusia yang bergema sontak membangunkan Bayt al-Ruh. Lentera-lentera kaca di langit bebatuan mulai menyala satu demi satu, memercikkan cahaya kebiruan redup yang dingin. Namun cukup untuk memperlihatkan lorong dengan tangga menurun dari batu basal yang semula diliputi kegelapan.


Murnau dan Shansa mengikuti dari belakang. Baru beberapa langkah menuruni lorong itu, Murnau bersiul pelan dengan nada pendek yang terdengar asing-nyaris seperti mantra. Seketika pintu teralis berkarat itu menutup di belakang mereka semua dengan lenguh besi yang lirih.


Langkah mereka bergema hati-hati di antara dinding batu lembap, seolah setiap pijakan tengah diperhitungkan agar tidak membangunkan sesuatu yang bersembunyi di kedalaman. Hingga akhirnya mereka berhenti pada sebuah ceruk besar yang menyambut di ujung anak tangga terakhir.


Dada Aerlene mengencang perlahan.


Di hadapannya berdiri sebuah pintu ek tua yang melengkung di lantai paling dasar. Tampak besar dan usang, seperti gerbang menuju dunia bawah. Pada sisi kanannya terukir seekor gagak dengan mata cekung yang seolah mengawasi setiap tarikan napas, sementara di sisi kirinya terpatri lingkar halo matahari yang retak dimakan usia.


Murnau melangkah maju lalu berdiri tepat di tengah pintu itu. Dengan gerakan tangan yang teatrikal dan nyaris mengejek, ia memutar pergelangannya pelan sebelum membungkuk tipis.


"Akhirnya Nona Aerlene, selamat datang di Bayt al-Ruh..."


Senyum tipis melengkung di wajahnya sebelum kedua tangannya mendorong daun pintu berat itu. Suara gesekan kayu tua menggema panjang di atas lantai batu.


Kumpulan rak buku tinggi menjulang bagai dinding mausoleum kuno, berbaris panjang dalam keheningan. Botol-botol kaca berisi cairan keruh berkilau redup di balik cahaya temaram. Gulungan perkamen tua ditumpuk bersama tulang-tulang kecil yang tak dikenal jenisnya. Di sudut lain, kursi besi dengan rantai perak tampak membisu di bawah debu usia.


Mata hazelnya berhenti tepat di tengah ruangan.


Sebuah simbol spiral raksasa terukir di lantai batu. Rumit, melingkar, membentuk pola geometri yang mengingatkan Aerlene pada gambaran mengenai labirin Knossos itu sendiri.


Tepat di pusat labirin spiral yang terpahat dalam di lantai batu, sebuah ranjang besi tua yang kaku berdiri di bawah siraman lentera berwarna biru sedingin es. Di atasnya menggantung megah sebuah alat logam besar antik menyerupai astrolab tua dengan rangkaian cincin perak yang saling bertumpuk beserta jarum-jarum keemasan.


"Bayt al-Ruh tidak dibangun untuk manusia biasa," ujar Murnau akhirnya, memecah sunyi. Suaranya datar, namun gema di ruangan bawah tanah itu membuat setiap katanya terdengar lebih berat.


"Dan apa yang akan kau pelajari malam ini... seharusnya tidak boleh diketahui manusia."


Aerlene tidak menoleh.


Sejak percakapan tentang Veledar dan masa lalu Murnau, ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya. Sebuah retakan tipis yang membuatnya lebih berhati-hati dibanding sebelumnya. Bahkan dengan Shansa.


Ia masih mengingat lelaki tua itu pernah menjadi bagian dari sesuatu yang begitu kelam. Seseorang yang mempelajari cara membengkokkan batas hidup dan mati.


Dan kini orang yang sama akan mengajarinya melintasi batas jiwa. Ironis sekali.


"Tidak perlu ragu, aku tidak peduli apa pun risikonya, semua siap kuterima" ucap Aerlene akhirnya.


Suara gadis itu terdengar lebih dingin dari biasanya, bahkan membuat Shansa mengangkat pandangan.


"Aku hanya ingin tahu bagaimana cara menguasainya lebih cepat."

Lihat selengkapnya