Iyrin: Di Balik Sayap Dan Bisikan

Elin H. Marlene
Chapter #20

Bagian 19: Lorong-Lorong Yang Terjaga


┍━━☽【❖】☾━━┑


Lonceng perunggu di menara utama Eirenhust berdentang menembus kabut malam. Getarannya menyebar hingga ke bebatuan tua. Menjalari lorong-lorong lembap dan jendela-jendela berembun seperti denyut jantung yang dibangkitkan dari tidur panjang.


Dua belas kali.


Bagi raga yang terlelap, itu adalah penanda tengah malam. Namun bagi jiwa Aerlene yang kini berjalan tanpa raga, itu adalah alarm yang menghitung batas waktu perjalanannya. Tiga jam krusial sebelum pukul tiga dini hari tiba—saat ketika batas antara dunia hidup dan dunia arwah melebur sepenuhnya.


Di bawah langit mendung yang menggantung rendah, seluruh kompleks Eirenhust tampak berbeda jauh dibanding saat sinar hangat mentari masih membumbung. Wujud ruhnya berjalan beberapa senti di atas lantai batu halaman, ia bisa melihat bagaimana bangunan rumah sakit itu seakan bernapas di balik selubung perisai gaib transparan yang menyelimutinya.


Simbol-simbol kuno bergerak di permukaan kubah pelindung seperti urat cahaya yang hidup. Kemudian bisikan-bisikan asing terus berdesir di udara. Seperti ada sesuatu yang saling berbicara dalam bahasa yang tidak dibuat untuk telinga manusia.


Aerlene menelan ludah.


Suasana malam ini mengingatkannya pada kenangan mengenai Poe di malam pertama pelatihannya, saat si kucing hitam gempal itu, mendadak lompat seperti gumpalan bayangan hitam yang akan menyergapnya—membuat jantungnya seperti mau lepas.


Sebenarnya tanpa diminta pun Aerlene akan sukarela membantu para penghuni Eirenhust untuk mencarinya. Tapi karena malam ini pencarian Poe, berkaitan serius dengan keberhasilan pelatihan ritus pelintasan jiwanya. Aerlene tidak memiliki banyak waktu di sakunya.


Aerlene mencoba mengingat tempat-tempat yang sering disinggahi Poe. Lalu satu tempat terlintas di benaknya seperti kilat.


Poe selalu muncul di sana.


Mencuri potongan ikan dan sayap ayam. Tidur di dekat tungku hangat. Atau sekadar iseng mengganggu para juru masak hingga diusir dengan sapu.


Tempat pertama yang terlintas di kepalanya adalah dapur umum Eirenhust.


Dengan tubuh ruhnya yang sehalus sutra. Ia bergegas berjalan melayang. Menyusuri koridor samping rumah sakit. Anehnya langkahnya nyaris tidak menghasilkan suara sama sekali. Hanya gema samar dari kain mantel astralnya yang bergerak ringan diterpa udara malam. Lampu-lampu gantung di sepanjang lorong kini tampak lebih redup dibanding biasanya. Cahayanya berkedip pelan seperti sedang mengantuk.


Aerlene berhenti tepat di ambang pintu dapur dan tengkuknya menegang.


Cahaya bulan pucat yang masuk dari jendela tinggi hanya cukup untuk memperlihatkan siluet meja-meja kayu panjang dan gantungan alat masak yang bergoyang pelan tanpa angin. Panci-panci logam menggantung berjajar di atas kepalanya.


Permukaannya memantulkan cahaya remang yang tampak bergelombang dan meleleh, seperti puluhan wajah asing yang mengawasi. Aerlene tidak menyukai cara benda-benda itu memandanginya. Deretan pisau dapur di dinding berkilau dingin dan tajam. Jumlahnya terlalu banyak. Membuatnya merasa seperti sedang berdiri di dalam ruang pembedahan, bukan dapur.


Kriiieett...


Salah satu panci bergoyang pelan. Aerlene menoleh cepat namun semua tampak kosong. Hanya bayangannya sendiri yang tampak samar di permukaan logam kusam.


"Poe...?" panggilnya lirih.


Meong...


Aerlene tersentak. Suara itu terdengar tepat di dekat deretan rak cuci piring. Namun ketika ia mendekat, semua tampak kosong. Hanya ada keheningan yang mendengung. Halusinasi, batinnya, menyadari bahwa emosinya telah mempermainkan proyeksi jiwanya. Namun, sebelum ia berniat mengalihkan pandangan—tepat di bawah meja potong, pupil matanya menangkap sesuatu.


Di dekat kaki meja kayu besar, ada serat kain yang tampak tercabik. Aerlene mendekat perlahan. Tangannya mengambil secarik kain yang ujungnya robek dan benangnya terburai. Warnanya tampak seperti merahnya lidah.


Kain karpet merah dengan tepi keemasan dari wol dan tepat di sampingnya. Segumpal bulu hitam kecil. Matanya menyipit. Ia mengenali warna bulu itu—Poe. Namun bukan hanya itu. Di antara bulu-bulu hitam tersebut terdapat gumpalan cairan keruh yang sudah mengering seperti muntahan kucing.


Aerlene terdiam beberapa saat. Ia ingat pernah melihat karpet yang sama sebelumnya. Dan hanya ada satu ruangan di Eirenhust yang menggunakan karpet dengan pola seperti itu.


Ruang musik di sayap barat bangunan.


Ia segera berdiri lalu melayang keluar dari dapur, menyusuri koridor panjang menuju sayap barat bangunan utama. Semakin jauh ia berjalan, suasana Eirenhust terasa semakin berubah. Bisikan-bisikan samar makin jelas terdengar dari balik dinding. Kadang seperti suara pasien tertawa kecil. Kadang seperti seseorang menangis tertahan tepat di belakang telinganya. Namun setiap kali Aerlene menoleh, lorong itu tetap kosong melompong.


Akhirnya ia tiba di depan ruang musik. Pintu kayunya tampak sedikit terbuka. Membiaskan segaris cahaya remang di balik celahnya.


Aerlene mendorong pintu itu perlahan dan langsung disambut udara dingin bercampur aroma kayu tua serta debu lembaran partitur yang telah menguning dimakan usia. Ruangan itu jauh lebih besar dari yang diingatnya. Deretan alat musik berjajar diam dalam cahaya temaram seperti penghuni museum yang ditinggalkan. Biola tergantung di dinding dengan bayangan panjang menyerupai tubuh kecil tanpa kepala. Seruling-seruling perak tersusun rapi di lemari kaca. Sebuah harpa besar berdiri di sudut ruangan dengan senar keemasan.


Namun perhatian Aerlene segera tertarik pada piano hitam besar di tengah ruangan.


Piano itu tampak terlalu megah dibanding benda-benda lain di sekitarnya. Permukaannya memantulkan cahaya bulan yang membuatnya seperti bintang utama yang mendapatkan sorotan di tengah panggung drama. Begitu indah, hingga tanpa sadar membuat Aerlene bergerak mendekat. Jari-jarinya bergeser, menelusuri tekstur kayu eboni yang begitu halus.


Sebagai wujud ruh murni, ia tahu bahwa raga astralnya tidak memiliki massa fisik untuk menyentuh dunia fana. Namun, piano eboni tua ini berbeda. Kayu tuanya yang telah menyerap emosi ratusan manusia selama satu abad. Saat Aerlene memfokuskan niatnya. Udara di sela jarinya memadat. Menciptakan gelombang elektro-magnetik statis yang cukup untuk menggerakkan pasak mekanis di balik tuts.


Penutup tuts piano itu terbuka pelan hingga terdengar derit kayu tua yang lirih. Ia duduk di kursinya lalu menekan satu tuts putih dengan ujung jari.


Nada berdenting tunggal menggema lembut ke seluruh ruangan.


Ia mencoba lagi. Lalu satu nada lain memecah udara lebih dalam seperti benturan pedang tajam. Sebelum akhirnya ia mencoba memainkan satu lagu.


Nada-nada mengalir perlahan, lembut dan merangkul seperti menarik pendengarnya dalam labirin mimpi—Gnossienne.


BRAK!


Suara kursi tergeser keras dari luar ruangan membuat Aerlene tersentak hebat. Sorot senter kekuningan langsung menyapu masuk melalui pintu ruang musik.


Seorang perawat pria berdiri di ambang pintu dengan wajah lelah dan mata setengah mengantuk. Rambutnya acak-acakan seperti baru terbangun dari tidur singkat di ruang jaga malam. Sorot senternya berhenti tepat pada piano yang dia dengar masih berbunyi sendiri beberapa detik sebelumnya.


Pria itu membeku sebentar, sebelum menguap lebar dan menghela napas panjang.


Seluruh ototnya menegang. Memaksanya buru-buru bersembunyi di balik sisi piano besar. Napasnya memburu meski ia bahkan tidak yakin ruh benar-benar membutuhkan udara. Namun beberapa detik kemudian ia tersadar.


Tunggu. Dia 'kan tidak bisa melihatku.


Aerlene perlahan mematung canggung di sudut ruangan sebelum rasa malu kecil muncul di wajahnya sendiri.


Perawat itu mengumpat pelan, menurunkan senternya, lalu mengusap tengkuknya yang meremang.


"Sialan... kenapa hantu di tempat ini muncul satu jam lebih cepat sebelum jam tiga malam?" gumamnya jengkel.


Ia mengira itu hanya ulah salah satu arwah penunggu yang biasa menjahili Eirenhust, sebelum akhirnya berbalik dan menutup pintu dengan sedikit membanting. Cahaya senternya perlahan menghilang di balik lorong, dan untuk sekali lagi ruangan itu kembali dilingkupi keheningan.


Aerlene menghela napas lega, mencoba meredakan getaran energinya agar selaras kembali dengan Astrum Anima di bawah sana. Saat ia hendak keluar dari sudut ruangan, kakinya menginjak sesuatu yang lunak. Sebuah bola mainan bulu kecil.


"Ini salah satu mainan Poe, kenapa bisa ada di sini?" batinnya heran.


Aerlene memungutnya dengan teknik yang serupa saat ia bermain piano. Aneh. Bola bulu itu tidak berbau debu, melainkan menguarkan sensasi akar basah, lumut, juga kayu kering yang memberikan kesan lembut yang hangat—ciri khas aroma iris ungu yang pekat. Aroma yang langsung mengingatkannya pada rumah kaca di ujung paling selatan kompleks Eirenhust.


Kenapa Poe pergi sejauh itu?

Lihat selengkapnya