Iyrin: Di Balik Sayap Dan Bisikan

Elin H. Marlene
Chapter #21

Bagian 20 : Jiwa untuk jiwa

┍━━☽☽☽☽☽☽☽☽☽☽【❖】☾☾☾☾☾☾☾☾☾☾━━┑




Sialan, dia bisa melihatku!


Pikiran Aerlene memekik tajam. Tanpa sadar tubuhnya bergerak sendiri berbalik lari menuju tempat Poe terbaring, bermaksud membawa kabur kucing hitam itu secepat mungkin. Namun begitu tangannya terulur, ular besar hijau yang meliuk di sekitar Poe langsung mendesis kuat, membuka mulut. Memperlihatkan dua taring panjang dan runcing yang berkilauan seperti gading.


Aerlene tersentak mundur menghindar. Tetapi napasnya terhenti begitu ia merasakan punggungnya menyentuh dada bidang yang dingin di belakangnya. Ia segera mengangkat kedua tangannya untuk mendorong dada pria itu menjauh. Namun, yang terjadi selanjutnya justru membuat seluruh jalinan energinya membeku.


Jari-jari panjang yang putih dan dingin bergerak lebih cepat. Dengan gerakan yang tenang, menangkap kedua pergelangan tangan astral Aerlene.


"Kenapa terburu-buru sekali? Kalau dugaanku benar, mereka pasti memperingatkan makhluk seperti apa aku ini, bukankah begitu Aerlene Ray?"


Mulut Aerlene terkunci. Ia tidak mau menjawab pertanyaan itu.


"Tenang saja, kau bisa bicara bebas denganku, kawan-kawanmu tidak bisa menguping dan mendeteksi keberadaanmu di luar sini. Begitu kau menginjakkan kaki di hutan ini, kau telah secara sadar memilih masuk ke dalam realitasku. Artinya kita punya waktu beberapa saat untuk berbicara tanpa gangguan. Kau dan aku. "


Tangan pria itu bisa menyentuhnya. Bukan menembus seolah Aerlene adalah udara kosong, melainkan benar-benar mencengkeram esensi rohnya dengan genggaman yang terasa sedingin es, namun memiliki tekanan fisik yang mutlak menindas. Rasa takut yang murni seketika menjalar dari titik sentuhan itu.


"Ah, kurasa aku membuat suasana menjadi canggung. Perkenalkan, aku Gregori Wincefer. Mohon maaf atas reaksiku tadi. Setelah sekian lama menantikan kesempatan ini, akhirnya kita bisa bertemu secara langsung. Mungkin karena itulah aku menjadi sedikit terlalu bersemangat."


"Bagaimana mungkin... kau bisa menemukanku?" tukas Aerlene, suaranya parau dan bergetar hebat.


"Langsung ke intinya, ya?" Gregori tersenyum tipis.


"Baiklah, akan kuakui, menemukanmu bukan perkara mudah."


Ia mengangkat bahu ringan.


"Tapi bukankah kita cukup mirip? Sama-sama keras kepala saat mengejar sesuatu yang kita inginkan."


Tatapannya tertuju lurus pada Aerlene.


"Kalau kau bertanya bagaimana aku melakukannya, anggap saja aku memiliki caraku sendiri. Semuanya bermula dari orang-orang yang pernah bersinggungan denganmu. Aku menelusuri ingatan mereka melalui mimpi, menyusun potongan-potongan jejak yang kau tinggalkan, lalu membentuk gambaran tentang gadis seperti apa dirimu."


Senyumnya melemah menjadi ekspresi kagum.


"Dan sejujurnya, aku cukup terkejut. Kau sangat lihai menyembunyikan keberadaanmu. Kau berhasil hidup tanpa terlalu menarik perhatian. Bahkan jauh sebelum kau menghilang malam itu di Rumah Sakit Servershire. Padahal normalnya gadis seusiamu sangat suka berpikir dunia berpusat pada dirinya dan mempublikasikan semua kehidupannya di media sosial tanpa ragu."


Aerlene menelan ludah mendengar itu.


Gregori memicingkan matanya. "Sayangnya takdir memang suka bertaruh. Dan kebetulan, sekarang aku memegang kartu yang paling menarik, aku penasaran sejauh apa kau berani mempertaruhkan hidupmu? Jika milikmu yang paling berharga kini di bawah belas kasihku."


Pupil mata Aerlene langsung mengecil. Kengerian di wajahnya terpantul pada kedua bola mata hijau itu.


Sebuah wajah muncul di benaknya.


Mama!


"Tidak mungkin... jangan bilang... " ucap Aerlene terbata-bata.


Gregori tersenyum tipis saat melihat perubahan ekspresi itu. Jemarinya yang dingin masih mencengkeram kedua pergelangan tangan Aerlene dengan tenang. Menguncinya di atas dada bidangnya sendiri. Seolah menikmati bagaimana tubuh gadis itu menegang di bawah dekapannya.


"Jangan menatapku seperti itu," gumamnya pelan. "Dari awal, aku sama sekali tak tertarik melibatkannya kalau bukan karena kau sendiri yang memaksaku mengambil langkah drastis."


Aerlene langsung mengangkat wajah.


"Kau bohong!"


"Tidak." Mata hijau Gregori menatap lurus ke dalam pupilnya. "Kau tidak paham kalau aku satu-satunya yang mengerti derita apa yang disembunyikannya. Aku hanya mendorongnya berani untuk memilih realitanya sendiri. Terbukti sampai detik ini, Ia memilih bertahan dalam mimpi itu dan tidak mau melepaskannya."


Hati Aerlene terasa panas. Ia berontak kuat, tetapi genggaman Gregori tak bergeming sedikit pun.


"Kau makhluk bajingan..." umpat Aerlene dengan mata yang mulai berair. Gregori tetap tenang. Tidak marah. Tidak tersinggung. Ia hanya memandangnya dan itu membuat Aerlene sangat terganggu.


Angin malam berembus di antara pepohonan beech dan ek. Kabut bergerak perlahan mengitari kaki mereka seperti sesuatu yang hidup.


Gregori menunduk, menarik paksa tubuh Aerlene, memposisikan wajahnya berada tepat di atas bahu gadis itu. Ujung helaian rambutnya terbawa angin, jatuh menyapu pipi dan telinga Aerlene. Tercium aroma asing dari tubuh pria itu. Dingin. Basah. Seperti aroma tembakau mahal yang bercampur dengan wangi melati dan dedaunan basah setelah hujan.


"Coba pikirkan," ujarnya pelan. "Kalau Para Pengawas begitu mulia... Mengapa mereka tidak segera turun dari langit dan menyelamatkannya dari bajingan sepertiku?" kata-kata Gregori menghujam langsung ke dada Aerlene.


Aerlene tak sengaja menggigit bagian dalam pipinya hingga terasa nyeri.


Kabut di sekitar mereka terasa semakin dingin menusuk kulit.


"Mereka membesarkanmu dengan dongeng murahan. Pahlawan dan monster. Hitam dan putih." Alis dan sudut bibir Gregori terangkat


"Lucunya, pihak yang menulis dongeng itu selalu memastikan dirinya menjadi pahlawan dan kebanyakan dari kalian percaya begitu saja? Contohnya dirimu, alih-alih berbuat adil dengan mendengarkan dua sisi terlebih dahulu, kau malah langsung menjatuhkan vonis bersalah padaku."


"Jangan pernah samakan aku dengan makhluk sepertimu!" bentak Aerlene. "Apa yang kalian lakukan itu sungguh keji. Kalian tidak hanya ingin menghancurkan musuh-musuh kalian—kalian ingin menyeret seluruh dunia ikut jatuh bersama kalian. Membiarkan semuanya tenggelam dalam kehancuran, demi dendam masa lampau yang tak pernah selesai!"


Rasa jijik merambat dalam dirinya. Andaikan bisa, ia ingin meludahi wajah pria di sampingnya itu.


Gregori memundurkan wajahnya, lalu menatap wajah Aerlene sesaat. Menunjukkan wajah yang datar tanpa ekspresi.


Perlahan, jari-jari dingin Gregori mengendur dari pergelangan tangan Aerlene. Sentuhannya meluncur naik menyusuri lengan gadis itu hingga berhenti di kedua bahunya, ringan seperti belaian sutra. Namun kelembutan itu hanya berlangsung sesaat. Tanpa peringatan, jemarinya mencengkeram tengkuk dan leher Aerlene lalu menariknya mendekat. Jarak di antara mereka lenyap dalam sekejap, memaksa Aerlene menatap lurus ke dalam mata hijau yang menyala.


Aerlene terperanjat dan spontan melawan. Kedua tangannya mencengkeram pergelangan Gregori, berusaha melepaskan tekanan di lehernya. Namun jemari pria itu tetap kokoh di tempatnya, tak bergeming sedikit pun.


Gregori justru menatapnya lekat-lekat, seolah tak terusik oleh perlawanan itu. Pandangannya menyusuri wajah Aerlene dengan ketelitian yang nyaris membuat merinding—seperti seorang kolektor yang berhasil mendapatkan harta karun langka yang telah lama diincarnya.


"Pepatah tua berkata, musuh yang menyampaikan kebenaran walau menyakitkan jauh lebih berharga dibanding kebohongan yang diucapkan kawan demi rasa aman."


Gregori melepaskan leher Aerlene dan mendorongnya menjauh.


Aerlene terjatuh ke tanah, memegangi lehernya. Berusaha mengatur getaran tidak beraturan yang memukul dadanya.


Lalu dengan sangat tenang. Gregori melangkah santai menghampiri Poe yang mulai melenguh pelan di atas lumut. Ia mengulurkan tangannya ke bawah. "Kemari kawanku," bisik Gregori halus.


Ular viper hijau di samping Poe mendesis dengan irama bersemangat yang tak wajar. Dengan cepat seluruh tubuhnya bereaksi meliuk dan melilit di kaki Gregori. Merayap dengan cepat secara vertikal, memanjat naik di atas tubuh pria itu.


Cesssss.


Terdengar suara desisan asap seperti uap air panas. Mengerikannya sisik-sisik hijau yang berkilauan dari ular itu meleleh menjadi cairan sehitam obsidian lalu meresap melalui pori-pori kulit Gregori. Seakan keberadaannya hanya sekedar ilusi.


Gregori membungkuk rendah, lalu mengelus Poe yang masih tidur meringkuk.


"Aneh bukan?" gumamnya lirih. "Makhluk kecil ini sama sekali tidak takut padaku."


Aerlene menggertakkan gigi.


"Jangan sentuh dia."


"Kenapa?" Gregori memiringkan kepala. "Apa kau takut padaku... atau takut karena sebagian dirimu mulai percaya bahwa aku mungkin mengatakan yang sebenarnya?"


Gregori menurunkan pandangannya pada Poe sesaat sebelum kembali berbicara.


"Lucu sekali bagaimana manusia selalu percaya mereka berbeda dari kami." Suaranya tetap lembut, nyaris seperti sedang berbincang santai di ruang teh. "Kalian menyebut kami pembual. Pendosa. Makhluk yang tersesat dari jalan langit." Senyum tipis muncul di bibirnya. "Padahal perbedaannya hanya satu hal."


Ia mengangkat telunjuknya perlahan.


"Kalian belum dipaksa memilih."


Aerlene terdiam.


"Manusia selalu merasa dirinya baik selama hidup belum mengambil sesuatu yang paling mereka cintai." Mata Gregori menyipit samar. "Mereka memuja keadilan saat hidup berjalan sesuai harapan. Mereka bicara soal moral selama penderitaan belum mengetuk pintu rumah mereka sendiri."


Angin malam bertiup lebih dingin. Aerlene bangkit perlahan dengan lutut gemetar.


"Hentikan, aku tidak peduli omong kosongmu," gumam Aerlene.


"Benarkah?" Gregori tersenyum tipis lagi. Namun kali ini ada sesuatu yang lebih gelap di balik sorot matanya.


"Coba jawab aku dengan jujur." Suaranya tetap tenang. "Kalau para Pengawas datang padamu malam ini dan berkata bahwa takdir ibumu memang harus hancur... bahwa penderitaannya sudah tertulis jauh sebelum ia dilahirkan..." Ia berhenti tepat di depan Aerlene. "Bisakah kau menerimanya?"


Aerlene membuka mulutnya, namun tidak ada jawaban yang keluar.


"Bisakah kau memaafkan ketentuan langit?" tanya Gregori lagi.


"Bisakah kau bersujud dengan patuh sambil melihat orang yang paling kau cintai perlahan tenggelam dalam pusaran takdir kejam yang tak masuk akal?"


Jantung Aerlene mulai berdegup tidak stabil. Gregori memperhatikannya tanpa berkedip.


"Nah." Sudut bibirnya melengkung tipis. "Sekarang kau mulai berpikir."


"Tidak..." gumam Aerlene pelan, meski suaranya sendiri terdengar goyah.


"Kalian semua selalu mengatakan kami jahat karena menentang takdir." Gregori mengangkat kedua tangannya sedikit. "Tapi apa sebenarnya takdir itu?" Kabut hitam mulai merayap tipis di sekitar kakinya.


"Takdir." Suaranya semakin rendah. "Takdir hanyalah mesin undian besar, di mana sebagian lahir dicintai. Sebagian lahir untuk dikorbankan. Sebagian diberi kebahagiaan." Tatapannya mengeras samar. "Sebagian lain dijadikan bahan bakar agar roda takdir dunia tetap berputar."


"Dan saat seseorang mempertanyakan itu..." Gregori tertawa kecil tanpa humor. "Langit menyebutnya dosa." Gregori mengangkat tangan kirinya perlahan.

Lihat selengkapnya