。o°✥✤✤✤✤✤✤✣ ☽◯☾ ✣✤✤✤✤✤✥°o。
Aerlene tersentak bangun. Napasnya tersengal seperti seseorang yang baru saja ditarik paksa ke daratan setelah tenggelam di dasar lautan dalam. Ia menarik napas panjang dan merasakan udara dingin Bayt al-Ruh memenuhi rongga paru-parunya.
Tubuhnya melengkung kaku di atas ranjang besi. Rasa dingin dari logam itu langsung menembus pakaiannya, memberikan sensasi menyengat yang asing setelah sekian lama jiwanya melayang di tempat tanpa gravitasi.
"Lene! Sadarlah kawan!"
Kedua pundaknya dicengkeram erat oleh Shansa, namun Aerlene langsung menepisnya keras dengan tatapan yang membelalak liar sebelum menjatuhkan diri ke samping kanan ranjang.
Terdengar suara berdebum di lantai batu Bayt al-Ruh.
Seluruh jaringan otot tubuhnya terguncang hebat dan tenggorokannya menegang. Pipi Aerlene mengembung saat sesuatu yang panas dan pahit naik dari perutnya yang membuat kepalanya terhentak maju.
Uwek!
Cairan hitam kehijauan menyembur keluar dari mulutnya, membasahi lantai batu di bawah. Sebagiannya memercik ke pakaian Shansa juga ujung sepatu dan sebagian mantel Murnau, meninggalkan bekas noda pekat seperti lendir bercampur jelaga berbau tembakau dan sesuatu yang membusuk.
"Apa-apaan," ucap Shansa mengernyit ngeri.
Murnau tidak berkomentar, ia hanya berjalan berjinjit, mencoba menghindari kubangan muntahan hitam tersebut sebelum menyerahkan sebuah handuk yang sudah dibasahi air dingin di depan Aerlene.
Aerlene langsung menyambar handuk itu dan mengelap wajah dan kulit lehernya berulang kali dengan napas terengah-engah hingga seluruh kulitnya memerah. Lalu melemparkan handuknya menjauh begitu saja. Napasnya masih ngos-ngosan saat dia bangkit terlalu cepat sehingga tubuhnya limbung.
Pandangannya menyapu seluruh ruangan Bayt al-Ruh dengan liar, sebelum berhenti pada satu titik. Ia melangkah tergesa melewati Murnau dan Shansa. Kakinya hampir terpeleset dan jatuh menabrak meja kayu berisikan penyulingan alembik, timbangan kuningan dan cawan lebur.
Langkah kakinya terdiam pada cermin perunggu yang menempel pada satu sudut dinding. Ia melihat pantulan wajahnya sambil menyentuh lehernya. Jarinya mengitari guratan merah kehitaman yang berpilin di lehernya seperti kalung. Ada rasa nyeri tipis menjalar hingga ke rahangnya saat ia menyadari bekas itu nyata. Lalu menoleh ke belakang dengan wajah yang memucat menatap Murnau dan Shansa.
Shansa baru mau bertanya saat tiba-tiba dentingan logam memenuhi rongga dinding batu Bayt al-Ruh.
Krrrkkk...
Astrum Anima mendadak bergetar sendiri. Piringan-piringan konsentrisnya berputar liar ke berbagai arah, saling bergesekan hingga memercikkan cahaya keemasan. Jarum-jarum penunjuknya bergerak tak menentu, melompat dari satu simbol ke simbol lain seperti lepas kendali.
Satu cahaya menyala, disusul cahaya kedua, ketiga, keempat, dan kelima. Semua berkas cahaya berbeda warna itu memancar sekaligus dan menembus seluruh penjuru Bayt al-Ruh.
Murnau meletakkan kedua telapak tangannya di pangkal leher, terdengar suara decakan dari bibirnya.
"Tidak... ini mustahil," gumam Murnau.
Ia buru-buru berlari mengambil salah satu buku catatan bersampul kain linen di rak terdekat, dan segera membolak-balikkan halamannya, sebelum berhenti pada satu halaman.
Shansa langsung menoleh. "Apa yang terjadi?"
Murnau mengangkat buku itu dan menampilkan ilustrasi misterius yang menunjukkan planet-planet yang saling bertumpuk antar satu dan lainnya.
"Poros kelima dunia sedang bergerak," sahut Murnau cepat.
"Apa maksudnya?" tanya Aerlene
Murnau menghela napas.
"Sebelumnya, saat kau tidak sadarkan diri, roda-roda Astrum Anima tidak berhenti bergerak walau jiwamu sudah dibawa masuk kembali ke Bayt al-Ruh." Tatapan Murnau tidak beralih dari mesin itu. "Hanya ada satu penjelasan yang masuk akal."
Ia menggertakkan giginya.
"Kelima dunia kini berada dalam satu poros yang sama—sebuah fenomena langka yang dikenal sebagai Konjungsi Agung. Itu sebabnya Astrum Anima bereaksi seperti kompas yang kehilangan arah di tengah badai."
"Pintu-pintu lima dunia terbuka secara bersamaan sekaligus, itu membuat Astrum Anima kelebihan bobot dan kebingungan memetakan wilayah semua dunia sekaligus dalam satu lini waktu."
"Apa dampaknya. Murnau? Adakah yang perlu kita cemaskan," tanya Shansa ragu.
"Aku tidak tahu apakah ini kabar baik atau buruk. Yang jelas, siapa pun yang menguasai Anima Ascende dapat berkelana antar dunia dengan lebih leluasa karena perbedaan waktu di antara dunia-dunia yang terhubung menjadi relatif seimbang—sebuah keuntungan yang sangat langka. Tanpa konjungsi, satu hari di dunia arwah atau dunia bawah biasanya setara dengan sebulan di dunia manusia. Sebaliknya, seminggu bahkan puluhan tahun di dunia mimpi terkadang hanya berlalu sebagai semalam atau beberapa hari di dunia manusia."
Terang Murnau sebelum melompat cepat pada Aerlene.
"Aerlene guratan leher milikmu, apakah yang meninggalkannya merupakan Pembual yang sama dengan yang kau lihat waktu itu?"
Aerlene menundukkan kepala sebelum mengangguk kecil lemah.
"Maaf," ucapnya lirih. "Ia berhasil membuatku lengah, ia memperkenalkan diri sebagai Gregori Wincefer—sungguh makhluk berlidah perak. Dia tau kata yang tepat untuk memperdaya, hampir saja aku terbujuk olehnya."
Aerlene meremas lututnya yang masih lemas. "Namun justru karena pertemuan dengannya itulah aku menyadari sesuatu."
Tatapannya beralih kepada Shansa dan Murnau."Semakin kupikirkan, semakin terasa bahwa Gregori tidak sedang mencoba membunuhku malam itu."
Kening Shansa langsung berkerut."Apa maksudmu?"
Aerlene mengingat kembali setiap detik percakapannya dengan Gregori.
"Dia bisa menyentuh jiwaku," suara Aerlene terdengar lebih mantap sekarang. "Dia bisa menemukanku saat aku terpisah dari tubuhku. Dia bisa mengurungku di dalam realitasnya. Bahkan setelah semua itu, aku masih tidak yakin bisa melawannya jika dia benar-benar berniat membunuhku."
Bayangan mata hijau giok Gregori kembali terlintas di benaknya.
"Tapi dia tidak melakukannya."
Murnau menyilangkan kedua tangannya.
"Sebaliknya..." Aerlene menarik napas panjang. "Dia terus berbicara. Terus membujuk. Terus mencoba membuatku menerima kematian dengan kemauanku sendiri."
Ruangan menjadi hening. "Jika yang mereka butuhkan hanya mayatku, semuanya sudah selesai malam ini."
Kalimat itu membuat Shansa membeku.
Aerlene mengepalkan jemarinya.
"Jadi aku mulai curiga." Tatapannya beralih pada Astrum Anima yang masih bergetar pelan."Mungkin yang mereka butuhkan bukan sekadar kematianku, melainkan persetujuanku."
Murnau dan Shansa saling berpandangan.
Aerlene melanjutkan.
"Gregori mengatakan aku adalah jiwa terakhir yang dibutuhkan." Nada suaranya merendah.
"Aku belum tahu apa arti sebenarnya. Aku juga belum tahu apakah itu berhubungan dengan Reliquia Vesperae atau sesuatu yang lebih besar, tapi ada satu hal yang kusadari."
Bekas guratan di lehernya kembali berdenyut nyeri.
"Selama aku masih hidup dan masih memilih untuk hidup..." Tatapannya mengeras. "...maka ada sesuatu yang belum bisa mereka dapatkan dariku."
Shansa langsung berbalik menatapnya. Untuk sesaat, seluruh kelembutan di wajahnya lenyap. Matanya berubah sedingin es yang membeku.
"Kalau itu benar, maka mulai sekarang kau tidak boleh mengambil keputusan sendirian."
Aerlene mengernyit. "Apa?"
"Aku tidak peduli siapa dan apa yang ingin kau selamatkan." Nada suara Shansa dingin. "Gregori menginginkan persetujuanmu. Jadi jangan pernah berpikir untuk menyerahkan nyawamu."
"Karena kalau kau nekat mencobanya, memilih ambil bagian dari kehancuran itu, dan membuang kehidupanmu sia-sia" ujar Shansa pelan, "aku sendiri yang akan menyeretmu ke neraka"
Air wajah Shansa berubah, menampakkan urat-urat kebiruan yang menyembul dari kulit peraknya yang berpendar.
Seketika Aerlene merasakan bulu kuduknya berdiri. Hampir saja Ia lupa kalau Shansa adalah cangkang dari mantan Pengawas.
Hening yang tidak nyaman memenuhi Bayt al-Ruh.
Murnau menghela napas panjang, sebelum berdeham keras.
"Aku sudah hidup setengah abad lebih." Mata birunya masih menatap Astrum Anima yang mengamuk.
"Dan entah kenapa, setiap kali dunia hampir berakhir, selalu ada remaja di pusat masalahnya."
Tatapannya beralih pada Aerlene.
"Jangan tersinggung. Itu berdasarkan data statistik yang populer."
Tidak ada yang tertawa dan Murnau memutar matanya kecewa.
"Sekarang kita juga punya masalah yang tak kalah mendesak." Telunjuknya mengarah cincin-cincin Astrum Anima yang terus bergerak.
"Konjungsi Agung bukan sekadar membuka jalan antar dunia. Ia juga menyelaraskan jejak energi seluruh lapisan realitas."
Dahi Shansa Aerlene kembali berkerut, dan Murnau menutup buku catatannya bersiap jika penjelasan dia selanjutnya, akan membuat gadis itu tambah sakit kepala.
"Selama berabad-abad, bahkan sebelum Eirenhust berdiri, perbukitan ini dikenal sebagai tanah bertuah yang berada di antara celah-celah realitas. Gelombang elektromagnetiknya begitu kuat hingga mampu mengacaukan arah dan sinyal, tidak jauh berbeda dari fenomena Segitiga Bermuda. Biasanya dunia manusia, dunia arwah, dunia mimpi, dunia langit, dan dunia bawah bergerak dalam ritme masing-masing. Namun kini ritme itu telah selaras. Dan ketika itu terjadi, setiap lonjakan energi menjadi jauh lebih mudah dideteksi."
Rongga dada Aerlene terasa menyempit.
"Intinya, tabir dunia telah tersingkap." Nada suara Shansa merendah. "Mulai malam ini, setiap jejak energi yang kita tinggalkan akan lebih mudah terbaca oleh penghuni realitas lain. Para Pengumpul tak perlu mengetahui lokasi Eirenhust. Mereka hanya perlu mengikuti jejak tipis yang membentang dari Servershire, dan jejak itu pada akhirnya akan membawa mereka ke sini."
Murnau mengangguk pelan.
Aerlene menelan ludah. Anehnya, yang paling menakutkan dari semua itu bukanlah para Pengumpul atau Konjungsi Agung.
Melainkan kemungkinan bahwa ibunya masih berada di suatu tempat, sendirian, dalam genggaman para Pembual.
Bayangan wajah ibunya melintas begitu saja. Bukan saat tertawa. Bukan saat bercerita di depan perapian. Melainkan wajah terakhir yang ia lihat sebelum semuanya direnggut darinya.
Aerlene terpaksa harus menggigit bagian dalam pipinya sendiri agar tidak menangis di depan Shansa dan Murnau.
Rasa sesak yang meremukkan memenuhi dadanya. Rasanya, takdir menghantamnya tepat di titik yang paling menyakitkan agar ia mengerti apa yang sedang dipertaruhkan. Reliquia Vesparae bukan lagi sekadar harapan untuk mengubah takdir, melainkan satu-satunya jalan untuk membawa pulang orang yang paling ingin ia selamatkan.
Apa pun yang menunggunya di lima dunia, ia akan menempuhnya. Karena jika ia menyerah sekarang, maka tidak akan ada seorang pun yang datang menjemput ibunya pulang.
...
TENG... TENG... TENG...
Suara lonceng dari menara utama menggema dalam ketukan berulang yang terasa seperti panggilan waktu berdoa. Memecah kabut kesunyian Eirenhust yang baru mendekati waktu terbit matahari di ufuk timur.
Pada saat yang bersamaan, di balik sekat-sekat tembok batu tinggi yang berliku.
Di dapur, seorang juru masak menghentikan pisaunya tepat di atas talenan. Di koridor timur, seorang perawat membeku sesaat saat mengikat gulungan rambutnya. Petugas keamanan yang sedang berpatroli perlahan mengangkat kepala ke arah menara. Bahkan para petugas kebersihan yang tengah menyapu dedaunan di halaman menghentikan pekerjaan mereka tanpa perlu diberi perintah.
Dentang ketiga belas jatuh seperti batu nisan yang di lemparkan ke dalam sumur.
Wajah-wajah para staf yang mendengarnya tidak menunjukkan kebingungan. Mereka mengenali arti bunyi itu.
Sebagian menutup mata sejenak. Sebagian lainnya menghela napas panjang. Seolah setiap orang di Eirenhust diam-diam berharap mereka tidak akan pernah mendengar lonceng itu berbunyi selama hidup mereka.
Satu per satu mereka mulai bergerak menuju aula utama. Dokter, perawat, penjaga malam, petugas dapur, hingga staf kebersihan. Aliran manusia yang tenang namun sunyi memenuhi koridor-koridor batu tua Eirenhust.
Saat mereka tiba, tak seorang pun berbicara.
Puluhan pasang mata hanya memandang ke arah Murnau. Tidak ada pandangan yang tampak gemetar dari puluhan pasang mata itu.
Melainkan tatapan orang-orang yang akhirnya menyadari bahwa badai yang selama ini mereka persiapkan untuk hadapi, kini telah tiba di depan gerbang mereka.
Murnau berdiri di depan. Ibu jarinya perlahan mengusap cincin perak tua di telunjuknya—cincin berukir seorang ksatria dengan perisai berukir raven. Ia maju beberapa langkah. Lalu setelah jeda singkat, mengangkat pandangan matanya kepada seluruh aula.
"Selamat pagi rekan-rekan pengurus Eirenhust yang saya hormati."