Iyrin: Di Balik Sayap Dan Bisikan

Elin H. Marlene
Chapter #23

Bagian 22: Pohon, Gazel, dan Singa

┌──────═━┈┈━═──────┐

Derak akar Pohon Yew bergema tepat di atas kepalanya. Aroma tanah basah, resin, dan manisnya alkohol menguar samar memenuhi udara. Tubuh Aerlene terbujur kaku setelah mantra pelepasan jiwa dari ritus Anima Ascende selesai dilantunkan.

Seketika dunia berputar.

Kesadarannya terasa tercerai-berai ke banyak tempat sekaligus, seolah jiwanya dipecah menjadi serpihan-serpihan kecil lalu diseret ke dalam terowongan hitam tanpa gravitasi.

Ia tak lagi merasakan lengan, kaki, maupun denyut jantungnya. Hanya ada kegelapan yang mengalir di sekelilingnya seperti sungai purba di perut bumi.

Samar, ia merasakan sepasang tangan merangkul pundaknya.

"Bertahanlah sedikit lagi, Lene."

Suara Shansa bergema jauh di dalam dirinya.

Aerlene ingin membuka mata, tetapi tubuhnya bergerak jauh lebih cepat daripada kesadarannya. Ruang dan waktu diremas menjadi satu titik, lalu meledak ke segala arah.

Di hadapannya terbentang lorong tanpa ujung yang tersusun dari akar-akar raksasa bercahaya kebiruan. Mereka saling berjalin, menembus tanah, batu, dan sesuatu yang jauh lebih dalam dari dunia manusia.

Lapisan-lapisan realitas.

Semakin jauh ia terseret, semakin cepat semuanya bergerak. Akar-akar bergerak menjadi garis cahaya. Lalu garis cahaya berubah menjadi semburan warna. Hingga akhirnya seluruh dunia lenyap ke dalam sorot putih yang menyilaukan.

Panas.

Hawa panas itu seperti cubitan serentak yang dilayangkan pada wajahnya. Menyengat kulit hingga kesadarannya dipaksa kembali dalam satu hentakan kuat yang membuat kelopak matanya terbuka.

Aerlene langsung mengangkat tangan untuk melindungi matanya. Di atas kepala, langit biru dengan semburat kekuningan tampak bergetar. Membiaskan cahaya matahari kemerahan yang menerpa wajahnya tanpa aba-aba.

Udara kering memenuhi paru-parunya. Berbanding terbalik dengan udara dingin berbau alkohol dan lumut basah yang biasa dihirupnya di Eirenhust.

Di tempat ini rasanya terlalu panas. Bau pasir, tanah kering, dan batu yang dipanggang matahari memenuhi setiap tarikan napas.

Matanya hijau-kecokelatannya mengerjap beberapa kali berusaha menyesuaikan diri seperti bayi yang baru keluar dari dalam rahim.

Di hadapannya menjulang hamparan kota asing yang dibangun dari batu-batu berwarna madu dan tanah gurun yang mengeras oleh usia. Dinding-dinding tua, menara rendah, reruntuhan kuno, serta lorong-lorong sempit berdiri di antara hamparan tanah tandus.

Beban di pundaknya bergeser turun ke punggung, beralih menopang berat tubuhnya, agar leluasa untuk bangkit berdiri.

"Kita sudah sampai."

Suara Shansa terdengar dari samping. Rambut peraknya berubah menjadi putih keemasan di tengah cahaya terik.

"Di mana kita?" tanya Aerlene pelan.

Shansa membiarkan pertanyaan itu menggantung selama beberapa detik sebelum akhirnya mengarahkan pandangannya ke kota batu di hadapan mereka.

"Jericho."

Aerlene terdiam.

"Palestina?"

Shansa mengangguk. "Salah satu kota tertua yang pernah dihuni umat manusia."

Aerlene kembali memandang kota itu terasa sedikit gelenyar dari dalam perutnya. "Aku tidak mengerti." Aerlene memijat pelipisnya yang masih berdenyut. "Rasanya, tadi aku masih berada di bawah tanah."

"Kau memang masih berada di bawah Pohon Yew."

Jawaban itu membuat Aerlene menoleh bingung.

Shansa tersenyum tipis.

"Ragamu tetap berada di Eirenhust, tersembunyi di dalam jalur akar yang disiapkan pohon tua itu. Yang tiba di sini hanya jiwamu."

Ia mengangkat satu jari ke arah langit.

Shansa melanjutkan sebelum ia sempat bertanya lagi.

"Begitu proses Anima Ascende berhasil dan jiwamu terlepas sepenuhnya dari raga, aku membawamu melalui Arus Dunia."

"Arus Dunia?"

"Jalur-jalur yang menghubungkan lapisan realitas." Shansa menunjuk tanah di bawah kaki mereka. "Konjungsi Agung membantu mempercepatnya. Saat lima dunia berada dalam satu poros, batas antar lapisan menjadi lebih tipis dan saling beririsan. Perjalanan yang biasanya memakan waktu lama dapat ditempuh jauh lebih cepat."

Aerlene mengingat kembali lorong akar bercahaya yang dilihatnya sebelum terbangun.

"Salah satu manusia pilihan berhasil melakukannya, kau pasti pernah dengar tentang mukzijat berpindah tempat Raja Salomo bukan? Secara konsep hampir serupa," terang Shansa.

"Jadi kita benar-benar bisa melintasi separuh dunia?" Aerlene memijat belakang lehernya yang keram. "Jadi itu sebabnya tubuhku terasa dihancurkan lalu disusun ulang? Sensasinya benar-benar mengingatkanku saat menegak Eliksir Tulang Baja waktu itu."

Aerlene terdiam sejenak, entah kenapa menyebutkan Eliksir Tulang Baja membuka pintu kenangan yang telah dilaluinya. Rasanya seperti baru kemarin ia memulai lapisan latihan pertama di Eirenhust, sekarang dia sudah sampai ke tahap ini. Waktu terasa berjalan sangat cepat.

"Tenang saja. Ragamu masih aman."

Shansa pasti membaca isi pikirannya.

Tatapannya beralih jauh ke arah timur, seakan mampu melihat Eirenhust yang berada ribuan kilometer dari sana.

"Tubuh aslimu masih tersembunyi di bawah akar Pohon Yew. Terkubur rapat di dalam jalur perlindungan yang disiapkan Murnau dan para praktisi keilmuan di Eirenhust. Selama pohon itu berdiri, keberadaan ragamu akan tetap tersembunyi dari mereka yang mencarinya."

Angin panas kembali berembus melewati kota tua itu.

"Mari aku tunjukkan, kalau kau masih ragu," ucap Shansa sambil menolehkan kepalanya, memberi isyarat untuk Aerlene agar mengikutinya.

Mereka pun mengambil jalan menurun dari tebing yang terbuat dari batu kapur bewarna cokelat kemerahan, menuju ke pemukiman di bawah kaki perbukitan tersebut.

Di hadapan Aerlene, Jericho terbentang seperti fatamorgana yang menolak lenyap ditelan panas gurun. Hamparan pohon-pohon kurma menjulang di segala penjuru, membuatnya mengerti mengapa kota itu dijuluki Kota Seribu Pohon Kurma.

Di tengah lautan pasir dan bebatuan pucat yang membentang hingga cakrawala, kota tua itu tumbuh bagaikan oasis yang diberkahi. Angin hangat membawa aroma tanah kering bercampur manis buah kurma yang sedang matang. Dari kejauhan terdengar lenguhan keledai, embikan kambing, dan suara para penggembala yang saling bersahutan dalam bahasa yang asing di telinganya.

Saat Aerlene ingin berjalan ke pinggir untuk menghindari kawanan ternak tersebut, Shansa tidak bergeming. Ia memegang tangan Aerlene untuk tetap berada di sampingnya.

Terjadilah hal yang paling aneh, kawanan hewan itu berjalan menembus tubuh astralnya begitu saja tanpa menyadari keberadaannya, seolah Aerlene hanyalah bayangan tipis yang terselip di antara lapisan dunia.

Ia memandang sekeliling dengan takjub. Jalan-jalan batu yang dipoles ribuan langkah manusia, membelah permukiman kuno yang dibangun dari bata lumpur dan batu berwarna madu.

Para pedagang, petani, dan pengembara berlalu-lalang tanpa sedikit pun menoleh ke arahnya. Mereka hidup di dalam waktu mereka sendiri, sementara Aerlene berdiri di luar alirannya.

Lalu di sana.

Di bawah sebuah pohon zaitun tua yang batangnya berpilin seperti urat nadi bumi. Berjejer beberapa ember air yang disiapkan untuk kambing dan keledai peliharaan. Lalu di tengah semua kerumunan hewan ternak itu tampak seorang lelaki tua yang tenggelam dalam pikirannya dan menatap kosong ke depan.

Ia duduk bersila sambil mengunyah kurma perlahan. Sesekali jemarinya menyusuri janggut panjang yang telah dipenuhi uban. Lilitan kain penutup kepala berwarna merah, kuning, dan putih dengan pola menyerupai jaring ikan menjuntai di sisi wajahnya.

Aerlene memandangi kain penutup kepala tersebut untuk beberapa saat.

"Pegang saja, dia tidak akan tahu juga," bisik Shansa pada Aerlene. "Itu keffiyeh, kau tidak pernah melihatnya selama tinggal di Severshire kan?"

Aerlene tidak menjawab. Ia hanya bergerak mengulurkan tangannya, pada kain penutup kepala pria tua itu. Merasakan serat tenunnya yang berpori dan sedikit kasar di bawah kulit telapaknya.

Saat kulit tangannya tak sengaja menyentuh kulit dahi dari pria tua itu. Sesuatu yang ganjil terjadi. 

Wajah pria tersebut bergetar samar, lalu berganti menjadi wajah lain. Seorang pemuda. Kemudian seorang pria berambut panjang. Lalu wanita bermata coklat keemasan yang bercelak kohl dari masa yang jauh lebih lampau. Pergantian itu berlangsung begitu cepat hingga sulit dihitung, seperti ribuan kehidupan dan generasi saling bertumpuk di tempat yang sama. Seakan gema usia Jericho yang luar biasa tua mengalir begitu saja seperti arus yang deras ke dalam kesadarannya. Sebuah jejak garis keturunan dari masa ke masa.

Lelaki itu sendiri tidak dapat melihat Aerlene. Meski demikian, ia tiba-tiba berhenti mengunyah kurmanya dan menoleh perlahan ke sekeliling. Dahinya berkerut samar. Seakan-akan, untuk sesaat, ia merasakan hembusan dingin yang tak semestinya hadir di bawah matahari gurun yang menyala.

Aerlene menarik tangannya menjauh dan penglihatan itu berhenti.

"Bagaimana kau sudah paham, kan? Kau tidak terlihat oleh mata telanjang manusia, walaupun kita di dunia manusia dengan wujud astral kita, kita berada di gelombang yang tak terdeteksi manusia. Anggap saja keberadaan kita ditutup oleh tirai yang tak bisa dilihat sembarang mata."

"Yang berdiri di sini adalah jiwamu. Anima Ascende menguraikan kesadaranmu, mengalirkannya melalui Arus Dunia, lalu menyusunnya kembali menggunakan materi di tempat tujuan. Itulah sebabnya para okultis menyebutnya Transmutasi Agung. Tanpa fondasi mental yang kuat, seseorang bisa kehilangan dirinya sendiri di antara lapisan realitas."

Aerlene mengangguk pelan. "Jadi seperti mengirim foto lewat internet?" gumamnya. "Gambarnya tidak benar-benar berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Ia diurai menjadi data, dikirim, lalu disusun kembali di tujuan. Bedanya, yang diurai oleh Anima Ascende bukan gambar, melainkan jiwaku."

"Tepat. Dengan kesiapan mentalmu dalam penerawangan dan pelatihan untuk menaklukkan realitas alam bawah sadar, kita dapat mengikuti jejak kesadaran pecahan Relik Senja Terakhir tanpa takut tenggelam dalam banjir ingatan. Tanpa landasan itu, tak ada manusia yang mampu melintasi Anima Ascende tanpa kehilangan akal sehat, terperangkap di antara lapisan-lapisan realitas yang tak lagi mampu mereka bedakan," pungkas Shansa.

Shansa menoleh kebelakang sejenak memastikan barang dibelakangnya ada, sebelum mengangkat talinya melewati bagian atas kepalanya. Ia menurunkan tas tabung kulit sapi di punggungnya, kemudian mengeluarkan gulungan perkamen peta dari dalam tabung tersebut.

Angin gurun menerpa lembaran perkamen yang dipenuhi garis-garis dan simbol misterius. Membawa aroma debu, batu, dan sesuatu yang samar namun anehnya terasa hidup. Telunjuk Shansa berhenti pada satu titik yang ditandai dengan simbol khusus.

"Jika hipotesis Murnau benar, maka jejak pecahan Reliquia Vesperae di dunia manusia dapat ditelusuri dari sini."

Tatapan Shansa berubah serius.

"Baiklah." Ia menoleh ke arah reruntuhan kota di depan mereka. "Coba buka jurnal yang diberikan Murnau, kita harus mengecek silang jejaknya berdasarkan kumpulan informasi yang berhasil dihimpun." Shansa merogoh kantung dalam mantelnya, lalu menyodorkan jurnal yang bersampul kulit pari keabuan tersebut pada Aerlene.

Aerlene mengusap sampul kulit pari itu. Rasanya sama nyatanya seperti saat ia memegangnya di Eirenhust. Sebuah pertanyaan mendadak muncul di benaknya. Jika yang menyeberang hanyalah jiwanya, lalu bagaimana jurnal, peta, dan liontin itu bisa ikut terbawa?

Melihat keraguan di wajah Aerlene, Shansa tersenyum tipis. "Kau pasti bertanya-tanya bagaimana jurnal dan peta itu bisa ikut bersama kita."

Lihat selengkapnya