┏━━━━•❃°•°❀°•°❃•━━━━┓
Waktu mengalir lambat di sekitar Ein es-Sultan.
Bukan hanya suara atau gerakan, melainkan riak-riak kecil di permukaan mata air, berhenti tepat di tengah lingkarannya. Pelepah kurma yang semula bergoyang tertiup angin kini membeku dingin seolah lukisan. Bahkan seekor burung bangau putih yang melintas di atas langit keemasan tampak menggantung di udara, sayapnya tertahan di antara satu kepakan dan kepakan berikutnya.
Yang masih bergerak hanyalah air yang mengalir di bawah kaki mereka.
Denyutan keemasan menjalar melalui tanah, menyusuri akar, batu, dan lapisan bumi yang telah menjadi tempat manusia dilahirkan, hidup, lalu kembali menjadi debu sejak awal zaman.
Udara sekitar menurun cepat.
Terik gurun yang semula mencengkeram kulit kini memudar, digantikan belaian sejuk beraroma tanah basah setelah hujan pertama. Di baliknya terselip wangi dedaunan muda, lumut, dan sesuatu yang lebih tua—kesegaran manis yang tertinggal di ujung lidah, seperti jejak dari sungai pertama yang pernah mengalir di dunia.
Shansa telah berlutut.
Kepalanya tertunduk dalam takzim yang begitu dalam hingga Aerlene nyaris tidak mengenali sosok Iyrin yang selama ini selalu berdiri tegak di hadapannya.
Sementara itu Aerlene hanya mampu membeku.
Keringat dingin mengalir di tengkuknya.
Setiap tarikan napas terasa lebih berat daripada sebelumnya, seolah udara di sekeliling Kaeriel memiliki kepadatan yang berbeda. Jantungnya berdetak keras, namun suara denyutnya sendiri terdengar jauh dan asing di telinganya.
Gaun panjang yang membalut tubuh ramping sang Thamûrim terjalin dari aliran air murni. Permukaannya terus berubah. Mengalir selembut sutra cair di bawah bayangan, lalu mengeras menjadi riak kristal kebiruan saat disentuh cahaya matahari. Kerah tinggi membingkai wajahnya yang agung, sementara guratan perak dan biru di seluruh busananya membentuk pola seperti lekukan garis sungai.
Rambut panjangnya menjuntai seperti jalinan akar emas yang hidup, bergerak perlahan mengikuti denyut dunia. Di bawah terik cahaya, kulitnya memancarkan rona kehijauan lembut bagai buah zaitun muda yang diterpa matahari musim semi, sementara mata birunya menyimpan kedalaman samudra.
Namun, keindahan yang paling memikat justru terukir pada sayapnya. Sepasang sayap megah membentang dari punggung sosok itu, menjelmakan keanggunan burung madu Palestina dalam wujud yang jauh lebih sakral. Helai-helai bulunya berkilau biru kehijauan di bawah dekapan matahari. Di baliknya, guratan warna jingga dan kuning yang tersembunyi sesekali memercikkan cahaya-hangat bagai lidah api yang menari di atas riak air.
Setiap kali ia bergerak, gaun itu membisikkan gema gemericik yang begitu jernih hingga terdengar seperti nyanyian yang datang dari kedalaman bumi.
Ketika mata biru setua air pertama di muka bumi itu menatap Aerlene. Batas antara wujudnya dan cakrawala telah melebur tanpa sisa. Sosok itu menjelma begitu agung seolah merengkuh seluruh langit Jericho. Membuat oasis yang sejuk, hamparan gurun yang luas, bahkan sang waktu sendiri terasa begitu kerdil di hadapannya
Tatapan Kaeriel mula-mula jatuh pada Shansa yang masih berlutut di hadapannya.
Untuk beberapa saat ia hanya diam, seolah sedang membaca lapisan-lapisan waktu yang melekat pada sosok Iyrin itu.
"Neirin."
Sapaan singkat itu merambat melalui Ein es-Sultan hingga membuat seluruh arus kehidupan berdenyut pelan sebagai jawaban.
"Salah satu pengawas langit terakhir yang memilih tetap tinggal di dunia manusia setelah air bah menelan peradaban pembawa petaka."
Suara Kaeriel bergema layaknya tetes hujan yang membasahi tanah gersang. Ada kejernihan dan kemurnian yang takkan ditemukan pada suara manusia, membuat setiap katanya meresap langsung ke dalam jiwa. Ia bukan sekadar terdengar, melainkan dirasakan.
Mata birunya menyimpan sesuatu yang sulit diterjemahkan. Bukan kehangatan, bukan pula penyesalan.
Hanya pengakuan.
Setelah itu pandangannya beralih kepada Aerlene.
Keheningan di sekitar oasis terasa semakin dalam.
"Dan kau... Tanah yang bernapas"
Untuk pertama kalinya Aerlene merasakan dirinya dipandang bukan sebagai manusia, melainkan sebagai sesuatu yang jauh lebih sederhana.
"Makhluk fana yang pernah meninggalkan arus kehidupan, lalu kembali melalui pintu yang tidak semestinya."
Kaeriel memiringkan kepalanya sedikit.
"Sepanjang waktu aku mengawasi arus yang mengalir di dunia fana ini, aku telah menyaksikan jutaan jiwa lahir dan kembali menjadi debu."
Tatapannya bergerak bergantian antara Aerlene dan Shansa.
"Namun jarang sekali aku melihat cahaya langit dan debu tanah berjalan berdampingan dalam ikatan serumit ini."
Jaringan keemasan di bawah Ein es-Sultan berdenyut lebih kuat.
"Arus kehidupan memiliki kebiasaannya sendiri. Ia mengalir, berpisah, lalu kembali menyatu. Tetapi untuk pertama kalinya setelah waktu yang sangat lama, aku melihat arus kehidupan bergerak ke arah yang tidak semestinya."
Kaeriel terdiam sesaat.
"Sebab ikatan kalian menciptakan buhul yang menyumbat jalinan arus. Sebuah cabang yang menolak mengalir bersama kehidupan lainnya."
Mata setua sungai pertama itu menatap keduanya tanpa berkedip.
"Dan aku ingin menyaksikan sendiri pencetus perubahan itu. Katakanlah... niat apa yang mendorong makhluk langit dan makhluk bumi memilih menentang arah arus?" tanya Kaeriel dengan suara sejernih dentingan kristal.
Shansa baru saja mengangkat kepala untuk menjawab ketika Aerlene melangkah sedetik lebih cepat ke depan.
"Kami mencari Reliquia Vesperae," katanya tanpa ragu.
Keheningan oasis tidak berubah, namun Aerlene merasa tatapan Kaeriel menjadi sedikit lebih dalam.
"Aku membutuhkan pecahannya untuk menyelamatkan nasib ibuku. Aku percaya ia berada disandera dalam ilusi mimpi yang dikerahkan oleh seorang pembual kaki tangan Yang Terjatuh." Jemarinya mengepal di sisi tubuh. "Sekaligus untuk mematahkan takdir kematian yang memaksaku menjadi bagian dari kutukan yang mengikatnya di dunia bawah." Untuk sesaat, hanya suara air yang terdengar.
Shansa menundukkan kepala hormat sebelum berbicara.
"Maafkan kelancangan kami, wahai Penjaga Arus. Namun ada kemungkinan kematian Aerlene bukanlah bagian dari jalur yang semestinya." Suaranya terdengar lebih berat dari biasanya. "Kami menduga Yang Terjatuh telah mencemari arus takdirnya. Jika dugaan itu benar, maka kematian yang menantinya bukan sekadar akhir kehidupan, melainkan sebuah sabotase yang dirancang untuk melepaskan rantai hukuman yang mengekang dirinya di dunia bawah."
Tatapan Shansa mengeras.