Iyrin: Di Balik Sayap Dan Bisikan

Elin H. Marlene
Chapter #25

Bagian 24: Api Yang Tidak Berasap

:۞:••:۞:••:۞:•✧◈✧•:۞:••:۞:••:۞:

Langit Jericho mendadak berubah warna. Lapisan kemerahan seperti tembaga menelan rona keemasan matahari sedikit demi sedikit, membuat seluruh kota tampak kusam seolah dilihat melalui tirai debu.

Aerlene baru saja berjalan meninggalkan kawasan Ein es-Sultan bersama Shansa, ketika suara di sepanjang kota mulai berubah.

Gabungan teriakan dan ratusan pintu yang dibanting tergesa.

Di sepanjang jalanan berbatu, warga meninggalkan aktivitas mereka tanpa banyak bicara. Seorang gadis muda berkerudung hitam berlari memunguti pakaian yang terlepas dari tali jemuran ketika angin pertama datang menyapu halaman rumahnya. Kain-kain putih itu berkibar liar sebelum ibunya menarik paksa lengannya. Menyeret masuk gadis itu ke dalam rumah tanpa mempedulikan kain-kain yang berserakan.

Tak jauh dari sana, seorang penggembala tua berseru panik kepada kawanan kambingnya. Namun setelah menoleh ke arah cakrawala, wajahnya langsung memucat. Ia meninggalkan tongkat dan ternaknya, lalu bergegas menuju pemukiman terdekat.

Anak-anak yang beberapa saat lalu berlarian di antara bayangan tembok bangunan kota langsung digendong masuk oleh orang tua mereka. Jendela-jendela ditutup bersama tirai-tirai yang ditarik rapat. Bahkan para pedagang yang terkenal keras kepala buru-buru menurunkan penutup kios tanpa membuang waktu.

Di tengah kepanikan itu, beberapa warga mulai melafalkan doa-doa dalam bahasa yang asing bagi telinga Aerlene.

Aerlene menoleh dari balik bahunya.

"Itu..." gumamnya.

Jaraknya masih terpaut jauh, namun ia dapat merasakan getaran halus yang merambat melalui tanah.

Dari balik gurun yang membentang memenuhi cakrawala, tampak pasir yang berdiri menjulang seperti pegunungan yang bergerak maju. Melahap langit layaknya sebuah rahang raksasa.

"Badai gurun?" ucap Shansa ragu.

Shansa yang semula berjalan di depan langsung berjalan cepat memutar ke belakang mendekati Aerlene. Tatapannya menyipit seperti elang yang mengintai mangsa.

Angin panas dan butiran pasir menerpa wajah mereka disertai suara lolongan panjang yang sampai ke telinga.

"Suara anjing? Apakah mereka berusaha melarikan diri dari badai," tanya Aerlene.

Belum sempat Shansa membuka suara, geraman rendah dan serak merambat dari balik gelombang pasir yang terus mendekat. Suaranya menyerupai kawanan anjing yang berkeliaran di tengah gurun. Namun di sela-selanya terselip bunyi lain yang membuat detak jantung Aerlene bergemuruh.

Desisan panjang dan naik turun seperti gesekan sisik ribuan ular di atas tanah berpasir dan batu kering.

Shansa langsung menoleh ke arah sumber suara. Seluruh sikap tubuhnya bergerak menegang siaga.

"Berhati-hatilah," ucapnya pelan. "Apapun yang muncul nanti, jangan sampai kehilangan fokus."

Belum sempat Aerlene mencerna maksud perkataan Shansa. Dunia di sekeliling mereka berubah dalam satu kedipan.

Ombak pasir yang beberapa saat lalu masih tampak jauh mendadak melonjak ke atas membentuk kubah berwarna merah keemasan yang menjulang di atas langit. Lalu ia melesat melampaui kecepatan angin dan menerobos segalanya.

"Shansa—!"

Suara teriakan itu tenggelam dalam hantaman kuat angin meraung yang mengguncang dataran Jericho.

Pasir tumpah dari langit ke tanah sebelum memecah ke semua arah.

Langit, matahari, deretan pohon kurma dan bangunan batu kota lenyap ditelan pusaran debu.

Yang tersisa hanyalah kabut pasir yang berputar mengelilingi mereka seperti serpihan kaca. Jarak pandang pun menyusut menjadi beberapa langkah saja.

Shansa langsung menarik Aerlene mundur.

Matanya yang sebening es menyapu sekitar sebelum berhenti pada satu titik yang bergerak sangat cepat dalam hitungan detik.

Sebuah bayangan gelap melintas, timbul dan tenggelam di balik tirai pasir.

Suara anjing yang menyalak dan desisan ular berubah menjadi kumpulan bisikan yang muncul dari segala arah. Awalnya seperti percakapan antar beberapa orang sebelum jumlahnya terus bertambah sehingga mirip aktivitas sebuah pasar yang sangat ramai. Saling tumpang tindih dalam bahasa asing yang tak dipahami telinga.

Shansa mengumpat pelan.

Aerlene tersentak. "Kenapa?"

"Waswasah!" pekik Shansa di tengah badai. "Bisikan penyesat para Jin."

Pasir terus berputar mengelilingi mereka. Bayangan-bayangan gelap berputar semakin cepat di balik tirai debu.

"Jin adalah jenis para pembual yang diciptakan dari api!" lanjut Shansa. "Jika waswasah berhasil menguasai pikiranmu, mereka akan membakar habis kesadaranmu sedikit demi sedikit. Lalu seperti parasit, mereka akan masuk dan membajak tubuhmu untuk mereka gunakan sesuka hati sampai kau mati!"

Bisikan-bisikan itu terus bertambah.

Mula-mula hanya suara-suara yang dikenalnya sepintas. Guru-guru yang pernah mengajar di Severshire. Kawan-kawan yang pernah duduk bersamanya di kelas dan cafetaria sekolah. Penjual jajanan di sudut jalan yang setiap akhir pekan menyapanya dengan senyum ramah. Bahkan suara atasan dan pembeli di toko buku Know-Well.

Semuanya bercampur menjadi satu. Memanggil namanya secara serentak.

Aerlene Ray yang celaka.

Tubuhnya menegang.

Suara Dokter Murnau.

Kamu membawa malapetaka bagi Eirenhust, bagi kami semua. Seharusnya kamu tidak pernah datang.

Belum sempat ia bereaksi, suara-suara lain menyusul. Kali ini puluhan pasien berbicara bersamaan. Ada yang menangis, ada yang berbisik putus asa, ada pula yang terdengar marah.

Kami akan ditelan bisikan bayangan dan terjebak dalam gelapnya kegilaan.

Kami sudah kehilangan harapan, terima kasih untuk itu Aerlene...

Kata-kata itu menghunjam jauh lebih dalam daripada teriakan apa pun. Namun gelombang berikutnya datang lebih mengerikan. Suara rem yang menjerit, benturan logam, kaca yang pecah, dan jeritan manusia mendadak memenuhi badai. Aerlene mengenalinya seketika.

Kecelakaan maut di perempatan Hemingway.

Ratapan para korban bergema dari segala penjuru. Seorang ibu memanggil anaknya. Seorang pria menjerit kesakitan sebelum suaranya terputus. Seorang anak kecil terus memohon pertolongan. Lalu satu demi satu suara mereka beralih kepadanya.

Kenapa hanya kau yang boleh kembali, sedangkan kami tidak.

Kami juga tidak siap mati...

Gantikan kami, penuhi takdirmu! Si pengecut yang terus melarikan diri...

Kumpulan bisikan itu membuat Aerlene langsung mengangkat kedua tangannya menutupi telinga. Namun suara-suara itu tidak mereda. Justru semakin jelas, seolah tidak masuk melalui pendengaran, melainkan langsung merayap ke dalam pikirannya.

Lalu satu suara terakhir yang membuatnya membisu.

Lili putihku tega-teganya kau meninggalkan Mama sendiri...

Ketakutan itu tersulut kembali di kesadaran Aerlene. Karena di suatu sudut hatinya yang paling rapuh, ia mulai takut bahwa semua tuduhan itu mungkin benar.

"Aerlene kuatkan keyakinanmu, jangan biarkan bisikan itu merasukimu!"

Shansa memanggilnya sekali lagi, namun Aerlene tidak bereaksi.

Ia berdiri membeku di tengah pusaran pasir, tatapannya kosong menembus badai dan mendengarkan sesuatu yang tak dapat dijangkau oleh telinga manusia. Bibirnya bergerak samar, mengikuti bisikan yang hanya ia dengar sendiri. Dalam sekejap, Shansa memahami bahwa waswasah telah menemukan celah keraguan.

Ia mengatupkan rahang, menyadari tidak banyak yang bisa dilakukan dalam posisi ini. Ia harus segera mengatasinya sebelum Aerlene terpengaruh terlalu jauh. Ia menggengam erat tali karet tasnya, sebelum menggeser dan mengencangkan posisinya ke depan.

Ssssshhhh.

Lihat selengkapnya