Iyrin: Di Balik Sayap Dan Bisikan

Elin H. Marlene
Chapter #26

Bagian 25: Cermin Yang Bersenandung


⁺˚*•̩̩͙✩•̩̩͙*˚⁺‧͙⁺˚*•̩̩͙✩•̩̩͙*˚⁺‧͙⁺˚*•̩̩͙✩•̩̩͙*˚⁺‧͙

Aerlene dan Shansa melangkah menembus pusaran hijau zamrud yang berputar di puncak Jabal Quruntul.

Mendadak dunia di bawah kaki mereka lenyap.

Perutnya seperti terjungkir. Sensasi jatuh bebas menghantam seluruh tubuhnya hingga napasnya tercekat. Ia refleks meraih udara kosong sebelum tubuhnya terhempas dan menggelinding di atas permukaan batu hitam yang dingin.

"Aerlene!"

Mata hazel Aerlene terperangah saat kepala dan sebagian tubuhnya menggantung di udara. Di bawahnya terbentang jurang tanpa dasar yang diselimuti kabut pekat berwarna keperakan.

Ia merasakan tangannya merenggang. Sebelum ditarik kembali dalam satu hentakkan kuat pada jalanan setapak. Napasnya terengah-engah diiringi jantung yang berdebar keras. Ia tertunduk memegangi kedua lututnya yang menjadi lunglai.

"Lain kali lebih hati-hati" ucap Shansa sambil menepuk pundaknya sekali, sekaligus tersenyum lega.

Aerlene menoleh ke samping kanannya. Sebelum mengatur posisi tubuhnya untuk berdiri tegak.

"Terima kasih kawan, tadi itu nyaris saja..."

Kata-katanya terpotong, saat ia menyadari apa yang ada di depannya.

Mereka berdiri di atas jalan setapak dari susunan batu hitam yang diapit oleh dua lembah seperti punuk unta yang berundak. Udara membawa aroma ozon, logam basah, dan lapisan tipis kayu gaharu yang samar namun menenangkan.

Tak jauh di depan mereka terdapat tumbuhan asing yang berpendar lembut. Sebagian menyerupai bunga dan jamur, sebagian lain mirip lumut atau sulur kristal. Semuanya memancarkan cahaya neon kebiruan dan kehijauan seperti koloni kunang-kunang yang tak pernah padam.

Ketika matanya mendongak ke atas, ia sampai menahan napas.

Langit alam ini bukanlah langit malam yang biasa dipandanginya. Nebula hijau zamrud berputar perlahan seperti lautan cahaya yang membentang tanpa ujung.

Tampak planet-planet berukuran raksasa menggantung terlalu dekat, Venus, Mars, Jupiter, dan yang lainnya. Tata surya benar-benar sepeti dilipat dalam satu kantong angkasa yang berdekatan.

Melampaui limbo yang pernah ia lihat saat sekarat, melampaui dunia alam bawah sadarnya, bahkan melampaui seluruh kota yang ada di dunia manusia.

Aerlene merasa sangat kecil di alam ini. Seakan ada mata-mata berukuran besar yang mengintipnya dari atas sana.

Di antara hamparan malam kehijauan itu, pulau-pulau seakan melayang dan tersebar sejauh mata memandang. Sebagiannya berbentuk istana menjulang dengan menara-menara berpilin, sebagian lain menyerupai kota kuno yang dibangun dari marmer putih dan batu giok.

Semuanya terhubung oleh jembatan bebatuan tipis yang melengkung anggun di atas jurang-jurang berkabut. Seakan dunia terpecah lalu dironce menjadi satu, dalam lapisan-lapisan kalung manik panjang bewarna-warni.

Namun bukan itu saja yang membuat Aerlene terpukau.

Di antara pulau-pulau dan nebula zamrud itu, melayang ratusan ribu bintang yang berdenyut hidup. Tidak.

Aerlene menyipitkan matanya, memastikan.

Itu berjumlah jutaan atau mungkin lebih, Dan itu bukan bintang. melainkan cernin!

Mengapung dalam jarak yang berdekatan antara satu dan lainnya. Membuat batas teratas dan batas terbawah, ujung pertama dan ujung terakhir, tak terlihat sama sekali.

Ukurannya pun beraneka ragam, ada yang sebesar pintu, ada yang hanya seukuran telapak tangan. bulat, persegi, oval, hingga yang menyerupai pecahan kristal raksasa. Mengingatkan Aerlene pada karya lukisan malam berbintang buatan Van Gogh yang dikaguminya.

Selang beberapa detik, salah satu cermin di kejauhan mendadak retak.

Garis-garis tipis menjalar di permukaannya seperti urat cahaya. Sebelum seluruh cerminnya pecah menjadi serpihan berkilauan.

Fenomena itu tidak langsung berhenti. Tak lama cermin-cermin lain mulai mengalami nasib serupa. Satu demi satu. Dekat maupun jauh. Besar maupun kecil.

Retakan muncul di berbagai sudut langit. Pecah. Lalu pecah lagi dan lagi. Seperti ribuan bintang yang berkelap-kelip terus menerus.

Dalam hitungan detik, reaksi berantai itu menyebar ke seluruh penjuru langit. Serpihan-serpihan cermin yang hancur tidak jatuh ke bawah. Mereka berubah menjadi debu cahaya yang berkilauan seperti serbuk peri, larut perlahan ke udara.

Anehnya, setiap kali sebuah cermin lenyap, ibarat embun yang membeku. sebuah cermin baru akan langsung mengkristal di tempat yang sama,

"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Aerlene pelan.

"Siklus mimpi manusia," jawab Shansa. "Ketika seseorang terbangun, cerminnya pecah. Ketika seseorang lain mulai bermimpi, cermin baru lahir."

Namun yang paling aneh bukanlah kehancuran ataupun kelahirannya. Melainkan bunyi-bunyian yang menyertai perputarannya.

Tidak ada bunyi pecahan kaca yang mengilukan telinga. Yang terdengar justru dentingan jernih dari mangkuk kristal yang dipukul perlahan. Gaungnya bergulung panjang, menyatu dengan dentingan lain yang muncul dari kejauhan, mengalunkan melodi yang membelai lembut hingga kelopak Aerlene terasa berat dan mulutnya menguap.

Baru sekali mulutnya terbuka, telapak tangan Shansa sudah memukul keras pundaknya hingga ia tersentak.

"Auw! Apa-apaan sih? Shan!"

"Jangan pernah lakukan itu lagi, oke."

Nada suara Shansa membuat Aerlene langsung mengurungkan protesnya. Gadis itu menoleh ke arah hamparan cermin yang terus pecah dan lahir silih berganti di hamparan langit bima sakti.

"Aku kan hanya menguap."

"Di Dunia ini, mengantuk beresiko menjadi awal dari masalah besar." Shansa menghela napas panjang. "Jangan pernah tertidur di sini, ketika kau menjelajahinya secara sadar dengan tubuh astral. Alam ini senang menjebak dengan kenyamanan, lalu membuatmu lupa bahwa kau harus terbangun sadar."

Aerlene merasakan hawa dingin merambat di tengkuknya.

"Memangnya kenapa kalau tertidur? Bukankah itu nama alam ini, Dunia Mimpi!"

Lontaran pertanyaan Aerlene, hanya membuat Shansa memijat pelipisnya.

"Jiwamu bisa terperangkap di sini, sementara tubuhmu tetap terbaring di dunia manusia." Tatapan Shansa menerawang ke arah pulau-pulau mengapung di kejauhan. "Kadang orang-orang menyebut tidur sebagai mati kecil. Di tempat ini, ungkapan itu jauh lebih harfiah daripada yang dibayangkan manusia."

Ia terdiam sesaat sebelum melanjutkan.

"Apa kau pernah mendengar kisah tentang 7 pemuda dari Efesus? Sekelompok manusia yang tertidur begitu lama hingga dunia di luar gua sudah berganti beberapa abad tanpa mereka sadari."

Aerlene mengangguk pelan.

"Sebagian manusia menganggapnya mukjizat. Sebagian lagi yang skeptis hanya menganggapnya legenda." Shansa mengangkat bahu. "Namun di tempat ini, peristiwa seperti itu bukan sesuatu yang mustahil."

Ia menunjuk ke arah langit yang dipenuhi cermin.

"Konsep waktu berjalan berbeda di sini." Shansa menunjuk ke arah nebula hijau di atas mereka. "Puluhan tahun dapat berlalu tapi hanya bergeser semalam atau beberapa hari di dunia manusia, Namun tidak menutup kemungkinan terjadi sebaliknya. Seseorang merasa hanya tertidur sebentar, lalu mendapati bertahun-tahun hidupnya lewat begitu saja.

Untuk sesaat Aerlene teringat peringatan Murnau sebelum ia meninggalkan Eirenhust. Tangannya langsung menggengam liontin berisi koin Dinar Umayyah di lehernya.

"Karena itulah dunia ini dulu disebut Māyāloka—Dunia Ilusi," lanjut Shansa. "Ini adalah habitat alami para Jin terkuat. Tempat mereka mengajarkan bisikan, guna-guna, santet, khayalan, dan segala bentuk tipu daya yang mempengaruhi alam bawah sadar manusia. Di sini, batas antara kenyataan, harapan, ketakutan, dan kebohongan jauh lebih tipis daripada selembar kulit."

Shansa menepuk bahunya sekali lagi, kali ini lebih pelan.

"Itulah sebabnya Murnau menekanmu menjalani pelatihan mental yang menyiksa itu. Semua meditasi, penerawangan, dan latihan mengendalikan pikiran bukan dibuat untuk menyulitkanmu." Shansa tersenyum tipis.

Aerlene mengangguk perlahan.

Akhirnya setelah tiba di dunia di balik tirai ini, ia benar-benar bersyukur telah melewati seluruh pelatihan yang dulu sempat diam-diam ditakutinya.

Shansa menyapu hamparan dunia di sekeliling mereka dengan tatapan waspada. Di lapisan mimpi, wujud para penghuni gaib tidak lagi bersembunyi di balik lapisan materi—tirai seperti di dunia manusia.

Apa yang hidup di sini menampakkan dirinya sebagaimana adanya. Termasuk tubuh astral yang kini bisa ditangkap mata. Karena itu, semakin sedikit mereka menarik perhatian yang tidak diinginkan, semakin besar peluang mereka untuk tetap aman.

Shansa berhenti di tepi jalan batu yang melayang, lalu mengeluarkan lembaran peta tua dari dalam tas tabungnya. Garis-garis di atasnya bergerak samar seperti ular hitam yang menggeliat. Di saat yang sama, Aerlene membuka jurnal kulit pemberian Murnau dan membolak-balik beberapa halaman yang telah dipenuhi catatan tangan, simbol, serta potongan kisah dari berbagai zaman.

"Tidak ada koordinat," gumam Aerlene setelah beberapa saat.

"Karena ini bukan dunia manusia," sahut Shansa. "Tempat seperti ini tidak peduli pada arah utara atau selatan."

Aerlene mengangguk pelan. Hampir seluruh isi jurnal hanya berisi hikayat kuno, legenda, dan kesaksian singkat para pengelana yang diduga pernah mendekati lokasi Reliquia Vesperae di wilayah ini dalam perjalanan astral.

"Lihat ini." Jemarinya berhenti pada satu halaman. "Puncak tertinggi di sini, diduga berasal dari Pegunungan Zamrud yang selalu diselimuti kabut."

Shansa menoleh pada tumpukan simbol segitiga terbalik yang tergambar di peta. Itu mirip simbol elemen bumi di alkimia.

Tanpa menunda lama, Aerlene mengaktifkan pelacakan arus Zēr-Napišti. Cahaya keemasan memancar dari dadanya, lalu menjulur jauh menembus kehampaan, membentuk denyutan arus bercahaya yang mengarah ke suatu titik yang bahkan tak terlihat ujungnya.

Shansa menghela napas kecil.

"Aku sudah menduganya, alam ini tidak memiliki ukuran yang pasti. Sebuah tempat bisa terasa sejengkal bagi seseorang, lalu berubah menjadi perjalanan ribuan tahun bagi yang lain."

Aerlene kembali membaca jurnal itu.

"Di puncak tertinggi itu ada cermin purba pertama yang tidak pernah hancur," bacanya lirih. "Tapi siapa pun yang mencoba mendekatinya akan tertidur dan melupakan alasan pertama mereka datang. Sihir amnesia yang efektif, sepertinya puncak tertinggi itu tidak ingin ada yang menemukannya."

Ia membalik halaman berikutnya.

"Dan satu-satunya makhluk yang dikisahkan mampu mencapai puncaknya adalah kawanan burung ajaib yang mendapat keistimewaan keabadian, ribuan tahun yang lalu."

Aerlene menatap jurnal dan peta itu secara seksama.

Sejak meninggalkan Jericho, ia mulai memahami betapa rumitnya perjalanan ini. Realitas di mana semua hukum bersifat relatif, akan jauh lebih sulit daripada sekadar mengikuti jejak cahaya di dunia manusia yang memiliki hukum fisika tetap.

Tiba-tiba daun telinga Shansa berkontraksi dan bergerak sendiri.

Shansa langsung mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar Aerlene diam. Wajahnya yang semula tenang berubah tegang. Tanpa penjelasan, ia segera menarik lengan Aerlene dan bersembunyi di balik sebuah cermin raksasa yang berada di tepi jalan setapak yang agak menurun. Tak lama kemudian, getaran halus merambat melewati batu hitam di bawah kaki mereka, disusul kumpulan bayangan gelap yang bergerak dari kejauhan.

Sekelompok penunggang melintas di atas jalan melayang yang sejajar dengan posisi mereka. Derap langkah mereka seperti palu besi yang dihantamkan ke batu.

Lihat selengkapnya