Aku Ucup Artanto.
sang anak rajin di tanah rantau.
Itu bukan kataku.
Itu Bapakku yang mengatakan setiap aku bertanya kenapa diberi nama Artanto.
Apakah Bapakmu bernama Artanto? Tentu tidak. Bapakku namanya Slamet. Kakekku bilang nama itu diberikan kepada Bapak agar senantiasa selamat dari musibah dan semisalnya.
Contoh kecil; Butuh waktu lama untuk Bapak mencari siapa yang akan menjadi Ibu dari aku. Dan harapan kakekku terkabul. Bapakku kesulitan mencari jodoh karena mungkin Tuhan menyelamatkan bapakku dari niat buruk calon Ibu sebelum-sebelumnya.
Bapak baru menikah dengan Mamaku di umur hampir 40 tahun. Aku anak semata wayangnya dan mereka berdua berharap jika nasibku tidak sesulit mereka. Orang tua mana yang sanggup melihat anaknya merasa sulit kecuali mereka akan terus mengupayakan seluruhnya.
Kini usiaku menginjak 19 tahun. Aku juga dibiayai kuliah oleh Bapak. Diberi motor untuk pulang pergi–yang umurnya hampir sama dengan umurku. Kusebut dia Black Meong dari kalangan Supra. Didapat karena Bapak satu dari banyaknya karyawan di kantornya yang amanah dalam menjalankan perannya walau hanya menjadi tukang bersih-bersih dengan sambilan jualan ala kadarnya.
Kenapa kamu pilih untuk kuliah dan menjadi mahasiswa?
Apa alasamu memilih jurusan itu?
Apa kamu tidak berminat mencari uang dengan cara bekerja?
Menurutku, kamu tidak cocok untuk kuliah. Menurutku, kamu akan keteteran dengan banyaknya biaya, tugas, pulang-pergi, atau bahkan pungutan bulanan pada organisasi yang kamu selalu ceritakan.
Kamu kan dari keluarga yang miskin. Aku sempat dengar jika perkuliahan itu butuh ratusan juta. Aku hanya mendengar saja, sih. Apa kamu sanggup menempuh jarak dua puluh kilometer hanya untuk pergi dan pulang? Atau kamu akan mencari sebuah kamar kos yang digabung beberapa orang?
Bagaimana kamu melakukan itu? Apa mungkin kamu akan bertindak jahat, seperti memalak orang, ters meminta pada mereka yang terlihat lemah, atau kamu berniat daftar sebagai anggota ojek online? Bukankah itu siasat awalmu atau itu yang akan menjadi tujuanmu nanti?
Mungkin kamu lebih cocok buka jasa cukur rambut lalu mengembangkannya menjadi Barber Shop ternama. Contohnya “Ucup Barber.”
Oh iya, siapa yang akan menjadi teman berbincang di kala hari sudah malam? Kamu pasti bingung, kan? Kurasa kamu butuh seorang pendamping. Mungkin “Pacar.” Aku punya saran seseorang yang cocok untuk dijadikan pacar. Aku Serius.
Sudahlah. Aku lapar.
Maaf, boleh kita makan terlebih dahulu?
Aku punya saran tempat makan enak. Yuk!
****************
Aroma kentang mustopa dan tumis kacang panjang saling beradu di antara kedua lubang hidung orang yang berlalu- lalang di sekitar lorong menuju kampus. Jalan itu diapit oleh pedagang asongan gerobakan, bahkan motor-motor sejajar tertata yang sudah ditinggal pemiliknya dari pagi tadi. Orang bertopi lengkap dengan rompi hijau mondar-mandir sejak mentari terbit. Peluit wasit di lapangan tak lupa ia bawa.
“Yuk. Terus. Terus. Pelan-pelan,” serunya tegas, disusul bunyi peluit nyaring. Prit!
Pria berompi hijau itu memastikan sekitar; orang-orang ramai berlalu lalang, mobil pick-up yang melintas, dan pengemudi motor dari dua arah.
“Puter kanan. Yok.” Pria berompi itu sudah cukup mahir memberikan intrupsi.
Tongkat merah yang dibawa sangat membantu jika ada kejahatan dadakan.
“Yuk. Agak mundur sedikit.” Digoyangkan tongkat merah bersama bunyi peluit.
Sebuah motor matic mencoba bermanuver di sela-sela pedagang dan beberapa orang yang melintas.
“Awas nabrak!” teriaknya saat sebuah motor dari arah berlawanan melaju kencang terdengar dari suara knalpotnya.
Duar!
Suara benturan sangar antara besi dan body belakang memecah kericuhan lorong. Semua pasang mata dengan cekat menoleh. Sebuah motor Aerox merah sudah ambruk miring dan ringsek di satu sisi, sementara pengemudinya- seorang mahasiswi dengan PDH jurusan tersungkur di aspal dengan nafas yang diaturnya berulang-ulang.
Pria berompi hijau menepuk jidat dan menggaruk-garuk kepala belakang. Topi yang dipakai juga berulang kali di lepas-pasang.
“Yeh, Neng, Neng bisa bawa motor nggak?!” omel pria berompi degan nada gemas dan kedua telapak tangan yang di genggam tidak bisa ditahan.
Orang yang berlalu-lalang mengaburkan fokus ponsel dan aktivitasnya untuk melihat seorang perempuan yang tertabrak oleh perempuan lain dari arah belakang.
Sebagian orang dengan sigap keluar dari tempat aroma kentang mustopa berasal. Dengan sigap pula Ucup masuk tanpa perlu tahu kejadian barusan. “Bude. Makan, Deh.”
"Makan sini apa bungkus, Le?"
"Hmm... Makan sini aja bude"
Tempat makan antik yang banyak dijumpai.
Ngapak kumur-kumur asal Tegal penjualnya.
“Ora ngapak, ora kepenak.” Katanya.
“Bisa QRis deh?”
“Yo iso lah.” Singkatnya.
Warung Tegal, warung makan saingan Warung Nasi Padang. Dua hal yang tidak bisa dibanding dan ditimbang. Keduanya murah dan mantap. Aneka lauk yang tersaji dan pelayanannya yang hampir tidak menegcewakan.
Identik Warteg pada layar kaca etalase. (Later L) ataupun (U) keliling. Lauk pauk di piring pelanggan menggambarkan solidaritas yang tinggi. Walau berbeda namun tetap satu kursi. Eh bangku maksudnya.
Butuh waktu panjang untuk bertaruh.
Jika di beranda media sosial muncul tentang seberapa sulit sang pria berdiri di depan kulkas mini market untuk memutuskan pilihan. Maka akan terjawab pula di tempat Warteg ini pun sulit untuk memutuskan.
Tangannya menekan dengan telunjuk dan siap memilih sesuai kemampuannya hari ini.
“Ini, ini, ini”
"Usus sama kerang aja. Deh"
Tap saja untuk memilikinya. Seporsi pemadam kelaparan mendarat, mengenyangkan.