Izin Bertanya. NIM 105

Mus'ad Firdaus
Chapter #2

Absen

Musala itu tak pernah pergi. Hanya terkadang itu sangat jauh hingga adzannya tak mampu mengetuk pintu hati. Tak banyak para jamaah yang datang kala waktu salat tiba. Tapi kebanyakan manusia sering datang ketika terjadi kehilangan atau mungkin kegagalan. Basuhan wajib ke setiap anggota sudah siap. Berpijak tegak sedekap.

"Tuhan, aku begitu yakin Engkau Maha Yang Mempermudah urusan, aku tidak akan meminta urusanku dipermudah, terserah Engkau akan membuatku seperti apa".

Empat kali lima meter luasnya. Paling banyak hanya menampung sepuluh orang, ikhwan maupun akhwat. Semua datang dengan masalah yang beraneka. Mereka yang sakit mereka yang putus asa tahu bahwa itu bukan apotek atau rumah sakit. Namun mereka juga tahu bahwa konsultan terbaik adalah Dia Yang Maha Baik.

Tidak masalah kalau nanti setelah lulus tidak jadi apa-apa. Toh setidaknya moral dan doa jangan dilupakan. Kami hampir lupa. Kami juga manusia.

“Cup, gue semalem mimpi anjir.”

“Yeh, mimpi doang mah gue juga semalam mimpi.”

Mereka berdua duduk di bangku sembari melepas sepatu.

“Lu tau Sintia ngga, Cup?” Asep penasaran.

“Hm, Sintia kelas kita, Sep?”

“Iya. Cakep kan dia? Make up nya natural gitu, kinyis kinyis gimana gitu,” Asep memanyunkan bibir lalu mengecup berulang-ulang.

Ucup melihat kedua telapak tangannya dan melihat bibir Asep yang masih mengecup. Ucup melihat lagi kedua telapak tangannya dan melihat bibir Asep yang kali ini matanya terpejam. Tangan Ucup bergerak cepat.

Cetas!

“Iya, ya maksudnya gimana, Kentung? Lu mimpiin dia gitu?”

“Iya, Cup. bjir lah. Sakit woy! Aduh, gua inget banget semalem meluk Sintia dari depan, sumpah gua lagi bahagia banget, Cup hari ini.”

“Anjir, keluar kaga lu pas bangun, Sep?” kan mimpi anjir. Udah mandi wajib belum lu? Anjir gua juga mau lah kalo gitu.”

Asep masih cengar-cengir ketika basuhan pertama wudhu. Lalu kita sholat selayaknya hamba bertemu Tuhannya, walaupun tadi mereka lebih mirip dua setan jahat yang menyusun rencana.


"Ayo, Sep. Gece" Ucup bergegas setelah melihat arloji di tangannya. Do'a ucup di musala tadi terlalu lama. Asep juga ketiduran karena kekenyangan.

"Tungguin, Cup"

Tubuh gempal Asep terengos-engos. Kedua tangannya mencengkram lututnya memaksanya untuk diam sejenak.

"Ukhuk!" Batuk, lanjut lari kecil.

Toing toing toing. Soundtrack yang cocok untuk Asep.

Lantai enam fakultas mata kuliah hari ini. Pukul 13.08 sudah hampir lewat absensi. Batas 10 menit sudah kesepakatan di awal pertemuan. Bahkan sebagian minta lebih diperketat.

"Baik para mahasiswa dan mahasiswi sekalian... saya akan bacakan absen. Tolong ucap hadir yaaa"


"Abimana Siregar"

"Hadir, Pak"


"Acus Budiman"

"Hadir, Bapak"


"Ajeng Khatulistiwa Sari"

"Hadir, Pak"


"Asep Komaruddin"

.....

"Asep Komaruddin?"

.....

"Asep...?"

.....


Mahasiswa saling melempar pandang. Mustahil tubuh segede gaban itu tidak masuk. Justru seharusnya dia adalah siswa pertama yang masuk kelas itu.


"Baik. Asep Tidak ha...."

Gubrak!


"Nah itu dia Asep dan Ucup."

Didapatinya tersungkur keduanya ke atas lantai kelas tepat berada di depan pintu.


"Asep Hadir, Pak"

Dia tak peduli pada dirinya saat itu.

Yang penting dia bilang hadir.


Absensi sudah usai. Presentasi akan dimulai. Sebagian kecil mahasiswa tidak hadir. Mereka lebih memilih tidur di kos ataupun pulang ke rumah. Yang paling di luar nalar, ada saja yang memilih nonton konser. Padahal seseru ini masuk kelas. "Anjay"

Lihat selengkapnya